NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Mencari Kost

Aldi memberikan satu helm cadangan kepada Galih. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Bang Doni yang masih sibuk membongkar muatan sayur, Galih segera naik ke jok belakang motor sport milik Aldi. Deru mesin berbunyi nyaring membelah keramaian lalu lintas kota yang mulai padat oleh kendaraan warga yang hendak berangkat bekerja.

Sepanjang perjalanan, suara angin berhembus kencang menampar wajah Galih. Namun, percakapan di antara dua sahabat itu tetap mengalir hangat melalui celah helm.

"Lih, aku ada satu rekomendasi kostan yang menurutku oke banget," teriak Aldi sedikit mengeraskan suara agar terdengar di atas deru mesin. "Letaknya nggak jauh dari kampusku. Lingkungannya aman, bersih, dan fasilitasnya lumayan lengkap. Siapa tahu kamu cocok."

"Boleh, Di! Kita lihat ke sana dulu," balas Galih seraya berpegangan pada jaket kulit yang dikenakan Aldi.

Motor menyusuri kawasan pemukiman yang tertata rapi. Tak lama kemudian, Aldi memperlambat laju kendaraannya dan berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai bergaya modern dengan cat berwarna krem yang masih tampak segar. Pagar besi tempa yang kokoh mengelilingi halaman depan yang cukup luas dan dipenuhi beberapa tanaman hias.

Aldi melepaskan helmnya, diikuti oleh Galih. "Nah, ini tempatnya. Yuk, kita masuk. Nanti aku bantu ngobrol sama pemiliknya."

Mereka berdua berjalan menuju teras depan. Seorang ibu paruh baya dengan pakaian rapi tampak sedang menyiram tanaman. Wanita itu menyapa Aldi dengan ramah, menandakan bahwa Aldi mungkin sudah cukup sering mengantar teman-temannya ke tempat ini.

"Eh, Mas Aldi. Ada apa nih? Mau cari kostan buat temannya ya?" sapa pemilik kost tersebut dengan senyum mengembang.

"Iya, Bu Heni. Ini kenalkan, teman saya Galih dari desa. Lagi cari kamar yang kosong, kira-kira masih ada nggak, Bu?" sahut Aldi sopan.

"Masih ada satu di lantai dua. Ayo, Ibu antar buat lihat kamarnya," jawab Bu Heni penuh keramahan.

Galih dan Aldi mengikuti langkah Bu Heni menaiki tangga keramik yang bersih mengkilap. Saat pintu kamar dibuka, Galih dibuat terkagum-kagum. Kamar itu berukuran cukup luas, dilengkapi kasur busa tebal, lemari pakaian dua pintu, meja belajar, serta kamar mandi dalam yang terawat bersih. Ventilasinya pun sangat bagus sehingga udara terasa segar dan tidak pengap.

Dalam hati, Galih merasa sangat tertarik. Tempat ini terasa seperti tempat persembunyian yang sangat nyaman untuk memulai lembaran hidup barunya yang damai tanpa bentakan dan pukulan sang ayah.

"Bagaimana, Galih? Kamarnya bersih dan nyaman, kan?" tanya Bu Heni dengan nada bangga.

"Sangat bagus dan nyaman, Bu," jawab Galih jujur. "Kalau boleh tahu, untuk sewa per bulannya berapa ya, Bu?"

Bu Heni tersenyum manis. "Untuk fasilitas lengkap begini, sewanya delapan ratus ribu rupiah per bulan, Mas. Tapi itu belum termasuk air sama listrik ya. Listriknya pakai token masing-masing di tiap kamar, airnya bayar patungan lima puluh ribu tiap bulan."

Mendengar nominal tersebut, jantung Galih seolah berhenti berdetak sejenak. Matanya membelalak kaget. Delapan ratus ribu? Belum listrik dan air? angka itu terasa sangat mustahil untuk dijangkaunya saat ini. Di dalam saku celananya, ia hanya menggenggam selembar uang seratus ribu rupiah pemberian sang ibu. Uang itu bahkan tidak sampai seperdelapan dari biaya kost sehari-hari di tempat ini.

