Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalah telak
Bukan dari hasil mengemis Hasil suami orang lain."
Wajah Clara memerah menahan emosi. "Jaga mulut kamu ya! Mas Arkan itu suami sah aku sekarang! Dia memberikan mobil ini karena dia mencintai aku dan malu punya mantan istri seperti kamu!"
"Kalau Arkananta memang mencintaimu dan bahagia bersamamu, kamu tidak akan repot-repot datang ke gang sempit ini cuma buat pamer mobil," potong Adelia dengan senyuman tipis yang sangat dingin.
"Orang yang benar-benar bahagia tidak butuh pengakuan dari orang yang pernah dibuangnya."
Clara menggerakkan rahangnya menahan amarah, matanya melotot tajam. "Kamu cuma tukang jahit yang frustrasi, Adelia! Jangan berakting sok tegar! Tanpa uang Arkan, kamu dan anak-anakmu cuma sampah yang bakal kelaparan!"
Adelia menatap mata Clara dengan tenang tanpa rasa gentar sedikit pun. Pandangannya lurus, memancarkan harga diri yang tak bisa dibeli dengan mobil mewah mana pun.
"Tukang jahit ini memberi makan anak-anaknya dari rezeki yang bersih," jawab Adelia tegas, melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah Clara.
"Sedangkan kamu, menikmati kemewahan di atas air mata keluarga yang kamu hancurkan. Kita lihat saja, siapa yang akhirnya bakal jadi sampah saat roda kehidupan berputar."
Clara mengepalkan tangannya rapat-rapt, napasnya memburu kencang. Ia menghentakkan kakinya kasar, lalu kembali masuk ke dalam mobil mewahnya dan membanting pintu dengan sangat keras. Sedan putih itu melaju kencang meninggalkan gang, menyisakan debu jalanan yang membumbung tinggi.
Adelia menghela napas panjang, merapikan letak bajunya, lalu membawa kantong kainnya masuk ke dalam kontrakan. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ejekan Clara justru menjadi bahan bakar baru yang membakar semangatnya untuk bangkit lebih cepat.
Siang harinya, Adelia kembali menyalakan mesin jahit tua milik ibunya. Bunyi engkol besi yang berputar ritmis menggelegar di dalam ruangan kayu yang hangat. Tangannya dengan lincah memotong pola, menjahit, dan membuat detail bordir sederhana di atas kain-kain perca baru.
Pukul empat sore, pintu kayu kontrakan terbuka kasar. Kenzie melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam. Tas gendongnya dilemparkan begitu saja ke atas kasur kapuk.
Adelia menghentikan putaran engkol mesin jahitnya, menatap putranya heran. "Kenzie? Kok pulangnya cepat? Bukannya tadi kamu ngabarin ibu ada jadwal shift sore di kedai kopi?"
Kenzie tidak langsung menjawab. Ia berdiri membelakangi ibunya dengan kedua tangan mengepal erat di samping paha. Bahunya turun naik menahan emosi yang sangat besar.
Adelia berdiri dari kursinya, mendekati Kenzie dengan raut cemas. "Kenzie, ada apa, Nak? Kenapa wajahmu merah begitu? Kamu kelahi sama orang?"
Kenzie membalikkan badannya. Mata remaja delapan belas tahun itu tampak memerah berkaca-kaca, memancarkan amarah dan rasa sakit yang mendalam.
"Bu..." suara Kenzie bergetar parau. "Tadi di Cafe temen temen Kenzie dapat sebaran foto dan rumor buruk soal perceraian Ibu sama Papa."
Adelia tertegun, dadanya mendadak terasa dihantam batu besar. "Foto? Rumor apa, Kenzie?"
Kenzie merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkan layarnya tepat di depan wajah Adelia dengan tangan yang gemetar hebat.
"Ada yang menyebarkan grup obrolan sekolah kalau Ibu diusir karena selingkuh sama pria lain, dan Papa menceraikan Ibu karena Ibu cuma wanita peminta-minta!" teriak Kenzie dengan suara serak yang nyaris pecah.
"Siapa yang tega bikin fitnah kejam begini sama Ibu?!"
"Kenzie ga terima Bu!!"
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel