Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Di Bawah Kendalinya
Hujan di luar turun semakin deras, memukul kaca jendela mobil mewah berwarna hitam itu dengan irama yang kacau, seolah menggambarkan isi hati Grey Cha Lavian saat ini. Dia duduk di sisi penumpang, tubuhnya sedikit menjauh ke pinggir, namun jarak di antara mereka terasa sangat sempit dan menyesakkan. Di sebelahnya, Davian Argantha duduk tenang, satu tangannya santai bertumpu di pinggir jendela, sementara tangan lainnya menggenggam kemudi dengan pegangan yang kokoh dan terkontrol. Tidak ada percakapan yang terucap sejak mereka masuk ke dalam mobil, namun keheningan di dalam kabin itu terasa begitu berat dan penuh tekanan, seolah udara di sana sudah dipenuhi oleh aura dominan milik pria itu.
Grey melirik sekilas ke arah Davian. Di bawah cahaya lampu jalan yang sesekali menerobos masuk, wajah pria itu tampak dingin dan tak terbaca. Tidak ada ekspresi lembut, tidak ada penyesalan, seolah apa yang dia lakukan—mengambil paksa seorang wanita dari klub malam dan membawanya pergi—adalah hal yang paling wajar dan berhak dia lakukan di dunia ini. Rasa marah mulai kembali menguasai diri Grey, menutupi rasa penasaran dan getaran aneh yang dia rasakan sebelumnya. Selama ini, dialah yang selalu memegang kendali. Dialah yang memutuskan kapan mendekat dan kapan pergi. Tidak ada satu pun pria yang berani mengatur atau memaksanya melakukan sesuatu. Namun malam ini, dalam hitungan menit saja, seluruh aturan mainnya seolah dihapus begitu saja oleh pria berwajah keras di sampingnya ini.
“Ke mana kau membawaku?” tanya Grey akhirnya, memecah keheningan dengan nada suara yang berusaha dia buat setenang mungkin, meski sedikit ada getaran amarah di sana. Dia menegakkan punggungnya, menatap tajam ke arah profil samping Davian. “Kau pikir kau siapa? Mengambilku begitu saja tanpa bertanya, seolah aku ini barang milikmu.”
Davian tidak langsung menjawab. Dia tetap memandang lurus ke jalan raya yang basah dan sepi, namun sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan atau mungkin justru senyum yang merasa puas. Baru beberapa detik kemudian, dia memutar kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah mata abu-abu Grey yang sedang memancarkan api kemarahan. Tatapan pria itu begitu dalam dan tajam, seolah mampu menembus masuk ke dalam setiap sudut pikiran dan perasaan gadis itu.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?” suaranya terdengar rendah, berat, dan tenang, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti keputusan mutlak yang tak bisa dibantah. “Kamu adalah milikku, Grey. Dan apa yang menjadi milikku, tidak boleh ada di tempat kotor seperti klub itu, dikelilingi oleh mata-mata laki-laki sampah yang berani menatapmu dengan pandangan tidak pantas.”
Grey tertegun sejenak, lalu tertawa sinis. Dia memutar bola matanya, merasa tidak percaya dengan ucapan pria di hadapannya itu. “Dasar tidak tahu malu! Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi milikmu. Aku Grey Cha Lavian, aku hidup bebas, aku pergi ke mana saja aku mau, dan aku bergaul dengan siapa saja yang aku suka. Kau tidak punya hak sedikit pun untuk melarang atau mengaturku. Kau pikir dengan kekayaan dan ototmu itu, kau bisa mengubah segalanya sesuka hatimu?”
Grey berbicara dengan cepat dan tajam, meluapkan segala rasa kesal yang menumpuk di dadanya. Dia berharap kata-katanya bisa membuat pria itu sadar diri atau setidaknya sedikit terpengaruh. Namun, reaksi Davian justru jauh dari yang dia duga. Pria itu tidak terlihat marah, tidak juga merasa tersinggung. Justru, kilatan di matanya semakin terang, ada sesuatu yang tampak semakin terhibur dan semakin tertantang.
Davian menggeser tubuhnya sedikit ke samping, mendekat ke arah Grey hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Bau wangi tubuhnya yang khas—campuran antara aroma tembakau mahal dan wangi kayu yang maskulin—langsung memenuhi rongga hidung Grey, membuat napasnya seolah tertahan sejenak. Jantungnya kembali berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena kedekatan yang begitu intim dan mendadak ini.
“Kau sangat cantik saat sedang marah, kau tahu itu?” bisik Davian pelan, ujung jarinya terangkat perlahan menyentuh dagu Grey, mengangkatnya sedikit agar gadis itu terpaksa menatap lurus ke arahnya. Tekanan sentuhannya lembut, namun tegas dan tak terelakkan. “Kau berbicara soal kebebasan? Sayang, mulai detik ini, kebebasan itulah yang akan menjadi hal termahal dan tersulit untuk kau dapatkan kembali. Aku tidak main-main, Grey. Saat aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya. Dan saat aku mengklaim seseorang sebagai milikku, maka seluruh hidupnya, waktunya, perhatiannya, bahkan napasnya sekalipun, semuanya harus tertuju padaku.”
Suasana di dalam mobil itu mendadak menjadi sangat panas dan tegang. Grey ingin menepis tangan itu, ingin berteriak, ingin melepaskan diri, tapi entah kenapa tubuhnya seolah membeku. Ada kekuatan magnet yang kuat dari diri pria ini yang membuatnya sulit untuk berpaling. Di mata hitam Davian, dia bisa melihat ketegasan yang tak tergoyahkan, tapi juga ada kepemilikan yang begitu dalam, seolah pria itu sudah mencintainya atau menginginkannya sejak lama, padahal mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu.
“Kau gila…” gumam Grey pelan, suaranya hampir hilang di tengah suara hujan yang semakin deras. “Kau tidak bisa mengurungku selamanya. Aku akan lari saat kau lengah. Aku akan melakukan apa saja yang aku mau, dan kau tidak akan pernah bisa menghentikanku.”
Davian tertawa rendah, suara beratnya bergema di dada Grey. Dia mengusap lembut kulit halus di dagu gadis itu dengan ibu jarinya, menatap bibir merah muda yang terkatup rapat karena kekesalan itu dengan pandangan yang semakin gelap dan berbahaya.
“Silakan saja coba, Sayang,” jawab Davian dengan nada yang penuh percaya diri dan ancaman halus. “Cobalah untuk lari, cobalah untuk mendekati laki-laki lain, atau cobalah untuk menentang perkataanku sedikit saja… dan kau akan melihat betapa buruknya akibatnya. Aku bukan laki-laki biasa yang bisa kau tinggalkan begitu saja setelah kau bosan. Aku Davian Argantha, dan namaku sendiri sudah cukup untuk membuat semua orang gemetar ketakutan. Termasuk kau, pada akhirnya nanti.”
Dia menarik kembali tangannya perlahan, lalu kembali duduk tegap dan kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya, seolah percakapan sengit tadi hanyalah hal sepele baginya. Namun, aura mengancam yang mengelilinginya tidak pernah hilang sedikit pun.
Grey bersandar kembali ke sandaran kursi, memeluk lengannya sendiri di dada. Dia merasa bingung, marah, tapi juga ada rasa penasaran yang terus menggerogoti hatinya. Dia tahu siapa Davian Argantha itu. Nama itu sering dia dengar dibisikkan orang-orang, sebagai sosok pemimpin organisasi raksasa yang menguasai banyak wilayah, seorang mafia kejam yang tidak pernah ragu menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Banyak orang takut padanya, banyak yang memujanya, tapi tidak ada yang berani menentangnya. Dan sekarang, Grey—gadis yang selalu hidup bebas dan bermain dengan siapa saja—ternyata menjadi sasaran utama dari obsesi berbahaya pria itu.
“Di mana kau membawaku?” ulang Grey sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah dan hati-hati. Dia sadar dia harus tahu di mana dia berada dan ke mana tujuannya, jika nanti dia berencana mencari jalan keluar.
“Ke tempat di mana kau akan tinggal mulai sekarang,” jawab Davian singkat, matanya menatap lurus ke depan. “Rumahku. Istana pribadiku. Di sana kau akan aman dari orang-orang jahat di luar sana, dan lebih penting lagi… di sana aku bisa memastikan kau tidak pergi ke mana-mana dan tidak berbuat hal bodoh.”
“Rumahmu? Kau serius? Kau mau mengurungku di sana seperti burung dalam sangkar?” seru Grey tidak percaya. “Aku punya rumah sendiri, aku punya hidupku sendiri! Kau tidak bisa memaksaku tinggal bersamamu.”
Davian menghela napas panjang, lalu melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya dengan tatapan yang seolah sedang menatap anak kecil yang sedang merajuk.
“Dengar, Grey. Kau bisa berteriak, kau bisa marah, kau bisa menolak… tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Keputusanku sudah bulat. Mulai malam ini, kau tinggal bersamaku. Kau akan hidup di bawah aturanku, di bawah perlindunganku, dan di bawah pengawasanku. Kau mungkin terbiasa menjadi gadis bebas yang bisa bermain dengan hati siapa saja, tapi bersiaplah… mulai sekarang, tidak ada lagi permainan. Kau hanya punya aku, dan aku hanya akan membiarkanmu melihatku, mendengarku, dan memikirkan aku saja.”
