Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Takdir Enam Orang
Huang segera mendekat ke peserta lainnya. Kini di arena, Lan Dong, Gu Ren, Ji Kuang, Huang, Ning Su, dan Qiao Rin sudah berdiri berjajar. Aura keenam murid saling bertabrakan tanpa suara, menciptakan tekanan aneh yang membuat para penonton di barisan depan menahan napas.
Tetua Wushuang berdiri dari kursinya. Jubah hitam putihnya berkibar pelan tertiup angin pagi. Wajah tuanya tampak tenang, namun suaranya menggema keras ke seluruh pelataran.
"Untuk enam murid yang tersisa... hari ini Pemimpin Sekte Yunwu, untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun yang lalu, melihat langsung kompetisi murid luar."
Riuh rendah langsung menyebar di antara kerumunan. Banyak murid luar yang menoleh ke arah panggung utama dengan mata berbinar. Bahkan para murid dalam yang biasanya tenang kini menunjukkan ekspresi lebih serius.
Tetua Wushuang melanjutkan. "Alasannya sederhana, sebelumnya tidak ada nama-nama yang menarik perhatiannya. Kini... beliau datang sendiri, karena tertarik dengan seluruh peserta yang tersisa."
Mata Huang tanpa sadar bergerak menatap sosok pria paruh baya berjubah hitam emas yang duduk di kursi utama.
Pemimpin Sekte Yun Guicheng.
Auranya begitu tenang, namun kehadirannya terasa seperti gunung yang berdiri diam di kejauhan. Pria itu tidak tersenyum, tidak juga muram. Hanya ada ketenangan mutlak di matanya.
"Jadi..." Tetua Wushuang menatap keenam murid dengan sorot tajam. "Pertarungan hari ini harus kalian lakukan dengan maksimal. Tunjukkan seluruh kemampuan yang kalian miliki."
Keenam peserta serempak menangkupkan tangan. "Baik, Tetua."
Tetua Wushuang berbalik lalu duduk di samping kanan Pemimpin Sekte. Di samping kiri Pemimpin Sekte, Tetua Mo sudah duduk dengan kendi arak di tangannya.
Diaken segera maju ke tengah arena sambil membuka lembaran di tangannya. Matanya bergerak pelan memastikan tidak ada kesalahan, lalu dia berbicara dengan suara lantang.
"Kompetisi akhir resmi dimulai. Para peserta bersiaplah untuk dipanggil."
Keenam peserta mengangguk.
Suara riuh langsung terdengar dari para murid luar yang antusias. Mereka berteriak meneriakkan nama-nama tertentu, sebagian besar untuk Ning Su dan Qiao Rin. Murid dalam yang menonton terlihat tenang, mengamati calon saingan mereka di masa depan. Sedangkan Dhu Yan, wajahnya tampak tenang hari ini. Lebih percaya diri dari sebelumnya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
Diaken lalu berbicara lagi. "Pertandingan pembuka hari ini dimulai dari... Gu Ren melawan Ning Su."
Mendengar itu, teriakan para murid langsung meledak. Gu Ren, pria bertubuh besar dengan kultivasi Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung, segera melangkah masuk ke arena. Di seberangnya, Ning Su berjalan ringan seperti angin. Rambut hitam panjangnya berkibar lembut, sementara pedang tipisnya sudah berada di tangan.
Keduanya saling menangkupkan tangan.
Gu Ren menyeringai lebar. "Nona Ning, jangan salahkan aku kalau nanti tubuhmu terluka."
Ning Su tidak menjawab. Matanya tetap dingin seperti permukaan danau di musim dingin.
Diaken mengangkat tangannya tinggi. "Mulai!"
Gu Ren langsung melesat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya. Tinju kanannya membesar, diselimuti energi spiritual coklat tanah yang berputar kencang.
"Teknik Tinju Penghancur Gunung!"
BUMM!
Tinjunya menghantam lantai arena tepat di tempat Ning Su berdiri. Batu retak, debu beterbangan. Namun tubuh Ning Su sudah melayang ringan ke samping seperti daun tertiup angin. Pedang tipisnya bergerak tanpa suara.
Sreet!
Satu tebasan horizontal mengarah ke leher Gu Ren. Pria besar itu menunduk dengan sigap, lalu bangkit dan membalas dengan tendangan menyapu ke kaki Ning Su. Namun wanita itu melompat ringan, tubuhnya berputar di udara, lalu menusuk turun dengan sudut yang hampir mustahil dihindari.
Gu Ren menyilangkan kedua lengannya. Energi spiritual coklat membentuk lapisan pelindung tebal di kulitnya.
TRANG!
Pedang Ning Su membentur lapisan itu dan menghasilkan percikan api kecil. Gu Ren tertawa keras. "Teknik Kulit Baja! Pedang tipismu tidak akan mampu menembus pertahananku!"
Ning Su mundur dua langkah. Matanya masih tenang. Kemudian dia mengangkat pedangnya perlahan. Udara di sekitar arena tiba-tiba menjadi lebih berat. Tetua Mo yang sedang minum arak menghentikan gerakannya sesaat. Matanya menyipit kecil.
"Itu... teknik kultivasi elemen angin?"
Ning Su mengayunkan pedangnya ke bawah.
WHUSSH!
Angin kencang berputar di sekitar tubuh Gu Ren. Bukan angin biasa. Angin itu berubah menjadi bilah-bilah kecil yang tak terhitung jumlahnya. Gu Ren membelalakkan matanya. Lapisan pelindung coklat di kulitnya mulai tergores sedikit demi sedikit.
"Apa?!"
Ning Su terus menggerakkan pedangnya. Bilah angin semakin banyak, semakin cepat. Tubuh Gu Ren mulai terdesak. Darah tipis mulai muncul dari luka-luka kecil di lengannya. Dia meraung marah dan mencoba menerjang maju, namun tekanan angin itu menahannya seperti dinding tak terlihat.
Akhirnya Ning Su melesat maju dalam satu tarikan napas. Hingga pedangnya berhenti tepat di depan tenggorokan Gu Ren.
Pria besar itu menelan ludah. "Aku... kalah."
Diaken mengangguk. "Pemenang... Ning Su!"
Sorakan penonton langsung meledak. Banyak murid pria berteriak histeris.
"Ning Su! Ning Su!"
Bahkan Lan Dong tampak tersenyum kecil sambil menatap wanita itu dengan mata berbinar.
Di panggung utama, Tetua Wushuang mengangguk pelan. "Teknik angin yang cukup matang. Bakatnya bagus."
Yun Guicheng hanya diam. Matanya masih tenang seperti sebelumnya. Namun dia tidak mengalihkan pandangan dari arena, sesuatu yang jarang terjadi.
Tetua Mo meneguk araknya lagi. "Lumayan."
Setelah Ning Su kembali ke pinggir arena, Diaken kembali membuka lembarannya.
"Pertandingan kedua... Ji Kuang melawan Qiao Rin."
Riuh rendah kembali terdengar di antara para murid. Ji Kuang, pria kurus dengan tombak hitam panjang, berjalan masuk ke arena dengan langkah tenang.
Di seberangnya, Qiao Rin memutar kedua belati pendeknya dengan gerakan malas. Matanya tajam seperti bilah tersembunyi.
Lan Dong yang berdiri di pinggir arena tersenyum sinis menatap Huang. "Lihat baik-baik. Mungkin ini pertarungan terakhir yang bisa kau nikmati sebelum giliranmu tiba."
Huang menyipitkan matanya. 'Apa ini kebetulan?'
Dia tidak tahu. Yang jelas, siapapun lawannya, dia harus menang. Tidak ada pilihan lain.
Ji Kuang dan Qiao Rin saling menangkupkan tangan. Lalu Diaken mengangkat tangannya.
"Mulai!"
Ji Kuang langsung melesat tanpa suara. Tombak hitamnya menusuk lurus ke dada Qiao Rin dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat oleh murid biasa.
SWISH!
Qiao Rin memiringkan tubuhnya tipis. Belati kirinya menangkis ujung tombak, sementara belati kanannya menusuk balik ke arah perut lawan. Ji Kuang menarik tombaknya mundur, lalu memutarnya membentuk lingkaran lebar. Energi spiritual hitam keluar dari ujung tombak.
"Teknik Tombak Bayangan Ular!"
Tombak itu tiba-tiba berubah menjadi tiga bayangan sekaligus. Semuanya menusuk ke arah berbeda. Dada, leher, dan perut. Qiao Rin menyipitkan matanya. Tubuhnya bergerak cepat seperti kilat. Dia melompat melewati sela-sela bayangan tombak, lalu mendarat tepat di depan Ji Kuang.
SLASH!
Kedua belatinya menebas bersamaan. Ji Kuang buru-buru mengangkat gagang tombaknya untuk menahan.
TRANG!
Percikan api keluar. Namun Qiao Rin belum selesai. Dia menunduk, tubuhnya berputar cepat, lalu belati kirinya menusuk ke paha lawan.
Sreet!
Ji Kuang mengerang kesakitan. Darah segar mengalir dari lukanya. Dia mencoba mundur, namun Qiao Rin terus menekan tanpa ampun. Gerakannya cepat dan kejam. Setiap serangan mengarah ke titik vital.
Akhirnya Ji Kuang mengangkat tangannya.
"Aku menyerah."
Diaken mengangguk. "Pemenang... Qiao Rin!"
Sorakan kembali meledak. Kali ini banyak murid yang bersorak untuk Qiao Rin. Wanita itu tersenyum kecil sambil melangkah turun dari arena. Darah Ji Kuang masih menempel di salah satu belatinya.
Tetua Wushuang mengangguk lagi. "Insting bertarung yang tajam. Cocok untuk teknik pembunuhan."
Yun Guicheng masih diam. Namun sudut bibirnya sedikit bergerak. Mungkin itu tanda ketertarikan.
Tetua Mo hanya terkekeh pelan. "Anak-anak sekarang memang berbeda."
Setelah Qiao Rin kembali ke pinggir arena, Diaken mengangkat tangannya lagi. Suasana langsung menjadi lebih tegang. Semua orang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Pertandingan terakhir babak pertama... Lan Dong melawan... Huang!"
Suara penonton meledak seketika. Sebagian berteriak penuh semangat, ingin melihat batas kemampuan Huang. Sebagian lain berteriak sinis, ingin melihat kekalahan murid baru yang dianggap terlalu cepat naik.
Di tempat duduknya, Dhu Yan tersenyum menyeringai. Matanya dingin penuh kepuasan.
"Kena kau."
Huang melangkah masuk ke arena. Empat gelang besi di tangan dan kakinya masih terpasang. Setiap langkahnya menghasilkan suara berat yang membuat beberapa murid saling pandang heran.
Duk... duk...
Lan Dong sudah berdiri di tengah arena. Pedangnya sudah terhunus. Senyum tipis di wajahnya tampak penuh keyakinan. "Aku sudah menunggu ini sejak lama, Huang."
Huang menangkupkan kedua tangannya dengan sopan. "Salam, Kakak Senior Lan."
Lan Dong tertawa kecil.
"Sopan sekali. Sayangnya kesopanan tidak akan menyelamatkanmu hari ini."
Keduanya berdiri saling berhadapan. Tekanan di udara perlahan meningkat. Semua mata tertuju pada mereka. Bahkan Yun Guicheng sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.