NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Eyang

Istri Pilihan Eyang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

​Pukul sepuluh tepat, sebuah taksi berhenti di depan gerbang pengaman lokasi proyek Alexander Group. Pintu terbuka, dan Nada melangkah turun dengan sangat perlahan. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, ia berjalan menuju posko medis dengan langkah yang sedikit kaku dan agak pincang. Setiap kali ia melangkah, rasa nyeri yang nyata menjalar di bagian bawah tubuhnya, membuatnya reflex mencengkeram tali tas selempangnya kuat-kuat.

​"Dasar suami menyebalkan... Kejam, tidak punya perasaan, egois!" gerutu Nada dengan suara yang teramat lirih, merutuki Kelvin di setiap langkahnya. "Sudah tahu orang sedang sakit, masih saja diancam soal anggaran desa. Benar-benar iblis!"

​Namun, di tengah gerutuannya, sebuah potongan memori dari malam semalam mendadak berputar tanpa izin di kepalanya. Bayangan saat Kelvin mencengkeram pinggangnya, bisikan serak pria itu di telinganya, hingga bagaimana mereka saling melumat dengan brutal di bawah temaram lampu kamar seketika membuat wajah putih Nada merona merah padam.

​Nada menggelengkan kepalanya dengan kuat, menepuk kedua pipinya sendiri dengan gemas hingga beberapa pekerja yang lewat menatapnya heran. "Enggak, enggak! Lupain, Nada! Lupain kejadian memalukan itu! Fokus pada tujuanmu, jangan sampai terpengaruh oleh kelakuan pria itu!" ucapnya ketus pada diri sendiri, mencoba mengembalikan fokus jiwanya yang sempat goyah.

​Begitu masuk ke dalam tenda posko yang sejuk, beberapa perawat yang sedang menata tabung oksigen langsung menoleh ke arahnya. Salah seorang perawat senior bernama Maya mengernyitkan dahi heran melihat cara berjalan Nada yang tidak biasa.

​"Dokter Nada? Dokter kenapa? Kok jalannya agak pincang dan kaku begitu?" tanya Maya dengan raut wajah cemas, melangkah mendekat.

​Nada sempat tersentak kecil, namun dengan cepat ia menguasai ekspresi wajahnya, menampilkan senyuman profesional yang menenangkan. "Ah, ini... tidak apa-apa, Suster Maya. Semalam saya agak kurang hati-hati saat merapikan kamar, kaki saya tidak sengaja terantuk pinggiran kasur kayu yang cukup keras. Agak memar, jadi sedikit susah untuk ditekuk."

​"Astaga, lain kali hati-hati, Dok. Mau saya ambilkan salep pereda nyeri?" tawaran Maya yang langsung ditolak Nada dengan halus.

​Nada kemudian melangkah menuju pembatas tenda, menyibak sedikit tirai kain untuk melihat situasi luar. Di kejauhan, tampak Kelvin sedang berdiri di dekat area fondasi utama bersama para pengawas. Pria itu tampak begitu gagah dengan helm proyek putihnya.

​Entah karena ikatan batin atau apa, Kelvin mendadak memutar tubuhnya dan menatap langsung ke arah posko medis. Begitu melihat sosok Nada yang berdiri di balik tirai dengan wajah cemberut dan tatapan mata yang mendelik kesal ke arahnya, sudut bibir Kelvin perlahan terangkat. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman miring yang teramat tipis—sebuah senyuman kemenangan yang seolah berkata, 'Akhirnya kau datang juga di bawah perintahku.'

​Nada yang melihat senyuman mengejek itu semakin mengepalkan tangannya kesal. Ia menurunkan tirai dengan sentakan kasar, menolak untuk melihat wajah menyebalkan suaminya lagi.

​Satu jam berlalu, Kelvin melangkah agak menjauh dari kerumunan pekerja untuk menerima sebuah panggilan telepon penting dari dewan komisaris di Jakarta. Pria itu berjalan mundur mendekati area penyimpanan material berat, tempat di mana struktur perancah (scaffolding) temporer didirikan untuk menyangga pipa-pipa besi cor ukuran raksasa.

​"Ya, pastikan laporan keuangan kuartal pertama sudah ada di meja saya besok pagi—" Kalimat Kelvin terputus saat ia mendengar suara derit besi yang bergesekan dengan sangat keras dari arah atas kepalanya.

