Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil namaku
Desahan panjang terdengar dari mulut Dami saat sentuhan jari-jari Bima mendarat tepat di bagian paling sensitif tubuhnya. Tubuh Dami melengkung naik, punggungnya sedikit terangkat dari kasur seperti ingin merapatkan dirinya lebih dalam lagi ke setiap usapan yang diberikan suaminya itu.
Di bawah pengaruh zat yang masih mendominasi seluruh sistem sarafnya, setiap gesekan dan tekanan ringan dari Bima terasa berkali-kali lipat lebih nikmat, lebih hangat, dan jauh lebih menggelitik daripada yang seharusnya dia rasakan.
"Ah... di sana... di situ..." rintih Dami dalam keadaan setengah sadar, pinggang kecilnya bergerak mengikuti irama tangan Bima, mencari lebih banyak rasa nyaman dalam kenikmatan itu. Matanya terpejam rapat, mulutnya terbuka sesekali mengeluarkan suara lembut yang menunjukkan betapa ia menikmati perlakuan itu.
Jari-jari Bima bergerak dengan penuh perhitungan, mengusap dan menekan bagian itu dengan ritme yang perlahan makin meningkatkan sensasi. Pengetahuan yang ia miliki kini ia gunakan bukan untuk hal medis, melainkan untuk membuat wanita di bawahnya itu merasa terbangun segala rasa dalam dirinya. Ia bisa merasakan betapa tubuh Dami merespons setiap sentuhannya dengan sangat baik.
"Kau suka rasanya?" bisik Bima dengan suara berat yang terdengar mendalam di telinga Dami.
Dami tidak menjawab dengan kata-kata, hanya terus menggeliat pelan karena rasa nikmat yang menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya. Sebenarnya, Bima ingin segera menyatukan diri dengan Dami, namun ia menahan keinginan itu. Ia ingin menikmati momen ini lebih lama, melakukan pemanasan lebih lama dan ingin melihat bagaimana reaksi tubuh istrinya, bagaimana wanita itu mulai kehilangan kendali hanya karena sentuhannya.
"Aku akan memanjakanmu dulu. Kau tahu, aku sangat pandai membuatmu merasa nyaman, terutama di bagian ini," ucap Bima sambil kembali mengusap bagian paling rahasia itu dengan lembut namun penuh perhatian, membuat tubuh Dami kembali tersentak pelan.
Gerakan tangan Bima makin lembut namun penuh rasa, menelusuri setiap lekukan dengan ketelitian yang membuat Dami makin larut dalam kenikmatannya. Setiap kali ujung jarinya menyentuh bagian yang paling sensitif, tubuh Dami selalu merespons dengan gerakan kecil, dan suara desahan halus terus terdengar dari bibirnya.
"Hmm... Mmh ..." suara Dami terdengar lirih dan terputus-putus, napasnya makin tidak beraturan. Ia sama sekali tak mampu mengendalikan gerakannya, tubuhnya bergerak sendiri mengikuti sentuhan Bima.
Bima tersenyum tipis, matanya menatap wajah istrinya yang tampak begitu tenang namun penuh gejolak. Ia sengaja memperlambat ritmenya sesekali, menikmati setiap ekspresi yang berubah-ubah antara rasa nikmat dan rasa ingin lebih yang tak tertahankan.
"Lihat ... Kau sudah keenakan," bisik Bima parau, suaranya berat dan penuh godaan. Ia mendekatkan wajahnya, meniupkan napas panas tepat di atas puncak kenikmatan itu, membuat Dami mengerang keras dan meremas sprei kuat-kuat.
"Aku akan memanjakanmu sampai kau lemas,"
Dengan gerakan yang perlahan makin dalam, sentuhannya kini menyusup lebih jauh, masuk ke bagian dalam tubuh Dami yang hangat dan sempit.
"Ah!!" Dami menjerit pelan, kakinya otomatis melingkar di pinggang Bima, tubuhnya menggeliat hebat seolah mendapatkan aliran rasa yang mengejutkan namun menyenangkan.
Gerakan itu berlanjut perlahan namun pasti, menyentuh bagian-bagian sensitif yang tersembunyi, membuat Dami makin kehilangan arah karena rasa yang menyebar cepat. Bima terus bergerak dengan ritme yang terukur, seperti sedang mencari dan menemukan setiap titik yang bisa membuat wanita itu melayang tinggi. Rasanya luar biasa, campuran antara rasa penuh yang nikmat dan rasa gatal yang menyenangkan, membuat Dami benar-benar larut dalam suasana itu.
