Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dianterin Suami
"Om...Om!"
"Udah ah... berhenti di sini aja!"
"Jangan di depan!"
Selagi masih di jalan, satu makhluk yang duduk di kursi sebelah kiri, dari tadi terdengar teriak-teriak mulu kayak orang kesetanan.
Sedangkan mobil hitam mengkilap yang sedang melaju cepat membelah jalanan itu, bukannya melambat, tapi malah makin ngebut-ngebutan.
Ya jelas, si yang duduk di kiri langsung mendelik sewot, kesal!
Merasa usahanya seperti sia-sia.
"Heh! Kok malah makin cepet?!" teriaknya lagi, kali ini mungkin hampir sekeras toa.
"Berhenti Om!"
"Di sini aja!"
"Jangan ngeyel!"
Tau lah ya itu suara siapa, yang kalau tuh anak lagi teriak-teriak suaranya kadang emang kayak kaleng diseret-seret.
Cempreng.
Nggak enak didengerin.
Nggak pantes jadi penyanyi.
Apalagi pas panik begini.
Ya siapa lagi kalau bukan si yang bernama Dena itu.
Sewaktu Dena ngotot terus memaksa Alvaro agar segera menepi supaya ia bisa turun tepat sebelum tiba di gerbang depan.
Alvaro malah iseng nambah kecepatan.
Dan Dena jadinya ya tambah panik.
Karena... coba bayangkan, Dena yang setiap paginya selalu terlihat turun dari angkot, eh tiba-tiba ada yang ngeliat dia dianterin sekolah pake mobil mewah.
Apa ya nggak langsung trending topik di sekolah?
Apalagi kalau sampai ada yang 'ngeh' kalau yang nganterin Dena itu Alvaro—si pemilik sekolah.
Wah, bisa beneran kacau deh!
Sementara Alvaro malah menikmati suara istrinya yang ngomel-ngomel itu sambil cekikikan.
Sengaja, ia tidak langsung menuruti keinginan Dena karena suka aja.
Suka melihat istrinya itu marah-marah.
Dan yah, Dena jadi tambah marah dan lebih parah.
"Ih, Om mah!"
"Berhenti atau saya pukul beneran?!" kecamnya sambil menepuk-nepuk lengan Alvaro.
Gelagapan minta diturunkan sekarang juga. Tapi, suaminya itu malah nginjek pedal gas tanpa henti.
Dan mobil itu melaju dengan lebih cepat, sementara gerbang sekolah semakin dekat.
Sial!
Dena jadi melotot.
"Om, cepet injek remnya!" desaknya kali ini.
"Atau... saya lompat nih!" ancamnya serius, tangan mungilnya bahkan sudah siap menyentuh tombol pengunci pintu.
Alvaro jadi melotot, "Ck! Jangan aneh-aneh...bahaya!"
"Ya udah, makanya berhenti!"
Alvaro masih tidak peduli.
"Berhenti sekarang, Om!" paksa Dena lagi.
"Nanti."
"Kenapa nanti?"
Alvaro spontan melirik, lalu menghela napas panjang, "Lo mau gue berhenti di tengah jalan!"
"Oh...kirain!"
Dena langsung diam, kemudian nyengir—sekarang baru sadar. Benar juga.
Akhirnya setelah beberapa meter ke depan, mobil itu benar-benar menepi, lalu berhenti di depan toko besi yang masih belum buka.
Di sana terlihat sepi.
Sepi banget, dan hanya terlihat beberapa tukang becak yang masih asik bermimpi.
"Di sini?" Alvaro mengerinyit malas.
Menatap Dena yang begitu kemauannya diturutin, langsung senyum-senyum sendiri kayak habis menang arisan.
"Nah iya, Om... di sini aja," jawabnya lega, akhirnya bisa turun juga.
Sambil gadis itu buru-buru masukin HP-nya ke tas, yang walaupun udah butut penuh lakban, tapi benda itu tetap Dena sayang-sayang.
Seperti setengah hidupnya ada sana, di ponsel yang sebenarnya udah pantes banget dibuang.
Tapi ya tadi...
Sayang katanya.
"Yakin, nggak mau di depan gerbang?" tawar Alvaro sesaat sebelum Dena membuka pintu.
Dena menggeleng cepat. "Di sini aja."
Alvaro mencebik sambil menunjuk ke arah gerbang di depan sana.
"Gerbangnya masih jauh tuh," katanya.
"Masih sekitar seratus lima puluh meter," lanjutnya bukan karena sudah mengukur jaraknya, cuma asal, sengaja melebih-lebihkan biar dramatis.
Padahal... palingan jaraknya cuma beberapa puluh meter aja. Itu pun lurus ke depan.
"Lo nggak apa-apa jalan?" tanyanya lagi, kali ini agak serius.
"Nggak apa-apa," jawab Dena santai, sambil tak lupa salim alias pamit.
"Nggak takut pagi-pagi begini udah mandi keringet?"
Dena langsung mencibir.
"Dih! Cuma mandi keringet mah masih mending, Om!" sahutnya.
"Masih mending dari apa?"
"Daripada saya keringet dingin gara-gara ada yang ngeliat saya dianterin pemilik sekolah!" jawab Dena tersenyum kecut.
"Itu lebih menyiksa mental saya, tauk!" dengusnya.
"Lebay!" cibir Alvaro.
"Om yang lebay!" balas Dena nggak kalah cepat.
"Lebay apa?"
"Cuma jalan segitu doang, pake segala takut saya bakal keringetan!" cebiknya.
"Ya iyalah! Kan kasian temen lo!"
"Kasihan kenapa?"
"Keganggu sama lo yang bau!" ledek Alvaro.
Dena langsung mendelik sewot.
"Enak aja bau! Saya wangi terus tauk!" dengusnya melotot.
"Oh ya..." Alvaro sedikit mendekat, dan aroma tubuh istrinya memang tercium sangat wangi, walaupun itu juga wangi parfum Alvaro, yang sebelum berangkat diam-diam Dena pakai.
Tapi, rasanya tetap terlalu hambar kalau nggak lanjut digodain.
Alhasil...
"Coba sini gue cium!" goda Alvaro.
"Cium?!" sewot Dena.
Lalu menggelinjang geli sambil buru-buru menjauh, ih takut banget disosor-sosor.
"Nggak ah!" tolaknya mentah-mentah.
"Kenapa?"
"Takut."
"Takut gue cium?"
Dena menggeleng, "Takut Om ngelunjak minta yang lain," cicitnya merinding.
Alvaro mendadak nyengir, "Kok tau?"
"Udah ketebak sama saya, Om!" dengus Dena.
Alvaro spontan mundur, lalu cekikikan—puas.
Dan sebelum Dena benar-benar turun, laki-laki itu sempat melirik lagi.
"Pulangnya perlu gue jemput?"
Dena yang sudah setengah berdiri di luar mobil langsung menggeleng.
"Nanti ngerepotin," sahutnya.
"Sebenarnya ya nggak repot. Di kantor gue bisa pergi kapan pun gue mau, dan itu nggak bikin siapapun terganggu," kata Alvaro.
"Iya tau." Dena ngangguk-ngangguk. "Om kan bosnya...tapi nggak usah dijemput, Om!"
"Nanti saya pulang sendiri aja," balasnya tersenyum manis.
"Naik apa?"
"Naik angkot."
Alvaro sontak melotot, "Angkot?"
Dena mengangguk.
"Lo serius mau pulang pake angkot?" ulang Alvaro tambah melotot.
Dena menghela napas panjang, "Iya lah, emang mau naik apa, masak naik becak. Kan jauh, Om!"
"Abang becaknya juga pasti nolak kalau harus nguyuh sampai rumah, Om!" ujarnya.
"Oh, gitu..."
"Ya udah, lo naik angkot aja," ujar Alvaro pada akhirnya, walau sedikit tidak rela juga istrinya itu bakal desak-desakan dengan penumpang lain.
Tapi, laki-laki itu tetap tidak melarangnya.
"Lah, kan saya emang udah biasa naik angkot! Kenapa sih, Om?" heran Dena.
"Nggak boleh?"
"Boleh."
"Kalau boleh, kenapa protes?"
"Gue nggak protes, cuma mastiin," kata Alvaro.
Dena mangerinyit, "Mastiin apa?"
Alvaro menatap Dena, seenggaknya sebelum menjawab.
"Lo tetep pulang," sahutnya tenang, tapi penuh perhatian.
"Ke rumah gue," imbuhnya pelan, kali ini ia tersenyum, walau tipis.
Lalu tanpa berkata-kata lagi, Alvaro kemudian pergi gitu aja ninggalin Dena sendiri.
Dan Dena...
Gadis itu cuma bengong menatap mobil suaminya yang semakin menjauh, sambil garuk-garuk kepala.
Bingung.
"Tuh orang kenapa sih?" gumamnya terheran-heran, lalu jalan.
Dena masih saja mikirin itu, dan malah tambah bingung.
"Emangnya kalau nggak pulang ke rumah, gue mau pulang kemana? Gue kan istri lo Bang!" dengusnya pelan.
Sambil gadis itu tetap melangkah perlahan menuju gerbang, dengan sengaja Dena melepas cincin berlian di jari manisnya.
Manakala ia teringat Dyo...
Apa mungkin Dyo sudah mengirimkan pesan? Seenggaknya selamat pagi atau apa kek.
Dena membuka ponselnya.
Tapi...
Kolom itu masih kosong. Padahal, setiap pagi setidaknya Dyo selalu mengirim satu pesan meski hanya stiker.
Dan sekarang, Dena jadi khawatir...
Pikirannya mulai berkelana, mengira-ngira kenapa pacarnya itu mendadak nggak ada kabar.
Atau jangan-jangan?
Dena mendadak melotot.
"Dyo...lo masih nggak tau kan kalau gue udah nikah?" cemasnya, kali ini dalam.
Lalu tak lama kemudian mereka muncul. Suasana di jalan menuju gerbang mendadak ramai.
Eagle Sanca—geng motor yang Dyo pimpin, lebih dari dua puluh anggotanya terlihat beriringan masuk ke dalam gerbang silih berganti.
"Ah, itu dia..." Dena refleks tersenyum, lega.
Kemudian menatap setiap dari mereka satu-persatu, nyaris semua. Berharap Dyo ada di sana bareng mereka.
Tapi aneh...
Biasanya Dyo ada di barisan paling depan, dengan gagahnya memimpin teman-temannya. Sedangkan pagi itu, tidak.
Di barisan terdepan hanya ada beberapa pentolannya saja.
"Hah?" Dena menyipitkan mata, menatap lebih seksama, siapa tau Dyo luput dari penglihatannya.
Namun?
Sama saja.
Di antara mereka, Dyo tetap tidak ada.
Dena jadi bingung, atau lebih kepada penasaran, pacarnya itu ada di mana dan sedang kenapa?
Atau... memang sengaja membolos?
"Ih, Dyo angkat telpon aku dong!"