​Krieeekkk... KRAKK!

​Salah satu tali baja pengikat bongkahan pipa besi cor seberat ratusan kilogram di atas perancah mendadak putus akibat tidak kuat menahan beban. Bongkahan pipa raksasa itu bergeser cepat, bersiap terjun bebas tepat ke arah Kelvin yang sedang berdiri membelakangi material tersebut karena fokus menelepon.

​"Tuan Kelvin, Awas!!" teriak Raka dari kejauhan dengan wajah pucat pasi.

​Kelvin menoleh, namun terlambat. Jarak pipa itu sudah terlalu dekat, dan tubuhnya seolah terkunci oleh efek kejut yang luar biasa. Death seolah berada di depan matanya.

​Namun, dari arah posko medis, sebuah bayangan putih melesat dengan kecepatan yang tak masuk akal. Nada, yang sedari tadi mengawasi Kelvin dari kejauhan, sama sekali tidak berpikir dua kali. Mengabaikan rasa sakit dan perih di kakinya, insting alaminya sebagai seorang istri dan tenaga medis membuat tubuhnya bergerak sendiri.

​"Mas Kelvin!!!" teriak Nada histeris.

​Dengan sisa seluruh tenaganya, Nada melompat dan mendorong tubuh tegap Kelvin menjauh dari titik jatuhnya pipa.

​BRUUUAKKK!!!

​Bongkahan pipa besi cor itu menghantam tanah dengan suara menggelegar, menimbulkan dentuman keras dan kepulan debu tebal yang membubung tinggi. Kelvin terpental beberapa meter ke atas gundukan tanah, selamat dari hantaman maut tersebut.

​Namun naas bagi Nada. Meskipun berhasil menyelamatkan Kelvin, bagian ujung pipa besi itu sempat menghantam bahu dan punggungnya dengan keras sebelum tubuh rampingnya terlempar dan jatuh menghantam bebatuan tajam di area proyek.

​"Akhh..." Rintihan pendek lolos dari bibir Nada sebelum matanya terpejam rapat.

​Kelvin dengan cepat bangkit, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Ia melemparkan ponselnya ke sembarang arah, lalu merangkak membelah kepulan debu dengan jantung yang terasa seolah berhenti berdetak.

​"Denada!!!" teriak Kelvin, suaranya bergetar hebat dipenuhi rasa panik yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​Saat debu mulai menipis, Kelvin mendapati tubuh Nada sudah terkapar tak berdaya dalam posisi miring. Wajah cantiknya pucat pasi, dan dari pelipis serta bagian belakang kepalanya, darah segar berwarna merah pekat mulai mengalir, membasahi seragam relawan medis putih yang ia kenakan. Wanita itu telah pingsan total, tak bergerak sedikit pun di atas tanah yang gersang.

1
Nasya
hadeh kelvin masi aja ingat mantan
Nasya
masa lalu yang tragis
falea sezi
klo abis ne lu jutek 😒 gue timpuk lu empin
Nasya
Wkwkwk kelvin sampai pangling lihat nada, selamat buat pengantin baru
falea sezi
nah loo😕 denada celaka demi lu kevin😒
falea sezi
lanjut klo kevin g bucin q tendang ya🤣🤣 lanjut banyak thor tak kirim kembang sekebon🤣
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi🤣
falea sezi
klo uda anu2 tp lu masih berat ma katalina siap2 di buang sama nada lu kevin🤭
falea sezi
wah apakah unboxing😒
falea sezi
😒 di kasih berlian kyak nada milih jalang kayak catalina🤣 siap siap gigit jari lu klo nada uda bales dendam dan pergi jauh🤣
falea sezi
q ksih hadiah lagi seruu liat kisah bales dendam. gini asal gk kemakan permainan sendiri aja🤣
falea sezi
lanjut banyakk q kasih hadiah banyakk ya🤣🤣
falea sezi
bner jalang Catalina dan kevin lu emank goblok🤣
falea sezi
fashion thor bukan feshen🤭
zra
balas dendam jdi cinta?atau nanti ada yang lebih baik dari kelvin
zra
pasti nanti catalina menyesal wkwk,thor jangan buat kevin kembali dengan cathalina
zra
bagus
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor✍️👈☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!