NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:635
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Inersia dan Api Paradoks

Monster masinis itu mengayunkan tuas rem baja seberat puluhan kilogram ke atas kepalanya.

WUSSSHHH!

Bilah baja tebal itu membelah udara berjelaga di ruang kendali lokomotif. Ia mengincar tengkorak Hans dengan tenaga brutal.

Hans Lorte merunduk kilat ke bawah.

BAMMM!!

Tuas baja itu menghantam lantai pelat besi, meninggalkan ceruk penyok sedalam tiga inci. Getaran hantamannya membuat kaki Pip mati rasa.

"Massa berlebih hanya menghasilkan momentum yang lambat," Hans bergumam dingin. Mata kelabunya mengukur rentang ayunan lengan monster itu.

Monster bersisik biru itu menggeram. Ia menarik tuas beratnya kembali ke atas dengan sangat mudah, seolah menolak hukum kelelahan otot.

"Logika manusiamu tidak berlaku untuk darah Atlantik, Detektif!" raung sang monster.

Masinis monster itu menerjang maju. Ruang kendali lokomotif terlalu sempit bagi Hans untuk menghindar ke samping.

"Tuan Lorte! Awas!" jerit Pip dari sudut ruangan.

Hans tidak mundur sejengkal pun. Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak serang sebelum tuas monster itu mencapai kecepatan maksimalnya!

TRANGGG!!

Hans menahan lengan bawah monster itu dengan gagang tongkat besinya. Ia tidak menahan tuas bajanya, melainkan menahan sendi siku yang sedang bergerak!

"Titik tumpu yang salah akan mematikan daya tuas sebesar apa pun," bisik Hans sedingin es.

Tepat pada detik yang sama, roda lokomotif menjerit melengking. Kereta berbelok tajam ke kiri mengikuti rel bawah tanah.

KRIEEETTT!!

Gaya sentrifugal mendadak menghantam isi gerbong.

Hans menggunakan momentum belokan itu! Ia menarik tongkat besinya dan merendahkan tubuh, lalu menendang keras pergelangan kaki monster yang sedang kehilangan keseimbangan.

BRAAAKKK!

Monster raksasa itu terpelanting keras. Tubuhnya menabrak dinding baja lokomotif. Tuas rem di tangannya terlempar keluar menembus kaca jendela yang hancur.

"Lady Finch! Jurnal itu!" Hans menunjuk lurus ke arah tungku api biru.

Evelyn sudah berlutut di depan mulut tungku raksasa. Wajah wanita itu bermandikan keringat dingin menahan hawa ganjil dari api anomali tersebut.

Di tengah kobaran api biru, jurnal bersampul kulit merah itu berputar pelan. Buku itu dilindungi oleh bola transparan yang menolak gravitasi.

"Bola pelindung ini murni energi paradoks!" teriak Evelyn menembus deru mesin kereta. "Jika kita memaksakan tangan masuk, gesekan penolakannya akan meledakkan gerbong ini!"

Pip merangkak mundur menjauhi monster yang mulai merintih bangkit.

"Lalu bagaimana kita mengambilnya tanpa menyentuhnya?!" jerit Pip panik.

Otak rasional Hans berputar di kecepatan maksimal.

Kalkulasi: Anomali itu masih menggunakan batu bara fisik yang melayang sebagai bahan bakarnya. Artinya, ini tetap sebuah proses pembakaran konvensional.

"Api anomali ini masih membutuhkan massa fisik untuk mempertahankan eksistensinya di dunia kita!" raung Hans pada Evelyn.

Hans mengayunkan pandangannya pada tuas-tuas berkarat di dinding kendali.

"Segitiga api, Lady Finch! Panas, bahan bakar, dan oksigen! Putus salah satu syaratnya!"

Evelyn membelalakkan matanya. Otak mekanisnya seketika memahami kalkulasi brilian sang detektif.

"Katup udara ganda!" Evelyn menerjang panel baja berkarat di samping tungku.

Dengan kunci pas raksasanya, Evelyn menghantam tuas penyedot udara luar sekuat tenaga hingga bengkok ke bawah.

KRAAAK! BLAM!

Saluran udara dari atap tertutup rapat. Ruang tungku lokomotif mendadak kedap dari suplai oksigen lorong.

Di dalam tungku, batu bara yang mengambang mulai kehilangan pendarannya. Bongkahan hitam itu berjatuhan ke dasar pelat besi.

Api biru itu berkedut liar. Tanpa suplai oksigen, reaksi kimianya tercekik perlahan.

WUSSS... Pftt!

Dalam hitungan lima detik, api anomali itu padam total! Bola pelindung transparan di sekeliling jurnal hancur meredup layaknya gelembung sabun yang pecah.

Jurnal kulit merah itu jatuh.

HAP!

Evelyn menangkap buku usang itu dengan tangkas sebelum menyentuh jelaga kotor di dasar tungku.

"Dapat, Tuan Lorte! Jurnal pertama aman!" seru Evelyn memeluk buku itu ke dadanya.

Namun, perayaan itu langsung dipotong oleh raungan murka yang menggetarkan lantai.

"Kalian tidak akan membawa rahasia Kerajaan hidup-hidup!!"

Monster masinis itu bangkit sepenuhnya. Urat-urat birunya menyala terang hingga menembus kulit sisiknya. Monster itu memaksakan tubuhnya melampaui batas biologis.

SYUUUTTT!

Dengan kecepatan yang mengerikan, monster itu melompat merentangkan cakar-cakarnya, menerjang lurus ke arah Evelyn!

"Tidak di bawah pengawasanku," desis Hans dingin.

Hans mencabut cepat pistol revolver usang dari balik mantelnya.

Laras bajanya tidak diarahkan ke monster itu, melainkan membidik lurus ke arah pipa uap bertekanan tinggi tepat di atas kepala sang monster.

DOR! DOR!

Dua peluru timah berturut-turut menghancurkan pengukur tekanan baja di sambungan pipa!

BLAAARRR!!!

Semburan uap mendidih meledak tegak lurus ke bawah! Uap bersuhu ratusan derajat itu menghantam kepala dan bahu monster layaknya godam tak kasat mata!

"GYAAAAAARRRGHH!!"

Monster itu menjerit histeris. Kebutaan dan kulit bersisiknya yang melepuh seketika merusak sistem saraf anomalinya.

Hans tidak membuang momentum sedetik pun. Ia menerjang ke depan, menghantamkan kedua sol boot tegapnya ke dada sang monster.

BAMMM!

Tubuh raksasa itu terdorong keras ke belakang, menabrak pintu samping lokomotif yang memang sudah kehilangan selotnya.

Pintu itu menjeblak terbuka lebar.

Monster masinis itu terlempar keluar dari kereta yang sedang melaju kencang, tertelan seketika oleh kegelapan pekat terowongan bawah tanah.

Pip menghembuskan napas lega yang panjang, merosot duduk di atas pelat baja yang masih bergetar hebat.

"Kita... kita selamat," bisik Pip dengan dada naik turun.

TUTTTT!!! NGGGGGG!!!

Peluit kereta mendadak menjerit panjang. Mesin lokomotif meraung dengan suara logam bergesekan yang sangat mengerikan.

Evelyn melongok ke jendela depan. Wajahnya kembali memucat, jauh lebih pucat dari sebelumnya.

"Kita belum selamat, Tuan Lorte!"

Hans melangkah ke jendela. Mata kelabunya menyipit menembus kabut asap tipis di depan terowongan.

Sebaris lampu sinyal berwarna merah berkedip liar di kejauhan, semakin lama semakin membesar.

"Jalur rel lingkar ini diputus. Ujungnya berbatasan langsung dengan tembok beton pemisah stasiun depot," lapor Hans dengan suara datar yang membawa kengerian murni.

"Kecepatan kita konstan di 60 mil per jam!" Evelyn menunjuk indikator kecepatan kaca yang bergetar. "Dan monster tadi sudah meremukkan tuas rem utamanya!"

Pip menangis panik, memeluk lututnya di sudut ruangan. "Kita akan hancur menabrak dinding mati!"

Hans menatap sisa-sisa tuas yang patah di meja kendali. Rasionalitasnya menghitung sisa waktu benturan dari jarak lampu merah tersebut.

Kalkulasi: Jarak 800 meter. Waktu sisa kurang dari tiga puluh detik sebelum hantaman fatal.

Sebilah tongkat besi tidak bisa menghentikan lokomotif baja seberat seratus ton. Fisika menuntut tumbal gaya yang sepadan untuk menghentikan inersia raksasa ini.

Hans menoleh menatap tungku raksasa yang apinya baru saja dipadamkan.

"Kita tidak bisa merem kereta ini dari panel kendali," kata Hans dengan rahang mengeras.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?!" jerit Evelyn histeris.

"Kita balikkan arah putaran roda gigi transmisinya secara paksa dari luar cangkang," Hans menunjuk ke arah flywheel (roda gila) raksasa yang berputar brutal di sudut mesin terbuka.

Evelyn terbelalak ngeri, memahami sepenuhnya niat gila sang detektif.

"Memundurkan gigi transmisi saat poros mesin melaju penuh?! Roda gigi itu akan meledak hancur menjadi ribuan keping peluru pelat baja!"

"Ledakan mesin di belakang punggung kita jauh lebih baik daripada hancur menjadi bubur menabrak beton di depan kita," sahut Hans tanpa keraguan sedikit pun.

Detektif jangkung itu menyambar paksa kunci pas raksasa dari genggaman Evelyn.

"Berlindung di balik lemari baja belakang! Tutup telinga dan lindungi kepala kalian rapat-rapat!" perintah Hans mutlak.

Hans melangkah tegap mendekati roda gila yang berputar memekakkan telinga. Angin dari putaran baja itu meniup kasar mantel kusamnya.

Ujung kunci pas baja di tangan Hans diarahkan langsung ke celah transmisi poros yang bergemuruh.

Tembok beton raksasa di ujung terowongan terlihat semakin jelas dan membesar dari kaca depan.

Dua puluh detik.

Hans meraba anting perak bulan sabitnya. Senyum dingin penuh kegilaan logis terbit di sudut bibirnya.

"Mari kita lihat siapa yang lebih kuat malam ini," bisik Hans pada deru mesin. "Baja Kerajaan... atau inersia murni."

Hans mengayunkan kunci pas raksasa itu lurus menembus jantung transmisi lokomotif!

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!