NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 28

Jam 7.30 pagi Minggu aku sudah di depan gang.

Hari libur. Gang kos putri sepi. Tidak ada ibu-ibu sayur. Cuma ada kucing oren tidur di atas motor.

Aku pakai baju bebas. Bukan atasan putih kerja. Aku pakai kemeja warna biru sama celana hitam . Tas ransel hitam tetap.

Arfan datang jam 7.58. Pakai kaos polo abu-abu, celana jeans, bukan kemeja. Kelihatan lebih muda. Kayak bukan manager operasional PT. HIJAB BAROKAH. Kayak kakak.

"Pagi, Laila. Hari ini kamu Cantik banget" dia bilang.

Aku nunduk. Tidak ada yang pernah bilang cantik ke aku setelah pakai baju bebas. Dulu di pondok, semua pakai gamis putih sama. Di kos pink pudar, kalau dibilang cantik, ujungnya minta dibayar.

"Naik, kita ke Tanah Abang. Naik motor dulu ke stasiun, terus naik KRL. Motor titip di ruko."

Itu pertama kali aku naik KRL Jakarta.

Stasiun ramai sekali. Orang desak-desakan. Aku pegang erat tas ransel hitam ku. Di dalam ada Al-Quran kecil. Arfan berdiri di depan ku, jadi tameng biar tidak ada laki-laki nempel.

"Pegangan besi ini, Laila. Jangan lepas."

KRL jalan. Goncang. Aku hampir jatuh, tapi Arfan pegang siku ku. Sebentar. Langsung lepas.

"Maaf," dia bilang.

"Tidak apa-apa, Kak.tapi jantungku berdegup kencang tak karuan saat itu"

Turun di Stasiun Tanah Abang. Ya Allah, ramai nya kayak mau lebaran, tapi 100 kali lipat. Semua jual baju. Mukena, gamis, hijab, baju anak semua ada disini. Teriakan penjual di mana-mana.

"Laila, tugas kamu cuma satu. Lihat jahitan mukena putih. Kalau jahitannya rapi kayak lipatan kamu, bilang bagus. Kalau tidak, bilang jelek. Jangan sungkan."

Kami masuk ke toko grosir lantai 2. Toko besar. Mukena putih bertumpuk sampai plafon. Bau kain baru.

Penjualnya kenal Arfan.

"Arpan, lama tidak kulak. Bawa pacar baru?" penjual itu lihat aku.

"Bukan, ini admin saya. Mata nya jeli. Dia yang pilih," Arfan jawab cepat.

Aku jadi malu, tapi juga bangga. Mata jeli. Tidak ada yang pernah bilang mata ku jeli. Dulu Kyai Rahman bilang mata ku nakal.

Aku pegang satu mukena putih. Pegang jahitan bawahnya. Aku balik. Jahitannya lompat-lompat. Tidak rapi.

"Ini jelek, Kak. Jahitannya loncat. Nanti kalau dicuci 2 kali, robek."

Penjual itu kaget. "Wah, admin mu pinter, Pan."

Arfan senyum. "Sudah saya bilang."

Kami pindah toko. Toko kedua, ketiga, keempat. Aku cek 50 mukena putih. Tangan ku yang kapalan jadi hapal mana jahitan pakai mesin bagus, mana pakai mesin jelek.

Sampai toko kelima, aku nemu mukena yang bagus. Putihnya tidak terlalu putih kayak pemutih, putihnya adem kayak mukena ibu. Jahitannya kecil-kecil rapat.

"Kak, ini bagus. Kayak mukena ibu saya," aku bilang.

Arfan langsung borong 100 pcs. Harga 85 ribu satu. Kalau dijual di ruko jadi 150 ribu.

Penjual kasih bonus 5 pcs mukena anak kecil warna putih.

"Buat Laila aja, buat ponakan," penjual bilang.

Arfan kasih ke aku. "Nih, buat kamu."

Aku pegang mukena anak itu. Kecil. Wangi. Kayak mukena yang dulu ibu belikan pas aku umur 7 tahun.

Jam 12 siang, kami istirahat di warteg dekat Tanah Abang. Arfan belikan aku nasi telur dadar dan es teh. Kami makan di bangku panjang, campur sama kuli panggul.

"Laila, kamu tau tidak, kenapa saya bawa kamu ke sini?" Arfan tanya tiba-tiba.

