NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Aku Akan Menikahimu

"Nin, kita jadi pulang bareng kan?"

Saat berkemas setelah selesai jam pelajaran Sania mengingatkan kembali pada temannya. Dia senang, setelah beberapa hari tidak bertemu dengan sahabatnya itu bisa diajaknya pulang bareng, sebelumnya dia berencana ingin mengajaknya ke cafe untuk melepas kelelahan.

"Sorry Sania, kayaknya aku nggak bisa," jawab Nina dengan perasaan tak nyaman.

Seketika wajah Sania berubah begitu kecewa. "Loh, kenapa? Kita kan udah lama nggak jalan bareng Nin, nggak adakah waktu sebentar buat main?"

Nina menepuk pundaknya dengan raut wajah sedih. Ia merasa bersalah karena sudah terlanjur berjanji akan pulang bersama. "Maaf banget ya Sania, aku nggak bisa pulang bareng sama kamu. Kakakku barusan bilang mau jemput aku. Gimana dong?"

"Kenapa nggak ditolak? Kan kamu bisa bilang pulang sama aku," bantah Sania.

"Udah Sania, tapi dia nggak mau dengerin. Kamu belum tahu seperti apa sifatnya. Aku nggak sebebas dulu sebelum dia datang."

Entah sampai kapan ia akan memberi penjelasan pada sahabatnya mengenai hubungannya dengan Rendra. Sebenarnya ia sudah berusaha untuk menjauh, tapi pria itu selalu mengancam hingga membuatnya terpaksa harus mengalah.

"Tapi beruntung  juga kamu diperhatikan oleh kakakmu. Tidak semua saudara bisa klop apalagi saudara tiri. Atau jangan-jangan ~~"

Nina membelalak. "Jangan-jangan apa San?"

"Jangan-jangan kakakmu memiliki perasaan lebih padamu, maksudnya lebih dari sekedar saudara."

Sania menaik turunkan alisnya menggoda Nina sehingga membuat wajahnya berubah memerah bak kepiting rebus. Nina dibuat gelagapan sendiri hanya dengan pertanyaan konyol itu.

"M—mana mungkin? Jangan ngaco kamu!"

Sania terkekeh. "Ngapain ditanggapi dengan serius? Aku kan cuma bercanda. Lagipula kan kakakmu alergi terhadap wanita, jadi mana mungkin dia naksir sama kamu. Untung saja pas deket kamu alerginya nggak kumat. Atau jangan-jangan dia mengkonsumsi banyak obat untuk mencegah alerginya kumat?"

Nina meremas ujung kemeja yang dikenakannya. Sania benar-benar percaya akan ucapannya mengenai alergi yang dialami oleh kakak tirinya, padahal ini hanya akal-akalannya saja agar Sania tidak bermain perasaan terhadap Rendra.

"Sudahlah San, ngapain pakai bahas dia, nggak penting juga," bantahnya mengalihkan obrolan. "Sayang sekali, seharusnya aku bisa pulang bareng sama kamu. Tapi lain kali aku janji akan meluangkan waktu buat kita jalan jalan bersama. Nanti aku akan bilang sama mama, semoga diizinkan."

Sania memutar bola matanya. " Nggak perlu banyak janji deh Nin, takutnya nggak bisa ditepati," cicitnya. "Tadinya aku berencana ingin mengajakmu ke cafe, minum-minum dulu sebelum memutuskan pulang, tapi kamunya dijemput oleh kakak tersayangmu, yaudah..., enggak apa-apa, kalau gitu aku juga langsung pulang."

Setibanya di halaman kampus obrolan mereka terhenti kala sebuah mobil Lamborghini berhenti. Sania yang cukup penasaran dengan tampang pemilik mobil itu diputuskan mengulur waktunya yang hendak mengambil mobilnya di parkiran.

"Itu mobil kakakmu kan," celetuknya berbisik.

Nina mengangguk. "Iya, itu mobil kakakku. Kalau gitu aku duluan ya? Sampai jumpa besok." Gadis nitu melambaikan tangannya melangkah meninggalkannya.

'jadi penasaran aku, kakaknya Nina itu seperti apa. Kemarin kan waktu ketemu nggak begitu jelas wajahnya. Coba aja dia keluar sebentar.'

Pintu mobil terbukanya ke atas, kacanya terbuka dan terpampanglah jelas wajah pemilik mobil tersebut. Seketika mahasiswi seantero dibuat gaduh oleh ketampanannya. Nina bahkan dibuat risih oleh cuitan pada mahasiswi yang mengagumi kakaknya.

"Ya ampun..., jodoh ane datang!"

"Rahimku langsung anget."

"Abang sayang!"

Jeritan para mahasiswi itu membuat risih di telinga. Nina dengan cepat menemui Rendra untuk dimintanya kembali masuk ke dalam mobil.

