NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 (Badai yang Menghantam)

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Prankkk!

Suara pecahan vas bunga berbahan kristal menggema nyaring di dalam ruang kerja CEO Mahardhika Group. Tidak cukup sampai di situ, Arsen dengan napas memburu menghamburkan seluruh barang di atas meja kerjanya. Berkas-berkas penting, laptop, hingga pajangan mewah berserakan tak berbentuk di atas lantai marmer.

Wajah Arsen memerah padam karena amarah yang membuncah. Di tangannya, selembar kertas berlogo pengadilan tercengkeram erat hingga remuk.

Surat gugatan cerai.

Elvara benar-benar melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Wanita yang selama ini selalu tunduk, diam, dan menerima segala ketidakpeduliannya, kini berani mengambil langkah ekstrem untuk meninggalkannya.

"Sialan! Apa yang sebenarnya ada di otakmu, Elvara?!" bentak Arsen pada ruangan yang kosong, meluapkan rasa frustrasi yang mencekik dadanya.

Arsen mengacak rambutnya dengan kasar. Belum sempat ia meredakan syok akibat gugatan cerai itu, pintu ruangannya diketuk dengan terburu-buru. Sekretarisnya masuk dengan wajah sepucat kertas.

"M-maaf, Pak Arsen..." panggil sang sekretaris dengan suara bergetar ketakutan melihat kondisi ruangan yang berantakan. "Para wartawan sudah berkumpul di lobi bawah. Berita mengenai gugatan cerai Nona Elvara sudah bocor ke media. Saham perusahaan kita langsung mengalami penurunan pagi ini karena sentimen negatif publik."

"Usir mereka semua! Jangan ada yang memberikan statement apa pun kepada media!" raung Arsen mementahkan laporan itu.

"Baik, Pak. Dan... ada satu hal lagi," lanjut sekretarisnya, menelan ludah dengan susah payah. "Pihak Vance Sterling Industries baru saja menghubungi kita. Mereka menegaskan bahwa pertemuan meeting hari Senin depan untuk proyek Labuan Bajo tidak boleh ditunda. Jika kita tidak bisa hadir dengan persiapan matang, mereka mengancam akan membatalkan kerja sama secara sepihak."

Hantaman informasi itu membuat lutut Arsen mendadak lemas. Ia terduduk di kursi kebesarannya dengan tatapan kosong. Kepalanya serasa ingin pecah. Di satu sisi, rumah tangganya hancur dan ia terancam kehilangan Elvara secara resmi. Di sisi lain, media terus menguliti kehidupan pribadinya, ditambah lagi nasib proyek triliunan rupiah milik perusahaannya kini sedang dipertaruhkan di tangan investor asing bernama Julian Vance Sterling itu.

Arsen mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Badai sedang menghantam hidupnya dari segala arah, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Arsen Mahardhika merasa benar-benar terpojok.

Arsen memejamkan mata erat-erat, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Sebagai seorang CEO, ia tidak boleh terlihat lemah di depan bawahannya, meskipun saat ini dunianya terasa sedang runtuh.

"Keluar," perintah Arsen dengan suara rendah namun dingin kepada sekretarisnya. "Biarkan saya sendiri. Dan pastikan semua berkas untuk hari Senin sudah siap tanpa ada kesalahan sedikit pun."

"B-baik, Pak," jawab sekretaris itu buru-buru, lalu segera undur diri dan menutup pintu rapat-rapat. Begitu kembali sendiri, Arsen langsung merogoh ponsel dari saku jasnya. Nama pertama yang terlintas di kepalanya untuk menyelesaikan kekacauan ini tentu saja adalah sang istri. Jari Arsen dengan cepat mendial nomor ponsel Elvara.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...

Suara operator yang monoton itu justru membuat Arsen semakin naik pitam. Ia mencoba menelepon lagi sampai tiga kali, namun hasilnya tetap sama. Elvara benar-benar memutus akses komunikasi dengannya.

"Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah mengacaukan semuanya, Elvara?!" desis Arsen dengan tatapan tajam.

Arsen kemudian mengalihkan tujuannya. Ia mencari kontak Kael di ponselnya. Kael adalah orang yang biasanya paling tahu ke mana Elvara pergi jika sedang ada masalah. Tanpa membuang waktu, Arsen langsung menekan tombol panggil.

