Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai menyusun rencana
Hari sudah berganti, saat ini kembali akan bersiap untuk pergi ke gunung Bromo karena memang giliran Zidan. Dari awal keberangkatan memang tidak banyak membawa pakaian, karena hanya akan sebentar saja mereka tahun tinggal di Bali.
Zidan sudah sangat antusias untuk pergi ke gunung, sedang kan Naila terlihat sangat enggan untuk pergi ke gunung, karena memang dirinya sangat tidak menyukai yang namanya hidup di tempat terbuka.
"Tapi kan kita tidak tidur langsung dengan atap langit terbuka, kita tahun daur menggunakan tenda. " ucap Zidan.
"Ya tapi tetap saja masih terlihat suasana malam nya, kalau siang mungkin tidak terasa kalau malam. hiiiiiiii, takut ada banyak hantu. "
"Dasar penakut. "
"Neneeek, ila di sebut penakut sana Idan, ila kan cuma takut hantu kalau kitab tidur malam hari di dalam tenda. "
"Idan, jangan takutin adik kamu. "
Tuan Aditama yang melihat ke absurd an cucu laki laki nya haya tertawa kecil saja, oh Tuhan begini rasanya punya cucu, begitu nikmat. Andai saja Leon menikah dengan Rania, aku akan pensiun dan hanya akan mengurus cucuku saja. " ucap nya dalam hati.
"Kakek kenapa, kok menangis. " Naila mengusap air mata di pipi kakeknya.
"Ga apa apa sayang, kakek cuma bahagia, coba saja mamah kamu mau menikah dengan papah kamu. Rasanya hidup kakek akan bertambah bahagia. " jawab Kakeknya.
"Nanti deh, ila bilang sama mamah biar cari papah, terus nikah sama mamah. biar kakek jadi bahagia. " ujar Naila.
"Memang nya Naila mau ketemu papah terus hidup sama papah? " tanya kakeknya.
"Ila kan suka kangen sama papah, ila ga tahu papah ila ada di mana, kakek kan papah nya ila, boleh ga ika ketemu papah. Tapi..... "
"Tapi apa sayang? " tuan Aditama penasaran.
"Mamah jangan sampai tahu kalau ila udah ketemu papah. Boleh ya kek boleh ya? "
Naila memasang puppies eye, membuat tuan Aditama menjadi tidak tega, namun dirinya sudah berjanji Rania kalau tidak akan mempertemukan anak anaknya dengan papah nya.
"Kakek kenapa diam? "
"Ga apa apa sayang, nanti kakek pikirkan lagi ya? "
"Iya tapi jangan lama lama mikir nya, nanti ila keburu besar, nanti ila bisa cari sendiri. "
"Iya sayang. "
"Kamu juga bisa ketemu sekarang sama papah kamu, jika kamu ingin sayang. Hanya saja kakek sudah janji sama mamah kamu untuk tidak mempertemukan kamu dengan papah kamu. " Bathin tuan Aditama.
"Pah ayo katanya mau berangkat sekarang, nanti keburu siang helicopter juga sudah siap." nyonya Erlina memanggil suaminya yang sedang bicara dengan Naila.
"Iya mah, ayo sayang kakek gendong biat ga cape kakinya. " tuan Aditama menawarkan Naila untuk di gendong.
"Ga usah kakek nanti ila jadi kolokan. Nanti jadi kebiasaan."
"Biarin ila di gendong kakek, Idan iri tuh mau di gendong juga. " Naila mengeluarkan lidahnya mengejek Zidan.
Dengan sedikit drama Zidan dan Naila membuat kakek dan neneknya tertawa karena pertengkaran mereka yang lucu, Zidan yang selalu ingin sempurna mirip sekali dengan Leon sedangkan Naila lebih ke Rania, santai tapi juga tegas.
"Sudah sudah, kapan kita akan berangkat nya kalau kalian ribut terus, mau pergi atau tidak?"
