"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
"Salsa..." teriak Ayah Riko saat masuk ke dalam rumah.
"Kenapa teriak-teriak sih, Yah? Salsa baru pulang dari kantor. Dia pasti lagi mandi atau istirahat," tegur Mama Maya pada suaminya.
"Bodo amat. Buruan panggil Salsa, Ma." suruh Ayah Riko pada istrinya.
"Emang ada hal pen..."
Penting. Ini sangat penting demi kekayaan keluarga kita,
Mendengar seruan dari Ayah Riko itu membuat Mama Maya bergegas pergi memanggil Salsa. Apalagi melihat raut wajah Ayah Riko yang begitu serius dan seperti menahan emosi. Ini artinya apa yang akan dibicarakan adalah hal serius. Hanya saja Mama Maya khawatir kalau Salsa membuat ulah dan berakhir nanti Ayah Riko marah besar. Sedangkan Ayah Riko langsung terduduk di ruang keluarga sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Ada apa, Yah?" tanya Salsa dengan raut wajah bingungnya. Tangan Salsa ditarik paksa oleh Mama Maya untuk segera menemui Ayah Riko.
"Kamu sebenarnya tahu tidak aslinya Bian itu siapa?" tanya Ayah Riko to the point.
"Ya tahu dong, Yah. Dia kan petani sekaligus penjual sayuran dan buah. Ayah kenapa sih tanya tentang Bian?" tanya Salsa dengan tatapan bingungnya.
"Otakmu udah miring, Salsa. Kamu tidak bisa membedakan mana orang kaya yang sebenarnya dan bukan. Kalau dia hanya petani dan punya toko kecil, tidak akan semudah itu mengeluarkan uang puluhan juta untuk kuliahmu. Belum ditambah lagi uang jajanmu yang katanya bisa puluhan juta setiap bulannya. Seharusnya kamu curiga itu si Bian dapat duit banyak darimana," seru Ayah Riko dengan tatapan tajamnya.
"Sebenarnya ini ada apa sih, Yah? Kok kamu tiba-tiba pulang terus ngomongin Bian," tanya Mama Maya dengan raut wajah bingungnya.
Ayah Riko menghela nafasnya kasar kemudian menatap Salsa dan Mama Maya secara bergantian. Dia pun menceritakan tentang ucapan dari rekan kerjanya di kantor. Mama Maya dan Salsa mendengarkan secara seksama. Keduanya terkejut mendengar fakta yang baru saja terkuak.
Apalagi Salsa yang langsung berdiri. Dia merasa dibohongi oleh Bian yang katanya bekerja di kebun dan punya toko kecil. Padahal Bian adalah pemilik kebun dan supplier sayuran juga buah terbesar di kota ini. Sedangkan toko kecil itu hanya untuk transaksi jual beli warga sekitar saja. Membantu warga agar tidak terlalu jauh saat berbelanja.
"Ayah, ini nggak bener kan?" tanya Salsa tak terima.
"Nggak benar gimana? Ini udah info paling valid. Bisa-bisanya kamu menolak lamaran dari orang kaya, Salsa. Mungkin kekayaan Ayah ini saja tak sebanding dengan milik Bian." ucap Ayah Riko sambil menghela nafasnya kasar.
"Jangan lupa, Yah. Rumah ini juga masih atas nama mantan istrimu. Jadi kamu ini sebenarnya hanya kaya karena ditopang mantan istrimu," sindir Mama Maya tiba-tiba.
"Ingat juga, Ma. Kamu ikut menikmatinya, jadi jangan banyak ngomong." sindir balik Ayah Riko membuat Mama Maya mendengus sebal.
Salsa hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan kedua orangtuanya. Dia pikir kekayaan Papa tirinya ini berasal dari kerja kerasnya sebagai manager. Jika Aluna keluar dari rumah ini, berarti status mereka di sana hanya lah menumpang atau menyewa. Mereka sama sekali tidak punya tempat tinggal dan menumpang pada Aluna.
"Kita selama ini numpang di rumah Aluna dong, Yah? Berarti sebenarnya yang miskin ini kita? Bukan Aluna?" tanya Salsa dengan tatapan bingungnya.
