Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Selir Huo Yan berdiri dari kursinya, menatap Feng Chuan dengan pandangan menuntut. "Komandan Feng... ada hal mendesak apa hingga kau menyuruh kami semua berkumpul di meja makan aula ini?" Sebagai selir tertua, dia langsung maju.
Feng Chuan berdiri tegap sambil mengedarkan pandangan kepada empat selir pangeran. "Hamba membawa perintah resmi dari Yang Mulia Pangeran Zhang Li," ujar Feng Chuan nyaring. "Nanti sore, seluruh Selir diwajibkan menghadap Yang Mulia secara pribadi di Ruang Baca Utama."
Mendengar ucapan Feng Chuan, Selir Huo Yan seketika membeku. Pikiran tentang insiden Hutan Selatan langsung terlintas.
Pasti ini soal selir Lan yang tersesat, batin Selor Huo. Mendadak rasa cemas menyerangnya. Ia teringat jelas bagaimana ia memarahi Xiao Yu yang ribut menanyakan Selir Lan yang tak kunjung kembali kemarin. Saat itu, Huo Yan hanya ingin membungkam kegaduhan tanpa tahu sedikit pun bahwa Selir Kui sebenarnya sedang menjebak Selir Lan di area terlarang.
Di sebelah Selir Huo, Selir Kui juga demikian. Pasti soal itu. Makanya aku tidak tenang. Tidak mungkin pangeran diam saja tentang soal ini.
Selir Lan melirik Xiao Yu. Dia juga cemas, tapi karena hal lain. Apa ini tentang Xiao Yu?
"Apa ada hal lain?" tanya Selir Huo Yan.
"Tidak ada, Yang Mulia Selir Huo," jawab Feng Chuan.
"Baiklah. Nanti sore di aula baca." Selir Huo mengulang pengumumannya.
"Yang Mulia mengharapkan kehadiran kalian berempat tepat waktu. Tidak ada alasan untuk berhalangan," imbuh Feng Chuan. "Kalau begitu saya permisi." Feng Chuan membungkuk memberi hormat.
Keempat selir ini membungkuk juga membalas penghormatan pengawal pangeran.
Langkah kaki tegap Feng Chuan dan para pengawalnya perlahan menjauh meninggalkan aula. Di sekeliling meja makan yang kini sunyi.
"Kau melapor pada Pangeran?" tanya Selir Kui mendadak, menatap Selir Lan dengan pandangan menuduh yang tajam.
Selir Lan menoleh pelan. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, menatap balik Selir Kui tanpa gentar. "Tidak. Apa Kakak takut karena sudah membuatku tersesat?"
"Huh! Itu hanya salah informasi saja," tepis Selir Kui cepat, memalingkan wajah dengan raut tidak bersalah yang dipaksakan. "Kalau kamu mengikutiku dengan benar, pasti bisa pulang secepatnya."
"Tolong diamlah, Selir Kui!" potong Selir Huo Yan dengan nada tinggi yang tertekan. Wajah selir tertua itu tampak makin tegang saat rasa panik menguasai dirinya. "Keadaan sudah begini, seharusnya kamu diam dan bersikap baik! Kau akan kena hukuman jika tetap bersikap tidak bersalah seperti itu!"
Bibir Selir Kui menipis kesal karena dibentak. "Jangan begitu. Kakak tahu kenapa selir Lan ke hutan?"
Selir Huo menunggu kata-kata selir Kui dengan jantungnya berdetak kencang.
Xiao melirik. Dia penasaran, apa yang akan dibicarakan selir Kui. Karena wanita itu tampak tenang.
"Selir Lan ingin mendapat pujian darimu soal ramuannya. Jadi aku menunjukkan daun obat di dalam hutan yang paling bagus. Bukankah waktu itu kakak Huo menolak mentah-mentah ramuan obat yang diberi oleh Selir Lan?"
"Bukan begitu," bantah selir Lan merasa tidak enak.
"Kenapa? Bukannya iya? Makanya aku mengajakmu ke dalam hutan," balas selir Kui.
Jadi itu alasan selir Lan ke dalam hutan, batin Xiao Yu paham.
Xiao Yu melirik pada selir Huo. Perempuan itu meremas jemarinya sendiri dengan sangat kuat. Sepertinya dia takut kalau dia akan terseret dan dianggap sebagai penyebab selir Lan bisa ke hutan.