Di seberang sana, butuh beberapa kali nada sambung sebelum akhirnya panggilan itu diangkat. Namun, suara Kael terdengar sangat berbeda dari biasanya—terdengar parau, lelah, dan penuh dengan sisa amarah yang tertahan. "Ada apa, Arsen?" tanya Kael langsung, tanpa ada nada hormat seperti biasanya.

"Kael! Di mana Elvara?! Kau pasti tahu di mana dia sekarang, kan? Suruh dia cabut gugatan cerai konyol ini sekarang juga! Gara-gara dia, saham perusahaan terganggu!" cecar Arsen tanpa memedulikan kondisi Kael.

Mendengar cecaran Arsen yang hanya mengkhawatirkan bisnis di saat Elvara sudah hancur, emosi Kael yang sejak di pantai tadi membeku, kini mendadak tersulut kembali.

"Kau memang bajingan, Arsen," ucap Kael lirih namun sarat akan kebencian. "Istrimu pergi karena kelakuanmu dengan Vivian, dan yang kau pikirkan sekarang hanya saham mu itu?"

"Jaga bicaramu, Kael! Aku suaminya!"

"Suami?" Kael terkekeh sinis, sebuah tawa pahit yang membuat bulu kuduk merinding. Mengingat kembali tanda-tanda merah di tubuh pria bule yang ia temui di pantai tadi, hati Kael kembali teriris, namun ia juga merasa Arsen pantas menerima akibat dari kebodohannya sendiri. "Kau sudah terlambat, Arsen. Elvara bukan lagi wanita yang bisa kau atur-atur. Dan asal kau tahu... kau sudah kehilangan dia sepenuhnya sejak kau membiarkan dia menangis sendirian."

Klik.

Kael memutuskan sambungan telepon secara sepihak, meninggalkan Arsen yang terpaku dengan dada yang kian bergemuruh hebat. Rasa tidak tenang dan firasat buruk perlahan mulai merayap di benak Arsen. Apa maksud perkataan Kael bahwa ia telah kehilangan Elvara sepenuhnya?

… 

Di belahan kota yang lain, suasana kontras justru terlihat di sebuah apartemen mewah kawasan Jakarta Selatan. Berbeda dengan Arsen yang dirundung murka, Vivian justru sedang duduk santai di sofa beludrunya sembari menyesap teh chamomile hangat.

Layar televisi di hadapannya menampilkan tayangan berita hiburan yang sedang menyiarkan kabar panas mengenai gugatan cerai Elvara terhadap Arsen Mahardhika.

Sebuah senyuman puas dan penuh kemenangan terukir jelas di wajah cantik Vivian. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja, lalu bersandar dengan angkuh. "Akhirnya... wanita itu sadar diri juga," gumam Vivian dengan nada mencemooh yang halus.

Bagi Vivian, tindakan Elvara melayangkan gugatan cerai adalah keputusan paling tepat yang pernah diambil wanita itu. Selama ini, Vivian selalu menganggap Elvara sebagai benalu dan penghalang antara dirinya dan Arsen. Pengorbanan dan kesabaran Elvara selama ini di mata Vivian hanyalah tindakan bodoh yang sia-sia, karena pada akhirnya, posisi cinta pertama di hati Arsen tetaplah miliknya.

Vivian meraih ponselnya, membaca beberapa artikel online yang membahas penurunan saham Mahardhika Group akibat skandal ini. Alih-alih cemas dengan kondisi finansial Arsen, Vivian justru merasa ini adalah kesempatan emas baginya.

Saat Arsen berada di titik terendah dan frustrasi seperti sekarang, pria itu pasti akan mencarinya untuk mendapatkan ketenangan. Dan saat itulah, Vivian akan masuk sebagai pahlawan, merebut kembali posisi yang seharusnya menjadi miliknya sejak dulu.

"Kamu sudah kalah, Elvara. Seharusnya dari awal kamu tidak usah mencoba menahan pria yang hatinya tidak pernah untukmu," ucap Vivian sinis pada foto Elvara yang terpampang di layar ponselnya.