Mobil mewah itu akhirnya melaju masuk ke sebuah gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, menembus ke dalam kawasan perumahan elit yang sangat tertutup dan dijaga ketat. Di ujung jalan masuk yang panjang itu, berdiri sebuah bangunan besar bergaya klasik modern yang tampak megah, kokoh, dan mewah, diterangi oleh lampu-lampu taman yang indah namun terasa dingin dan angker. Itulah kediaman pribadi Davian Argantha, tempat di mana tidak sembarang orang boleh melangkah masuk.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama yang besar dan berornamen indah. Davian mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Grey lagi. Kali ini, sorot matanya sedikit berubah, ada ketegasan namun juga ada sesuatu yang dalam dan penuh hasrat yang tersembunyi di baliknya. Dia menjulurkan tangannya, membuka sabuk pengaman Grey perlahan dengan tangannya sendiri, gerakannya pelan namun penuh kepemilikan.
“Kita sudah sampai,” ucapnya pelan, suaranya bergetar rendah di udara yang sempit itu. Dia mendekatkan wajahnya lagi, hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Grey. “Selamat datang di duniamu yang baru, Grey Cha Lavian. Di sini, aku adalah hukum, aku adalah aturan, dan aku adalah segalanya bagimu. Kau mungkin benci aku sekarang, kau mungkin ingin membunuhku… tapi percayalah, lama-kelamaan, kau akan menyadari bahwa tidak ada tempat lain yang lebih aman, dan tidak ada laki-laki lain yang akan mencintaimu dan memilikimu sekuat aku.”
Davian menarik diri sebentar, lalu membuka pintu mobil dan turun. Sesaat kemudian, pintu sisi Grey terbuka dari luar. Davian berdiri tegap di sana, di bawah atap pelindung dari hujan, mengulurkan tangannya ke arah gadis itu dengan tatapan menunggu yang tak membiarkan penolakan.
Grey menatap tangan besar dan kokoh itu, lalu menatap wajah pria yang menjadi sumber seluruh kekacauan hidupnya malam ini. Dia tahu, saat dia meletakkan tangannya ke atas telapak tangan itu, dia secara tidak langsung menyetujai untuk masuk lebih dalam ke dalam jaring-jaring kehidupan berbahaya milik Davian. Dia tahu, kebebasan yang selama ini dia banggakan perlahan mulai lepas dari genggamannya.
Namun, di balik rasa takut dan marah itu, ada rasa penasaran yang menggebu-gebu. Ada rasa ingin tahu, bagaimana rasanya dicintai dan dimiliki dengan begitu hebat dan posesif oleh seorang pria sekuat dan seberbahaya Davian Argantha.
Dengan napas panjang dan berat, akhirnya Grey mengangkat tangannya, meletakkannya ke atas telapak tangan Davian yang hangat dan kasar. Seketika itu juga, jari-jari besar itu menutup erat, menggenggam tangannya dengan kuat, seolah takut gadis itu akan hilang jika dia sedikit saja melonggarkan pegangannya.
Davian tersenyum puas, menarik tangan itu hingga Grey keluar dari mobil dan berdiri tepat di hadapannya. Tanpa kata-kata, dia langsung menarik tubuh gadis itu mendekat ke dadanya, melingkarkan satu lengannya erat di pinggang ramping Grey, memastikan tidak ada jarak sedikit pun di antara mereka.
“Bagus,” bisik Davian di depan wajah Grey, matanya berkilat penuh kemenangan dan kepemilikan mutlak. “Sekarang, mari kita masuk, Sayang. Malam ini baru saja dimulai, dan masih banyak hal yang harus kau pelajari tentangku… dan tentang betapa dalamnya ikatan yang baru saja kita mulai ini.”
Davian membalikkan badan, membawa Grey masuk melewati pintu besar itu, menelusuri lorong-lorong mewah yang dingin dan sunyi, menuju ruangan yang akan menjadi kamar tidur mereka. Grey berjalan di sampingnya, genggaman tangan mereka saling terkunci erat, menyadari sepenuhnya bahwa dia sudah benar-benar terperangkap. Terperangkap dalam kemewahan, terperangkap dalam kekuasaan, dan terperangkap dalam cinta seorang mafia yang posesif dan tak tergoyahkan.
Dan entah mengapa, di tengah semua kekacauan itu, Grey mulai menyadari satu hal yang mengerikan namun juga menakjubkan: dia mulai tidak lagi ingin melepaskan genggaman tangan itu.
(Lanjut ke Bab 3)