NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Simfoni di Atas Menara ​

​Dinginnya lantai kayu menara jam L'Orphelinat des Heures Perdues merambat naik ke ujung jari Sora, namun darahnya justru mendidih. Di bawah sana, di halaman panti asuhan yang suci, Bastian dan anak buahnya berdiri seperti gagak hitam yang siap mencabik-cabik sejarah keluarganya. Suara Bastian yang bergema lewat pengeras suara bukan lagi sekadar ancaman; itu adalah penghinaan bagi setiap detik perjuangan ayahnya.

​"Sora! Lima menit! Atau aku akan membakar tempat ini bersama anak-anak yatim di dalamnya!" teriak Bastian.

​Sora menatap mesin jam menara yang kini berdetak megah berkat The Chronos Weaver. Ia teringat kata-kata ibunya dalam rekaman: Jangan biarkan waktu menguasaimu. Kamulah yang harus menguasai waktu.

​"Hael... jika kamu benar-benar pelindungku, aku butuh detakmu sekarang," bisik Sora.

​Ia membuka jam saku keramik pemberian ibunya. Di dalamnya, selain koordinat, terdapat sebuah pemancar darurat frekuensi pendek. Sora menekannya tiga kali—kode Morse untuk 'S-O-S'. Detik berikutnya, jam saku itu bergetar, dan sebuah suara statis yang sangat familiar terdengar dari pengeras suara kecil di The Chronos Weaver.

​"Sora... syukurlah kamu sampai," suara Hael terdengar lemah, terengah-engah, namun tetap tajam. "Aku sedang di atas kapal menuju Marseille. Aku berhasil lolos, tapi Bastian mengejarmu ke Paris. Dengarkan aku, mesin menara itu bukan sekadar jam. Itu adalah sirkuit kontrol frekuensi resonansi untuk seluruh jaringan komunikasi Vance di Eropa. Jika kamu memutar poros pusatnya ke arah sebaliknya tepat saat jam berdentang, kamu akan menghancurkan server mereka selamanya."

​"Hael! Kamu terluka?" Sora berteriak, air mata haru jatuh ke kaca jam.

​"Hanya goresan kecil, Nakhoda. Sekarang, lakukan tugasmu. Jadikan menara itu senjata. Aku akan meretas sistem keamanan mereka dari sini. Jangan biarkan Bastian menyentuh mesin itu!"

​Sambungan terputus. Sora berdiri tegak. Ia tidak lagi merasa seperti buruan; ia merasa seperti eksekutor.

​Bastian mulai memerintahkan anak buahnya mendobrak pintu utama panti asuhan. Suara benturan keras terdengar dari bawah. Sora segera berlari ke arah poros pusat mesin jam. Ia melihat roda gigi raksasa yang mengatur lonceng menara.

​"Ayah... Ibu... pinjami aku kekuatan kalian," gumam Sora.

​Ia menancapkan The Chronos Weaver ke dalam slot poros utama. Cahaya perak kristal itu meledak, menyinari seluruh ruang mesin. Sora meraih tuas manual yang terbuat dari besi cor berat. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, ia mulai menarik tuas itu melawan arah jarum jam.

​Logam berderit hebat. Gesekan antar roda gigi menimbulkan percikan api yang menerangi kegelapan menara. Di bawah, Bastian dan anak buahnya yang baru saja mencapai tangga spiral tersentak saat seluruh gedung mulai bergetar hebat.

​DENG! DENG! DENG!

​Lonceng menara berbunyi di luar jadwal, namun suaranya tidak normal. Setiap dentangan mengeluarkan gelombang ultrasonik yang menyakitkan telinga. Di halaman, mobil-mobil hitam milik Vance tiba-tiba mengeluarkan asap. Layar ponsel dan alat komunikasi para pengejar itu pecah seketika.

​Bastian merangkak naik, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa sakit di telinganya. "Berhenti, Sora! Kamu akan menghancurkan semuanya!"

​Bastian berhasil mendobrak pintu ruang mesin. Ia menodongkan senjatanya, namun tangannya gemetar karena getaran frekuensi yang dihasilkan mesin. "Berikan jam itu! Sekarang!"

​Sora menoleh, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kamu bilang ini adalah 'Pencurian di Detak Terakhir', Bastian? Kamu salah. Ini adalah 'Keadilan di Detak Terakhir'."

​Tepat saat jarum jam raksasa di luar menunjuk angka dua belas, Sora mendorong tuas itu hingga batas maksimal.

​BOOM!

​Sebuah ledakan elektromagnetik terpancar dari puncak menara. Seluruh sistem komunikasi Vance di Paris mati total. Lampu-lampu jalan di sekitar panti asuhan padam, meninggalkan Bastian dalam kegelapan yang pekat.

​Bastian mencoba menembak, namun mekanisme jam yang berputar liar menyambar lengannya, membuatnya terlempar ke sudut ruangan. Mesin jam menara itu kini berputar dengan kecepatan luar biasa, menciptakan pusaran angin di dalam ruangan sempit itu.

​Sora memegang The Chronos Weaver erat-erata. Di tengah kekacauan itu, ia melihat bayangan ibunya dan ayahnya tersenyum di balik pendar cahaya perak. Tugasnya di Paris telah selesai. Ia telah mematikan mata dan telinga kerajaan Vance di Eropa.

​Tiba-tiba, pintu menara terbuka kembali. Bukan anak buah Bastian yang masuk, melainkan sekelompok pria berseragam taktis biru gelap dengan logo Interpol. Di belakang mereka, berdiri seorang pria dengan luka gores di pipinya, mengenakan jaket kulit yang sangat Sora kenal.

​"Hael!" Sora berlari dan menabrak dada pria itu.

​Hael memeluknya erat, mengabaikan rasa sakit di bahunya yang dibalut perban. "Maaf aku terlambat, Sora. Kapalnya sedikit lambat."

​Detektif Januar masuk di belakang Hael, langsung memborgol Bastian yang sudah tidak berdaya. "Kerja bagus, Nona Kalani. Anda baru saja menjatuhkan jaringan intelijen gelap paling berbahaya di dunia horologi."

​Sora menatap Hael, lalu menatap jam saku ibunya. "Hael... ibuku. Dia melihatku dari atas sana selama ini."

​Hael mengangguk pelan. "Dan sekarang, dia bisa beristirahat dengan tenang. Begitu juga Ayahmu."

​Saat fajar yang sebenarnya mulai menyingsing di atas langit Paris, Sora dan Hael berdiri di balkon menara jam. Mereka melihat kota yang perlahan mulai terang. Mesin menara jam itu kini kembali berdetak normal, namun dengan suara yang jauh lebih merdu—sebuah simfoni yang menceritakan tentang kebenaran yang tak lagi tersembunyi.

​"Apa kita benar-benar sudah selesai?" tanya Sora pelan.

​Hael menggenggam tangan Sora, menyatukan jemari mereka di atas pagar balkon. "Hampir. Masih ada sisa-sisa Alistair Vance di Jakarta yang mencoba melarikan diri. Dan yang paling penting... kita masih punya janji untuk membangun akademi itu."

​Sora tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Hael. "Waktunya pulang, Hael. Pelabuhan kita sudah menunggu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!