"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Crimson Cursed Seal
Malam ini langit dihiasi bintang-bintang indah yang menari-nari dengan anggun di atas Pulau Emberwind. Bulan purnama pun bercahaya sepenuhnya, sinarnya terlihat begitu indah, namun kilatan sihir yang mengendalikan ratusan penyihir mengubah malam yang indah menjadi mencekam.
"Malam yang tepat untuk melakukan misi ini!" ucap Tetua Aleazea yang berada dihadapan Dewan Tetua dan penjaga hutan yang telah dikendalikan oleh sihirnya.
"Kutukan Darah Jiwa!"
"Crimson Cursed Seal!"
Hanya dengan jentikan jarinya saja, Tetua Aleazea mengontrol jiwa dan pikiran orang-orang yang telah meminum darahnya.
Sebagian orang yang tidak sadar meminum minuman jamuan, yang dicampur darah milik Aleazea. Orang-orang yang meminum itu seketika tubuh mereka melepaskan mana yang pekat dan kuat.
"Hancurkan dan bunuh semua orang yang ada di Pulau ini!" ujar Tetua Aleazea kepada orang-orang yang telah terikat sihirnya.
Mereka yang terkena sihir kutukan ini kehilangan kesadaran atas tubuh mereka sendiri, namun pikiran mereka tetap terjaga menjadi penonton di dalam tubuh mereka yang bergerak sendiri.
Semua orang yang berada dalam pengaruh sihirnya pun bergerak, namun ada satu orang yang bertahan dan melawan jurus sihirnya.
"Aleazea... Kau akan kubunuh!" Orang yang masih bertahan itu adalah Tetua Galdur.
"Jadi kau adalah dalang dibalik kerusuhan lima tahun yang lalu, pengkhianat!" ujar Tetua Galdur sambil menciptakan sebuah tombak yang dilapisi angin dan api.
"Matilah dan enyah dari kerajaan ini!"
Tepat setelah Tetua Galdur melepaskan serangan, Tetua Aleazea menghilang dari pandangannya dan sudah berdiri didepannya.
"Kau terlambat lambat," bisik Tetua Aleazea yang menusuk perut Tetua Galdur dengan tangan yang dialiri mana.
Tetua Galdur pun memegang pundak Tetua Aleazea dan menatapnya begitu tajam.
"Aku akan mengejarmu ke neraka walau diriku telah mati-"
Ekspresi geram Tetua Aleazea terlihat jelas diwajahnya, dalam satu kali gerakan yang kuat, leher Tetua Galdur dihancurkan sebelum Kakek tua itu menyelesaikan perkataannya.
"Ini hanyalah langkah awal! Aku telah menebak jika Wood Elf dan Dark Elf tidak datang dengan pengawal yang sedikit. Pulau ini akan menjadi saksi bisu perang saudara di kerajaan yang dicintai mana ini!" Tetua Aleazea tersenyum licik dan menghilang.
Diwaktu yang sama, kekacauan yang terjadi di Pulau Emberwind membuat Ashura dipaksa melindungi anak-anak kecil dan orang tua. Situasi ini membuatnya kembali bertarung, walau mana didalam tubuhnya belum pulih.
"Kenapa mereka membunuh penduduk? Kakak, apa yang sebenarnya terjadi disini?!" Terlihat Tuan Putri Elara ketakutan dan terkejut melihat pengawalnya tiba-tiba menyerang dan membunuh penduduk pulau.
Pangeran Liorael juga belum memahami sepenuhnya situasi yang terjadi disini.
"Aku tidak mengerti, tetapi aku harus melindungi penduduk disini!" Liorael maju kedepan dan menyambut serangan pengawal kerajaan yang terkena sihir Crimson Cursed Seal milik Tetua Aleazea.
"Kakak Elara..." Indi yang bersama Elara juga terlihat ketakutan. Gadis kecil ini harus melihat kejadian mengerikan sebanyak dua kali dalam jeda waktu yang singkat.
"Tenang saja, Indi. Aku akan melindungi dirimu dan penduduk Pulau Emberwind!" ucap Elara penuh keyakinan.
Indi mengangguk lemah, namun tak lama Dewan Tetua datang dan membuat Elara tersenyum lega.
"Syukurlah, sekarang kita sudah aman-"
BOOOMMM!!!
Bukan datang untuk menyelamatkan mereka, Dewan Tetua justru melepaskan serangan mematikan kearah mereka semua.
Elara mematung saat melihat salah satu Dewan Tetua membunuh penduduk pulau menggunakan sihir ledakan. Indi yang berada disampingnya pun terduduk lemas dan tidak dapat berteriak karena ketakutan.
Ashura yang terbaring dan sedang memulihkan tenaga pun berdiri dan berdecak kesal.
"Apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan ini? Aku ikut kemari karena ingin menjadi lebih kuat dan bukan melihat peperangan seperti ini!" ujar Ashura yang menggerakkan kedua tangannya sambil melepaskan mana secara perlahan.