"Kak, masuklah!"

Satu alis Rendra terangkat. "Kenapa?"

"Kamu nggak risih denger jeritan cewek-cewek yang ada di sini? Mereka haus dengan saluran laki-laki! Ayo cepat masuk atau Aku nggak akan pulang sama kamu!"

Pria itu memutar bola matanya. "Oke baiklah baiklah, aku akan masuk! Kamu juga masuk!"

Sania yang masih membeku di tempatnya mengulas senyuman tipis, mengagumi ketampanan pria itu. 'beruntung sekali Nina diperlakukan sangat baik oleh keluarganya. Padahal pria itu kan cuman kakak tirinya. Bahkan kakak kandung saja jarang sekali ada kepedulian terhadap adiknya, jadi iri aku,' gumamnya pelan. 'kupikir cowok itu sudah tua, ternyata masih sangat muda, tampan lagi. Tapi sayang..., dia alergi terhadap perempuan.'

***

Di perjalanan mereka sama-sama diam. Rendra menyalakan musik untuk mengurangi kejenuhan, sudah terbiasa, saat keluar dengan Nina yang ada sama-sama diam, bisa dikatakan gadis itu terlalu cuek.

"Aku sudah belikan, itu ada di kresek."

Rendra mengingatkannya kembali pada barang yang memang dibutuhkan oleh Nina.

Nina menoleh ke arah kresek kecil bertuliskan apotik. Buru-buru dia mengambilnya. Dibukanya isi kresek itu dan didapati satu pak alat tes kehamilan.

"Ini kok banyak banget? Buat apaan?"

Rendra meliriknya sekilas karena dia sedang fokus ke jalanan yang begitu ramai.

"Ya nggak dipakai semua yang! Kamu bisa coba lebih dari satu, nanti bakalan ketahuan bagaimana hasilnya."

Dengan wajah gelisahnya Nina menatap Rendra tanpa berkedip. Dia terlihat begitu takut karena siklus haidnya mulai tak normal, bahkan sudah lebih dari tanggal biasanya.

"Kak..,"

Rendra menoleh sekilas. "Hm..., ada apa?"

"Kakak yakin kalau aku tengah ~~

"Hamil maksudnya?" Rendra menebak.

Nina mengangguk pelan. "Iya."

"Kalau dibilang yakin juga nggak yakin, tapi apa salahnya kalau kita deteksi sejak dini, takutnya kan nggak ketahuan tiba-tiba membesar."

"Terus kalau bener gimana? Aku takut kak. Aku belum siap. Aku mas ingin lanjut kuliah."

Rendra kembali menoleh dengan satu alisnya terangkat. "Takut gimana?"

"Ya takut aja! Aku masih sangat muda, teman-temanku aja masih sibuk kuliah, masa aku sudah mau punya anak aja! Aku belum siap buat rawat anak. Memangnya kamu seneng kalau aku kena baby blues setelah melahirkan?"

Rendra tertawa kecil menanggapinya. Ia masih memaklumi kondisi Nina saat ini, masih belum bisa berpikir lebih dewasa, tapi ia yakin seiring berjalannya waktu dia bakalan mengerti.

"Baby blues gimana? Kamu terlalu kejauhan mikirnya." Meskipun ia sendiri belum memiliki pengalaman, tapi ia cukup tahu bagaimana cara mengatasi ketakutan yang dialami oleh Nina. Ia sudah terlanjur cinta mati karenanya, maka ia akan buat wanita itu percaya bahwa dirinya mampu memberinya rasa nyaman.

"Kamu nggak perlu takut soal itu. Ada aku yang akan selalu ada buat menemanimu."

Rendra menggenggam tangannya cukup erat berusaha untuk meyakinkan keraguannya.

"Tapi kak?" Bola mata Nina berkaca-kaca dengan tatapan sedih.

"Papa sama Mama juga tidak akan membiarkanmu hidup menderita sendirian. Meskipun jalan kita salah tapi aku yakin mereka nggak bakalan benci sama kita."

"Kenapa kakak begitu yakin kalau mereka nggak bakalan benci sama kita. Terang-terangan kita sudah melakukan kesalahan yang membuatnya kecewa, di sini kakak begitu yakin mereka nggak bakalan marah. Itu mustahil."

Nina yakin, dengan sikap ayahnya yang tegas, pasti dia bakalan diusir. Apalagi dia melakukan hal bejat itu dengan saudaranya sendiri, orang tua  mana yang nggak malu setelah tercoreng nama baiknya.

"Udah, nggak usah dipikirin. Kalaupun mereka membenci kita aku juga tidak peduli. Mau dapat izin ataupun tidak aku akan tetap menikahimu."

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!