Di depan layar dia adalah milik semua orang, tapi di belakang layar, dia hanya milikku. Kamila.
Seharusnya 3 tahun lalu, Kamila tidak mengambil keputusan ini. Menemui seorang aktor terkenal, memohon agar dia memberinya pekerjaan. Salahnya dia memilih untuk menyetujui perjanjian pada malam itu. Hingga akhirnya dia terjebak dengan Razka Aditama Fernandez, seorang aktor terkenal yang semua orang tahu.
Hanya menjadi seorang simpanan, apa yang bisa dia harapkan? Cinta? Hubungan serius? Apa itu mungkin dalam kehidupannya ini?
"Hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan antara aku dan kamu"
Kalimat itu menjadi pembatas atas perasaannya, seharusnya memang seperti itu. Tapi nyatanya, Kamila telah melewati batas dirinya sendiri. Hidup bersama selama 3 tahun, membuatnya perlahan melihat sisi lain dari Razka.
Tapi, apa mungkin Razka mempunyai perasaan yang sama atau dia tetap menganggapnya sebagai seorang simpanan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Bisa Meminta Kejelasan?
Kamila kembali ke Apartemen tepat sebelum Razka kembali. Segera mandi dan berganti pakaian. Kamila menyiapkan beberapa bahan masakan dari dalam lemari es. Mulai mengupas bawang dan memotong beberapa sayuran di atas meja. Ketika pintu Apartemen terbuka, Kamila tahu jika itu adalah Razka yang masuk.
Kamila tersenyum hangat saat melihat Razka yang masuk. "Sudah pulang ternyata, aku belum selesai masak"
Razka terlihat sangat lelah, tapi dia tetap tersenyum pada Kamila. Berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang dengan sedikit membungkuk untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan Kamila yang duduk di kursi meja makan.
"Hari ini sangat melelahkan"
Kamila tersenyum tipis, dia memegang lembut tangan suaminya yang melingkar di dadanya. "Kenapa? Apa ada pekerjaan berat hari ini?"
"Aku menerima tawaran film baru, dan akan mulai syuting dalam waktu dekat"
"Loh bukannya yang kemarin akan jadi film terakhir kamu sebelum terjun ke dunia bisnis bersama keluarga kamu?"
Terdengar hembusan napas berat, Razka mengecup lembut pipinya dengan terus memeluknya. "Aku rasa ini yang jadi terakhir, karena jadwal syuting bisa tercapai sampai batas waktu"
Kamila mengangguk, dia mengecup lembut lengan suaminya yang melingkar di dadanya. "Semangat ya, aku yakin kamu akan bisa melakukan yang terbaik"
"Terima kasih Sayang"
Malam ini keduanya makan malam bersama, saling berbicara dan bercerita, menikmati waktu bersama. Tidak akan pernah ada yang mengira jika hubungan mereka sebatas simpanan dan aktor. Bahkan mereka sendiri terkadang selalu merasa hubungannya sangat nyata. Meski beberapa saat kemudian, mereka juga sadar akan hubungan ini yang tidak pernah ada status yang jelas selain simpanan dan aktor.
Duduk di sofa dengan televisi menyala, menonton film pertama Razka saat masuk ke dunia entertainment ini. Kamila merebahkan tubuhnya di atas tubuh Razka yang setengah duduk. Kepalanya bersandar di dada bidang pria itu dengan satu toples kecil kacang di tangannya. Menikmati film di televisi.
"Wah, akting kamu hebat banget. Aku jadi pengen bisa akting juga deh. Tapi sayangnya, aku tidak cantik"
"Memangnya apa urusannya dengan cantik?"
Kamila sedikit mendongak dan menatap Razka. "Bukannya kalo menjadi seorang aktris harus cantik ya? Aku 'kan tidak cantik"
Razka tersenyum gemas, dia mencubit pelan hidungnya. "Kau tidak perlu cantik, tapi kau sangat manis dan membuat semua orang akan suka padamu"
"Benarkah? Jadi, aku bisa jadi aktris?" tanya Kamila dengan antusias, mendongak dan menatap Razka dengan lekat.
"Bodoh!" Razka menoyor kepala Kamila dengan jari telunjuknya. "Memangnya siapa yang akan mengizinkanmu jadi seorang aktris? Bahkan aku tidak akan membiarkan itu terjadi"
Kamila cemberut, dia beralih duduk dan menatap Razka. "Loh kenapa? Bukannya kamu bilang aku manis dan bisa di sukai semua orang. Jadi, aku akan bisa jadi aktris"
"Aku tidak suka, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Kamila mengerutkan keningnya, bukan karena bingung atas ucapan Razka barusan. Karena sejujurnya dia paham kemana arah tujuan pembicaraan Razka ini. Namun, Kamila heran kenapa Razka sampai seperti ini. Padahal seharusnya hubungan yang tidak jelas ini, tetap akan berakhir pada waktunya. Dan saat itu tiba, Kamila pasti akan mengambil jalan hidupnya sendiri. Begitu pun dengan Razka sendiri.