"Kalian semua mundurlah!" seru Ashura kepada penduduk pulau termasuk Elara, Indi dan Liorael.
"Apa yang akan kau lakukan Ashura?"
Sebelum Liorael mendapatkan jawaban, sebuah dinding es mengelilingi mereka semua seperti mencegah mereka keluar. Namun dinding es itu melindungi mereka dari serangan pengawal kerajaan dan Dewan Tetua yang dikendalikan Crimson Cursed Seal.
"Kalian membunuh penduduk dan mengamuk tidak jelas! Aku akan menjadikan kalian sebagai pengukur sejauh mana kekuatanku berkembang!" teriak Ashura yang tersenyum lebar.
Tidak ada ekspresi ketakutan atau khawatir diwajah Ashura. Saat beberapa sihir mengarah pada dirinya, Ashura bergerak cepat menghindar dan membalas sihir tersebut.
Aksi Ashura ini membuat Liorael tercengang. Anak seumurannya, tidak bergeming melihat darah dan penduduk yang terbunuh secara keji, justru tatapan matanya menunjukkan kegelapan dan tanpa belas kasih.
Yang membedakan Ashura dengan anak-anak seusianya adalah kebencian. Ashura telah diajarkan kebencian sejak dirinya lahir, ia tidak pernah mengenal kasih sayang dan hanya ada pengkhianatan dalam hidupnya.
Anak-anak yang tidak pernah melihat kedamaian dan anak-anak yang tidak pernah melihat pertumpahan darah memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang dunia yang kejam ini.
Ashura yang memiliki darah Kaisar Xyrus dan Bangsawan Kekaisaran Xyrus, memiliki pandangan yang berbeda dengan mereka semua.
Ashura menginginkan kekuatan untuk mengetahui sejauh mana dirinya berkembang. Setelah dia merasa cukup, dirinya akan menuntut balas pada orang-orang yang membunuh Asuna dan Fuyumi.
Saat anak-anak seusianya mendapatkan kasih sayang dari orang yang mereka panggil Ayah, Ashura justru memiliki obsesi untuk membunuh Ayahnya.
Pertempuran yang terjadi di Pulau Emberwind malam ini, tidak membuat Ashura takut justru membuatnya dirinya senang karena dengan hal ini dirinya merasa lebih hidup.
Dihadapan pengawal kerajaan yang memiliki kekuatan Penyihir Emperor, Ashura dapat mengimbangi sihir mereka. Yang lebih mengejutkan Ashura bertarung melawan puluhan pengawal kerajaan dan ia hanya seorang diri tanpa bantuan siapapun.
Walaupun berhasil menghalau sihir musuhnya dan melancarkan serangan, Ashura belum mampu membunuh salah satu dari mereka yang terkena sihir Aleazea.
"Sial, aku tidak bisa membunuh satu orangpun dari mereka!" Ashura mengumpat kesal dan tak lama sebuah aura yang mengerikan terasa dikulitnya.
Belum sempat Ashura bereaksi, Tetua Aleazea berdiri dibelakangnya dan hendak memegang lehernya.
"Kau memiliki kemampuan yang sangat menarik untuk seorang bocah!" Tetua Aleazea tersenyum lebar dan tertarik kepada Ashura.
"Jika kau menginginkan sebuah kekuatan, aku akan memberikannya padamu, Pangeran Xyrus," bisik Tetua Aleazea dan membuat Ashura berdiri mematung.
Saat tangan Tetua Aleazea hampir mencapai leher Ashura, sebuah sihir menghentikan pergerakannya dan sosok pemilik sihir itu adalah Pemimpin Wood Elf yang tidak lain adalah Thalindra Greenleaf.
"Aleazea... Jadi rupanya kau yang telah melakukan ini semua?" Thalindra menatap tajam Tetua Aleazea.
"Senior Thalindra..." Tetua Aleazea langsung melompat ke udara saat melihat Thalindra.
Tubuh Thalindra menghilang dan tak lama wanita tua itu berdiri dibelakangnya Ashura.
"Bocah, apa kau baik-baik saja?" Thalindra bertanya kepada Ashura.
"Aku baik-baik saja..." Ashura mengatur aliran napasnya yang tidak teratur dan menatap kearah Tetua Aleazea yang melayang diudara.
"Minum pil ini dan pulihkan manamu! Aku sendiri tidak akan bisa mengatasi orang itu dan melindungi kalian!" Thalindra memberikan sebuah pil kepada Ashura sebelum mengangkat tangan kanannya ke udara.
"Tidak lama bala bantuan akan datang!" Tepat setelah mengatakan itu di telapak tangan Thalindra muncul sebuah busur panah berwarna hijau.
Ashura pun menelan pil yang diberikan Thalindra dan berbisik pelan, "Bagaimana dia bisa mengetahui identitasku?"
Sorot mata Ashura menatap tajam Tetua Aleazea yang bertarung melawan Thalindra.