Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Ruangan bunker kembali sunyi setelah foto pria bertato itu muncul di layar laptop. Han masih berdiri di dekat meja dengan tatapan tajam mengarah ke wanita misterius yang terikat di kursi. Wanita itu balas menatapnya tanpa rasa takut sedikit pun. Lampu bunker yang terang membuat wajahnya terlihat lebih tajam. Rambut pendeknya sedikit berantakan setelah kupluknya dilepas, tapi ekspresinya masih tetap tenang.
Han akhirnya bicara lagi.
“Siapa kamu?”
Wanita itu hanya tersenyum kecil.
“Buat apa?... Kalau akhirnya aku bakal mati juga.”
Damar mendecak pelan. “Optimis banget hidupnya.”
Han tidak bereaksi hanya menatap wanita itu lalu berkata tenang, “…aku tidak akan membunuhmu.”
“Jawab saja,” lanjutnya.
Wanita itu sedikit menaikkan alisnya. Seolah sedang mempertimbangkan apakah kalimat itu layak dipercaya atau tidak. Namun sebelum ia sempat menjawab, Arga tiba-tiba bersuara dari depan laptopnya.
“Oh…”
Semuanya menoleh ke arah Arga.
“Oh?” ulang Damar.
Arga masih mengetik cepat. Matanya membesar sedikit demi sedikit.
“Oohhhh…!!”
“Arga,” tegur Nara.
“Hah? Iya iya bentar.”
Jarinya terus bergerak di keyboard. Lalu ia menatap wanita itu dengan ekspresi campuran antara kagum atau bingung.
“Namanya Samantha Andini.”
Ekspresi wanita itu berubah sedikit. Kecil sekali. Tapi Han menangkapnya perubahannya. Arga langsung menunjuk layar laptopnya penuh semangat.
“Dia wartawan penyelidik.”
Nara mengernyit, “…wartawan?”
“Bukan wartawan biasa,” jawab Arga cepat. “Dia lumayan terkenal di jaringan investigasi independen.”
Ia scroll lagi.
“Wah…”
Damar melipat tangannya, “wah wah terus, woy Arga?”
Arga membaca sambil melotot.
“Atlet triathlon nasional waktu kuliah.”
“Sabuk hitam taekwondo.”
Damar langsung melirik Samantha.
“Pantas tendangannya keras banget.”
Samantha hanya tersenyum kecil. “Kalau aku tahu kalian suka culik orang, aku bakal tendang lebih keras tadi.”
“masih kurang keras berarti,” balas Damar.
Han tetap diam memperhatikan Samantha. Sementara Arga semakin tenggelam dalam pencarian datanya.
“Buset…”
“Anak keluarga pengusaha.”
“Sekolah internasional.”
“Prestasi akademik tinggi.”
Ia berhenti sesaat. Ekspresinya berubah.
“Hmm?”
Nara mendekat, “…kenapa?”
Arga membaca lebih pelan sekarang.
“Adik bungsunya hilang.”
“Usia delapan tahun.”
Ruangan langsung terasa sedikit sunyi. Tatapan Samantha perlahan mulai mengeras. Namun ia tidak menyela. Arga menatap layar lagi.
“Samantha waktu itu lima belas tahun.”
Han memperhatikan perubahan wajah wanita itu. Kecil dan hampir tidak terlihat, namun cukup untuk memastikan satu hal: data itu benar.
Arga masih mengetik.
“Mungkin itu alasan dia nyelidikin beginian…”
Samantha akhirnya bicara pelan.
“Cepat juga, bisa tahu detil identitasku.”
“Internet itu tempat menyeramkan,” jawab Arga bangga. “Terutama kalau aku bosan,” lanjutnya lagi.
Han melangkah mendekat ke Samantha.
“Adikmu diambil Helios?”
Tatapan Samantha naik perlahan ke arah Han. Beberapa detik ia diam. Lalu,
“…dulu aku pikir cuma penculikan biasa.”
Suaranya tidak lagi seringan tadi.
“Polisi bilang mungkin perdagangan manusia.”
“Orang tuaku sampai bayar penyelidik swasta.”
“Tidak ada hasilnya.”
Ia tertawa kecil namun terasa pahit.
“Lalu beberapa tahun kemudian aku mulai menemukan pola.”
Han tidak menyela. Samantha melanjutkan.
“Anak-anak hilang.”
“Dokumen ditutup.”
“Orang-orang penting terlibat.”
Tatapannya bergerak ke laptop Arga.
“Dan setiap kali aku hampir dekat ke jawaban…”ia terdiam sejenak, “…selalu ada nama Helios,” lanjutnya
Sunyi menggantung di dalam ruangan bunker itu. Nara perlahan mulai mengerti kenapa wanita ini mempertaruhkan nyawanya hanya untuk memotret gudang nomer tujuh belas. Bukan sekadar pekerjaan, ini personal. Sangat personal.
Namun sebelum suasana berubah terlalu berat, Arga mendadak tertawa kecil.
“Hehehe.”
Samantha menoleh kesal, “..apa ketawa?”
Arga memutar laptop menghadap mereka.
“Ini lucu.”
Han melihat layar laptop itu. Foto-foto hasil kamera Samantha terus terbuka satu per satu. Gudang nomer tujuh belas.
Penjaga.
SUV hitam.
Pria bertato.
Lalu, foto Han yang close-up, sedang mengintip dari balik kontainer.
Foto berikutnya, Nara.
Dan berikutnya lagi, Arga sendiri dengan ekspresi paniknya saat merunduk terlalu cepat.
“Anjir,” gumam Arga. “Aku jelek banget kalau difoto candid.”
Samantha sedikit menyeringai lagi.
“Itu karena wajahmu memang jelek.”
Arga menunjuk layar sambil menatap Samantha dramatis.
“Wah…”
“Apa?” tanya Samantha datar.
“Kamu ternyata naksir aku ya...” senyumnya melebar dengan matanya yang membesar sedikit
Sunyi selama dua detik.
“…apa?” Samantha mengernyit.
“Kenapa ngga bilang langsung aja?” kata Arga sambil menunjuk fotonya sendiri, “…pake di close-up segala.”
Damar langsung tertawa keras. Bahkan Nara sampai menutup wajah karena menahan geli. Samantha menatap Arga seperti ingin menendangnya lagi.
“Aku motret area sekitar.”
“Dan kebetulan dapat hama.”
“Hah. Tsundere, ” ujar Arga sambil tersenyum lebar.
“….boleh aku bunuh dia?” kata Samantha dingin tanpa mengalihkan mata dari Arga.
“Tidak,” jawab Han datar.
Arga malah makin bangga.
“Nah kan, dia protektif.”
“Ya Tuhan…” gumam Nara.
Namun di tengah candaan itu Han tetap memperhatikan layar laptop. Terutama satu foto. Foto pria bertato leher itu.
Zoom close-up.
Dan saat melihat wajah pria tersebut lebih jelas, tatapan Han perlahan berubah dingin. Samantha menyadarinya.
“Kau kenal dia.”
Bukan pertanyaan kali ini tapi lebih ke pernyataan. Han terdiam lalu berkata pelan,
“…namanya Leon.”