"Pergi ding nek, masa ila main ke pantai, Idan ga ke gunung. Biar adil. "
Mereka akhirnya berangkat dari hotel, naik ke rooftop, sudah ada helikopter yang siap membawa mereka semua ke gunung Bromo melaksanakan janjinya pada Zidan yang terus saja menagih janji.
Sampai di Bromo, mereka beristirahat di villa yang sudah di sewa oleh tuan Aditama sehari sebelum mereka berangkat. Sebuah villa mewah yang nyaman agar ila yang selalu saja ribut tidak ingin tidur memakai tenda di alam terbuka.
"Asyik, ila ga harus ikut Idan tidur di tenda. '
" Enakan tidur di tenda udaranya lebih segar. "
"Nggak, udaranya dingin banget. enekan di villa, bisa tidur di kasur empuk. " Zidan dan Naila selalu saja ribut masalah tenda.
"Idan sekarang istirahat dulu ya, nanti sore kita ke lereng gunung membuat tenda pakai api unggun. Kita berdua saja kalau nenek sama ila tidak ingin ikut dengan kita. "
"ok kakek, Idan ke kamar dulu yah, biar bisa tidur nanti bangunkan Idan. "
Naila yang memang tidak ingin ikut ke gunung tampak merasa senang, karena jika nanti malam mereka berangkat, neneknya sudah tidur. Papahnya akan menjemput Naila.
'Nek, ila juga mau tidur ya, cape. "
"Iya sayang. " jawab neneknya.
Tidak terasa waktu sudah sore, Zidan sudah bangun dari tadi karena ingin segera berangkat ke lereng gunung, tuan Aditama juga sudah siap untuk berangkat, keduanya sudah memakai pakaian yang berlapis agar nyaman dan aman dari dingin dan juga hujan.
Semuanya sudah siap, tuan Aditama sudah menyewa beberapa Porter untuk membawa barang barang yang akan di bawa ke gunung.
Sementara Naila saat ini masih ada kamarnya, Naila memang meminta neneknya untuk tidur terpisah alasannya karena sudah merasa besar.
Walau sebenarnya Naila ingin bertemu papah nya, sehingga jika nanti malam papah nya datang, neneknya tidak akan tahu kalau Naila pergi bersama papah nya.
"Nai, bangun sayang, sudah sore. Kamu ga mau makan? " neneknya masuk ke dalam kamar.
"Iya nek, bentar lagi ya. ila mau mandi dulu. "
"Kamu bisa sendiri sayang? "
"Bisa nek. " jawab Naila.
"Iya sayang, nanti nenek tunggu di ruang makan. "
Naila mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Walaupun Naila ada suster yang selalu siap sedia untuk mengurus semua keperluannya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, Naila selalu ingin melakukan nya sendiri, sedangkan susternya hanya mengawasi saja, dan itu tanpa sepengetahuan dari Rania mamahnya.
Selesai mandi dan ganti pakaian, Naila menghampiri neneknya yang sudah berada di ruang makan. Naila makan dengan lahap karena siang tadi tidak makan, Naila lebih memilih untuk tidur.
"Makannya pelan pelan sayang, nanti tersedak. "
"Iya nek, makanannya enak banget, jadi ila makannya banyak. "
Di tempat lain, Leon yang sudah datang ke gunung Bromo dari sejak kemarin sore sedang duduk di balkon kamarnya. Leon memandang sekitar nya.
Nanti malam Leon akan bertemu dengan putrinya kesayangan nya, mereka sudah ada janji akan bertemu. Sudah tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan Naila.
"Kenapa ya, kok seperti sedang janjian sama pacar, rasanya ingin secepatnya bertemu. Naila putri papah yang cantik, kenapa baru sekarang kita bertemu nak. " Leon membayangkan raut wajahnya putri nya yang sangat menggemaskan.
Udara dingin sudah mulai turun, langit sore sudah terlihat. Leon akan bersiap siap mengganti pakaian nya agar terlihat tampan di depan putrinya.
