Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kanisha tidak menjawab. Ia tidak menangis, marah, ataupun juga tidak terlihat puas. Wajahnya justru tampak datar, tenang, dan sudah terlalu lelah untuk bereaksi. Ia melangkah pelan mendekati ayahnya. Sepatu haknya menyentuh lantai marmer lobby dengan suara yang terdengar jelas di tengah keheningan itu.
Tap.
Tap.
Tap.
Setiap langkah seperti menandai akhir dari satu bab hidupnya. Rendra langsung berjalan lebih dulu, membuka jalan. Dan tanpa menoleh lagi ke belakang, ia membawa putrinya meninggalkan lobby utama Winata Group. Pintu kaca otomatis terbuka dan membuat angin luar masuk sesaat, membawa udara sore yang sedikit hangat, tapi tidak cukup untuk mencairkan apa yang baru saja terjadi di dalam sana. Dan begitu pintu itu tertutup di belakang mereka, dunia di dalam lobby pecah pelan-pelan.
Beberapa detik setelah kepergian mereka, tidak ada yang langsung berbicara sampai akhirnya satu suara kecil muncul dari sudut ruangan.
“Gila…”
Lalu disusul suara lain.
“Jadi itu Arven Mahendra?”
“Yang nikah sama Wakil Direktur Winata itu?”
Bisik-bisik mulai menyebar seperti api kecil yang menyentuh kertas kering. Satu demi satu karyawan yang tadi hanya bisa diam sekarang mulai saling melirik. Ada yang masih syok, ada yang terlihat tidak percaya, tapi sebagian besar terlihat seperti sudah menyimpulkan semuanya sendiri.
“Pantesan Winata langsung putus kerja sama. Katanya dia selingkuh ya?”
“Bukan selingkuh doang, dia juga pakai kartu istrinya buat orang lain.”
“Ya ampun… itu beneran?”
Suara-suara itu tidak keras, tapi cukup untuk memenuhi ruangan yang tadi hening. Arven berdiri di tengah semuanya. Wajahnya masih merah di satu sisi akibat pukulan Rendra. Napasnya belum stabil. Tangannya masih mengepal, tapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Bukan karena tidak mau tapi karena tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk pembelaan. Pak Damar berdiri beberapa langkah di depannya. Wajahnya kaku dan malu. Malu yang terlalu besar sampai tidak bisa diucapkan. Ia menatap sekeliling lobby yang sekarang sudah penuh tatapan diam-diam dari para karyawan Winata Group. Tatapan itu bukan tatapan hormat tapi penilaian dan itu lebih buruk dari semuanya.
Pak Damar mengepalkan tangannya sebentar.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbalik.
Langkahnya cepat, tegas, tidak menunggu siapa pun ataupun menoleh. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang kabur dari sesuatu yang tidak bisa lagi ia perbaiki. Arven langsung tersadar.
“Pa—” Ia mengejar beberapa langkah. “Papa tunggu!” Tapi Pak Damar sudah masuk ke arah pintu keluar dan membuat Arven terus menyusul, langkahnya lebih cepat sementara napasnya mulai tidak stabil. “Pa, tunggu dulu!”
Pak Damar berhenti di depan pintu kaca tapi tidak menoleh, Itu saja sudah cukup membuat Arven sedikit melambat. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak ingin ia lihat, namun sebelum Arven sempat berkata lagi—
“Masuk mobil.” Suara Pak Damar terdengar rendah, dingin dan tidak seperti biasanya.
Arven sempat ragu satu selama beberapa saat, tapi tetap mengikuti. Mereka masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan gedung. Pintu tertutup dan begitu mobil mulai bergerak, keheningan di dalamnya terasa jauh lebih berat daripada di dalam lobby tadi. Beberapa menit berlalu tanpa satu pun suara.
Arven duduk di kursi samping kemudi, menatap ke luar jendela. Tangannya masih mengepal, tapi sekarang bukan karena marah.
Lebih karena cemas karena pikirannya tidak berhenti. Semua kejadian tadi berputar di kepalanya tanpa henti.
Pukulan Rendra, tatapan dingin Kanisha, kata-kata perceraian itu dan yang paling parah reaksi ayahnya. Arven menelan ludah.
“Pa…” Suaranya pelan. “Arven masih bisa cari cara lain. Kita bisa cari investor lain, kita bisa negosiasi ulang, atau—”
“Cukup.” potong pak Damar dengan tajam yang membuat Arven langsung terdiam. Pak Damar masih menatap jalan di depan, tapi rahangnya mengeras. “Jangan bicara lagi.”
Arven menegang.
“Pa, tapi kita masih bisa—”
“Arven.” Kali ini suara pak Damar terdengar lebih tinggi, keras dan dingin.
Arven langsung terdiam. Pak Damar akhirnya menoleh sedikit ke arahnya. Tatapannya terlihat marah dan hancur.
“Perusahaan kita sudah tidak akan sama lagi.”
Arven membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Pak Damar menghela napas panjang, seperti menahan sesuatu yang terlalu berat di dadanya. “Kamu pikir ini cuma soal uang?” Arven terdiam sementara Pak Damar tertawa kecil, tapi kosong. “Di kota ini, tidak ada yang berani main-main dengan nama Winata.” Kalimat itu keluar dengan pelan, tapi menghantam keras. “Kamu baru saja membuat kita jadi musuh mereka, Arven.”
Arven menegang.
“Pa—”
“Diam.”
Pak Damar langsung memotong lagi sementara mobil yang mereka tumpangi melaju semakin cepat. Lampu jalan mulai terlihat lewat kaca dan suara Pak Damar mulai terdengar lebih dalam dan lebih berat.
“Semua klien kita akan tahu.”
Arven menatapnya.
“Pa…”
“Begitu berita perceraian kamu dan Kanisha menyebar,” lanjut Pak Damar tanpa peduli, “tidak akan ada yang mau kerja sama dengan kita lagi.”
Arven menggeleng pelan.
“Enggak mungkin…”
“Ini bukan soal mungkin atau tidak.” Pak Damar menatap lurus ke depan lagi. “Ini soal realita.” Suasana di dalam mobil kembali sunyi, sunyi yang terasa seperti sesuatu sedang runtuh pelan-pelan di bawah kaki mereka. Pak Damar menghela napas panjang.
“Tanpa Winata Group, kita bukan apa-apa.”
Arven masih duduk di dalam mobil tanpa benar-benar mendengar sisa kalimat terakhir ayahnya. Kalimat yang barusan dikatakan oleh ayahnya itu terus terulang di kepalanya seperti gema yang tidak mau berhenti. Tangannya yang tadi mengepal perlahan mengendur, lalu kembali mengeras lagi. Napasnya naik turun tidak teratur. Matanya menatap jalan di luar jendela, tapi pikirannya tidak berada disana.
“Enggak…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. “Enggak mungkin situasi kita sampai segitunya.”
Pak Damar melirik sekilas.
“Kamu masih belum sadar?” suaranya dingin, tanpa emosi. “Kita baru saja diputus dari sumber kekuatan utama kita.”
Arven langsung menoleh.
“Pa, itu berlebihan.”
Pak Damar tertawa lelah.
“Berlebihan?” Ia menggeleng pelan. “Arven, kamu pikir semua klien itu datang karena kamu hebat?”
Arven menegang.
“Aku punya nama. Mahendra Corporation punya reputasi.”
“Reputasi?” potong Pak Damar cepat. “Reputasi kita itu berdiri di atas siapa, Arven?”
Pertanyaan itu membuat Arven diam. Pak Damar melanjutkan, suaranya semakin dalam.
“Winata Group. Semua proyek besar kita, semua koneksi, semua akses, itu karena Winata ada di belakang kita.”
Arven menggeleng pelan, tidak mau menerima itu.
“Enggak. Perusahaan kita tetap bisa berjalan sendiri. Kita bisa cari investor lain. Banyak perusahaan yang—”
“Kamu masih belum mengerti.” Pak Damar menatap lurus ke depan. “Di dunia bisnis ini, ada nama yang kalau jatuh, semuanya ikut jatuh.”
Arven mengepalkan tangannya lagi.
“Jadi menurut papa, kita ini cuma numpang?”
“Ya.” jawabnya singkat.
Satu kata dan itu lebih menghantam daripada teriakan. Arven langsung tertawa kecil, tapi kosong.
“Enggak. Enggak mungkin seburuk itu.”
Ia menggeleng cepat. “Orang-orang masih akan kerja sama sama kita. Kita masih punya proyek berjalan. Kita masih punya—”
“Kamu akan lihat sendiri.” potong Pak Damar lagi, kali ini lebih pelan. “Begitu kabar ini menyebar.”
Arven membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Mobil terus melaju. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Arven tidak lagi terdengar yakin dengan dirinya sendiri.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️