"Kakak Huo, maksud aku ..." Selir Lan berusaha menjelaskan.
Selir Huo menelan ludah. "Baiklah. Sesuai yang dikatakan pengawal Feng, kita harus datang ke aula baca nanti sore. Jangan sampai kalian terlambat," kata Selir Huo sambil melirik selir Kui.
"Baik, kakak selir Huo," ujar Xiao Yu.
"Ya .." selir Kui menyahut dengan malas. Sementara selir Lan yang merasa tidak enak ikut mengangguk pada akhirnya.
Setelah itu selir Huo Yan berjalan lebih dulu kembali ke paviliunnya meninggalkan mereka.
Selir Lan menghembuskan napas panjang. Ada raut tidak enak hati yang amat sangat membebani wajahnya. Ia menoleh ke arah Selir Kui, lalu berkata dengan suara lirih namun tegas, "Kakak Kui, harusnya kamu tidak membawa-bawa Kakak Huo seperti itu. Dia tidak ada hubungannya dengan aku yang tersesat di hutan."
Selir Kui hanya mendengus licik seraya merapikan lipatan lengan gaunnya. "Kenapa? Memang kenyataannya begitu, kan? Jika dia menyambut baik ramuanmu sejak awal, kamu tidak akan sibuk mencari tanaman obat bersamaku." Ia memutar tubuhnya anggun, melirik Selir Lan dan Xiao Yu dari sudut mata dengan tatapan meremehkan. "Terserah apa katamu. Yang jelas, persiapkan saja dirimu untuk nanti sore."
Dengan kibatan kain gaunnya yang megah, Selir Kui melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, berjalan kembali ke kediamannya dengan kepala terangkat—menutup rapat rasa cemas yang sebenarnya mulai menggerogoti hatinya.
Kini hanya tersisa Selir Lan dan Xiao Yu di aula tengah.
Selir Lan memegang dadanya yang berdebar kaku, lalu menatap Xiao Yu dengan pandangan penuh penyesalan. "Selir Xiao... bagaimana ini? Aku takut Pangeran akan menyalahkan Kakak Huo atau malah mengira ada perselisihan buruk di antara kita."
Xiao Yu menatap Selir Lan dengan raut polosnya yang tenang. Ia menyentuh lengan Selir Lan pelan, memberikan gestur menenangkan yang sangat sederhana.
"Jangan cemas, selir Lan," sahut Xiao Yu halus. "Aku yakin Pangeran Zhang Li adalah orang yang sangat bijaksana. Beliau pasti tahu siapa yang benar-benar bersalah dan siapa yang tidak."
Selir Lan menatap mata Xiao Yu sejenak, lalu mengangguk perlahan, sedikit terhibur oleh kepolosan selir muda di sampingnya itu. "Semoga saja begitu... Ayo, kita kembali ke kediaman masing-masing untuk bersiap."
"Ya."
Keduanya pun berpisah menuju tempat masing-masing.
*
*
*
Dentang bel sore bergaung nyaring di kompleks istana. Keempat selir berjalan beriringan dalam hening. Selir Huo Yan melangkah paling depan dengan punggung kaku.
Selir Kui juga berusaha mempertahankan raut wajah tenang dengan dagu terangkat. Meski sebenarnya dia sedang gelisah.
Di belakang mereka, Selir Lan dan Xiao Yu berjalan berdampingan.
Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir naga milik Ruang Baca Utama. Komandan Feng Chuan bersama dua pengawal bersenjata yang berdiri siaga di balik pintu memberi isyarat hormat singkat sebelum perlahan mendorong pintu tebal tersebut.
Pangeran Zhang Li sudah duduk tegap menciptakan aura dominan yang mengintimidasi seluruh ruangan.
Keempat selir melangkah masuk serentak, merapatkan gaun mereka, lalu menekuk lutut dan menundukkan kepala dengan anggun untuk memberikan penghormatan formal.
"Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Pangeran Zhang Li," ucap mereka bersahutan dengan nada teratur.
Tatapan pangeran Zhang dingin dan tajam menatap keempat wanita yang kini berlutut di hadapannya satu per satu. Suasana di dalam ruang baca itu seketika hening tanpa suara.