NovelToon NovelToon
SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah NH2

Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.

Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?

Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa

Selamat membaca~~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marsya Berubah?

"Kyle...sakit...aah" Marsya merintih kesakitan, tangannya yang memeluk punggung Kyle, sedikit mencakar tubuh laki-laki itu untuk menyalurkan rasa sakitnya.

"Sya, jangan mendesah gitu, please" Kyle menggigit bibirnya, dia tidak tahan tiap kali mendengar Marsya merintih ditelinganya. Suara yang mirip desahan, cukup membuat Kyle tidak fokus mengoleskan salep luka pada punggung Marsya yang lebam. Ditambah posisi Marsya yang bertelanjang dada sambil memeluknya, membuat Kyle hampir kehilangan kendali.

"Sakit, tau...jangan ditekan makanya"

"Astaga, ini nggak ditekan, Sya. Diam ya, mendesah lagi gue cium lo" Kyle lanjutkan aktifitas mengoles salep itu, sementara Marsya semakin erat memeluk leher Kyle, tubuhnya begitu rapat menempel pada dada Kyle.

Sekarang, tinggal mengoleskan salep pada salah satu payu-dara Marsya yang membuat Kyle harus bersusah payah meneguk ludahnya. Sialan, Kyle mengumpat dalam hati, dua bongkahan payu-dara yang sangat bulat dan padat terpampang bebas didepan matanya. Pu-tingnya yang berwarna merah muda seakan menggoda Kyle untuk melahapnya. Untuk sesaat, Kyle terdiam memandangi benda itu sebelum sentuhan tangan Marsya ditangannya membuyarkan pikirannya.

"Kyle, ayo...kok malah diam?"

"Gue nggak mau tau, begitu lo sembuh, lo harus tanggung jawab, Sya" Jawab Kyle sebelum mengoles salepnya pada salah satu payu-dara Marsya yang memar. Mendengar jawaban Kyle membuat Marsya tertawa, rasanya dia ingin menggoda Kyle, dia ingin melihat reaksi suaminya itu.

"Tanggung jawab apa, sih? Kayak gini?"

Marsya mengambil tangan Kyle dan dia arahkan pada salah satu payu-daranya yang tidak terluka. Marsya tersenyum menggoda sambil menuntun telapak tangan Kyle untuk me-remas benda padat miliknya itu. Namun Kyle, dia tampak menahan diri dengan melepaskan tangannya dari sana, helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya

"Cewek nakal, berani-beraninya godain gue disini, hm?" Ucap Kyle sambil meraih dagu Marsya, Kyle berikan kecupan dibibirnya sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.

"Jangan sampai dirumah ngehindarin gue ya, awas aja"

"Aw, takut" Marsya bergidik ngeri, dia tersenyum sambil menatap wajah Kyle yang begitu serius mengoleskan salepnya itu. Sentuhan jemari Kyle dipayu-daranya membuatnya meringis. Bagaimana tidak, payu-dara adalah salah satu bagian sensitif ditubuhnya dan sekarang bagian ini terluka cukup parah, tampak biru dan besar.

Marsya tidak lupa, luka ini dia dapatkan saat Erik mendorongnya kearah meja, rasanya sangat-sangat sakit hingga saat itu dia tidak bisa menahan air matanya.

"Maaf ya, lo harus ngerasain ini karena gue. Kejadian ini nggak bakal keulang lagi, Sya, gue janji" Kyle tinggalkan kecupan dikening Marsya dan kembali memakaikan piyamanya.

"Hm, kamu juga harus janji nggak boleh jauh-jauh dari aku, ya?"

"Janji" Kyle tersenyum, dia segera membuka tirai disekeliling ranjang tidur Marsya lalu kekamar mandi untuk mencuci tangannya. Tidak lama, seorang perawat terlihat berhenti didepan ruangan dan tampak berbicara dengan seseorang. Suara ketukan pintu terdengar, memunculkan Ibunda Erik yang diantar oleh perawat itu.

Kyle yang baru saja keluar dari kamar mandi, terdengar berdecak kesal sambil membuang muka. Terlihat Kyle tidak suka dengan kedatangan Ibunda Erik, sebab Kyle tahu wanita itu datang untuk membujuk Marsya mencabut tuntutannya terhadap Erik. Disana Kyle merasa cemas, dia takut Marsya merasa iba dan luluh hingga bersedia memenuhi permintaan wanita itu.

"Marsya, gimana keadaan kamu, nak?"