Dengan perasaan gembira yang membuncah, Vivian bangkit berdiri menuju kamarnya untuk memilih pakaian terbaik. Ia berniat untuk segera menemui Arsen di kantornya, berpura-pura menjadi sosok wanita yang penuh perhatian dan menenangkan di tengah badai yang sedang menghantam pria itu.

Vivian melajukan mobil Mini Cooper merahnya membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Suasana hatinya yang luar biasa gembira membuatnya mengemudi dengan kurang fokus. Tangan kirinya memegang kemudi, sementara tangan kanannya sibuk mengetik pesan manis untuk Arsen di ponsel, mengabarkan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kantor pria itu.

​"Arsen pasti sangat membutuhkanku sekarang," gumam Vivian percaya diri, dengan senyum yang tak kunjung luntur dari wajahnya.

​Pikirannya melayang jauh, membayangkan bagaimana ia akan memeluk Arsen, memberikan kata-kata penenang, dan perlahan menggeser posisi Elvara untuk selamanya. Fokusnya benar-benar teralih total ke layar ponsel. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia telah memasuki area persimpangan lampu merah yang sibuk.

​Tepat di saat Vivian menunduk untuk mengirim pesan teksnya, sebuah klakson nyaring berbunyi panjang seolah membelah langit.

​TIIIIIIIIIDDDDD!!!

​Vivian tersentak hebat. Ia mendongak dan seketika sepasang matanya membelalak horor. Dari arah kanan, sebuah truk kontainer besar melaju kencang karena rem yang blong, tepat mengarah ke sisi kemudi mobilnya.

​Jantung Vivian serasa berhenti berdetak. Waktu seolah berjalan sangat lambat saat moncong truk raksasa itu tinggal beberapa meter lagi menghantam tubuhnya. Rasa panik yang luar biasa mencengkeram dadanya. Tanpa berpikir panjang, Vivian memutar setir ke kiri dengan kekuatan penuh dan menginjak rem sedalam mungkin.

​CRAAAASSHHH! CIIIITTTTT!

​Bunyi derit ban yang bergesekan hebat dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Mobil Vivian berputar tak terkendali, meliuk tajam menghindari hantaman telak truk tersebut, sebelum akhirnya berhenti dengan benturan keras setelah menabrak pembatas jalan beton.

​BUMM!

​Kantung udara (airbag) mengembang seketika, menahan tubuh Vivian dari benturan yang lebih fatal.

​Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara mesin mobil Vivian yang berasap di bagian kap depan. Di dalam mobil, Vivian terduduk lemas dengan tubuh yang bergetar hebat. Ponselnya sudah terlempar entah ke mana. Wajah cantiknya pucat pasi bagai mayat, dan keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya.

​Ia hampir mati. Hanya selisih beberapa sentimeter saja, dan truk tadi bisa saja meremukkan tubuhnya. Kesombongan dan tawa kemenangannya atas Elvara beberapa menit yang lalu lenyap tak berbekas, digantikan oleh rasa trauma dan ketakutan yang luar biasa yang membuat napasnya terengah-engah di balik kemudi.

Di seberang persimpangan jalan yang mendadak riuh oleh kerumunan orang yang ingin melihat kondisi mobil Vivian, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca film super gelap terparkir tenang di bahu jalan. Keberadaannya begitu menyatu dengan bayangan deretan ruko kosong, membuat tak ada satu pun orang yang menaruh curiga.

Di dalam mobil itu, seorang pria bermasker hitam menatap ke arah kepulan asap dari kap mobil Vivian dengan pandangan dingin tanpa emosi. Ia menurunkan sedikit kaca mobilnya, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

"Tuan, maaf... wanita itu berhasil menghindarinya," lapor pria bermasker itu dengan suara rendah dan penuh penyesalan. "Truk yang disabotase hanya menghantam pembatas jalan. Target selamat, meskipun mobilnya rusak parah."

Hening sejenak di seberang saluran telepon. Hanya terdengar suara ketukan pelan yang ritmis pada permukaan meja, menciptakan atmosfer intimidasi yang pekat, sebelum akhirnya sebuah suara bariton yang berat dan dingin menjawab dari kejauhan sana.

