NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kalimat itu membuat jantung Mikha seolah berhenti berdetak.

Istri aku.

Pras menyebutnya dengan begitu mudah, seolah status tersebut masih menjadi alasan yang cukup untuk membatasi percakapannya dengan seseorang di ujung telepon.

Lalu, siapa orang yang meneleponnya?

Dan mengapa lelaki itu terdengar begitu berhati-hati?

Mikha ingin sekali bangkit dan menanyakan semuanya. Ia ingin merebut ponsel itu, melihat nama yang tertera di layar, lalu memastikan apakah kecurigaannya selama ini benar.

Namun, ia takut.

Takut jika nama yang muncul di layar ponsel itu benar-benar milik perempuan yang selama ini menjadi alasan di balik rencana perceraian mereka.

“Sudah, nanti aku hubungi lagi,” ujar Pras sebelum mengakhiri panggilan.

Lelaki itu berdiri diam selama beberapa detik, lalu kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.

Mikha segera memejamkan mata lebih rapat ketika merasakan Pras kembali mendekati ranjang.

Pras berbaring di sampingnya, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.

“Dasar,” gumamnya pelan. “Istriku malah tidur duluan.”

Ia terkekeh kecil sebelum akhirnya memeluk Mikha dari belakang.

Tubuh Mikha kembali menegang.

Aroma parfum Pras yang biasanya membuatnya merasa nyaman kini justru mengingatkannya pada kemungkinan bahwa lelaki itu mungkin juga menggunakan parfum yang sama ketika bertemu perempuan lain.

Pikiran itu membuat perutnya terasa mual.

Ia ingin melepaskan pelukan tersebut, tetapi tidak berani bergerak terlalu banyak.

“Selamat tidur, Sayang,” bisik Pras di dekat telinganya.

Mikha menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang.

Beberapa menit kemudian, napas Pras terdengar semakin teratur. Lelaki itu akhirnya tertidur, masih dengan satu tangan melingkar di pinggang istrinya.

Sementara itu, Mikha tetap terjaga dalam kegelapan.

Pikirannya terus kembali pada percakapan singkat yang baru saja didengarnya.

Sekarang nggak bisa. Besok saja, lalu apa yang sedang direncanakan besok.

Pagi itu, Mikha terbangun ketika mendengar suara lemari pakaian dibuka.

Cahaya matahari bahkan belum sepenuhnya masuk melalui celah tirai kamar. Namun, Pras sudah berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam. Rambutnya tertata rapi, sementara jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.

Biasanya, Mikha akan langsung bangun untuk menyiapkan sarapan atau setidaknya menghampiri suaminya, membantu merapikan kerah kemeja yang dikenakannya.

Namun, pagi ini berbeda.

Mikha memilih memejamkan mata kembali.

Ia tidak ingin lagi menjadi istri yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk lelaki yang mungkin sedang mempersiapkan masa depan bersama perempuan lain.

Selama ini, ia terlalu sibuk menjaga rumah tangganya hingga lupa bahwa Pras sendiri mungkin tidak pernah benar-benar menjaganya.

Untuk apa bersusah payah menjadi istri yang berbakti jika pada akhirnya ia hanya akan menjadi perempuan yang disingkirkan?

Tidak.

Jika Pras memang ingin mengakhiri pernikahan mereka, Mikha tidak akan lagi menyerahkan segalanya dengan cuma-cuma.

Ia akan mengambil apa yang menjadi haknya.

Dan jika selama ini Pras begitu pandai menyembunyikan sesuatu darinya, Mikha juga bisa melakukan hal yang sama.

Terdengar suara langkah mendekati ranjang.

Mikha menahan napas, berpura-pura masih terlelap.

Pras berdiri di sisi ranjang, menatap istrinya beberapa saat.

"Masih tidur rupanya."

Suara itu terdengar pelan, hampir seperti gumaman.

Biasanya, Pras akan mengecup kening Mikha sebelum berangkat bekerja. Terkadang, lelaki itu juga sengaja menggodanya agar segera bangun dan menemaninya sarapan.

Namun, pagi ini Pras hanya menarik selimut yang sedikit tersingkap, lalu merapikannya hingga menutupi bahu Mikha.

"Kasihan. Mungkin masih capek," gumamnya.

Mikha hampir saja membuka mata ketika mendengar kalimat itu.

Kasihan?

Apakah Pras benar-benar merasa kasihan kepadanya, atau hanya sedang berusaha mempertahankan citra sebagai suami yang baik?

Ia tidak tahu.

Yang jelas, hatinya sudah terlanjur terluka oleh percakapan semalam.

