NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Kampus pagi itu terasa lebih gerah dari biasanya bagi Arunika. Padahal, urusannya dengan dosen pembimbing sudah selesai dengan hasil yang memuaskan. Ia hanya ingin segera sampai ke parkiran, masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim Thomas, dan kembali ke apartemen untuk sekadar merebahkan diri sebelum jadwal magang sore nanti.

Namun, di lorong sepi menuju parkiran belakang, tepat di bawah pohon akasia yang besar, sebuah bayangan menghalangi jalannya.

"Nika."

Langkah Arunika terhenti. Ia mengembuskan napas panjang saat melihat Marsellino berdiri di sana. Marsel tidak mengenakan kemeja rapi seperti biasa; ia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans, rambutnya sedikit acak-acakkan, dan matanya terlihat merah.

"Marsel? Kamu ngapain di sini?" tanya Arunika, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

"Aku nungguin kamu dari dua jam yang lalu," sahut Marsel pelan. Ia melangkah mendekat, namun Arunika secara refleks mundur satu langkah.

Marsel tertawa kecut melihat reaksi itu. "Sejak kapan kamu takut sama aku, Nik? Biasanya kamu yang paling semangat nyari aku sampai ke ujung kantin."

"Itu dulu, Sel. Sebelum aku sadar kalau aku cuma ganggu waktu kamu sama Aletta," jawab Arunika. "Sekarang aku ada urusan. Mas Thomas sudah nunggu di kantor."

Mendengar nama kakaknya disebut, wajah Marsel seketika mengeras. "Mas Thomas lagi? Nik, dengerin aku. Apa yang terjadi semalam di restoran... itu gila. Kamu nggak beneran mau nikah sama dia minggu depan, kan?"

"Kenapa enggak? Mas Thomas baik, mapan, dan dia... dia memperlakukan aku dengan sangat hormat," ujar Arunika, mencoba mengingat-ingat skenario yang dibangun Thomas.

"Menghormati?" Marsel mendengus sinis. "Nik, aku kenal Mas Thomas dari aku lahir. Dia itu manusia paling dingin dan paling penuh perhitungan yang pernah aku tahu. Dia nggak mungkin tiba-tiba jatuh cinta sama kamu. Ini pasti ada kaitannya sama tekanan Mami yang pengen dia cepet nikah. Kamu cuma dimanfaatin, Nika!"

Arunika mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Kalaupun iya dia manfaatin aku, setidaknya dia jujur. Daripada orang yang pura-pura nggak tahu perasaanku selama tiga tahun padahal dia nikmatin semua perhatian yang aku kasih!"

Marsel terdiam, tertohok oleh kalimat tajam Arunika. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Oke, aku minta maaf buat itu. Aku tahu aku salah. Aku terlalu terbiasa ada kamu di sekitar aku sampai aku lupa kalau kamu juga bisa pergi. Tapi nikah sama Mas Thomas itu bukan solusinya, Nik. Kamu nggak bakal bahagia sama kulkas kayak dia."

"Bahagia itu aku yang nentuin, Sel. Bukan kamu."

"Nik, please..." Marsel meraih tangan Arunika secara mendadak. Genggamannya kuat, seolah takut gadis itu akan benar-benar menghilang. "Kamu sayang sama aku, kan? Aku tahu kamu masih sayang sama aku. Tatapan kamu semalam pas aku keluar ruangan itu nggak bisa bohong. Kamu cuma mau balas dendam sama aku pake cara nikah sama kakakku sendiri, kan?"

Arunika mencoba menarik tangannya, namun Marsel menahannya. "Lepas, Sel. Nanti ada yang liat."

"Biarin! Biar semua orang tahu kalau kamu itu punya aku!" seru Marsel mulai hilang kendali. "Kita bisa perbaiki ini, Nik. Aku bisa putus sama Aletta kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan lakuin ini. Jangan nikah sama Mas Thomas. Aku nggak rela liat kamu tidur di kamar yang sama sama dia, aku nggak rela kamu dipanggil 'baby' sama dia!"

