Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
Suasana di dalam lift terasa begitu sunyi saat Nadira dan Arga bergerak menuju lantai atas. Nadira berdiri di sudut lift dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya masih menyimpan kekesalan yang sejak tadi berusaha ditahannya, sementara Arga berdiri di sampingnya tanpa berani memulai percakapan.
Beberapa kali Arga melirik perempuan itu, tetapi Nadira sama sekali tidak menoleh. Ia bahkan tidak bereaksi ketika Arga bergeser sedikit mendekatinya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Nadira langsung melangkah keluar, meninggalkan Arga yang harus menyusul beberapa langkah di belakangnya. Begitu sampai di depan pintu apartemen, ia berhenti dan menunggu Arga membuka kunci.
Setelah pintu terbuka, Nadira masuk lebih dahulu. Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu berbalik menghadap Arga yang baru saja menutup pintu.
“Sekarang jelaskan,” katanya tegas. “Aku ingin tahu siapa perempuan tadi dan apa hubungan kalian.”
Arga meletakkan kunci mobil di atas meja. Ia berdiri beberapa langkah dari Nadira, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk memulai penjelasannya.
“Namanya Alya Kirana.”
“Aku sudah tahu namanya.” Tatapan Nadira semakin taham. “Aku ingin tahu siapa dia bagimu.”
Mendengar suata tegas dab tajam itu, membuat Arga terdiam.
“Kenapa kamu diam?” desak Nadira. “Tadi kamu juga seperti itu. Aku bertanya, tetapi kamu tidak bisa menjawab. Sekarang kita sudah di rumah. Tidak ada orang lain di sini. Jadi, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?”
“Aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya darimu.”
“Lalu apa namanya kalau bukan menyembunyikan?” Nadira tertawa hambar. “Kamu pergi ke apartemen perempuan itu, menggenggam tangannya, bahkan terlihat begitu akrab dengannya. Tidak hanya itu, ibumu juga sudah mengenalnya.”
Arga menundukkan wajahnya. Ia tidak bisa menyangkal satu pun dari perkataan Nadira.
“Aku minta maaf.”
“Aku tidak membutuhkan permintaan maafmu sekarang.” Suara Nadira mulai bergetar karena menahan emosi. “Aku membutuhkan penjelasan.”
Arga mengangkat wajahnya. Tatapan Nadira membuatnya sulit melanjutkan kebohongan yang selama ini dipertahankannya. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya setelah ini akan mengubah hubungan mereka. Namun, ia juga tidak bisa terus membiarkan Nadira menebak-nebak.
“Alya adalah istriku.”
“Apa?” Tanya Nadira, seolah-olah ia tidak memahami kalimat yang baru saja didengarnya.
Arga mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. “Alya juga istriku, Ra. Aku sudah menikah dengannya.”
Wajah Nadira perlahan berubah. Ia menggeleng kecil, seperti sedang berusaha menolak sesuatu yang tidak masuk akal baginya. Ini jauh lebih sulit dari pada kenyataan yang terus berputar di pikirannya.
Ia berpikir, gadis yang bernama Alya itu hanylah pacar atau gadis yang sedang dekat dengan Arga. Ternyata hubungan itu sudah sejauh itu.
“Jangan bercanda, Ga.” Suara Nadira semakin bergetar.
“Aku tidak bercanda.”
“Kamu bilang apa tadi?” Nadira melangkah mendekat. “Kamu sudah menikah? Dengan perempuan itu? Lalu bagaimana dengan aku, Ga? Bagaimana dengan pernikahan kita?”
Arga semakin menunduk dalam, sedangkan Nadira terus menatap nya lekat-lekat, berharap laki-laki itu segera mengatakan bahwa ia salah dengar. Bahwa semua ini hanya kesalahpahaman yang bisa mereka selesaikan setelah duduk dan berbicara baik-baik.
Namun, Arga tidak menarik kembali ucapannya dan hanya terus menunduk.
“Kapan?” tanya Nadira.
“Beberapa hari yang lalu.”
“Beberapa hari yang lalu?” Nadira mengulang dengan suara meninggi. “Jadi, selama ini kamu pergi ke Bandung untuk menikah dengannya?”
Arga masih belum mengangkat kepalanya. Sungguh, ia tidak berani menatap wajah Nadira yang penuh kekecewaan.
“Jawab aku, Arga!”
“Iya.”
Nadira mundur selangkah. Tangannya meraih sandaran sofa di belakangnya, seolah-olah ia membutuhkan sesuatu untuk menopang tubuhnya.
Selama beberapa hari terakhir, Arga memang sering pergi dengan alasan pekerjaan. Nadira sempat mengeluh karena laki-laki itu jarang pulang, tetapi ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik semua perjalanan tersebut, Arga sedang mempersiapkan pernikahan dengan perempuan lain.
