NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan

#27

Dina masih menatap layar ponselnya dengan wajah merona, mendadak salah tingkah, padahal tak ada yang melihatnya. Pesan balasan yang ia kirimkan pada Azam, memang hanya bersifat menjawab pertanyaan pria itu. Tidak ada yang aneh, apalagi istimewa. 

Namun, entah mengapa, panggilan Mas justru ikut disematkan di dalamnya? Itulah yang kini membuat Dina ingin menyembunyikan wajah di balik bantal. Dina bahkan mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya sendiri, padahal kamarnya sudah sejuk ber AC. 

“Kenapa harus pakai Mas segala, sih?” gerutunya pelan, masih menyesalkan keteledorannya, mana Azam belum juga memberikan balasan lagi. 

Padahal, selama ini ia selalu memanggil pria itu dengan namanya saja apalagi mereka adalah teman sebaya. Kalaupun harus berkomunikasi secara langsung, Dina biasanya berusaha menjaga jarak agar hubungan mereka tidak melewati batas yang seharusnya.

Namun, kenapa kali ini jari-jarinya bergerak nakal dengan sendirinya? 

Dina menghembuskan napas panjang, lalu meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.

Sudahlah. Azam tidak membalas, berarti dia tak memikirkan hal itu, Dina pun mengacuhkan ponselnya. 

Lagi pula, mereka sudah sama-sama dewasa masa hanya karena salah panggilan sederhana ia harus bersikap panik sampai salah tingkah seperti anak sekolah yang baru pertama kali mengirim pesan kepada seseorang yang disukainya. 

Dina kembali menggelengkan kepala, merasa geli dengan perasaannya sendiri. “Sudah, Dina, jangan pikirkan hal-hal yang aneh. Sejak dulu hingga sekarang, Azam hanya menganggapmu teman biasa, tidak lebih tidak kurang,” monolog Dina. 

Ia kembali melanjutkan aktivitas pumping-nya, berusaha mengalihkan pikiran dari percakapan singkat yang baru saja terjadi dengan cara menyalakan TV di kamarnya. 

Namun, belum sampai lima menit berlalu, ponselnya kembali bergetar.

Dina spontan meraihnya, tepat seperti dugaannya, itu adalah pesan balasan sari Azam. 

📥 Alhamdulillah, aku senang kamu baik-baik saja. 

Dina membaca pesan itu berulang kali. Hanya begitu saja? Azam tidak mempermasalahkan panggilannya? Tapi, kenapa Dina seperti merasa kecewa, ya? 

Dina kembali mengetik pesan balasan. 

📤 Oh, iya, Zam. Gimana Ghazi? Apa dia sehat? Aku merindukannya. 

📥 Ghazi Alhamdulillah sehat, hanya agak rewel belakangan ini. Kata Bunda itu hal biasa, namanya juga bayi, dia butuh banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. 

Dina kembali tersenyum lega mendengar balasan dari Azam, sepertinya Azam tak menyadari kekeliruannya barusan. 

Tapi sesaat kemudian, senyum Dina menghilang tiba-tiba, karena balasan Azam berikutnya membuatnya makin salah tingkah. 

📥 By the way, kenapa panggilannya berubah lagi? 

Astoge, Dina benar-benar malu saat ini, wajahnya merah memanas, karena ucapan bernada menggoda dari Azam. 

“Heran, sejak kapan pria ini berubah jadi spesies pria penggoda? Dasar genit.” Lisan Dina boleh berucap demikian, namun, dalam hati berkata sebaliknya. 

📤 Iya, kah? Memang tadi aku memanggilmu dengan sebutan apa? 

Dina berpura-pura bertanya, agar tak terlihat bahwa ia sedang salah tingkah. Padahal ia memang benar tidak sengaja melakukannya. 

📥 Yang ini. 

Azam men-tag pesan Dina sebelumnya yang menyebut dirinya dengan panggilan ‘Mas'. 

Perasaan Dina kembali campur aduk, malu, kesal, tapi juga senang karena Azam tak melewatkan satu kata itu. 

📤 Oh, astaghfirullah, Maaf, Zam. Aku salah ketik, itu hanya bagian dari kebiasaanku dulu saat memanggil suamiku. Aku akan mengeditnya. 

