Dia menyeberangi perbatasan demi mencari keluarga yang tak pernah ia miliki. Ia justru jatuh ke dalam pelukan seorang pria yang bersumpah menghancurkannya.
Emma tumbuh miskin dan sebatang kara di sebuah desa kecil di Prancis, tak pernah tahu satu rahasia yang mengubah segalanya: ia punya saudari kembar. Ketika sebuah foto tua menuntunnya ke Toscana untuk mencari asal-usulnya, ia tak sadar bahwa wajahnya kini adalah sasaran nomor satu mafia paling ditakuti di Italia.
Hugo Gallo, sang Don berhati es, baru saja dikhianati di hari pernikahannya—ditinggalkan di altar, brankasnya dikuras habis oleh perempuan yang ia cintai. Maka ketika seorang gadis berwajah persis pengkhianat itu muncul di wilayahnya, ia tak ragu sedetik pun: ia menyeret Emma ke penjara bawah tanahnya untuk membalas dendam.
Tapi air mata gadis ini terlalu tulus. Ketakutannya terlalu nyata. Dan semakin lama Hugo menatapnya, semakin ia sadar—ia mungkin telah menawan orang yang salah.
Di antara balas dendam dan gairah, kebencian dan perlindungan, dua jiwa yang paling tak mungkin bersatu mulai saling meruntuhkan tembok. Namun musuh-musuh lama keluarga Gallo masih mengintai dalam bayang, seorang pengkhianat bersembunyi di balik tembok istana, dan seseorang di dalam rumah menyimpan pisau untuk punggung mereka.
Ketika seorang mafia jatuh cinta, ia tak sekadar melindungi. Ia menyatakan perang.
Sebuah kisah romansa mafia yang gelap, panas, dan memikat—penuh gairah terlarang, pengkhianatan berdarah, rahasia keluarga, dan cinta yang lahir dari tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa yang menyukai pria dominan posesif, heroine yang tumbuh dari rapuh menjadi seorang ratu, dan akhir bahagia yang harus diperjuangkan dengan darah.
Sandera yang Salah: Mafia Gallo — kadang, kesalahan terbesar sang Don justru menjadi satu-satunya hal benar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESTER ÁVILA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan.
Kurang dari empat puluh delapan jam. Itulah lamanya keberanian Alessia bertahan.
Aku berada di ruang kerjaku; berat gelas kristal di tanganku adalah satu-satunya hal yang mencegahku menghancurkan sesuatu.
Kenapa dia kembali?
Kenapa ke Toscana?
Kelancangannya berjalan di jalan-jalanku, di bawah matahariku, dengan aksen Prancis palsu itu dan air mata yang tampak begitu nyata sampai-sampai terasa menyedihkan.
Dia pikir aku ini amatir?
Bahwa nama baru di paspor murahan akan membeli pengampunanku?
"Marco, kumpulkan semua orang di ruang makan. Sekarang," perintahku lewat radio komunikasi.
Aku menuruni tangga, merasakan darah berdenyut di pelipisku. Keluargaku sudah berkumpul di sana, sebuah gambaran ketertiban dan kuasa yang coba dihancurkannya.
"Alessia ada di sini," umumku, dan keheningan yang menyusul terasa setajam pisau.
"Apa? Perempuan keparat itu punya nyali untuk kembali?" Enzo bangkit, tangannya secara naluriah mencari senjata di sarungnya. "Biar aku yang mengakhiri ini, Hugo. Biar kutagih setiap sen dari delapan belas juta itu sekarang juga."
"Duduk, Enzo!" suaraku mencambuk udara. "Dia tidak akan mati. Belum. Dia akan memberitahuku untuk siapa dia bekerja dan di mana tikus yang membantunya menguras rekeningku."
Kupandang ibuku, Cassandra, yang tetap membisu total. Ia tak butuh senjata; kehadirannya saja mengendalikan seluruh ruangan. Mata gelapnya seolah membaca bayang-bayang di sudut mansion. Sienna, di sisinya, tampak pucat, meremas tangannya sendiri di bawah meja.
"Perintahnya jelas," lanjutku, memandang satu per satu anak buahku. "Dia dikurung di sel di sayap timur. Semuanya sudah kusita. Tas, ponsel, paspor 'Emma' yang konyol itu. Aku mau dia berada dalam gelap. Tanpa makanan. Tanpa air. Tanpa mandi. Aku mau bau ketakutan menggantikan parfum mahal yang biasa dia pakai. Tak ada yang boleh masuk ke sana. Tak ada yang boleh bicara dengannya."
