"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan kanaya
Setelah membayar makanan, Kanaya berdiri dari kursinya. "Kak Wisnu, aku izin ke Alfamart depan sebentar ya, mau beli camilan buat di bus," pamitnya sopan pada Wisnu yang masih menghabiskan minumannya.
"Oh, mau ditemani nggak, Nay?" tawar Wisnu sigap.
"Nggak usah, Kak, cuma sebentar kok," tolak Kanaya halus lalu melangkah keluar dari warung makan.
Tanpa disadari oleh siapa pun, khususnya Kanaya, Arman yang sejak tadi mengawasi pergerakannya langsung meletakkan gelasnya dan ikut bangkit. Ia berjalan beberapa meter di belakang Kanaya, memastikan langkahnya cukup tersamarkan di antara ramainya pengunjung rest area. Ini adalah kesempatan pertamanya bisa berada di dekat Kanaya tanpa ada gangguan dari Wisnu.
Kanaya melangkah masuk ke dalam minimarket yang ber-AC dingin itu. Ia menyusuri lorong khusus camilan dan menghentikan langkahnya di depan rak yang penuh dengan keripik. Matanya tertuju pada sebuah bungkus snack dengan logo cabai level tinggi. Saat tangan Kanaya baru saja meraih bungkus snack pedas itu dan hendak memasukkannya ke keranjang belanjaan, sebuah tangan kekar tiba-tiba merebut bungkus itu dengan cepat dari genggamannya.
Kanaya tersentak dan langsung menoleh dengan tatapan terkejut yang seketika berubah menjadi kaku.
Arman berdiri di sana, memegang bungkus snack pedas itu sambil menatapnya lurus. "Gausah makan pedes dulu, kamu nggk kuat," ucap Arman spontan. Suaranya terdengar begitu familier, membawa nada protektif yang dulu selalu Kanaya dengar setiap kali ia mencoba memesan makanan pedas di luar batas kemampuannya.
Selama beberapa detik, suasana di lorong Alfamart itu mendadak hening. Kalimat refleks dari Arman seolah menarik paksa benang masa lalu yang sudah berusaha keras Kanaya putus selama dua tahun ini.
"Apasih?"
Satu kata ketus itu meluncur begitu saja dari bibir Kanaya, dingin dan tajam. Tatapan matanya yang semula terkejut seketika berubah menjadi sorot penuh permusuhan.
Kanaya merebut kembali bungkus snack pedas itu dari tangan Arman dengan sentakan kasar. Ia melangkah maju satu langkah, menatap Arman lurus-lurus dengan kedekatan yang justru terasa amat menjauhkan.
"Bukan urusan kamu," desis Kanaya, suaranya sangat rendah agar tidak menarik perhatian pengunjung Alfamart lainnya, namun sanggup membuat langkah Arman otomatis mundur selangkah.
"Nay, lambung kamu—"
"Jangan panggil nama aku seolah-olah kita saling kenal," potong Kanaya cepat. Kata-katanya bagai tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Arman. "Aku bisa jaga diri aku sendiri. Jaga saja batasan kamu sebagai sesama anggota KKN."
Tanpa menunggu balasan lagi, Kanaya membalikkan badan dengan cepat. Rambut sebahunya terayun seiring langkah kakinya yang bergegas menuju kasir, meninggalkan Arman yang mematung sendirian di lorong minimarket.
Arman hanya bisa menatap punggung itu dengan dada yang kembali dihantam rasa sesak yang luar biasa. Niat tulusnya untuk peduli justru menjadi pengingat pahit bahwa di hidup Kanaya yang sekarang, ia sudah tidak lebih dari sekadar orang asing yang lancang.
Dengan sisa kekesalan yang masih menyumbat dada, Kanaya buru-buru meletakkan keranjang belanjanya di atas meja kasir. Ia tidak ingin berlama-lama di dalam minimarket ini, khawatir Arman akan kembali mendekat dan merusak ketenangannya yang sudah susah payah dibangun.
Di dalam keranjang itu, selain beberapa camilan dan botol air mineral, terselip satu pak pembalut. Sebagai perempuan, Kanaya selalu bersikap realistis; ia tahu perjalanan menuju desa terpencil di semester 7 ini tidak akan mudah, dan menemukan toko yang lengkap di lokasi KKN nanti belum tentu bisa diandalkan. Mempersiapkannya sebagai cadangan sejak sekarang adalah keputusan terbaik daripada harus panik nantinya.