NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Langit Jakarta malam ini lagi cooperative banget. Nggak ada mendung lebay, cuma hamparan city lights yang kelihatan stunning dari dinding kaca lantai lima puluh restoran exclusive di kawasan SCBD ini. Gue muterin ujung stem gelas wine pelan, merhatiin cairan ruby di dalamnya yang memantulkan cahaya chandelier temaram.

Suasana malam ini literally beda dari biasanya. Nggak ada suara Miko yang merengek minta tambah dessert, atau tawa melengking Mika yang lari-larian keliling meja. For the first time in a while, gue dan March beneran cuma berdua.

Tadi sore, Dito dan Dea—mertua gue yang effortlessly mewujudkan definisi old money panutan—dateng ke rumah buat 'menculik' cucu-cucu kesayangan mereka. “Biar kalian bisa napas dikit. Go on a date, act like a real married couple,” gitu kata Mama Dea sambil senyum penuh arti, ngasih hint yang sukses bikin pipi gue panas dingin. Which is bener aja, begitu mobil mertua gue keluar dari gerbang bawa si kembar, March langsung booking satu ruangan private di restoran ini.

Gue narik napas pelan, ngangkat pandangan ke cowok di seberang meja.

March Ezlen. Jujur, cowok ini kalau cuma dideskripsiin pakai kata-kata nggak bakal make sense. Dia udah ngelepas jas tailored-nya, nyisain kemeja hitam berbahan silk yang dua kancing teratasnya sengaja dibiarin terbuka. Lengan kemejanya digulung sampai siku, nge-ekspos jam tangan Richard Mille dan urat-urat lengannya yang tegas. Rambutnya agak berantakan, messy in a hot way. Auranya malam ini beneran screaming dark romance vibes. Kayak bos mafia Bratva yang lagi off-duty, dominan, tajam, tapi tatapan matanya cuma terkunci ke satu target: gue.

"You're staring, Chloe," suaranya yang deep dan husky memecah keheningan yang diiringi alunan jazz pelan dari speaker tersembunyi.

Gue tersenyum miring, nyender santai ke sandaran kursi beludru merah ini. Dress satin hitam backless yang gue pakai ngebingkai lekuk tubuh gue perfectly, dan gue tahu persis March nggak bisa lepasin pandangannya dari leher gue sejak kita turun dari mobil tadi.

"Salah sendiri punya visual distracting banget," balas gue enteng. Gue menyesap wine sedikit, ngebiarin eye contact kita bertahan lebih lama dari yang seharusnya. "Terus terang aja, aku masih agak culture shock nggak denger keributan Miko sama Mika malem ini."

March terkekeh pelan. Ketawanya tuh tipe yang cuma bergetar di dada, tapi efeknya bikin butterflies di perut gue literally tawuran. Dia naruh garpunya, mutusin buat sama sekali mengabaikan Wagyu A5 di piringnya, dan majuin badannya ke arah gue.

"Mereka aman sama Papa dan Mama. Malam ini..." March menatap gue intens, "...cuma ada aku sama kamu. No kids. No distractions. Just us."

Gue menelan ludah. Atmosfer di antara kita mendadak heavy. Nggak ada lagi obrolan casual soal kerjaan atau jadwal imunisasi si kembar. Ini murni tension antara pria dan wanita dewasa.

"Jadi," gue meletakkan gelas wine ke meja, bertopang dagu menantang tatapannya. "Deep talk macam apa yang mau dikeluarin sama seorang March Ezlen di dinner date tanpa gangguan ini?"

Mata elang March menyusuri wajah gue, dari lengkungan alis, turun ke mata, hidung, sampai akhirnya berhenti lumayan lama di bibir gue yang terpoles lipstick burgundy. Jakunnya naik turun.

"Kamu... berubah, Chloe," gumamnya pelan. Suaranya nggak menghakimi, justru penuh rasa penasaran yang deep banget. "Dulu, duduk berdua sama kamu di satu ruangan rasanya kayak nunggu bom waktu meledak. Kamu selalu defensif, selalu nyari celah buat marah. Tapi sekarang..."

Dia menghentikan kalimatnya, mengulurkan tangan besarnya membelah meja, lalu menutupi punggung tangan gue dengan telapak tangannya. Sentuhannya panas. Ibu jarinya perlahan mengusap punggung tangan gue, ngasih sensasi setruman halus yang bikin napas gue sedikit tercekat.

"...sekarang, rasanya aku baru bener-bener kenal siapa istriku yang sebenarnya," lanjutnya, suaranya turun satu oktaf, serak dan posesif. "And I have to admit, I’m entirely captivated."