"Hugo, apa ini perlu?" Sienna mulai bersuara, suaranya bergetar. "Bagaimana kalau dia punya sesuatu untuk dikatakan…"
"Yang dia katakan hanyalah kebohongan, Sienna. Dan aku tidak akan mendengarkannya sampai dia terlalu lemah untuk mempertahankan perannya."
Aku kembali ke ruang kerjaku dan melemparkan barang-barang miliknya ke atas meja. Paspor atas nama Emma Duboys menatapku, dengan keterangan orang tua Francesco Duboys. Kerja yang rapi, harus kuakui. Bahkan ada stempel masuk ke negara ini. Tapi Alessia selalu piawai soal detail. Dia pikir dia bisa menaklukkanku lewat kelelahan, lewat rasa iba.
Matahari mulai terbenam, mewarnai perbukitan dengan merah yang mengingatkanku pada anggur dan darah. Aku masih belum tahu siapa lelaki di balik pelariannya, siapa bajingan yang menertawakanku sementara dia mengalihkan perhatian penjagaanku. Tapi aku akan mencari tahu.
"Simpan makan malamnya, Cassandra," kataku pada ibuku saat ia melewati pintu, mengamati layar monitor bersamaku dalam diam. "Aku tidak akan makan. Ada interogasi yang harus kumulai, dan aku berniat menikmati setiap kata pengakuan yang akan kucabut dari mulut pembohong itu malam ini."
Sebelum turun, aku berhenti di depan monitor di ruang kerjaku. Cahaya dingin dari layar itu satu-satunya penerang di ruangan. Kukira aku akan melihat Alessia mondar-mandir seperti binatang di dalam kandang, atau mungkin duduk dengan senyum sinis itu, menyusun langkah berikutnya dalam permainan caturnya.
Tapi apa yang kulihat membuatku terpaku dengan tangan di gagang pintu.
Dia berlutut di sudut sel, kedua tangannya terlipat di bawah dagu, tubuhnya berguncang oleh isak tangis senyap yang mengguncang bahunya yang kurus. Bibirnya bergerak-gerak liar dalam bisikan yang tak terdengar.
Dia sedang berdoa.
Aku mengernyit, sebuah simpul kebingungan menghimpit dadaku. Alessia tidak berdoa. Alessia membenci gereja, mengejek rosario Cassandra, dan berkata Tuhan hanyalah rekayasa bagi orang-orang lemah yang tak punya nyali untuk merebut apa yang mereka inginkan. Perempuan yang kukenal hanya berlutut untuk mengikat tali sepatu bermereknya atau untuk merayu.
"Apa yang kau lakukan, Alessia?" gumamku pada layar, suaraku keluar seperti geraman rendah.
Apakah ini trik baru? Apakah dia tahu aku sedang mengawasi? Mungkin dia mengira, kalau dia menyentuh sisi religius keluargaku, Cassandra akan menjadi perantaranya. Itu strategi yang brilian, khas dia: menyerang titik paling sensitif di rumah Gallo agar membuat kami gila dari dalam.
Tapi tangisan itu… tak terdengar seperti tangis seorang aktris yang menunggu tepuk tangan. Itu suara ketidakberdayaan total, jenis suara yang keluar dari seseorang saat seluruh dunianya runtuh dan tak tersisa apa pun selain iman yang putus asa.
"Kau tidak akan menghancurkanku dengan cara ini," kataku pada diri sendiri, meski sebuah tusukan keraguan, sekecil ujung jarum, telah melubangi kepastianku. "Kau ingin membuatku bingung. Kau ingin aku melihat seorang santa di tempat sebenarnya ada iblis."
Kumatikan monitor itu dengan kasar. Keheningan yang menyusul terasa berat. Kalau dia ingin membuatku gila dengan wajah baru "korban yang saleh" ini, dia berhasil. Tapi aku akan turun ke sana dan merobek topeng itu, sekalipun harus kupakai kedua tanganku sendiri untuk melakukannya.
Tak seorang pun menipu Hugo Gallo dua kali. Bahkan dengan sebuah doa sekalipun.
Kuambil senter dan seikat kunci. Sudah waktunya mencari tahu siapa yang sedang berdoa di sel itu: perempuan yang kubenci atau hantu yang dia ciptakan untuk menghancurkanku.