📥 JANGAN!! 

Cegah Azam dengan cepat, hingga mungkin tombol caps lock di ponselnya mendadak jebol. 😝

📤 Oh—

📥 Iya, nggak papa, kamu bebas memanggilku apa saja kecuali nama dan panggilan yang jelek. 

Kali ini, Dina yang tak mengerti. 

📤 Maksudnya? 

Nah, kan, sekarang Azam yang mendadak salah tingkah. Bukankah mereka tadi sedang membicarakan Ghazi? Kenapa mendadak beralih topik menjadi nama panggilan? 

📤 Tidak ada maksud. Tolong lupakan saja. 

Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan di perkebunan? Apa sekarang sudah mulai banyak yang dibersihkan?

Meski sedikit kecewa, tapi Dina tak ingin menanam harapan palsu di hatinya sendiri. Karena perasaan Azam padanya belum jelas, apakah hanya sebatas teman, atau sebatas ibu ASI anaknya? Semuanya masih abu-abu. Jadi alangkah baiknya bila mereka tak membahas hal itu, jadi hubungan mereka tak lagi canggung. 

📤 Alhamdulillah, sudah mulai ada perubahan. Kami masih membersihkan tanaman liar, menggemburkan tanah, dan mendata pohon-pohon yang masih bisa dipertahankan. Aku pikir akan selesai cepat, tapi ternyata banyak yang harus dikerjakan.

📥 Aku rasa wajar, sih. Apalagi tanah di perkebunan itu sudah lama tak mendapat perawatan. Pasti butuh waktu jika ingin mengembalikannya ke keadaan semula. 

📤 Iya, benar. Papa juga bilang begitu. Jadi, kami tidak mau terburu-buru. 

📥 Yang paling penting kamu jangan sampai kelelahan. 

📤 Iya, Mas. Akan aku usahakan makan dan istirahat yang cukup. 

Begitu pesan terkirim, Dina kembali membeku.

“Mas lagi?!” pekik Dina pelan, tapi masih terdengar dari luar kamar, hingga Bu Rara mengintip ke dalam kamar putrinya. 

“Ada apa, Din?” 

“Eh, nggak ada apa-apa, kok, Ma. Ini ada video lucu di yutup.” 

“Oh, Mama kira ada apa?” 

Bu Rara kembali menutup pintu kamar Dina. 

Malam itu, obrolan Dina dan Azam berhenti sampai di situ saja. Keduanya seperti kehabisan bahan untuk dibicarakan, meski sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin mereka ketahui satu sama lain.

Hingga beberapa menit kemudian, Azam masih membuka laman obrolannya dengan Dina beberapa kali berniat mengetik sesuatu. Namun, setelah membaca ulang percakapan sejak tadi, ia justru mengurungkan niatnya.

Apalagi yang harus ditanyakan? Ia sudah tahu Dina baik-baik saja, perkebunan keluarga wanita itu mulai dibenahi, dan hanya Ghazi masih menjadi salah satu hal yang menghubungkan mereka.

Seharusnya itu cukup, bukan?

Namun, entah mengapa, meletakkan ponsel dan mengakhiri percakapan malam itu terasa sedikit berat dan mengecewakan. Azam mengusap wajahnya, lalu terkekeh pelan menertawakan diri sendiri, mungkin Dina sudah tertidur, karena lelah setelah seharian berjibaku di perkebunan. 

Akhirnya Azam pun berbesar hati mengikhlaskan obrolan mereka yang telah selesai untuk hari ini. Ia hendak keluar kamar memeriksa keadaan Ghazi yang malam ini tidur bersama Bunda Hilda dan Ayah Irfan. 

Tapi, baru saja hendak beranjak, nama Pak Hermanto muncul di layar, membuatnya segera mengangkat panggilan tersebut.

“Assalamu'alaikum, Om?” 

“Waalaikumsalam. Maaf mengganggu malam-malam, Zam.” 

“Nggak, Om, aku belum tidur. Ada apa, ya?” sahut Azam penasaran. 