Galih menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia melirik ke arah Aldi yang juga tampak mengerti perubahan raut wajah sahabatnya.

"Maaf, Bu Heni... sepertinya angkanya belum masuk di anggaran saya," ucap Galih pelan dengan nada penuh penyesalan. "Terima kasih banyak sudah diantarkan melihat kamarnya."

Bu Heni tampak memaklumi. "Oh, begitu... ya tidak apa-apa, Mas Galih. Nanti kalau ada rezeki dan tertarik, bisa hubungi Ibu lagi ya."

Dengan berat hati, Galih dan Aldi pamit lalu melangkah turun kembali ke parkiran.

Setelah kembali berada di atas motor, mereka mulai mengelilingi gang-gang pemukiman lain. Aldi mengantarkan Galih ke beberapa lokasi kost-kostan yang direkomendasikan teman-temannya yang lain. Namun, hasilnya tetap sama. Rata-rata kostan di daerah tersebut dipatok dengan harga kisaran lima ratus hingga tujuh ratus ribu rupiah per bulan. Semuanya jauh di atas kemampuan finansial Galih yang benar-benar memulai dari titik nol.

Mereka kembali menyusuri jalanan kota, bergerak semakin jauh dari area kampus dan pusat kota menuju kawasan permukiman padat penduduk. Motor melaju memasuki sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu sepeda motor. Di ujung gang tersebut, terdapat sebuah bangunan tua berlantai dua yang berdiri agak terpencil.

Dinding bangunan itu tidak terbuat dari tembok semen utuh, melainkan kombinasi sekat-sekat papan kayu yang dilapisi cat kusam. Suasananya agak remang-remang karena tertutup oleh rindangnya pohon mangga besar di halamannya, namun keadaannya cukup tenang dan bersih.

"Kita coba tanya di sini, Lih," kata Aldi seraya menghentikan motornya.

Seorang pria tua berusia sekitar lima puluhan tahun dengan kaos singlet dan sarung sedang duduk santai di kursi kayu teras depan sambil menikmati kopi hitam. Pria itu adalah Pak Yono, pemilik bangunan tersebut.

"Permisi, Pak... Maaf mengganggu," sapa Galih dengan sopan. "Apakah di sini ada kamar kost yang masih kosong?"

Pak Yono mengamati Galih dan Aldi dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menyedot kopi hitamnya sebelum menjawab. "Ada. Tinggal satu kamar di paling ujung bawah. Kenapa? Lagi cari kostan?"

"Iya, Pak. Boleh saya lihat dulu kamarnya?" tanya Galih penuh harap.

"Mari ikut saya," sahut Pak Yono sembari berdiri dan mengambil sekumpulan kunci dari dalam sakunya.

Mereka bertiga berjalan melintasi lorong sempit berlantai semen polos. Suasana di dalam lorong terasa sejuk meski agak remang. Pak Yono membuka sebuah pintu kayu yang agak berderit saat didorong.

Kamar itu tergolong sangat sederhana dan terbilang kecil, berukuran sekitar dua kali tiga meter. Fasilitasnya hanya berupa satu kasur tipis yang terhampar di atas lantai kayu, satu lemari plastik kecil, dan satu kipas angin gantung tua. Kamar mandi berada di luar, harus berbagi dengan penghuni lainnya. Namun bagi Galih, kamar ini sudah lebih dari cukup untuk sekadar meluruskan punggung dan merebahkan badan.

"Berapa harga sewa per bulannya, Pak?" tanya Galih berdebar-debar.

"Tiga ratus ribu per bulan. Sudah bersih sama air dan listrik, asal jangan bawa alat elektronik yang berat-berat kayak kulkas atau mesin cuci," jawab Pak Yono santai.

Seketika mata Galih berbinar. Tiga ratus ribu rupiah! Ini adalah harga paling murah yang mereka temukan sepanjang hari. Angka itu terasa jauh lebih masuk akal dan realistis untuk dituju.

Galih merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah milik ibunya yang sudah agak kusut. Ia menyerahkannya kepada Pak Yono.

