"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan diantara pencakar langit
Keputusan itu tidak diambil dengan mudah. Di ruang rapat rahasia Kastil Obsidian, udara terasa membeku meskipun perapian menyala terang. Kieran baru saja selesai memproyeksikan peta dimensi yang memperlihatkan distorsi energi Void yang meluncur deras menuju satu titik biru di kejauhan: Bumi.
"Kaelen tidak mati sepenuhnya. Dia melelehkan kesadarannya ke dalam frekuensi energi yang hanya bisa diterima oleh dimensi dengan densitas rendah seperti Bumi," Kieran menjelaskan dengan nada serius. "Jika fragmen Gulungan Takdir Hitam itu menemukan wadah di sana, dia akan menghisap energi kehidupan seluruh planet untuk membangun kembali tubuhnya."
Sylus Qinche, sang pria kelahiran 1996 yang telah menguasai kegelapan Aetheria, berdiri diam menatap peta itu. Matanya merah darahnya berkilat. "Dia melarikan diri ke rumah Evelyne. Dia pikir aku tidak akan mengejarnya ke tempat di mana kekuatanku terbatas."
"Sylus, kau tidak bisa pergi sendirian," Evelyne menyela, langkahnya mantap. "Kau tidak tahu cara kerja dunia itu. Kau akan menonjol seperti lilin di tengah kegelapan total. Aku harus ikut."
Sylus menatapnya lama, lalu mengangguk singkat. "Luke, siapkan unit pengalih di perbatasan. Kieran, jaga gerbang dimensi tetap terbuka. Aku, Evelyne, Luke, dan Mephisto akan berangkat malam ini."
Transisi dimensi selalu menyakitkan, namun bagi Sylus, rasa sakit fisik tidak sebanding dengan penghinaan sensorik yang ia rasakan saat mendarat di sebuah gang sempit di pusat kota Jakarta. Bau asap knalpot, kebisingan klakson, dan polusi cahaya membuatnya mengernyitkan dahi.
"Dunia macam apa ini? Udara di sini terasa seperti bekas pembakaran tungku klan kurcaci yang rusak," desis Sylus, sambil menyesuaikan jas hitam modern yang ia "pinjam" melalui sihir manipulasi materi Kieran sebelum berangkat. Meskipun mengenakan pakaian manusia, aura dominannya tetap tidak bisa disembunyikan.
Mephisto bertengger di bahunya, tampak sangat tersinggung karena harus berbagi ruang udara dengan burung-burung gereja yang menurutnya "kurang gizi".
"Selamat datang kembali di duniaku, Sylus," Evelyne tersenyum tipis, mengenakan hoodie dan celana jeans. "Sembunyikan pedangmu. Di sini, orang memanggil polisi jika melihat pria membawa baja dua meter di punggungnya."
Masalah pertama muncul di sebuah kedai kopi populer. Sylus bersikeras bahwa ia harus dilayani terlebih dahulu karena statusnya sebagai Panglima.
"Antre, Sylus. Di sini tidak ada sistem kasta Orde Bayangan," bisik Evelyne sambil menarik lengan jasnya.
Sylus berdiri di antrean dengan wajah yang begitu mengintimidasi hingga orang-orang di depannya gemetar tanpa alasan. Saat tiba gilirannya, ia menatap barista muda itu dengan tatapan tajam.
"Berikan aku minuman terkuat yang bisa membangkitkan energi batin," perintah Sylus.
"Eh... Espresso?" tanya barista itu bingung. "Atau mau Americano dingin, Kak?"
"Aku tidak butuh minuman dingin dari Amerika. Aku butuh kafein yang sanggup membakar jalur Aether," jawab Sylus serius.
Evelyne segera menengahi, "Dua Double Espresso, Mas. Tolong jangan dengarkan dia, dia baru saja... pulang dari perjalanan jauh di pedalaman."
Saat menunggu, seorang anak kecil mendekati Sylus dan menunjuk Mephisto. "Wah, Kakak punya burung beo hitam ya? Bisa ngomong 'Halo' nggak?"
Mephisto mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti kutukan kuno Aetheria. Sylus menatap anak itu datar. "Dia bukan beo. Dia adalah pengintai maut yang telah mematuk ribuan mata musuh."
Anak itu menangis kencang dan lari ke ibunya. Evelyne menepuk dahinya. "Sylus! Jangan menakuti anak-anak!"
"Dia bertanya, aku menjawab secara faktual," bela Sylus dengan wajah tanpa dosa.
Masalah kedua adalah teknologi. Evelyne mencoba mengajarinya menggunakan smartphone untuk melacak sinyal energi Void.
"Kenapa aku harus menyentuh kaca bercahaya ini dengan jempolku?" Sylus tampak sangat terhina. "Di Aetheria, aku hanya perlu membayangkan peta dan Mephisto akan memproyeksikannya."
"Tekan tombol 'Cari', Sylus. Jangan mencoba melakukan resonansi jiwa dengan Google Maps," perintah Evelyne.
Sylus mencoba menekan layar dengan terlalu kuat hingga layarnya retak sedikit. "Alat ini sangat rapuh. Sama seperti dimensi ini."
Malam harinya, Evelyne membawa Sylus ke sebuah taman di atas gedung pencakar langit yang menghadap ke arah kota yang gemerlap. Luke berjaga di pintu masuk, mencoba memahami cara kerja mesin penjual otomatis (vending machine) yang terus menelan koinnya tanpa mengeluarkan minuman.
"Ini tempat favoritku dulu saat aku merasa kesepian," ucap Evelyne, bersandar pada pagar pembatas. "Dulu aku sering melihat bintang dan bertanya-tanya apakah ada dunia lain di luar sana yang lebih adil daripada dunia ini."
Sylus berdiri di belakangnya, melingkarkan lengannya di pinggang Evelyne. Ia menundukkan kepalanya, menghirup aroma rambut Evelyne yang kini berbau sampo stroberi supermarket, bukan lagi aroma bunga mistis Aetheria.
"Dan sekarang kau tahu jawabannya," bisik Sylus. "Dunia lain itu ada, dan ia sangat beruntung memilikimu."
Evelyne berbalik, menatap mata merah Sylus yang memantulkan lampu-lampu kota. "Di sini kau tidak punya kekuatan besar, Sylus. Jika musuh datang, kau tidak bisa memanggil pasukan bayanganmu dengan mudah. Apakah kau takut?"
Sylus menarik Evelyne lebih dekat, hingga hidung mereka bersentuhan. "Aku sudah melewati ratusan tahun tanpa rasa takut karena aku tidak punya apa-apa untuk dipertahankan. Tapi sekarang..." ia mengusap pipi Evelyne dengan ibu jarinya, "...aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga dari tahta Obsidian. Selama kau ada di jangkauan tanganku, aku tidak peduli di dimensi mana aku berada.”
Sylus mencium Evelyne di bawah siraman cahaya bulan yang samar-samar kalah oleh lampu kota. Itu adalah ciuman yang berbeda—lebih membumi, lebih nyata, tanpa tekanan sihir yang meluap-luap. Hanya dua jiwa yang saling menemukan di antara jutaan manusia.
Mephisto, yang merasa momen ini terlalu manis, memutuskan untuk terbang dan mencuri sepotong kentang goreng dari meja pengunjung lain di kejauhan, merusak suasana romantis itu dengan suara teriakan "Pencopet burung!" dari bawah.
Namun, kedamaian itu pecah saat ponsel yang dipegang Sylus mendadak bergetar hebat dan mengeluarkan asap hitam. Peta digital di layarnya berubah menjadi simbol-simbol kuno yang hanya dikenal oleh Klan Gagak Merah.
"Sinyalnya menguat," ucap Sylus, wajahnya kembali menjadi dingin dan waspada. "Energi Void ini... ia tidak bersembunyi di dalam benda mati. Ia telah menemukan inangnya."
Mereka mengikuti koordinat itu menuju sebuah galeri seni mewah di pusat kota. Di sana, sedang diadakan pameran lukisan kontemporer. Di tengah ruangan, dikelilingi oleh para kolektor kaya, berdirilah seorang pria tampan dengan setelan jas putih yang sangat rapi.
Evelyne membeku. Wajahnya memucat lebih hebat daripada saat ia menghadapi The Devourer.
"Reza?" bisik Evelyne dengan suara bergetar.
Pria itu berbalik. Namanya adalah Reza, mantan kekasih Evelyne dari masa sebelum ia terseret ke Aetheria—seorang pria yang pernah mengkhianati Evelyne demi ambisi karier dan meninggalkannya dalam keterpurukan. Namun, ada yang salah dengan mata Reza. Di balik pupil hitamnya, ada pendaran ungu gelap yang berdenyut.
Reza tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya yang dingin. "Evelyne... aku tidak menyangka kau akan kembali dengan membawa 'aksesoris' aneh dari luar negeri."
Reza menatap Sylus dengan tatapan merendahkan. Saat itulah, aura di dalam galeri seni itu berubah. Lukisan-lukisan di dinding mulai mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk. Para tamu pameran mendadak jatuh pingsan, seolah jiwa mereka ditarik keluar secara perlahan.
"Kau..." Sylus melangkah maju, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. "Kau adalah wadah itu.”
"Kaelen memberikan aku apa yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini padaku," ucap Reza, suaranya kini berlapis dengan suara parau Kaelen. "Kekuatan untuk menulis ulang masa lalu. Dan aku akan memulainya dengan melenyapkan pria yang mencoba mengambil tempatku di samping Evelyne."
Tangan Reza berubah menjadi cakar hitam yang diselimuti energi Void. Ia mengibaskan tangannya, dan ledakan energi gelap menghancurkan pilar-pilar galeri.
"Luke! Evakuasi warga sipil!" perintah Sylus.
Sylus mencoba memanggil pedang Soul-Eater-nya, namun karena kepadatan sihir di Bumi sangat rendah, pedang itu hanya muncul dalam bentuk belati pendek yang bergetar.
"Sial," umpat Sylus. "Kekuatanku ditekan oleh hukum dimensi ini."
"Tapi kekuatanku tidak, Sylus!" Evelyne maju ke depan, cahaya ungu Katalisnya meledak, menciptakan perisai untuk melindungi Sylus. "Dia merasuki Reza karena Reza memiliki dendam padaku. Ini urusanku!"
"Urusanmu adalah urusanku, Evelyne!" Sylus berdiri di sampingnya, memegang belati itu dengan posisi siap tempur. Mephisto terbang tinggi, mengeluarkan pekikan perang yang memecahkan kaca-kaca jendela galeri.
Pertempuran di Bumi baru saja dimulai. Di antara gedung-gedung tinggi Jakarta, penguasa kegelapan dari Aetheria dan gadis katalisnya harus menghadapi hantu dari masa lalu yang kini dipersenjatai dengan kekuatan pemusnah semesta.
Bersambung