Pras mengambil tas kerjanya, kemudian berjalan menuju pintu kamar. Akan tetapi, sebelum benar-benar keluar, lelaki itu kembali menghampiri ranjang.

"Sayang, Mas berangkat."

Mikha segera menggeliat kecil, lalu membuka mata perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, seolah baru saja terbangun dari tidur yang nyenyak.

"Hmm?"

"Mas berangkat, ya."

Mikha menatap suaminya sekilas. Kemudian, pandangannya beralih pada penampilan Pras yang sudah rapi dari ujung kepala hingga kaki.

"Mas, sudah rapi?"

"Iya. Mas ada meeting pagi."

"Oh iya."

Hanya itu jawaban Mikha.

Tidak ada pertanyaan tentang apakah Pras sudah sarapan. Tidak ada tawaran untuk membuatkan kopi. Bahkan, ia tidak beranjak dari ranjang untuk mengantar suaminya sampai ke pintu.

Pras mengernyit tipis.

Biasanya, Mikha akan bertanya lebih banyak. Perempuan itu selalu memastikan apakah suaminya membawa bekal, apakah ada dokumen yang tertinggal, atau apakah ia akan pulang terlambat.

Pagi ini, istrinya bahkan terlihat enggan berbicara.

"Kamu masih ngantuk?" tanya Pras.

"Iya, sedikit."

"Ya sudah. Tidur lagi saja."

Mikha mengangguk kecil.

Pras sempat berdiri beberapa detik, seolah menunggu sesuatu. Mungkin menunggu Mikha bangun dan memeluknya, atau sekadar memberikan kecupan sebelum ia pergi.

Namun, Mikha hanya menarik selimut hingga menutupi dadanya.

Akhirnya, Pras tersenyum tipis.

"Mas berangkat, Sayang."

"Hati-hati."

Jawaban itu terdengar begitu datar hingga Pras kembali menoleh.

Namun, ia tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu hanya mengangguk, lalu meninggalkan kamar.

Begitu mendengar suara langkah suaminya menjauh, Mikha langsung membuka mata lebar-lebar.

Ia menatap pintu yang sudah tertutup.

"Mulai sekarang, aku juga bisa berubah, Mas," bisiknya lirih.

Matanya terasa panas, tetapi kali ini Mikha berusaha menahan air matanya.

Ia tidak ingin terus-menerus menangisi sesuatu yang bahkan belum terbukti sepenuhnya. Ia membutuhkan kepastian, bukan sekadar kecurigaan.

Namun, selama menunggu kepastian itu, ia juga tidak akan membiarkan dirinya terus berada dalam posisi yang lemah.

Mikha bangkit dari ranjang, lalu mengambil ponselnya.

Ia membuka percakapan grup arisan yang beberapa hari terakhir sempat diabaikannya. Di sana, beberapa anggota sedang membicarakan perhiasan yang dikenakan salah seorang teman mereka pada pertemuan terakhir.

Mikha menggulir layar hingga menemukan foto sebuah gelang mutiara yang begitu indah.

Gelang itu memiliki rangka emas putih dengan untaian mutiara berkualitas tinggi. Di bagian tengahnya terdapat sebuah berlian kecil yang membuat tampilannya semakin mewah.

Mikha memperbesar foto tersebut.

Lima ratus juta rupiah.

Itulah harga yang pernah disebutkan pemilik gelang tersebut ketika salah seorang anggota arisan bertanya.

Angka yang sangat besar.

Bahkan, bagi Mikha yang terbiasa hidup berkecukupan bersama Pras, harga itu tetap terasa tidak masuk akal untuk sebuah gelang.

Namun, justru karena itulah ia tertarik.

Sebuah ide perlahan muncul di kepalanya.

Jika Pras masih menganggap dirinya sebagai istri yang harus dipenuhi segala keinginannya, ia akan memanfaatkan anggapan tersebut.

Bukan dengan meminta uang secara langsung. Ia akan memulainya dari sesuatu yang tampak wajar bagi seorang istri yang hidup bersama suami kaya.

Perhiasan.

Tas.

Barang-barang mahal yang selama ini sering ia urungkan untuk dibeli karena tidak ingin dianggap boros.

Mikha menarik napas panjang.

"Kalau memang akhirnya kita berpisah, setidaknya aku tidak keluar dengan tangan kosong."

Ia tahu dirinya terdengar egois.

Namun, ia juga tahu bahwa selama ini ia telah memberikan waktu, tenaga, dan kesetiaannya kepada rumah tangga tersebut. Ia tidak pernah membayangkan harus memikirkan cara melindungi dirinya sendiri dari suaminya.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!