NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi itu, Jingga tiba di rumah sakit dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Setelah mengganti pakaian dan memeriksa jadwal tugas, Jingga mulai bekerja seperti biasa.

Ia membantu pemeriksaan pasien, menyiapkan obat sesuai instruksi dokter, serta mencatat perkembangan kondisi mereka. Sesekali pikirannya masih melayang pada putranya, terutama ketika mendengar tangisan anak kecil, tetapi ia berusaha mengingatkan dirinya bahwa ia sedang berada di masa sekarang.

Menjelang pukul sepuluh, Maya menghampirinya sambil membawa dua gelas minuman.

“Ini buat kamu, jangan bilang kamu belum sarapan lagi,” katanya sambil meletakkan salah satu gelas di meja.

Jingga tersenyum kecil. “Aku sudah makan roti tadi.”

“Roti sepotong bukan sarapan yang layak, Jingga.”

“Baiklah, Bu Perawat. Nanti aku makan lagi.”

Maya tertawa mendengar jawaban temannya itu. Ia senang melihat Jingga mulai bisa bercanda meskipun belum sepenuhnya pulih. Setidaknya, sahabatnya itu mulai memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menikmati hal-hal kecil.

Ketika mereka sedang berbincang, seorang perawat datang menyampaikan bahwa Dokter Samudera meminta Jingga mengantarkan berkas pemeriksaan ke ruangannya setelah menyelesaikan tugas. Jingga sedikit terkejut, tetapi ia mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, ia mengetuk pintu ruangan Samudera.

“Masuk,” terdengar suara dari dalam.

Jingga membuka pintu dan mendapati Samudera sedang membaca sejumlah laporan medis. Dokter itu mengangkat wajahnya ketika Jingga masuk, lalu menunjuk kursi di hadapannya.

“Silakan duduk sebentar, Jingga.”

“Ada yang bisa saya bantu, Dok?”

“Berkasnya bisa kamu letakkan di meja. Saya ingin menanyakan keadaanmu setelah kejadian kemarin.”

Jingga meletakkan berkas tersebut, kemudian duduk dengan posisi tegak. “Saya sudah lebih baik. Memang masih agak cemas kalau mendengar anak menangis, tetapi saya berusaha mengendalikan diri.”

“Itu perkembangan yang baik. Tapi ingat, jangan menganggap dirimu gagal hanya karena sesekali masih merasa kesulitan.”

Jingga mengangguk, kini ia mulai terbiasa dengan cara Samudera berbicara. Dokter itu tidak pernah memaksanya menceritakan sesuatu yang belum siap ia ungkapkan. Ia juga tidak memperlakukannya secara berlebihan hanya karena mengetahui bahwa Jingga sedang berduka.

“Jangan lupa menjaga dirimu sendiri.” Lanjut Samudera sedikit lembut.

Percakapan mereka sebenarnya sudah selesai ketika telepon Samudera berdering. Ia melihat layar sebentar, lalu mengangkatnya.

“Iya, Ma. Ada apa?”

Jingga tidak bermaksud mendengarkan pembicaraan pribadi itu, tetapi ia mendengar Samudera menyebut nama seorang anak.

“Arka demam? Sudah diperiksa dokter anak? Baik, Ma. Aku akan mengatur waktu untuk menjemputnya.”

Wajah Samudera terlihat sedikit khawatir. Setelah menutup telepon, ia segera memeriksa jam tangannya.

“Maaf, Jingga. Sepertinya saya harus pergi sebentar. Ada urusan keluarga.”

“Tidak apa-apa, Dok. Silakan.”

Samudera kemudian meninggalkan ruangannya, sementara Jingga kembali ke ruang perawat untuk melanjutkan pekerjaan. Ia tidak mengetahui banyak tentang kehidupan pribadi dokter itu, selain bahwa ia memiliki seorang putra yang masih kecil dan telah kehilangan istrinya dua tahun lalu.

Entah mengapa, kabar bahwa Arka sedang sakit membuat Jingga teringat pada putranya sendiri. Ia segera mengalihkan pikiran, tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan yang menyakitkan.

Sementara itu, Samudera segera menuju rumah orang tuanya. Ia mendapati Arka sedang berada di pangkuan neneknya dengan wajah sedikit lesu. Anak itu masih terlihat mengantuk, tetapi begitu melihat ayahnya, ia langsung mengulurkan kedua tangan.

“Papa!”

Samudera segera menggendongnya. “Kenapa, Sayang? Badannya masih panas?”

Arka mengangguk kecil, lalu menyandarkan kepala di bahu ayahnya.

“Iya, tadi suhu tubuhnya sempat naik,” jelas ibunya. “Dokter sudah memeriksa dan memberikan obat. Katanya harus cukup istirahat dan dipantau.”

Samudera mengangguk. Sebagai dokter, ia memahami pentingnya mengikuti petunjuk perawatan, tetapi sebagai ayah, melihat putranya sakit selalu membuat hatinya tidak tenang. Ia memeriksa kondisi Arka sesuai arahan dokter yang menangani anak itu, kemudian duduk di sofa sambil memeluknya.

“Arka mau tidur sama Papa?” tanyanya lembut.

“Mau.” Jawab bocah itu dengan antusias.

Samudera tersenyum dan mengusap rambut putranya. Ia memutuskan menghabiskan waktu di rumah orang tuanya sampai kondisi Arka membaik. Pekerjaan masih menunggu, tetapi kali ini ia tidak ingin terburu-buru meninggalkan anaknya.