Arunika menatap Marsel dengan tatapan yang kini penuh dengan rasa iba. "Kamu baru rela sekarang, Sel? Pas aku sudah mutusin buat berhenti? Kemarin-kemarin pas aku nangis karena kamu lupain janji makan siang kita demi Aletta, kamu di mana? Pas aku nungguin kamu latihan basket sampai jam 9 malem dan kamu malah pulang bareng dia, kamu di mana?"

Arunika menarik tangannya dengan sentakan kuat hingga terlepas. "Kamu bukan nggak rela aku sama Mas Thomas. Kamu cuma nggak rela 'pemuja' kamu hilang satu. Kamu egois, Marsel."

"Nika, aku sayang sama kamu!" teriak Marsel frustrasi.

"Sayang?" Arunika tersenyum tipis, matanya mulai berkaca-kaca namun ia menolak untuk menangis. "Sayang itu bukan kata benda yang bisa kamu ambil lagi pas kamu butuh. Mas Thomas mungkin dingin, tapi dia ada di sana pas aku butuh sandaran. Dia nggak pernah biarin aku nunggu. Dan satu hal yang perlu kamu tahu..."

Arunika melangkah maju, menatap langsung ke mata adiknya pria yang pernah ia puja itu.

"Mas Thomas nggak pernah bikin aku ngerasa jadi pilihan kedua. Di matanya, aku selalu jadi yang utama. Dan itu lebih dari cukup buat aku."

Marsel terpaku. Ia melihat sebuah ketegasan yang belum pernah ia lihat di mata Arunika selama tiga tahun ini. Gadis yang biasanya akan luluh hanya dengan satu senyuman Marsel, kini menatapnya seolah ia hanyalah orang asing.

"Jangan cari aku lagi, Sel. Jaga Aletta baik-baik. Jangan sampai kamu telat sadar lagi kayak sekarang, karena nggak akan ada 'Arunika' kedua yang bakal nunggu kamu selamanya," ucap Arunika final.

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju parkiran tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Marsel hanya bisa berdiri mematung di bawah pohon akasia. Angin siang itu berembus kencang, menggugurkan bunga-bunga akasia yang jatuh di atas kepalanya, seolah ikut meratapi penyesalan yang datang terlambat.

Arunika masuk ke dalam mobil jemputan dan langsung menyandarkan kepalanya ke jok. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke satu-satunya orang yang saat ini membuatnya merasa aman.

Arunika: Mas, aku udah selesai di kampus. Menuju kantor sekarang.

Arunika: Nanti pas sampai, boleh minta peluk nggak? Capek banget hari ini.

Di kantor, Thomas yang baru saja selesai menelepon vendor katering melihat pesan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sangat langka. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi di kampus, tapi ia tahu satu hal: ia akan memberikan pelukan yang diminta Arunika, dan ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.

Thomas: Cepatlah sampai. Aku menunggumu, Gorgeous.

Arunika melihat balasan itu dan memeluk ponselnya di dada. Rasa sesak setelah bertemu Marsel perlahan memudar, digantikan oleh debaran aneh yang kini mulai ia nikmati. Sebuah debaran yang hanya bisa diciptakan oleh Thomas Adiputra.

***

Suasana di dalam ruangan CEO Adiputra Group sedang cukup santai sore itu. Ardi, dengan gaya khasnya yang jauh dari kata formal, sedang duduk selonjoran di sofa kulit mewah milik Thomas sambil memutar-mutar pulpen di jarinya. Sementara itu, Thomas masih sibuk di balik meja kerjanya, menatap layar monitor dengan dahi berkerut.

"Jadi, beneran minggu depan, Tom? Gue masih nggak nyangka lo bisa gercep gini. Gue kira lo bakal jadi perjaka tua saking kaku dan pilih-pilihnya," celetuk Ardi tanpa rasa takut.

Thomas melirik tajam dari balik kacamatanya. "Kalau kau ke sini hanya untuk menghina status lajangku yang akan segera berakhir, pintunya ada di sana, Ardi."

"Galak amat calon pengantin," Ardi terkekeh.

Tok! Tok!

Ketukan di pintu memecah perdebatan mereka. Belum sempat Thomas menjawab, pintu kayu jati itu terbuka sedikit, menampakkan wajah Arunika yang terlihat sedikit kelelahan namun tetap cerah.