Aku geleng.

"Karena saya mau buka cabang ruko baru di Bekasi bulan depan. Saya mau kamu yang pegang. Jadi kepala admin. Gaji 5 juta."

5 juta. Nasi telur di mulut ku berhenti.

"Kenapa saya, Kak? Mbak Sari kan lebih lama."

"Mbak Sari lipat mukena tidak serapi kamu. Dia kerja karena gaji. Kamu kerja karena mukena itu kayak ibu kamu. Beda."

Aku diam. 5 juta itu bisa buat Bapak di rumah tidak usah capek capek kerja dikebun Bisa buat renovasi rumah.

"Tapi saya masih 16 hari kerja, Kak. Belum pinter."

"Makanya saya ajar. Mulai besok, saya ajar kamu catat stok pakai laptop, bukan buku tulis lagi."

Laptop. Barang yang tidak pernah aku pegang. Di pondok Al-Hidayah, laptop cuma punya Kyai Rahman, yang peci putih paling bersih.

Sore jam 3, kami pulang. Bawa 2 karung besar mukena putih naik bajaj. 100 pcs. Berat. Arfan yang angkat, aku yang dorong dari belakang.

Sampai ruko, sudah tutup karena Minggu libur. Kami taruh karung di dalam.

"Upah hari ini," Arfan kasih amplop putih . Bukan coklat kayak kemarin. Coklat. Tebal. "200 ribu, plus bonus karena kamu nemu mukena bagus. Jadi 300 ribu."

300 ribu. Sehari. Padahal di berita orang yang aku denger, orang Jakarta kerja seharian cuma dapat 100 ribu.

Aku terima. "Terima kasih, Kak."

Arfan antar aku pulang sampai depan gang lagi. Jam 4 sore. Langit Jakarta mendung, mau hujan.

"Laila, besok Senin jangan lupa jam 7.30 ya. Saya jemput lagi. Sekarang kamu sudah kepala calon cabang Bekasi, harus datang lebih pagi."

Aku masuk kos. Kunci pintu triplek. Buka amplop coklat. 3 lembar 100 ribu. Masih wangi Tanah Abang.

Aku taruh di bawah Al-Quran kecil. Sekarang di bawah Al-Quran ada 500 ribu + 300 ribu \= 800 ribu. Plus gaji 3,5 juta yang akan turun tanggal 1. Uang Bapak yang kemarin dia kasih sisa 2,5 juta kini sisa 2 juta karna kubelikan keperluan dikos masih utuh.

Total kalau ditotal, hampir 6 juta. Uang paling banyak yang pernah aku pegang. Dulu jadi Alia, semalam 700 ribu, tapi haram, habis buat bayar kos pink pudar dan make up tebal. Sekarang 800 ribu halal, dari lipat mukena.

HP ku bunyi. Bukan WA peci putih bersih. WA dari Bapak. Foto.

Foto telur ayam kuning 1 butir, di atas piring seng.

Aku nangis lagi. Tapi nangis kali ini beda. Bukan nangis di bus jam 6.30. Bukan nangis di gudang mukena. Ini nangis senyum. Karena telur ayam kuning itu.

Aku balas Pak, Laila dapat bonus 300 ribu hari ini. Laila kirim kebapak ya,buat bapak beli kebutuhan dapur dikampung.

Lalu aku buka buku stok halaman belakang, tulis:

Hari ke-17 di Jakarta. Tuhan, hari ini aku engkau pertemukan aku dengan laki laki baik dihadapan ku. Dia ngasih aku pekerjaan,dia belikan aku makan,dan Pertama kali dia ajak aku naik KRL.

Pertama kali dipilih karena mata jeli, bukan karena cantik. Arfan bilang mau kasih saya toko cabang Bekasi gaji 5 juta.

Tuhan, kalau ini jalan terbaik darimu maka berikan lah harapan masa depan yang cerah kepadaku.

Kalau ini jebakan darimu untuk menguji keimanan ku seperti Kyai Rahman dulu kasih peci bersih tapi hati kotor yang sudah fitnahku.maka kasih saya noda kopi hitam lagi biar saya tau.

Di luar, hujan turun. Gang kos putri becek. Tapi di dalam kos 2x3 meter ku, mukena anak kecil putih bonus Tanah Abang ku gantung di paku. Bersih. Tidak ada noda.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!