Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi itu, Jingga tiba di rumah sakit dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Setelah mengganti pakaian dan memeriksa jadwal tugas, Jingga mulai bekerja seperti biasa.
Ia membantu pemeriksaan pasien, menyiapkan obat sesuai instruksi dokter, serta mencatat perkembangan kondisi mereka. Sesekali pikirannya masih melayang pada putranya, terutama ketika mendengar tangisan anak kecil, tetapi ia berusaha mengingatkan dirinya bahwa ia sedang berada di masa sekarang.
Menjelang pukul sepuluh, Maya menghampirinya sambil membawa dua gelas minuman.
“Ini buat kamu, jangan bilang kamu belum sarapan lagi,” katanya sambil meletakkan salah satu gelas di meja.
Jingga tersenyum kecil. “Aku sudah makan roti tadi.”
“Roti sepotong bukan sarapan yang layak, Jingga.”
“Baiklah, Bu Perawat. Nanti aku makan lagi.”
Maya tertawa mendengar jawaban temannya itu. Ia senang melihat Jingga mulai bisa bercanda meskipun belum sepenuhnya pulih. Setidaknya, sahabatnya itu mulai memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menikmati hal-hal kecil.
Ketika mereka sedang berbincang, seorang perawat datang menyampaikan bahwa Dokter Samudera meminta Jingga mengantarkan berkas pemeriksaan ke ruangannya setelah menyelesaikan tugas. Jingga sedikit terkejut, tetapi ia mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, ia mengetuk pintu ruangan Samudera.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Jingga membuka pintu dan mendapati Samudera sedang membaca sejumlah laporan medis. Dokter itu mengangkat wajahnya ketika Jingga masuk, lalu menunjuk kursi di hadapannya.
“Silakan duduk sebentar, Jingga.”
“Ada yang bisa saya bantu, Dok?”
“Berkasnya bisa kamu letakkan di meja. Saya ingin menanyakan keadaanmu setelah kejadian kemarin.”
Jingga meletakkan berkas tersebut, kemudian duduk dengan posisi tegak. “Saya sudah lebih baik. Memang masih agak cemas kalau mendengar anak menangis, tetapi saya berusaha mengendalikan diri.”
“Itu perkembangan yang baik. Tapi ingat, jangan menganggap dirimu gagal hanya karena sesekali masih merasa kesulitan.”
Jingga mengangguk, kini ia mulai terbiasa dengan cara Samudera berbicara. Dokter itu tidak pernah memaksanya menceritakan sesuatu yang belum siap ia ungkapkan. Ia juga tidak memperlakukannya secara berlebihan hanya karena mengetahui bahwa Jingga sedang berduka.
“Jangan lupa menjaga dirimu sendiri.” Lanjut Samudera sedikit lembut.
Percakapan mereka sebenarnya sudah selesai ketika telepon Samudera berdering. Ia melihat layar sebentar, lalu mengangkatnya.
“Iya, Ma. Ada apa?”
Jingga tidak bermaksud mendengarkan pembicaraan pribadi itu, tetapi ia mendengar Samudera menyebut nama seorang anak.
“Arka demam? Sudah diperiksa dokter anak? Baik, Ma. Aku akan mengatur waktu untuk menjemputnya.”
Wajah Samudera terlihat sedikit khawatir. Setelah menutup telepon, ia segera memeriksa jam tangannya.
“Maaf, Jingga. Sepertinya saya harus pergi sebentar. Ada urusan keluarga.”
“Tidak apa-apa, Dok. Silakan.”
Samudera kemudian meninggalkan ruangannya, sementara Jingga kembali ke ruang perawat untuk melanjutkan pekerjaan. Ia tidak mengetahui banyak tentang kehidupan pribadi dokter itu, selain bahwa ia memiliki seorang putra yang masih kecil dan telah kehilangan istrinya dua tahun lalu.
Entah mengapa, kabar bahwa Arka sedang sakit membuat Jingga teringat pada putranya sendiri. Ia segera mengalihkan pikiran, tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan yang menyakitkan.
Sementara itu, Samudera segera menuju rumah orang tuanya. Ia mendapati Arka sedang berada di pangkuan neneknya dengan wajah sedikit lesu. Anak itu masih terlihat mengantuk, tetapi begitu melihat ayahnya, ia langsung mengulurkan kedua tangan.