Menjelang siang, demam Arka mulai mereda. Anak itu terlihat lebih ceria dan kembali meminta bermain. Samudera mengajaknya duduk di ruang keluarga, tempat beberapa mainan tersusun di atas karpet. Arka mengambil mobil-mobilan berwarna merah, lalu mendorongnya ke arah ayahnya.

“Papa, main!”

Samudera tertawa kecil. “Baiklah. Papa ikut bermain.”

Mereka bermain cukup lama hingga Arka mulai mengantuk. Ketika anak itu akhirnya tertidur di pangkuannya, Samudera menatap wajah mungil tersebut dengan perasaan hangat. Ada saat-saat ketika ia merasa sedih karena Arka harus tumbuh tanpa mengenal kasih sayang ibunya secara langsung. Namun, ia selalu berusaha memastikan bahwa putranya tidak pernah merasa sendirian.

Sore harinya, setelah memastikan Arka sudah cukup sehat dan tetap berada dalam pengawasan keluarganya, Samudera kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Ia sempat bertemu Jingga di lorong ketika perempuan itu sedang membawa beberapa berkas menuju ruang administrasi.

“Bagaimana keadaan putra Dokter?” tanya Jingga ketika mereka berpapasan.

Samudera sedikit terkejut, kemudian tersenyum. “Sudah lebih baik. Terima kasih sudah bertanya.”

“Syukurlah, Dok. Semoga cepat pulih.”

“Dia memang sedang aktif-aktifnya sekarang, kadang sulit sekali disuruh istirahat.”

Sekali lagi Jingga melihat Samudera tersenyum lebar ketika membicarakan putranya, ada kebahagiaan sederhana dalam ekspresinya yang membuat Jingga ikut tersenyum.

“Anak seusianya memang begitu, Dok. Mereka selalu ingin bermain.”

“Benar. Kalau sudah mengantuk pun masih menolak tidur.”

Percakapan singkat itu membuat suasana di antara mereka terasa lebih santai. Tidak ada pembicaraan tentang kehilangan, rasa bersalah, ataupun luka masa lalu. Mereka hanya berbincang tentang seorang anak kecil yang sedang tumbuh, sesuatu yang dahulu menjadi bagian paling membahagiakan dalam hidup Jingga.

Namun, setelah berpisah dengan Samudera, senyum di wajah Jingga perlahan memudar. Ia menyadari bahwa mendengar cerita tentang anak kecil saja sudah cukup membuatnya merindukan putranya.

Malam itu, Jingga kembali ke kos dan membuka kotak kecil berisi barang-barang peninggalan anaknya. Ada pakaian mungil, sepasang sepatu, dan mainan yang dahulu sering digenggam putranya sebelum tidur. Jingga mengambil salah satu pakaian tersebut, lalu memeluknya erat.

“Bunda kangen,” bisiknya sambil menangis.

Ia tidak tahu berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk bisa mengingat putranya tanpa merasa hancur. Namun, ia ingin percaya bahwa suatu hari nanti, kenangan itu tidak hanya membawa kesedihan, tetapi juga rasa syukur karena pernah memiliki kesempatan mencintai anak sekecil itu.

1
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
Mundri Astuti
ga sabar ...segala kebusukkan Rangga dan Dira terbongkar didepan keluarga besarnya Rangga termasuk papanya rangga
Nani Haryatiyati
bolehkah aku bahagia di atas masalah mu Rangga?🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
ada kemauan,and i like it☺️
Rohmi Yatun
Ohh berarti yg benar Samudera ya Thor.. okeeyyy..
lanjut Thor👍
𝓡𝓡: Iyesss kak😘
total 1 replies
Rohmi Yatun
Ohh ternyata dewangga dan samudra itu orang yg sama.. kemarin sempat agak bingung sih....
Nani Haryatiyati: iya kak, sama. smpat heran dan spekulasi sendiri,mngkin namanya Samudra Dewangga. Krn formalitas d panggilnya dokter dewangga...gituuu
total 4 replies
Agunk Setyawan
ayo gebukin kak biar otaknya sadar😆😆
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mundri Astuti
Leo kamu ke nya jangan terlalu berharap deh sama jingga, kamu masih ada embel" sama masa lalu kelamnya jingga, mending jingga sama dewangga yg sama" pernah nikah
𝓡𝓡: Nah iya, semoga jg gk terobsesi s Leo ini takutnya jd jahat 😳
total 1 replies
Mundri Astuti
dasar biang kerok tu org berdua...pake nyalahin org lain ...sok paling tersakiti...enek banget dah
Venty Imama
aduh songong itu si rangga ngapain baru sekarang setelah bercerai, setelah rumah tangganya hancur baru kepoin mantan kemana sebelumnya ketika istrinya kesusahan,kemana ketika istri dan anaknya yang sekarat membutuhkannya...manjain wanita dan anak orang lain meski itu keponakannya setelah ditinggal baru tahu rasa sukurin
𝓡𝓡: laki laxknat baru cemburu lah gmn Jingga yagg serasa mau ikut mati pas anaknya meninggal tp dia gak peduli 😬
total 1 replies
Mundri Astuti
biarin aja foto itu sampai pada Rangga, biar ga sombong tu org...jingga berhak bahagia dng org baru, yg lebih baik dari mantan, lebih menghargainya ...

thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu
Sarmini Isang
situ waras rangga,laki2 gak tau diri...masa dr segitu banyaknya keluargamu semuanya bodoh,harusnya ada yg pinter dong cari tau siapa dalang penyebaran berita itu
Agunk Setyawan
lanangan edan
Mundri Astuti
katanya keluarga kaya dan terpandang...masa gitu aja ga bisa cari pelaku penyebaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!