"Udah mendingan, Bu. Ibu gimana kabarnya? Ibu kan masih sakit, kenapa datang kesini?"

"Iya, penyakit Ibu memang belum sembuh. Tapi Ibu kesini karena ada hal penting yang harus Ibu bicarakan sama kamu"

"Sayang..." Ibunda Erik memegang tangan Marsya, "Ibu cuma ingin bicara berdua sama kamu, boleh?"

Ucapan Ibunda Erik membuat Marsya melirik Kyle, dia paham bahwa wanita itu tidak ingin Kyle berada disekitar mereka. Marsya memberi kode pada Kyle untuk keluar dari ruangan dan anggukan kecil dikepalanya dia sampaikan agar Kyle tidak perlu mencemaskan apapun, Marsya tahu apa yang harus dia lakukan.

Marsya dengarkan semua keluh kesah Ibunda Erik tentang kasus kejahatan anak laki-lakinya itu. Dengan emosional dan air mata, Ibunda Erik mencoba merayu Marsya dengan permintaannya dan Marsya sudah memahami itu sejak kedatangannya. Namun Marsya menegaskan bahwa dia tidak bisa mengabulkan permintaannya, itu sangat jelas, karena bagaimana pun juga dia terbaring dirumah sakit karena ulah Erik. Marsya tidak mau banyak bicara, dirasa ucapannya cukup jelas, dia mempersilahkan Ibunda Erik untuk pergi.

"Ya sudah kalau gitu. Cepat pulih, nak. Dan kalo boleh Ibu minta, sesekali tolong jenguk Erik ya"

"Kasihan dia, tangan dan jarinya patah, sekarang dia seperti kehilangan semangat untuk hidup. Ibu pamit ya, Sayang"

Sepeninggal Ibunda Erik, Marsya tampak bingung. Apa dia tidak salah dengar? Tangan dan jari Erik patah? Mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal dia ingat betul Erik baik-baik saja saat bersamanya. Seketika, Marsya teringat sesuatu, ya, setelah Kyle datang menjemputnya, suaminya itu langsung menghujani Erik dengan berbagai pukulan disekujur tubuhnya. Marsya reflek menutup mulutnya, apa Kyle yang melakukan itu? Mematahkan tulang tangan dan jari Erik?

"Kyle?!" Marsya tatap Kyle dengan amarah saat laki-laki itu kembali kedalam ruangan, Marsya cengkram pakaian Kyle cukup kuat, "Apa benar tangan dan jari Erik patah? Apa kamu yang ngelakuin itu?"

Kyle terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Reaksi Marsya setelah mengetahui hal itu membuat Kyle cukup terkejut, mengapa istrinya ini terlihat begitu marah? Apa Marsya masih peduli dengan Erik? Apa Marsya masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya itu?

"Kyle?! Jawab?!" Marsya membentak, dia menarik-narik pakaian Kyle yang masih digenggamannya, "Tangan Erik patah gara-gara kamu?"

"Ya!"

"Huh? Apa?" Kedua tangan Marsya mulai bergetar, cengkramanannya pada Kyle lepas begitu saja

"Erik...tangannya patah?" Marsya bergumam, dia menunduk dengan rasa terkejut setengah mati,

"Kyle...kenapa kamu kejam banget sama Erik?"

"Apa? Yang gue lakuin itu nggak sebanding sama yang dia lakuin ke lo, Sya"

"Dia nyakitin lo, dia nyentuh lo. Apa sebagai suami lo gue diam aja? Apa gue terima lihat istri gue disakitin kayak gini?"

"Tapi nggak seharusnya kamu patahin tangan dia, Kyle!"

"Oh, harusnya gue bunuh dia-"

"KYLE!" Marsya menjerit, kedua tangannya mendorong Kyle untuk menjauh, "Kamu keterlaluan, Kyle. Kamu monster! Red flag!"

"Keluar dari sini!"

"KELUAR!"

Brak, Kyle membanting pintu cukup kencang, dadanya memburu menahan amarah setelah berdebat dengan Marsya. Andai posisi mereka sedang tidak dirumah sakit, sudah pasti Kyle tidak akan menahan diri lagi. Kyle mengalah, dia turuti Marsya untuk pergi meninggalkannya. Langkah Kyle membawanya duduk dikursi tunggu, Kyle menunduk, menjatuhkan air matanya begitu saja. Dia sedikit kecewa dengan Marsya yang masih begitu menyanyangi Erik setelah apa yang dia lalui kemarin. Erik sudah begitu jahat padanya tetapi tidak disangka Marsya masih peduli dengan laki-laki itu.

