Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA KAMU AKAN MENINGGALKAN KAMI?
Matahari perlahan bergeser ke barat, menyisakan bias kemerahan yang memantul di atas permukaan air laut. Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Di balik dinding-dinding kayu pos jaga yang sederhana, ketegangan kembali menyelimuti udara.
"Pastikan semua barang bawaanmu tidak ada yang tertinggal, Xin Xia," bisik Shen Munchen—yang masih mengenakan seragam logistiknya—sambil melirik ke arah pintu bilik.
Xiao Luo, yang kini telah resmi menyandang nama samaran tersebut, mengangguk mantap. Ia mengenakan pakaian sederhana bernuansa klasik yang pas dengan latar waktu di pulau pengasingan itu. Di tangannya, sebuah bungkusan kain berisi pakaian lamanya tergenggam erat.
"Semua sudah beres. Ayo, kita bisa berangkat sekarang," balas Xiao Luo dengan nada rendah namun penuh percaya diri.
Shen Munchen membuka pintu perlahan dan melangkah keluar lebih dulu, disusul Xiao Luo di belakangnya. Begitu menginjakkan kaki di luar, Xiao Luo memejamkan matanya sejenak. Akhirnya, tibalah saat di mana ia bisa bergerak bebas di tempat asing ini tanpa perlu merasa cemas.
"Sudah siap?" tanya Shen Munchen, yang ternyata sudah mengamatinya sejak ia memejamkan mata.
"Siap," jawab Xiao Luo tegas.
Shen Munchen kembali memimpin jalan, diikuti oleh Xiao Luo. Langkah mereka cepat namun tetap tenang. Keduanya keluar dari pos jaga utama, lalu menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah bukit kecil menuju kawasan tempat tinggal keluarga Xin.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di sebuah halaman rumah berpagar bambu yang dikelilingi pohon-pohon buah yang rimbun. Itulah kediaman Tuan Xin.
Tok... tok... tok...
Shen Munchen mengetuk pintu kayu tiga kali dengan irama tertentu. Tak berselang lama, pintu berderit terbuka. Seorang pria paruh baya dengan guratan ketegasan di wajah yang memancarkan kehangatan muncul dari balik pintu. Itu adalah Tuan Xin.
"Munc—ehm, maksudku Da Bao..." Tuan Xin tampak masih canggung memanggil Shen Munchen dengan nama tersebut. Setelahnya, pandangannya beralih pada sosok di samping pemuda itu. "Ayo, masuk ke dalam," sambutnya dengan nada setengah berbisik, lalu segera membukakan pintu lebar-lebar untuk mempersilakan keduanya masuk.
Begitu pintu tertutup rapat dan dikunci, atmosfer ruangan berubah menjadi lebih serius. Tuan Xin menarik napas panjang, menatap Xiao Luo dari kepala hingga kaki dengan sorot mata yang menyiratkan kelegaan mendalam.
"Luar biasa... Paman Li dan para pengawas benar-benar tertipu mentah-mentah oleh laporan kalian," puji Tuan Xin sambil tersenyum tipis, lalu mempersilakan mereka duduk di atas kursi kayu antik. "Kalian telah melewati ujian pertama dengan sangat baik."
Xiao Luo duduk sambil meletakkan bungkusan kainnya di atas meja. "Semua ini berkat skenario matang yang Paman dan Da Bao susun. Tapi, kita tidak boleh lengah. Apakah identitas 'Xin Xia' ini benar-benar aman dari kecurigaan jangka panjang?"
Tuan Xin mengangguk mantap. "Jangan khawatir. Keponakanku yang asli memang telah tiada bersama kedua orang tuanya dalam tragedi tiga tahun lalu. Jasad mereka tidak pernah ditemukan, sehingga kisah tentang dirimu yang terombang-ambing di lautan lepas menjadi alibi paling logis yang tidak akan diselidiki lebih jauh oleh para pengawas."
"Baguslah kalau begitu," gumam Xiao Luo lega.
"Omong-omong, kemana yang lain, Paman?" lanjut Xiao Luo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa sunyi.