"Naila, papah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kamu sayang. " Leon tertawa sendiri.
Tidak terasa malam penuh bintang yang bertaburan pun tiba, Leon sudah bersiap menuju ke villa tempat Naila menginap. Sebelum nya Leon sudah menghubungi kedua orang tuanya, dengan alasan kalau dirinya sudah berada di Jakarta kembali dan bertanya di mana mereka akan menginap jika sudah ada di Bromo, tanpa curiga, papah nya.
memberitahukan tempat menginap mereka saat ini.
Tuan Aditama juga memberikan informasi jika hanya Zidan saja yang akan ikut ke gunung bergabung dengan para pendaki lainnya. Sehingga Leon semakin bersemangat bertemu dengan putri kecil nya.
Villa yang di tuju akhirnya sampai juga, keadaan villa sudah sepi, lampu tampak gelap. Leon bingung di mana letak kamar Naila. Namun kebingungan Leon akhirnya sirna karena dari sebuah jendela besar, Leon melihat putri nya sedang berdiri.
Leon segera menghampiri Naila yang sedang tersenyum menyambut papah nya datang. Kerindyan Leon akhirnya terbayarkan karena bisa bertemu dengan Naila.
"Hai sayang, maaf ya papah lama datangnya. "
"Ga apa apa papah ila juga baru masuk ke kamar tidur, nenek tidak juga tidur jadi ila pura pura saja ngantuk, terus di anterin nenek masuk kamar dan pura pura tidur deh. " jelas Naila dengan wajahnya yang menggemaskan.
"ila mau kemana sayang? "
"Malam malam gini ila mau makan jagung bakar, tadi ila makan sedikit biar bisa makan sama papah. "
"Baiklah tuan putri, papah akan mengajak tuan putri makan jagung bakar. "
Naila tertawa karena papah nya menyebut dirinya tuan putri. Leon dan Naila berjalan melewati beberapa tempat jualan jagung bakar.
Di rumah Rania sedang termenung saja sendiri di depan balkon kamarnya. Sudah tiga hari kembar pergi dengan kakek dan neneknya, ada rasa rindu dan kehilangan dalam diri Rania. Selama ini kembar tidak pernah pergi jauh, walaupun dirinya pernah meninggalkan kembar saat keluar kota, namun Rania tidak merasa khawatir karena kembar berada di rumah. Tempat yang teraman.
Sedangkan saat ini kembar sedang berjauhan dengan nya ribuan kilometer. Rasanya ingin sekali Rania menyusul kembar ingin mendengar suara mereka yang ramai.
Suasana rumah sangat sepi, tidak ada yang menyambutnya saat pulang kerja. Hidup Rania terasa sangat sepi dan hambar.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamar menyadarkan lamunannya. Segera Rania berjalan ke arah pintu.
Colek.....Pintu terbuka, tampak bu Arini berdiri di hadapan Rania. Bu Arini melihat. atan Rania sembab, dirinya sambat yakin kalau Rania sedang menangis.
"Kamu bari menangis ya, mata mu terlihat sembab?" tanya bu Arini.
"Iya bu, Ran kangen banget sama kembar, sudah tiga hari mereka pergi, tapi rasanya seperti satu tahun saja. " jawab Rania.
"Kita duduk di teras belakang yuk, sambil minum teh. " ajak bu Arini
"Boleh bu, ayo. "
Keduanya berjalan menuju teras belakang, sebelumnya bu Arini meminta art untuk membuat kan teh dan juga membawa kan camilan kue yang tadi siang di buatnya karena bosan tidak ada kembar yang biasa nya selalu saja ribut dan meramaikan rumah.
Sampai di teras belakang, Rania dan bu Arini duduk di depan kolam renang. Keduanya terdiam menatap kolam renang yang terlihat air nya sangat tenang, hanya sesekali terlihat riakan air karena tertiup angin.
"Bagaimana dengan restoran dan toko roti, apa semakin meningkat omsetnya? " tanya bu Arini memecahkan keheningan.
"Toko roti dan restoran omsetnya semakin meningkat, banyak pelanggan yang menyukai roti dengan varian rasa yang baru Ran buat lagi." jelas Rania.
"Kapan kamu membuat varian baru? " tanya bu Arini.
"Baru satu minggu ini, dan respon pelanggan sangat antusias untuk mencoba rotinya dan mereka sangat menyukai rasanya. "
"Syukur lah kalau memang semuanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. "
"Iya bu, Ran ingin sekali kembar menikmati rasa roti yang Ran buat, kemarin Ran belum sempat membawa roti tersebut, karena selalu saja soldout, jadi tidak pernah tersisa untuk Ran bawa pulang ke rumah. "
"Nanti saja kalau kembar pulang, bawa mereka ke toko roti dan makan di sana agar puas, dan rotinya masih hangat. "
"Nanti Ran akan membawa mereka ke toko roti. "
"Semua usaha toko roti dan restoran maju pesat seperti sekarang ini juga tidak lepas dari campur tangan papah, entah apa yang terjadi jika papah tidak cepat bertemu dema Ran. Mungkin ada usaha Ran akan jalan di tempat. " Rania mengenang kembali saat pertama kali tuan Aditama bertemu dengan nya.
"Kita hanya bisa berterima kasih dengan tuan Aditama dan juga istrinya, mereka tidak menuntut kamu untuk menjadi menantunya."
"Bahkan tuan Aditama membebaskan kamu untuk menikah dengan orang lain. " Lanjut bu Arini.
"Ran rasanya tidak ada keinginan untuk menikah dengan siapa pun bu, tujuan Ran haya untuk kebahagiaan kembar. " Ujar Rania.
Sat Rania sedang membahas tentang kembar, di gunung Zidan sedang asyik membuat api unggun dengan kakeknya dan juga beberapa pendaki yang sedang berada di sana.
"Tuan hanya berdua saja, kenapa tidak mengajak istrinya" tanya seorang pendaki.
"Cucu saya yang perempuan tidak mau ikut ke lereng gunung katanya takut ada hantu kalau harus tidur dalam tenda di alam terbuka? " jawab tuan Aditama dengan terkekeh.
"Lalu mereka tinggal di mana tuan? "
"Mereka tinggal di villa tidak jauh dari sini. " jawab tuan Aditama.
"Om sering ya naik gunung? " tanya Zidan tiba tiba.
"Om sering naik gunung, dalam satu tahun bisa tiga empat kali naik gunung. " jelas Anwar seorang pendaki gunung. "
"Zidan juga mau jadi pendaki gunung. " ujar Zidan.
"Oh ya, bagaimana kalau nanti kapan kapan om ajak Zidan naik gunung, tapi tidak di Bromo, kita ke gunung yang lain nya. "
"Wah Idan mau, kakek boleh ya Ifan ikut om naik gunung? " tanya Zidan antusias.
"Boleh saja, tapi nanti kalau Idan sudah cukup umur. "
"Tapi sekarang Idan bisa naik gunung? "
"Iya, tapi kan sekarang kita hanya di lereng nya saja, itupun sama kakek. " jelas tuan Aditama.
Anwar yang melihat ke akraban Zidan dan kakek nya sangat terharu, dalam bathin nya seandainya dulu jadi menikah dengan kekasihnya, mungkin akan punya anak seumuran Zidan.
"Kenapa om malah melamun? ' tanya Zidan.
" Wajah Zidan ada sedikit kemiripan dengan seseorang di masa lalu om. " jawab Anwar.
"Siapa nak, mantan kekasih? " tanya taun Aditama.
"Sebenarnya bukan mantan kekasih tuan, tapi masih saya anggap kekasih saya, marena kami belum ada kata putus. "
"Memangnya kenapa? "
"Kekasih saya pergi entah kemana, dan tidak ada kabar dari nya. "
...****************...