“Papa!”
Samudera segera menggendongnya. “Kenapa, Sayang? Badannya masih panas?”
Arka mengangguk kecil, lalu menyandarkan kepala di bahu ayahnya.
“Iya, tadi suhu tubuhnya sempat naik,” jelas ibunya. “Dokter sudah memeriksa dan memberikan obat. Katanya harus cukup istirahat dan dipantau.”
Samudera mengangguk. Sebagai dokter, ia memahami pentingnya mengikuti petunjuk perawatan, tetapi sebagai ayah, melihat putranya sakit selalu membuat hatinya tidak tenang. Ia memeriksa kondisi Arka sesuai arahan dokter yang menangani anak itu, kemudian duduk di sofa sambil memeluknya.
“Arka mau tidur sama Papa?” tanyanya lembut.
“Mau.” Jawab bocah itu dengan antusias.
Samudera tersenyum dan mengusap rambut putranya. Ia memutuskan menghabiskan waktu di rumah orang tuanya sampai kondisi Arka membaik. Pekerjaan masih menunggu, tetapi kali ini ia tidak ingin terburu-buru meninggalkan anaknya.
Menjelang siang, demam Arka mulai mereda. Anak itu terlihat lebih ceria dan kembali meminta bermain. Samudera mengajaknya duduk di ruang keluarga, tempat beberapa mainan tersusun di atas karpet. Arka mengambil mobil-mobilan berwarna merah, lalu mendorongnya ke arah ayahnya.
“Papa, main!”
Samudera tertawa kecil. “Baiklah. Papa ikut bermain.”
Mereka bermain cukup lama hingga Arka mulai mengantuk. Ketika anak itu akhirnya tertidur di pangkuannya, Samudera menatap wajah mungil tersebut dengan perasaan hangat. Ada saat-saat ketika ia merasa sedih karena Arka harus tumbuh tanpa mengenal kasih sayang ibunya secara langsung. Namun, ia selalu berusaha memastikan bahwa putranya tidak pernah merasa sendirian.
Sore harinya, setelah memastikan Arka sudah cukup sehat dan tetap berada dalam pengawasan keluarganya, Samudera kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Ia sempat bertemu Jingga di lorong ketika perempuan itu sedang membawa beberapa berkas menuju ruang administrasi.
“Bagaimana keadaan putra Dokter?” tanya Jingga ketika mereka berpapasan.
Samudera sedikit terkejut, kemudian tersenyum. “Sudah lebih baik. Terima kasih sudah bertanya.”
“Syukurlah, Dok. Semoga cepat pulih.”
“Dia memang sedang aktif-aktifnya sekarang, kadang sulit sekali disuruh istirahat.”
Sekali lagi Jingga melihat Samudera tersenyum lebar ketika membicarakan putranya, ada kebahagiaan sederhana dalam ekspresinya yang membuat Jingga ikut tersenyum.
“Anak seusianya memang begitu, Dok. Mereka selalu ingin bermain.”
“Benar. Kalau sudah mengantuk pun masih menolak tidur.”
Percakapan singkat itu membuat suasana di antara mereka terasa lebih santai. Tidak ada pembicaraan tentang kehilangan, rasa bersalah, ataupun luka masa lalu. Mereka hanya berbincang tentang seorang anak kecil yang sedang tumbuh, sesuatu yang dahulu menjadi bagian paling membahagiakan dalam hidup Jingga.
Namun, setelah berpisah dengan Samudera, senyum di wajah Jingga perlahan memudar. Ia menyadari bahwa mendengar cerita tentang anak kecil saja sudah cukup membuatnya merindukan putranya.
Malam itu, Jingga kembali ke kos dan membuka kotak kecil berisi barang-barang peninggalan anaknya. Ada pakaian mungil, sepasang sepatu, dan mainan yang dahulu sering digenggam putranya sebelum tidur. Jingga mengambil salah satu pakaian tersebut, lalu memeluknya erat.
“Bunda kangen,” bisiknya sambil menangis.
Ia tidak tahu berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk bisa mengingat putranya tanpa merasa hancur. Namun, ia ingin percaya bahwa suatu hari nanti, kenangan itu tidak hanya membawa kesedihan, tetapi juga rasa syukur karena pernah memiliki kesempatan mencintai anak sekecil itu.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu