Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi hari menjelang, Nadira terbangun saat merasakan sentuhan lembut di pipinya.
Matanya terbuka, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah Keano. Bayi mungil itu tersenyum ke arahnya.
Tanpa sadar senyum Nadira terukir begitu saja, seolah mengikuti keceriaan bayi usia sembilan bulan itu.
" Ehem."
Nadira tersadar setelah mendengar suara yang ia kenal, ia melirik Mahesa yang sedang duduk dan memperhatikannya.
" Sebentar lagi dokter akan datang memeriksa Keano, apa kamu akan terus berbaring di sana?." tanya nya dingin.
Nadira langsung bangkit dan berdiri di samping ranjang. Ia menyentuh lehernya yang terasa perih. Nadira tak berani menatap Mahesa.
Sementara itu Mahesa terlihat memperhatikan leher Nadira yang merah, ternyata benar tadi malam ia mencekik leher Nadira dengan kuat.
" Selamat pagi tuan Mahesa, izinkan saya memeriksa keadaan putra anda." ujar Serli yang baru saja tiba. Dia adalah dokter kepercayaan keluarga Mahesa.
Nadira beringsut mundur dan menjauh.
Mahesa mengalihkan pandangannya pada sang dokter.
" Pagi ini Keano tidak menangis. Dan semalam Keano tidur dengan baik. Dia juga terlihat mulai bermain main." ujar Mahesa menjelaskan.
" Sepertinya tuan muda sudah jauh lebih baik. Biar saya periksa terlebih dahulu untuk memastikan keadaannya." Ucap serli.
Mahesa menatap Nadira yang berdiri jauh, tatapannya mengarah pada leher Nadira.
" Tuan Mahesa, putra anda sudah sembuh. Demamnya turun, juga pernafasan nya mulai stabil. Sepertinya dia sudah jauh lebih tenang. " serli tersenyum ke arah Keano.
Mahesa bahagia mendengar Keano sudah sembuh. " Syukurlah Keano sudah sembuh. " ujar Mahesa sambil membelai lembut kepala Keano."
" Hari ini tuan muda sudah boleh pulang, dan untuk obatnya sebentar lagi akan saya berikan." ujar serli. kemudian tatapannya ia layangkan pada Nadira.
" Kalau begitu saya permisi dulu tuan." ujar serli.
" Berikan obat untuk luka juga Serli." celetuk Mahesa sebelum kepergian Serli.
Sementara itu serli hanya mengulum senyum dan mengangguk. " Baik tuan."
"Tuan Mahesa sepertinya sudah mulai perhatian pada gadis itu." gumamnya dalam hati. Ia melihat bekas merah di leher Nadira, walaupun merasa kasihan pada Nadira, tapi ia yakin Mahesa pasti sangat perhatian padanya. Buktinya Mahesa meminta obat luka untuk Nadira.
Setelah kepergian Serli, Mahesa kembali duduk di tempatnya. Ia sadar Keano sembuh karena berada di samping Nadira. Sepertinya tubuh Nadira memiliki daya tarik yang membuat Keano nyaman di sampingnya.
Nadira masih berdiri di tempatnya, lagi lagi tubuhnya gemetar hebat.
" Jangan hanya berdiri, duduk!." ujar Mahesa.
Namum ucapannya tak di gubris oleh Nadira.
Di saat yang bersamaan, bi Siti masuk ke dalam ruangan. Hari ini Nadira sudah di izinkan pulang. Tadi ia sudah bertemu dengan dokter yang menangani Nadira.
" Mohon maaf tuan, Nadira sudah di izinkan pulang oleh dokter. Apa kami sudah bisa kembali ke kediaman?." tanya bi Siti hati hati.
" Nadira akan pulang bersamaku, bi Siti pulang saja duluan."
Deg
Nadira meremas ujung bajunya. jujur saja dia sangat takut.
Bi Siti menatap khawatir ke arah Nadira, apalagi saat melihat bekas merah di leher Nadira. " Tapi tuan..."
" Ada apa?."
Melihat tatapan dingin dari Mahesa membuat bi Siti mengurungkan niatnya. Ia memutuskan untuk pulang sendirian tanpa membawa Nadira.
" Nadira, bibi pulang duluan ya." ujarnya sebelum ia benar benar pergi.
"Iya bi..." Nadira terlihat gugup saat menjawab.
Nadira kembali merasakan ketegangan setelah kepergian bi Siti.
***
Hari sudah siang, Mahesa dan Nadira berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Mereka akan kembali ke kediaman Adiprana.