“Ada yang ingin Om tanyakan, tadi Om sudah menghubungi ayahmu, tapi dia bilang, sebaiknya Om tanya padamu saja.” 

Azam mengangguk, lalu mulai menyimak dengan seksama pertanyaan Pak Hermanto, masih seputar perkebunan, dan bagaimana cara memanfaatkan lahan yang sudah lama tidak produktif. 

“Jadi begitu, Zam. Bukan masalah besar, hanya saja, setelah sekian lama terbengkalai, Om harus berpikir matang tentang memanfaatkan lahan, selagi menunggu pohon tumbuh dan berbuah. ‘Kan beberapa tahun ke depan, perkebunan ini akan sepenuhnya diurus Dina. Jadi Om masih perlu mengajarkan banyak hal padanya.” 

Azam masih mendengarkan dengan saksama, hingga mereka pun mulai membicarakan beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi tanah dan sumber air di perkebunan, termasuk kemungkinan apakah bisa menanam tanaman lain di lahan perkebunan. 

Percakapan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Papa Hermanto berkata, “Baiklah, Zam. Terima kasih atas kesediaanmu mendengarkan pertanyaan dari pria tua ini.” 

“Ah, Om jangan bilang begitu, aku bahkan belum memberikan jawaban.” 

“Tidak apa-apa, dipikirkan santai saja sambil menikmati proses perjalanan.” 

“Baiklah, Om, dengan senang hati, apapun akan saya usahakan semampu saya. Semoga kita sesama petani bisa saling mendukung demi kelangsungan pangan warga negara kita.”

Setelah itu panggilan pun berakhir, Azam masih memandangi layar ponselnya.

Sebenarnya, ia bisa saja memberikan beberapa saran tambahan saat mereka berbicara melalui telepon. Namun, entah mengapa, ia justru terpikir untuk melihat kondisi perkebunan itu secara langsung.

Lagi pula, bukankah akan lebih mudah memberikan masukan jika ia mengetahui keadaan lahannya sendiri?

Azam mengangguk kecil, seolah baru saja menemukan alasan yang sangat masuk akal.

Padahal, jauh di dalam hatinya, ada alasan lain yang tidak ingin ia akui. Alasan yang bahkan membuatnya tersenyum sendiri sebelum akhirnya mematikan lampu kamar.

1
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
Shee_👚
intinya azzam gak mau di panggil nama doang, harus ada embel - embelnya. gitu kan ya zam🤣
Ma Em
Ayo Zam jgn malu dan ragu2 segera bilang bahwa Azam suka sama Dina jgn ditunggu lama lama nanti Dina nya di serobot orang .
Shee_👚
cie cie azzam mulai nyaman sama panggilan mas😂
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
astaga, bacanya sampai ikut ikutan gelo, senyum senyum sendiri 🤣🤣🤣🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... iya🤣🤭
total 2 replies
Nar Sih
blm puas chat dgn dina ,eh..bpk nya wa ,lebih baik dtg lansung azam ke kebun dina biar tau dan jls
🌷Vnyjkb🌷
cieee cieee,, basabasi pakkk??? calon mantu tuuu🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
🤣🤣🤣🤣abg tua pasangan masdud dan mbakjan
Bunda Idza
😂😂😂😂😂😂😂😂😂 begitulah Dud Jan yang punya something
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
dyah EkaPratiwi
benar kata bunda zam
Sh
Mas Azam atau Mas Antam😂😂😂
🌷Vnyjkb🌷: 🤣🤣🤣🤣🤣 juragan emas ini kyknya deh🤭
total 3 replies
Shee_👚
ternyata dina gak sadar🤣🤣
Shee_👚
itu baru dipanggil mas, coba kalau di panggil sayanggggg apa gak kelojotan itu jantung🤭
Shee_👚
bagus sha terus ingetin apa yang azzam lakukan😂
Shee_👚
nah itu baru nunggi balasan, ampe gelisah begitu, apa lagi nunggu balas perasaan🤣
Shee_👚
terserah mau ngomong apa, tanya aja di peres belum asi, apa mau bantu peresin🤣
Nar Sih
plong kan azam hti mu udah dibls tuh wa nya jdi senyum,,kan ,dobel up lgi kak moon🙏🥰
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!