"Mas... eh, ada tamu ya?" Arunika melangkah masuk dengan ragu, tangannya masih memegang tali tas bahunya.

Ardi langsung menegakkan posisi duduknya, memasang senyum paling ramah yang ia miliki. "Eh, ada Bu CEO masa depan. Masuk, masuk! Gue bukan tamu asing kok, gue cuma rakyat jelata yang kerja di sini."

Arunika mendekat ke arah sofa, menatap Ardi dengan tatapan bingung. Ia ingat pria ini adalah manajer operasional yang kemarin menggoda Thomas di depan ruang rapat. "Eh, iya... Pak... eh, Om... eh, siapa ya panggilannya?"

Arunika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya merona karena bingung menentukan tingkatan umur pria di depannya. Ardi memang terlihat dewasa, tapi gayanya sangat cool.

Ardi tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi polos Arunika. "Aduh, panggil Om? Emang muka gue setua itu ya? Panggil Kak Ardi aja, Nika. Biar akrab kita."

"Kak Ardi?" gumam Arunika sambil mencoba mencerna panggilan itu.

"Kak?" suara Thomas tiba-tiba menginterupsi dengan nada rendah yang tidak bersahabat. Pria itu sudah berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati mereka. "Lo terlalu tua untuk dipanggil 'Kak' sama Arunika, Ardi. Sadar umur. Panggil dia Pak Ardi atau Om sekalian."

Ardi langsung protes, "Heh! Enak aja! Gue sama lo itu cuma beda setahun ya, Tom. Kalau gue dipanggil Om, berarti lo juga cocoknya dipanggil Om Thomas, bukan Mas Thomas!"

Thomas berdiri di samping sofa, menatap Ardi dengan tatapan 'pergi-sekarang-atau-mati'. "Arunika sudah terbiasa memanggilku 'Mas' karena kami tetangga sejak kecil. Kamu? Kamu orang asing yang tiba-tiba mau jadi Kakak? No way."

Arunika yang melihat perdebatan dua pria dewasa itu justru merasa lucu. Ia menatap Ardi, lalu beralih ke Thomas yang wajahnya terlihat sangat posesif—meskipun pria itu mencoba menutupinya dengan wajah datar.

"Haha... sama-sama tua, Mas. Nggak usah ngeledek Kak Ardi gitu," ucap Arunika sambil tertawa renyah. "Lagian kan emang bener, Mas Thomas sama Kak Ardi itu satu angkatan. Kalau Mas aku panggil Mas, berarti Kak Ardi ya panggil Kak juga dong."

Seketika ruangan itu hening. Ardi melongo sebelum akhirnya meledak dalam tawa kemenangan yang sangat keras.

"BWAHAHAHA! Denger tuh, Tom! 'Sama-sama tua'! Skakmat!" Ardi memegangi perutnya sambil menunjuk-nunjuk Thomas yang kini wajahnya kaku seperti patung. "Duh, Nika, lo emang juara. Baru kali ini ada orang yang berani bilang Thomas Adiputra tua di depan mukanya sendiri!"

Wajah Thomas menggelap. Ia menatap Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tua? Jadi di matamu aku ini sudah tua, Arunika?"

Arunika baru sadar kalau kalimatnya tadi mungkin sedikit menyinggung ego sang CEO. Ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya membulat. "Eh... bukan gitu maksudnya, Mas! Maksudnya... kalian itu seumuran, jadi panggilannya harus setara. Aduh, bukan maksud aku Mas Thomas udah keriput atau gimana kok!"

"Tapi tadi kamu bilang 'sama-sama tua'," desis Thomas, melangkah mendekat ke arah Arunika.

"Ya kan... kan emang bener kalau dibandingin sama aku yang masih mahasiswi..." Arunika makin gugup, ia mundur satu langkah sampai punggungnya menyentuh pinggiran meja kerja Thomas.

Ardi semakin kompor. "Bener itu, Nika! Thomas itu emang jiwanya jiwa bapak-bapak. Kaku, hobi ngatur, kerja mulu. Fix, dia emang udah tua. Lo mending sama gue aja yang masih berjiwa muda, gimana?"