"Bibi dan kakak iparmu pergi ke rumah Nyonya Shen. Ketiga kakakmu juga belum pulang dari ladang."
"Oh..."
Suasana seketika menjadi agak canggung. Shen Munchen terkenal dingin, sementara Xiao Luo sendiri bingung harus memulai topik apa. Untungnya, Tuan Xin segera mencairkan suasana dengan menanyakan langkah selanjutnya.
"Jadi, mulai saat ini, di mana Nona Xiao akan tinggal?"
"Paman harus membiasakan diri memanggil Xiao Luo dengan nama 'Xin Xia', sama seperti memanggilku Da Bao," sela Shen Munchen mengingatkan.
"Ah, benar. Paman mengerti. Jadi, di mana Xia'er akan tinggal?" ralat Tuan Xin.
"Mungkin untuk beberapa hari ke depan, kami akan merepotkan keluarga Paman. Ia akan tinggal di sini terlebih dahulu. Nanti malam, aku akan mengajukan izin untuk membangun rumah baru di samping kediaman keluargaku."
"Apa itu diperbolehkan?"
"Kemungkinan besar diizinkan. Semalam, Ketua memintaku menyampaikan niat untuk meminang Xia'er."
"Ha?! Kalian mau menikah?" tanya Tuan Xin terkejut. Makam mendiang putrinya saja masih basah, bagaimana mungkin menantunya itu sudah berpikir untuk menikah lagi? Ia tahu Xiao Luo sangat mirip dengan putrinya, tetapi semirip apa pun wajah itu, ia tidak bisa serta-merta menganggapnya sebagai putri kandungnya. Sebagai seorang ayah, bagaimana ia sanggup melihat menantunya menikah secepat ini?
Shen Munchen tentu saja bisa menebak apa yang berkecamuk di benak pria paruh baya itu. Begitu pula dengan Xiao Luo. Keduanya sama sekali tidak memiliki ketertarikan romantis satu sama lain.
"Tidak!"
"Tidak!"
Keduanya menyuarakan penolakan secara bersamaan tanpa ragu. Entah mengapa, penolakan serempak itu justru membuat Tuan Xin merasa tidak enak hati.
"Paman tidak perlu khawatir. Untuk saat ini, aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menikah, apalagi dengan Tuan Jenderal. Kita berasal dari dunia yang berbeda," ucap Xiao Luo jujur. "Entah sampai kapan sumur itu bisa membawaku kembali ke tempat asalnya. Namun, jika suatu hari aku benar-benar tidak bisa kembali ke sana, harapanku hanya satu: aku ingin kalian semua bisa hidup dengan baik. Tidak kekurangan makanan dan pakaian, serta hidup dengan bahagia. Itu saja sudah lebih dari cukup bagiku."
Entah mengapa, ucapan itu membuat seisi ruangan terdiam seribu bahasa. Termasuk beberapa orang yang baru saja tiba dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah.
Nyonya Shen dan Shen Tingting tampak berdiri mematung dengan mata memerah. Mereka berdua adalah orang-orang pertama yang berjumpa dengan Xiao Luo, sekaligus yang paling merasakan kebaikan serta manfaat dari kehadiran gadis itu.
Kriet...
Pintu depan terdorong pelan dari luar. Nyonya Shen melangkah masuk sambil menggendong kecil Shen Yujin di pelukannya. Ketiga orang yang tadinya tengah berdiskusi serius itu langsung menoleh secara bersamaan.
"Kalian sudah datang," sapa Tuan Xin dengan agak canggung.
Mata Xiao Luo membelalak kecil saat mendapati Nyonya Shen dan Shen Tingting sudah berdiri di sana.
"Apa kamu berniat meninggalkan kami?" tanya Nyonya Shen dengan air mata yang hampir tumpah.
"Maksud Bibi... apa?"
"Apakah kamu benar-benar ingin pergi dari sini?"
"Bukan itu maksudku. Bibi, kumohon jangan salah paham..." sanggah Xiao Luo dengan perasaan tidak enak dan hati yang mencelos.