Bahkan semalam, ketika Arga berada di sampingnya, Nadira masih merasa dirinya adalah perempuan yang paling dicintai laki-laki itu. Saat menikmati kehangatan di atas ranjang dan malam yang panjang yang mereka lewati, ia masih merasa dirinya satu-satunya wanita yang ada di dalam hidup Arga. Sekarang, semua yang selama ini dipercayainya terasa seperti runtuh dalam sekejap.
“Kenapa?” tanyanya lirih.
Arga mendekat, tetapi Nadira segera mengangkat tangan untuk menghentikannya.
“Jangan mendekat.”
Arga menghentikan langkahnya.
“Kenapa kamu menikah dengannya?” Nadira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Apa selama ini aku kurang baik kepadamu? Apa ada sesuatu yang tidak bisa kuberikan sampai kamu merasa perlu menikahi perempuan lain? Atau mungkin pelayananku kurang?”
“Bukan begitu, Ra.”
“Lalu bagaimana?”
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu pertanyaan itu akan datang, tetapi tetap saja ia kesulitan menjawabnya.
“Orang tuaku ingin aku menikah. Mereka terus mendesakku, dan aku tidak tahu bagaimana menolak mereka.”
Nadira terdiam sesaat, kemudian menatapnya tidak percaya. “Jadi, kamu menikah dengannya karena orang tuamu? Aku bisa kamu kenalin ke mereka, kan? Bilang ke orang tuamu kamu ingin menikah dengan ku. Atau bisa langusung jujur bahwa kita sudah menikah sesuai aturan agama kalian.”
“Ada banyak hal yang harus kupikirkan.” Jawab Arga. Kali ini ia sudah mengangkat wajah, dan menatap Nadira.
“Dan aku tidak termasuk di dalamnya?”
Pertanyaan itu membuat Arga kehilangan kata-kata.
Nadira tertawa kecil. Kali ini, air matanya benar-benar jatuh. “Kamu bisa datang kepadaku, Ga. Kamu bisa menceritakan semuanya. Kita bisa memikirkan jalan keluarnya bersama-sama. Kenapa kamu justru memutuskan menikah dengan perempuan lain tanpa memberitahuku?”
“Aku takut kehilanganmu.”
Nadira menatapnya tajam. “Kamu takut kehilangan aku, tetapi kamu melakukan sesuatu yang bisa membuatku meninggalkanmu?”
Arga tidak sanggup menjawab. Ia memang takut kehilangan Nadira. Itulah alasan yang selama ini terus digunakannya untuk membenarkan keputusannya sendiri. Ia ingin mempertahankan hubungan mereka sekaligus memenuhi keinginan keluarganya, tanpa pernah benar-benar mempertimbangkan akibatnya bagi kedua perempuan tersebut.
“Aku masih mencintaimu, Ra,” ucapnya pelan. “Perasaanku kepadamu tidak berubah.”
Nadira mengusap pipinya. Memghapus buliran bening yang jatuh membasahi pipinya. Ia ingin mempercayai kalimat itu, tetapi bagaimana caranya ketika kenyataan yang dihadapinya justru menunjukkan hal sebaliknya?
“Kalau kamu masih mencintaiku, kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku sebelum menikah dengannya?”
Arga kembali menunduk. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Tidak tahu?” Nadira mengulang dengan suara bergetar. “Kamu tahu cara pergi ke Bandung. Kamu tahu cara menikah dengannya. Kamu tahu cara menyembunyikan semuanya dariku. Tetapi sekarang kamu bilang tidak tahu harus bagaimana?”
Arga berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mendengar betapa menyakitkannya alasan yang selama ini ia anggap cukup untuk membenarkan tindakannya.
Nadira menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir, tetapi ia tidak lagi berusaha menyembunyikannya. “Lalu sekarang bagaimana, Ga? Apa yang kamu harapkan dariku setelah mengetahui semua ini?”
Arga menatap perempuan yang dicintainya itu. Ia ingin meminta Nadira tetap tinggal, ingin meyakinkannya bahwa ia tidak akan kehilangan tempat di hatinya.
Namun, ia juga tahu bahwa permintaan seperti itu tidak akan menghapus kenyataan bahwa ia telah menikahi perempuan lain tanpa memberinya kesempatan untuk mengetahui kebenaran sejak awal.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya akhirnya.
Nadira memandangnya lama, lalu menggeleng. “Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum memutuskan menikah dengannya.”
Kali ini, Arga tidak punya alasan lagi untuk membela dirinya. Sebab Nadira benar. Ia ingin mempertahankan perempuan itu, tetapi justru dialah yang telah membuat kepercayaan di antara mereka berada di ujung kehancuran.