"Ah ... Jeremy ..." rengek Dami tak sadarkan diri, kepalanya menggeleng-geleng hebat, tangannya menarik rambutnya sendiri karena rasa nikmat yang meluap-luap.
Mendengar nama itu otomatis membuat Bima terhenti sejenak. Rahangnya mengeras. Ia jelas tahu Dami mungkin masih ada perasaan terhadap laki-laki itu. Tapi mendengar Dami menyebut nama itu di tengah-tengah kegiatan panas mereka, rasanya sesak sekali.
Tidak, Bima tidak akan membiarkan nama itu keluar lagi dari mulut Dami, terutama saat sedang bersamanya dan melakukan kegiatan seperti ini.
""Bima, panggil aku Bima ... Bukan Jeremy." ucapnya masih menahan cemburu.
Dami membuka sedikit matanya, pengaruh obat itu benar-benar membuatnya hilang kendali.
"Kak Bima? Ahhh..."
Tusukan jari Bima makin menjadi-jadi akibat rasa cemburunya yang membuncah.
"Panggil namaku lagi! Hanya namaku yang boleh kau sebut saat bersamaku!" ucap Bima dengan suara berat dan penuh tekanan. Rasa cemburu itu kini berubah menjadi keinginan untuk membuat Dami sadar sepenuhnya siapa yang ada di hadapannya saat ini.
Sentuhan itu kini berubah makin dalam dan terasa lebih kuat, berulang kali menyentuh titik paling sensitif hingga Dami seolah tersentak rasa nikmat berulang kali.
"AHH!! KAK BIMA! AAAHH!!" seru Dami kencang. Tubuhnya melengkung hebat, seluruh rasa yang ada di dirinya kini terpusat hanya pada sosok di atasnya itu. Zat yang ada di dalam darahnya membuat segala rasa menjadi berkali-kali lipat lebih kuat, dan setiap sentuhan Bima terasa begitu dalam.
"Benar... Panggil namaku lagi! Katakan siapa yang sedang bersamamu sekarang!" desis Bima, matanya menatap tajam penuh dominasi yang jarang ia tunjukkan pada wanita itu. Ia ingin menghapus setiap jejak nama lain dari ingatan Dami, menggantinya hanya dengan namanya, meski ia tahu agak sulit melakukan itu.
"Kak Bima... Ahhhh ... " ucap Dami di sela-sela desahan kerasnya saat ia mendapatkan pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang hebat. Cairan dalam tubuhnya muncrat, membasahi tangan dan mulut Bima yang terus menjilatinya dengan rakus.
Bima tersenyum puas.
kmu hrsnya paham dgn kata2 Jeremy(Mau berbagi)Gak Ada Yg mau berbagi cinta&fisik dri orang yg kita cintai...hrsnya kmu sadar Bima klu udah mati rasa gak akan menghentikan dansa kmu&jeremy..krna dia cinta jdi dia gak mau miliknya di sentuh sma yg lainnya...Bima Marah krna Kesalahan Istrinya Fatal..meskipun bgtu DI SAAT MABOK PUN YG DI TMENIN ARSEN DIA JUJUR GAK BISA BENCI MESKIPUN KMU UDAH NYAKITIN BGTU PARAAH..MASIH TTP CINTA&GAK BISA LIAT KMU NANGIS..TAPI KATANYA2 GAK SEMENYAKITKAN ETHAN SAAT TAU DIRA HANYA DI COSPLAY SMA JEREMY GA SAMPAI HUB BADAN(PDHL DIRA BLM JDI ISTRI ETHAN SAAT ITU)ETHAN NYAKITIN BNGT KATA2NYA...NAHH BIMA SUAMI DAMI MSH BISA TINGGAL 1 ATAP MESKIPUN MSH CUEK TAPI YAKIN BIMA CINTA SMA DAMI😭😭😭😭😭
soaly kasian cuma jadi peran FIGURA aja .
kan kasian🙏🙏🙏
gak di cerita Dira gak di Sini cuma jadi Figura 😄✌️✌️✌️
jahat Banget gak sih.
semangat pendukungnya dami jeremy episode masih panjang masih bisa berharap
sama ka mae 🤭
jangan biarkan dami dan Bima intim dulu ka mae ya🙏
tunggu sampai dami hamil nanti
kasian jeremy
i love you dami jeremy😍