"Pak Yono... jujur, uang saya saat ini baru ada seratus ribu rupiah," tutur Galih dengan jujur dan tulus. "Tapi saya janji, dalam seminggu ini saya akan langsung mencari pekerjaan di kota dan melunasi sisa dua ratus ribu rupiahnya. Bisakah uang seratus ribu ini saya jadikan uang muka dulu agar saya boleh tinggal di sini hari ini?"

Pak Yono memandangi uang seratus ribu itu, lalu menatap lebam di wajah Galih. Seulas rasa iba terpancar dari wajah pria tua itu. Sebelum Pak Yono sempat menjawab, Aldi tiba-tiba merogoh dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.

"Nih, Pak Yono. Saya tambahkan dua ratus ribu rupiah. Jadi pembayaran bulan pertama untuk teman saya ini sudah lunas ya," potong Aldi cepat seraya menyerahkan uang tersebut ke tangan Pak Yono bersama dengan uang seratus ribu milik Galih.

Galih terperanjat memandangi Aldi. "Di! Kamu apa-apaan? Kan aku udah bilang—"

"Ssst... udah, diam aja," sanggah Aldi santai seraya menepuk bahu Galih. "Ini bukan pinjaman yang harus kamu pusingkan sekarang, Lih. Anggap aja ini hadiah dari aku karena kita udah lama nggak ketemu. Kamu terima aja, jangan menolak lagi."

Galih menghela napas panjang. Rasa haru yang membuncah membuat dadanya sesak. Ia tidak tahu harus membalas kebaikan Aldi dengan cara apa lagi. "Makasih banyak ya, Di... Aku janji pasti bakal ganti uangmu ini begitu dapat kerjaan."

"Santai aja, Lih," ujar Aldi tersenyum renyah.

Pak Yono mengantongi uang tiga ratus ribu rupiah tersebut lalu memberikan sebuah kunci besi kecil kepada Galih. "Ya sudah, kunci kamarnya ini. Kamu boleh langsung masukan barang-barangmu."

Pak Yono kemudian berdeham pelan dan menatap Galih serta Aldi bergantian dengan mimik wajah yang serius. "Tapi ingat ya, Mas... Kostan di sini ini sifatnya kostan campuran. Bebas lelaki dan perempuan boleh sewa di sini. Yang penting jangan buat kegaduhan, jangan berbuat hal-hal aneh yang melanggar hukum, dan tetap saling menjaga kesopanan."

Aldi menoleh ke arah Galih lalu berbisik pelan, "Kamu denger kan, Lih? Kostan campuran. Kamu harus pintar-pintar jaga diri di sini, jangan sampai tergoda atau kena masalah sama penghuni lain."

Belum sempat Galih merespons bisikan Aldi, tiba-tiba terdengar suara derak pintu dari kamar sebelah yang berjarak hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

Klek!

Pintu kamar itu terbuka perlahan, dan seorang gadis melangkah keluar menuju lorong. Gadis itu memiliki paras wajah yang sangat cantik dengan kulit putih bersih. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang dibiarkan terurai basah menyentuh bahunya, menebarkan aroma harum sampo buah-buahan yang menyerbak memenuhi lorong yang remang itu.

Ia mengenakan tank top ketat berwarna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang molek serta pundaknya yang mulus, dipadukan dengan celana pendek kain di atas lutut. Penampilannya yang sangat seksi dan berani membuat atmosfer di dalam lorong sempit itu seketika berubah.

Gadis itu berjalan santai melewati mereka bertiga hendak menuju ke arah dapur umum di ujung lorong, seolah sudah terbiasa dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.

Sontak saja, Galih dan Aldi berdiri mematung. Mata mereka berdua terpana lebar, mulut mereka sedikit terbuka tanpa sanggup mengeluarkan patah kata pun. Pandangan mereka seolah terkunci pada sosok gadis yang baru saja lewat di hadapan mereka.

Bukan hanya dua anak muda itu saja, bahkan Pak Yono yang berdiri di samping mereka pun ikut mematung dengan mata yang tak berkedip, memandangi langkah gadis seksi tersebut hingga menghilang di belokan lorong.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!