Damn it. Gue berusaha keras buat nggak blushing brutal. Kalau Chloe yang asli denger ini, dia pasti udah jingkrak-jingkrak kesenengan. Tapi sebagai 'Chloe yang baru', gue harus keep it classy. Gue nggak boleh kalah dominan.

Gue membalikkan tangan gue, membalas genggamannya, dan menyusupkan jari-jari gue di sela-sela jarinya. Perfect fit.

"Orang berubah, March," bisik gue, sengaja merendahkan suara biar setara sama vibe misteriusnya malam ini. "Dulu aku ngerasa insecure, ngerasa kamu cuma butuh babysitter gratis buat anak-anakmu. Apalagi dengan semua omongan toxic dari luar yang selalu nyudutin aku." Gue sengaja nge-drop hint soal kelakuan Aluna dan mantan istrinya tanpa nyebut nama. "Tapi aku sadar, buang-buang waktu ngebiarin hal-hal nggak penting ngerusak mentalku. I have a family to protect now."

Mendengar kata 'protect', rahang March seketika mengeras. Kilat posesif di matanya makin menyala. Dia bener-bener nggak suka kalau ada hal yang ngancem gue atau anak-anaknya.

"No one is going to touch you or the kids. Ever," tekannya, tiap kata diucapin dengan penekanan yang bikin nyali siapa pun bakal ciut. "Termasuk Mexim, Aluna, atau siapa pun dari masa laluku. If they try to cross the line again, I’ll ruin them."

Vibes mafia-nya keluar lagi. Dan gila, it’s ridiculously attractive. Red flag yang mendadak kelihatan kayak green flag neon.

"Aku tahu kamu bakal lakuin itu," gue tersenyum lembut, meredakan ketegangannya. Tangan gue yang bebas terulur, menyentuh pelan punggung tangannya yang bertumpu di meja. "Tapi aku juga bukan perempuan lemah yang butuh diselamatin setiap saat, March. We’re a team now."

March terdiam sejenak. Matanya menatap gue lekat, seolah lagi membongkar setiap lapisan topeng gue dan nyari celah kebohongan di sana. Tapi dia nggak nemuin apa-apa selain kejujuran mutlak.

Perlahan, sudut bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis yang literally breathtaking. Dia menarik tangan gue yang masih bertautan dengan tangannya, membawanya ke depan wajahnya. Tanpa memutus eye contact kita yang intens, March menempelkan bibirnya di punggung tangan gue. Ciumannya lama, hangat, dan penuh puja.

Gue bisa ngerasain embusan napasnya menerpa kulit gue. Jantung gue yang dari tadi sok kuat akhirnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Slow burn ini bener-bener lagi mencapai puncaknya.

"Ayo pulang," ucapnya tiba-tiba, suaranya serak tertahan saat bibirnya akhirnya menjauh dari punggung tangan gue.

Gue mengerjap, bingung. "Tapi dessert-nya belum keluar?"

March berdiri dari kursinya, mengambil jas hitamnya dengan satu gerakan smooth. Matanya menatap gue dengan kilat lapar yang sama sekali nggak ditutup-tutupi. Tatapan seorang pria yang udah kehilangan sisa kesabarannya.

"Forget the dessert, Chloe," bisiknya, melangkah mendekat dan menarik kursi gue mundur. Dia mencondongkan tubuhnya dari belakang, bibirnya menyapu pelan daun telinga gue, ngirim gelombang kejut yang bikin sekujur tubuh gue merinding. "Kita punya cara yang jauh lebih baik buat nikmatin sisa malam ini di rumah."

Pikiran gue langsung nge-blank. Malam ini, kota Jakarta mungkin nggak tidur, tapi di mansion Ezlen, sepertinya gue dan March juga nggak akan tidur dalam waktu dekat. Let the real game begin.

1
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
kasihannn lily belum lama merasakan kebahagiaan sudah meninggal

memang al sama amanda bisa punya anak lagi tapi beda cerita yang mulai berjuang akibat dibully menderita mulai bayibelum bahagia bepenuhnya sudah meninggal
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
alan cari musuh yang salah
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
alan aja.bisa menemukan amanda kenapa ayahnya lily gak bisa
katanya mafia masak gak bisa nemuin sampaai 5 th
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
mampir tor er baca ya lanjutkan sampai tamat jangan putus tengah jalan
Ita Putri
yeeaayyyy🥰
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
Elmida Alano: 😭😭😭😭🤧
total 3 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!