Nadira berjalan pelan di belakang Mahesa, sementara Mahesa terlihat mendorong kereta bayi milik putranya.
Nadira meremas obat yang ada di tangannya, obat itu diberikan Mahesa padanya.
Nadira tidak mengerti dengan sikap Mahesa, setelah pria itu menyakitinya, pasti ia langsung di obati.
Nadira tidak tahan dengan semuanya, tapi Nadira tak punya pilihan. Kalaupun ia kabur ia tak punya uang sepeserpun. Tapi kalau bertahan itu sama saja dengan menghancurkan hidupnya.
Nadira teringat pada ibunya, sudah hampir dua minggu ia tidak mengirimkan uang. Ibunya pasti sudah tidak punya pegangan. Nadira tahu jika sekarang ia sudah menjadi pengasuh Keano, tapi apakah ia bisa meminta gaji?. Namun Nadira rasa Mahesa tidak akan memberikan uang padanya.
Mereka memasuki mobil, Nadira duduk di belakang sambil menjaga Keano. sementara Mahesa yang menyetir.
Selama di perjalanan tak ada percakapan, yang ada hanya hening dan sesekali suara Keano yang bicara sendiri dengan bahasa bayi mengisi keheningan.
Tak berselang lama mereka tiba di kediaman Adiprana, kedatangan mereka di sambut oleh Diana yang sudah berada di depan pintu.
Wanita paruh baya itu menyusul mobil dan menanti kedatangan cucunya.
Senyumannya merekah saat melihat Mahesa menggendong Keano keluar dari mobil. Diana langsung membawa Keano ke dalam pelukannya dan menciumnya berkali kali.
Namun netra Diana beralih pada Nadira yang ikut keluar dari mobil. Matanya membulat sempurna menandakan ia sangat terkejut.
" Kenapa kamu membawa wanita pembunuh itu kembali ke rumah ini! Seharusnya kamu buang saja dia ke hutan!." ujar Diana menatap tak suka pada Nadira.
Nadira menunduk di samping mobil, ia tak berani mengangkat kepalanya. Nadira masih trauma dengan kejadian penyiksaan yang dilakukan oleh ibunya Mahesa.
Mahesa menatap ibunya dengan dingin. " Mulai sekarang Nadira adalah pengasuh Keano. Jangan ada bantahan!."
Deg
Diana menatap kaget pada putranya, bagaimana bisa seorang pembunuh dijadikan pengasuh untuk cucunya.
" Tidak! Dia tidak boleh dekat dekat dengan Keano. Dia akan membahayakan Keano Mahesa! Apa kamu tidak khawatir?."
" Sudah Mahesa katakan ma, jangan ada bantahan!." Mahesa masuk ke dalam rumah dengan tatapan dingin.
" Dasar wanita pembunuh, apa yang kamu lakukan pada anakku sampai dia menjadikan kamu pengasuh cucuku? Aku tidak akan membiarkan Keano kamu asuh!."
Diana yang belum mengetahui bahwa Keano hanya tenang jika di samping Nadira memutuskan untuk tidak memberikan Keano pada Nadira. Ia menatap nyalang pada Nadira seolah memperingati nya untuk tidak dekat dekat dengan Keano.
Nadira masih menunduk, setelah kepergian Diana ia hanya sendirian di depan rumah.
Namun beberapa saat kemudian bi Siti datang dan membawanya masuk. Nadira melangkah dengan berat memasuki rumah mewah itu. Hawanya langsung membuat Nadira merinding. Mungkin karena ada seseorang yang sedang menatap nya dengan tajam di ruang tamu.
" Bawa dia ke kamar pengasuh, mulai sekarang dia akan tidur di sana!." ujar Mahesa yang duduk di ruang tamu.
" Baik tuan."
Bi Siti membawa Nadira ke lantai dua. Kamar pengasuh berdampingan dengan kamar Keano dan juga kamar Mahesa.
" Nadira, sekarang kamu akan tidur di sini. Tuan Mahesa telah menjadikanmu pengasuh tuan muda. Kamu harus tepat waktu dan bekerja dengan baik." nasihat bi Siti.
Nadira hanya menatap bi Siti tanpa ekspresi, ia tak mengangguk atau menggeleng. Nadira seolah pasrah dengan semua yang akan terjadi.
Setelah kepergian bi Siti, Nadira menatap obat luka yang sedari tadi ada di tangannya. Nadira dengan perlahan membuka obat itu, kemudian mengoleskan nya pelan pada lehernya.
" Kenapa dia selalu menyembuhkan ku setelah menyakitiku?." gumam Nadira dengan perasaan tidak mengerti.