"Numpang, tapi sebentar lagi juga akan balik nama jadi Ayahmu." ucap Mama Maya dengan santainya.
"Ma, tidak semudah itu balik nama rumah orang. Butuh saksi dan tandatangan ahli warisnya. Apalagi Aluna belum meninggal dan sekarang berada di bawah pengamanan keluarga Bian,"
"Jika benar keluarga Bian itu orang kaya dan sedang mencari informasi tentang Ayah, berarti kemungkinan akan mencari tahu hal ini. Jika mereka tahu Aluna masih ada warisan dari Ibu kandungnya, bukan tak mungkin kita bisa ditendang dari sini. Aluna sekarang punya power, Yah. Kita harus hati-hati," ucap Salsa memberikan peringatan.
"Ini semua salah Ayah yang malah menjodohkan Aluna dengan Bian. Seharusnya biarkan saja itu Aluna mati di rumah belakang tanpa ada orang yang tahu keberadaannya," omel Mama Maya setelah paham dengan penjelasan Salsa.
Ayah Riko hanya bisa diam mendengar ucapan dari Salsa. Ada benar juga, untuk balik nama atau turun waris tidak mudah. Jika memalsukan tandatangan pun akan sangat beresiko. Seharusnya memang benar jika Aluna itu lebih baik tidak diberikan ruang untuk keluar dari rumah ini. Kepalanya semakin pusing karena memikirkan hal ini.
"Udah terlanjur. Nggak usah dibahas terus, bikin aku tambah gila." ucap Ayah Riko enggan menanggapi Mama Maya yang menyalahkannya.
"Nggak usah balik nama tidak masalah. Yang penting, dia tidak tahu masih punya warisan dari Ibunya." lanjutnya yang kemudian pergi dari ruang keluarga.
Kamu juga, Salsa. Ceroboh banget,
Apa sih? Jangan nyalahin Salsa terus. Mama juga sih kemarin langsung ngomel-ngomel sama keluarga Bian,
***
Reyhan dan Elova sangat menempel pada Aluna. Bahkan mereka duduk mengapit Aluna yang sedang bersandar pada dashboard ranjang. Sedangkan Bian hanya bisa melihat keakraban ketiganya itu dari sofa di dalam kamar. Dia sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk mendekati Aluna. Dua anaknya itu sudah seperti satpam untuk Aluna.
"Kalian tidur sana, udah malam. Papa juga mau tidur sama Ibu," ucap Bian mengusir kedua anaknya.
"Kami tidul di sini saja, Papa. Kasihan Ibu nanti dibuat nangis lagi sama Papa," ucap Elova sambil tersenyum lebar.
"Papa tidak pernah membuat Ibumu menangis. Jangan suka fitnah Papa dong, Lova." omel Bian pada anak bungsunya itu.
"Kemalin dan hali ini Papa buat nangis Ibu telus lho. Ndak ada pelasaan memang Papa ini," ucap Elova dengan lirikan sinisnya.
"Kan itu tangis bahagia, bukan menangis sedih. Ini bocah menyebalkan sekali," gumam Bian yang rasanya ingin menjitak kepala Elova.
"Kalian mau tidur di sini sama Ibu dan Papa?" tanya Aluna sambil mengelus rambut kedua anaknya.
Iya, tapi ndak sama Papa.
Heh...
Aluna terkekeh pelan mendengar ucapan Elova dan Reyhan yang bersamaan. Aluna sangat bahagia melihat kedua anak Bian ini sudah mau menerima dirinya. Walaupun ada harga mahal yang harus dia bayar demi mendapatkan hal ini. Aluna pun perlahan merebahkan badannya di atas kasur dengan posisi menyamping agar lukanya tidak tertekan.
"Abang tidurnya di belakang Ibu ya. Soalnya kalau lobak tuh..."
"Tidulnya pecicilan kaya gangsingan mutel. Telus takut punggungnya kena pukul," sela Elova membuat Aluna tertawa lebar.
"Ibu nggak bilang gitu ya," ucap Aluna dengan santainya. Reyhan pun membawa Elova agar tidur di depan Aluna agar tak menyenggol punggungnya.
Selamat tidur anak-anak Ibu,
Selamat tidur istriku,
Selamat tidur suamiku,