"Sangat beruntung," sahut sang Tuan misterius di seberang telepon. Suaranya terdengar begitu tenang, namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Biarkan ini menjadi peringatan kecil untuknya. Katakan pada sopir truk kita untuk menghilang sementara waktu."

"Baik, Tuan. Lalu, apa rencana kita selanjutnya untuk wanita ini?"

"Pantau saja dulu," jawab pria misterius itu datar. "Dia sudah membuat wanita ku menangis dan menderita. Keberadaannya terlalu mengganggu. Seseorang yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku, harus membayar harga yang setimpal. Tapi untuk sekarang... biarkan dia menikmati sisa ketakutannya."

Klik.

Panggilan terputus. Di tempat lain, sang Tuan misterius mematikan ponselnya, lalu memutar kursi kebesarannya menghadap jendela luar. Sosoknya tersembunyi di balik temaram ruang kerja yang mewah, menyisakan aura dominan yang berbahaya.

Kecelakaan Vivian hari ini bukanlah sebuah kebetulan murni, melainkan sebuah eksekusi yang terencana rapi. Dan siapa pun sosok misterius ini, dia memiliki kekuasaan yang cukup besar untuk melenyapkan seseorang tanpa jejak, demi membalaskan rasa sakit hati Elvara.

Di dalam mobilnya yang ringsek, tubuh Vivian masih bergetar hebat. Rasa syok yang luar biasa membuat seluruh persendiannya lemas. Namun, kepanikan Vivian kian memuncak saat ia tiba-tiba merasakan rasa nyeri yang amat sangat mencengkeram bagian bawah perutnya.

"Ahg..." Vivian melenguh kesakitan, tangannya reflek meraba perutnya yang mendadak terasa melilit dan kram parah. Wajahnya yang sudah pucat kini kian dibanjiri keringat dingin.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Vivian membungkuk dan meraba-raba lantai mobil, mencari ponselnya yang tadi terlempar. Begitu jemarinya berhasil meraih benda pipih tersebut, dengan pandangan yang mulai kabur, ia mencari nomor kontak Arsen dan menekannya.

Vivian menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan tangan yang gemetar parah.

Tut... Tut... Tut...

"Arsen... angkat, please... Arsen..." bisik Vivian lirih, merintih di tengah rasa sakit perutnya yang kian tak tertahankan.

Namun, hingga nada sambung itu berakhir dan terputus otomatis, Arsen sama sekali tidak mengangkat panggilan teleponnya. Pria itu masih terlalu larut dalam kemarahan akibat gugatan cerai Elvara hingga mengabaikan ponselnya sendiri.

Keputusasaan langsung menghantam dada Vivian. Bersamaan dengan rasa nyeri di perutnya yang terasa semakin menyiksa hingga menjalar ke punggung, kesadaran Vivian perlahan mulai menipis. Pandangannya menggelap total, dan ponsel di genggamannya terlepas begitu saja saat tubuhnya ambruk tak sadarkan diri di atas kemudi.

"Mbak! Mbak, sadar, Mbak!"

Suara gedoran kaca mobil dari luar perlahan mulai berdatangan. Beberapa warga setempat dan pengguna jalan yang melintas langsung berlarian menghampiri mobil Mini Cooper merah tersebut untuk memberikan pertolongan.

Seorang pria paruh baya dengan cekatan membuka paksa pintu mobil yang tidak terkunci, lalu terkejut melihat kondisi Vivian yang sudah pingsan dengan raut wajah menahan sakit yang amat sangat.

"Astaga, ini korbannya pingsan! Tolong, ada yang punya nomor darurat? Cepat telepon ambulans!" teriak warga tersebut panik kepada kerumunan di luar.

"Iya, Pak! Ini saya sedang telepon rumah sakit terdekat!" sahut seorang warga lain yang sudah menempelkan ponselnya ke telinga, bergegas meminta bantuan medis agar ambulans segera dikirim ke lokasi kejadian.

Di tengah hiruk-pikuk kerumunan warga yang berusaha menolongnya, Vivian terbaring tak

berdaya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di luar sana, mobil sedan hitam misterius yang sejak tadi mengawasinya, perlahan mulai melaju pergi dan menghilang di balik kepadatan jalanan ibu kota.

Bersambung….

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!