Kyle mendongak, dia hapus air matanya dan bersandar. Kyle renungkan apa yang baru saja terjadi didalam sana. Dalam sekejap, semuanya berubah setelah kedatangan Ibunda Erik. Sekarang Marsya terlihat membenci dirinya, bahkan menyebut dirinya monster. Apa dia begitu menyeramkan dimata sang istri?

"Gue begini karena lo, Sya. Tapi lo nggak mikir, lo malah bentak gue, marahin gue"

"Yang gue lakuin ini nggak salah dan gue nggak nyesal"

"Terserah lo bilang gue kejam, monster, red flag. Gue bakal terus begini kalau ada yang berani nyentuh lo lagi"

***

Leo dan Nathan baru saja tiba dan mereka terkejut saat melihat Marsya bersiap meninggalkan rumah sakit. Padahal menurut sepengetahuan mereka, Marsya diperbolehkan pulang saat sore hari sambil menunggu cairan infusnya habis. Namun Marsya memaksa untuk pulang sekarang juga, dia akan melepaskan infusnya seorang diri dan menyelesaikan administrasi.

Apa yang telah terjadi? Mereka juga tidak melihat Kyle disana. Sudah pasti sesuatu terjadi diantara Marsya dan Kyle, tampak jelas dari wajah Marsya yang yang datar dan dingin saat melihat kedatangan mereka berdua.

"Sya, lo yakin mau pulang sekarang?"

"Iya"

"Nggak mau nunggu Kyle dulu?" Tanya Leo yang disambut anggukan kepala Nathan

"Iya, dia kemana sih? Biar gue telfon"

"Jangan! Awas ya kalau lo berdua nelfon dia, lebih baik gue pulang sendiri" Jawaban Marsya cukup membuat Leo dan Nathan terkejut dan saling bertatapan.

Marsya berubah, dia bahkan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan yang tidak pernah mereka dengar. Baik lah, mereka memaklumi Marsya yang sedang emosi, jadi wajar saja.

"Tapi, Sya, kalo Kyle-"

"Lo mau antar gue pulang atau enggak?"

"Iya iya, okay. Gue urus administrasinya dulu, sekalian panggil perawat buat lepas infusannya"

"Lo bantu Marsya siap-siap, Le"

"Hm"

Sepeninggal Nathan ke meja administrasi, Leo menghampiri Marsya dan menarik nafas panjang, dia tatap wajah Marsya yang masih pucat namun tampak kesal, "Ada apa sih, Sya?"

"Kemana Kyle? Lo berantem sama dia?"

"Lo tanya aja nanti sama orangnya"

"Wait, lo kenapa? Biasanya lo nggak kayak gini?"

"Heh, Leo, apa lo tau kalau tangan Erik patah?"

"Tau, kenapa?"

"Ck, nggak ada yang kasih tau gue ya, hebat"

"Jadi lo marah karena itu? Sya, harusnya lo-"

"Diam, gue nggak butuh ceramah lo"

"Gila, ini cewek kenapa sih? Lo demam tinggi?" Leo hendak menyetuh kening Marsya namun tangannya dihempas begitu saja,

"Nanti anterin gue pulang kerumah bokap gue, gue nggak mau pulang kerumah teman lo itu"

"Haduh, repot kalau gini, bisa-bisa perang dunia ketiga"

"Lo mau nganterin gue atau enggak?"

"Iya Marsya, iya. Astaga, kok jadi sebelas dua belas sama suaminya, galak"

...•••••...

To be continued guyss

Maaf baru update ya

kasih dukungan dong biar aku semangat update, biar gak lemes gini hahahha

caranya klik love, subscribe dan komen yaaa

ceritanya makin seru, ditunggu terus yaaa

1
rayhan dirgantara
belalai apa tu🫪🫪🫪🫪
rayhan dirgantara
hi nma aku rayhan ak suka crrita kmu ka aku kls 4sd ka
Kholifah NH2: anak kelas 4 sd bacanya komik yang lucu lucu aja ya dek, jangan yang ini nanti dimarahin mama🥰
total 1 replies
rayhan dirgantara
jjur krng pjng,bacany cma semenit torrr pjgngin lg dong smngat y😌
rayhan dirgantara
Kelazzzzzz
Tiaraa Kayla
ini kurang ajar si
Tiaraa Kayla
what😰
Tiaraa Kayla
rahasiain pernikahan tp mereka kiss di parkiran,ada yg liat ga th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!