"Sayang, dengarkan aku" ucap Razka lembut, dia mengelus pipi Kamila. "Menjadi seorang entertainment itu tidak mudah. Dan aku tahu baik buruknya dunia ini, jadi aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama"
"Bukankah aku sudah mengalaminya? Jika yang kamu bicarakan tentang sisi gelang seorang aktor dan aktris, maka aku sudah termasuk dalam hal itu. Aku sekarang jadi simpananmu"
"Kamila!" tekan Razka dengan suara dingin. Membuat Kamila langsung terdiam. "Aku tidak pernah ingin membahas hal yang diluar dari topik pembahasan kita!"
Kamila hanya mengangguk saja, karena memang benar jika Razka selalu marah jika dirinya mulai membahas tentang hubungan mereka. Mungkin karena dia malas jika pada akhirnya Kamila akan meminta kejelasan.
Tapi, apa pantas seorang simpanan meminta kejelasan tentang hubungan yang sedang dijalani saat ini?
*
Razka sudah mulai membaca naskah dan melakukan beberapa persiapan untuk syuting film terbarunya. Kamila juga hanya berusaha mendukung, kadang dia menjadi seseorang lawan mainnya untuk membantu Razka berlatih dialognya.
"Rama melangkah, mendekati Gina dengan perlahan dan jarak mereka terlalu dekat sampai detak jantung bisa terdengar satu sama lain. Perlahan Rama meraih tengkuk leher Gina dan berbisik pelan"
Kamila membacakan adegan di dalam naskah untuk Razka lebih mudah menghafal dialog dan juga adegannya.
Razka melakukan hal sesuai dengan di dalam naskah pada Kamila sebagai lawan mainnya sekarang. Memegang tengkuk leher Kamila, dan dia berbisik pelan.
"Kau akan menjadi milikku selamanya, dan jangan pernah berpikir untuk pergi dariku"
Hembusan napas hangat, suara yang pelan, dingin, namun penuh penekanan. Terasa memecah gendang telinganya, wajah Kamila memerah, seperti dia adalah benar tokoh wanita dalam naskah film itu.
"Dengarkan aku, ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta pada seseorang. Dan aku mengakui jika aku mencintaimu" bisiknya lagi dengan nada dan suara yang sama.
Lagi, Kamila merasa tegang, jantungnya berdebar lebih kencang. Seperti dia benar-benar masuk dalam tokoh di dalam naskah film. Padahal nyatanya Razka hanya sedang berlatih, bukan benar-benar sedang menyatakan cinta padanya.
"Lalu apa? Yang dikatakan Gina apa?"
Kamila mengerjap kaget, sejenak dia benar-benar tenggelam dalam lamunan dan keterkejutan. Saat suara Razka membuyarkan semuanya, dia kembali membaca isi naskah. Melihat Razka yang sudah menjauh darinya. Beberapa kali Kamila mencoba mengatur napasnya yang terengah.
"Sebentar"
Kamila mencari adegan yang baru saja dilakukan dan kelanjutan dari itu. Membuka beberapa lembar naskah untuk mencarinya. Terlalu gugup sampai dia tidak menemukan lagi bagian yang baru saja mereka mainkan dan kelanjutannya.Terus membuka lembaran naskah.
Melihat Kamila yang panik seperti itu, Razka langsung menahan tangannya yang gemetar terus membuka lembaran naskah. Memegang tangan Kamila dengan lembut, dan menatapnya lekat.
"Tenang, kenapa kau panik begini? Cari dengan perlahan, bukan terburu-buru begini, Sayang"
Razka mengambil alih naskah dari tangan Kamila, dia mencarinya dengan perlahan adegan yang baru saja mereka lakukan dan kelanjutan dari adegan itu.
"Nah, ini kelanjutannya. Kamu kenapa panik begitu Sayang? Aku hanya sedang latihan, tidak perlu sangat serius"
Kamila hanya tersenyum tipis, mencoba mengatur dirinya sendiri yang memang benar-benar panik.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, sebentar"
Razka hanya mengangkat alisnya bingung saat melihat tingkah panik dari Kamila. Dia menggeleng pelan sambil kembali membaca naskahnya.
"Dia itu aneh dan lucu sekali"
Bersambung