Thomas langsung menarik lengan Arunika dengan lembut namun protektif, membawanya ke belakang tubuhnya sendiri—menjauhkan gadis itu dari pandangan Ardi.

"Ardi, keluar. Sekarang. Sebelum aku benar-benar memecatmu tanpa pesangon," ancam Thomas dengan suara yang sangat serius.

"Oke, oke! Gue pergi! Galak banget, mentang-mentang dibilang tua sama ayang," Ardi bangkit dari sofa, masih sambil tertawa kecil. Sebelum keluar, ia mengedipkan mata pada Arunika. "Sampai ketemu lusa ya, 'Kak' Ardi tunggu undangannya!"

Setelah pintu tertutup rapat, suasana ruangan menjadi sangat sunyi. Thomas masih membelakangi Arunika, tangannya mengepal di atas meja.

"Mas..." panggil Arunika pelan. "Marah ya?"

Thomas berbalik perlahan. Ia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Aku tidak menyangka pendapatmu tentangku seburuk itu, Nirmala."

"Enggak buruk, Mas! Suer!" Arunika mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. "Mas Thomas itu... matang. Iya, matang! CEO sukses, ganteng, pinter masak semur lagi. Itu nilai plus banget tahu di mata cewek-cewek."

Thomas menatap Arunika lekat-lekat. "Lalu kenapa kamu panggil Ardi dengan sebutan 'Kak' tapi seolah menegaskan kalau aku ini sudah tua?"

Arunika merapat ke arah Thomas, ia memberanikan diri menyentuh lengan kemeja Thomas. "Soalnya kalau panggil 'Mas' itu rasanya lebih... gimana ya. Lebih spesial? Lebih deket? Kalau 'Kak' itu kan umum. Semua orang bisa dipanggil Kak. Tapi 'Mas'... itu cuma buat orang tertentu."

Hati Thomas yang tadinya mendidih karena ejekan Ardi, seketika mendingin seperti disiram air es yang segar. Ia menatap Arunika yang kini menunduk malu setelah mengucapkan kalimat itu.

"Jadi, panggilan 'Mas' itu spesial bagimu?" tanya Thomas, suaranya melembut.

Arunika mengangguk pelan. "Iya. Apalagi setelah kejadian semalam di hotel. Rasanya... aku nggak mau panggil Mas Thomas dengan sebutan lain."

Thomas menghela napas panjang, ia menarik Arunika ke dalam pelukannya secara mendadak. Pelukan yang tadi diminta Arunika lewat pesan singkat, baru bisa ia berikan sekarang.

"Jangan pernah panggil laki-laki lain dengan sebutan 'Mas', Arunika. Cukup aku," bisik Thomas di telinga Arunika.

Arunika membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada bidang Thomas. "Iya, Mas Thomas yang 'sudah matang'."

Thomas terkekeh kecil, sebuah tawa tulus yang jarang ia perlihatkan. "Tetap saja, kata 'tua' itu akan kuingat terus. Sepertinya aku harus mulai rajin ke gym agar tidak kalah dengan selera Gen Z-mu itu."

"Nggak usah, Mas. Gini aja udah bikin aku deg-degan kok," gumam Arunika tanpa sadar.

Thomas mempererat pelukannya. "Apa? Kamu bilang apa tadi?"

"Eh? Nggak ada! Aku bilang... aku laper! Ayo makan!" Arunika segera melepaskan diri dengan wajah yang sudah merah padam seperti kepiting rebus.

Thomas tersenyum menang. Ia tahu, meskipun ia dibilang "tua", tapi dialah yang berhasil memenangkan hati gadis ini, inci demi inci, tanpa disadari oleh Arunika sendiri.

"Ayo makan. Tapi jangan harap ada diskon panggilan 'Mas' setelah ini," ujar Thomas sambil menggandeng tangan Arunika menuju pintu.

Di luar, Ardi yang ternyata masih mengintip sedikit lewat celah pintu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Tua-tua keladi lo, Tom. Makin tua makin pinter bikin baper anak orang."

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!