"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Logika dan Perasaan
Gisel turun dengan langkah yang sedikit limbung. Begitu mobil Adrian melesat pergi, ia langsung bersandar di balik pagar kosan, memegangi keningnya yang masih terasa hangat.
"Gila... dia beneran nyium kening gue? Pak Adrian yang itu? Yang kalau ngomong kayak es batu? Gue harus cuci muka... atau nggak usah cuci muka sekalian biar bekasnya nggak ilang?" Gisel merasa campur aduk.
Ia tidak tahu, bahwa beberapa jam lagi, ponselnya akan berdering gila-gilaan karena serangan peretas yang akan mengubah malam tenangnya menjadi awal dari kekacauan yang membawanya ke rumah sakit.
“Sial," gumam Gisel pelan. Ia menyentuh keningnya sendiri, tempat bibir Adrian mendarat tadi. "Gue beneran baper. Gisel, sadar! Itu cuma efek samping micin bakso, bukan cinta!"
Namun, detak jantungnya berkata lain. Kalimat Adrian yang bilang kalau Gisel lebih menarik daripada koleksi sahamnya terus terngiang-ngang seperti lagu yang diputar berulang-ulang (on repeat). Gisel berjalan menuju cermin kecil di atas meja riasnya yang penuh dengan tumpukan berkas kantor dan botol parfum minimarket.
Gisel menatap pantulannya di cermin "Kenapa dia harus nyium kening sih? Kalau dia cuma mau main-main, harusnya dia nyium bibir kayak di film-film, atau adegan tadi siang di dalam ruangannya. Tapi kening... itu kan... kayak dia beneran mau jagain gue."
Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur bermotif bunga-bunga yang sudah mulai pudar. Gisel menatap langit-langit kamar, memikirkan bagaimana cara dia menghadapi Adrian besok pagi di kantor.
“Gimana kalau besok dia balik jadi kulkas lagi? Atau gimana kalau dia makin agresif? Duh, Gisel... harga diri lo yang setinggi Monas bisa runtuh kalau dia senyum sedikit aja besok. Inget, Sel! Dia itu Bos. Lo itu sekretaris yang motornya aja masih harus di-choke dulu baru mau nyala!"
Napas Gisel masih terasa berat. Ia mencoba mengatur detak jantungnya yang justru semakin kencang saat suasana sunyi. Bayangan wajah Adrian saat mengecup keningnya seolah terpatri di pelupuk mata.
Gisel berbisik pada bantalnya "Sialan... kenapa harus selembut itu sih? Gue lebih siap kalau dia maki-maki gue soal laporan daripada diginiin. Kalau dimaki, gue bisa bales. Tapi kalau dicium... gue harus bales pake apa? Gaji gue aja nggak cukup buat beli harga diri yang baru kalau sampe gue baper beneran."
"Pak Adrian Bos kulkas kanebo kering alias beruang kutub itu aneh. Tadi di mobil, auranya beda banget. Bukan kayak bos yang mau merintah, tapi kayak cowok yang... takut kehilangan? Ah, halu lo ketinggian, Sel! Dia itu Adrian Bramantyo. Dia punya segalanya. Kenapa juga dia harus takut kehilangan sekretaris yang bar bar dan hobi makan pinggir jalan kayak gue?"
Gisel mulai menghitung risiko. Sebagai wanita yang terbiasa hidup keras dan mandiri, ia selalu punya "benteng" pelindung. Namun, kecupan singkat tadi terasa seperti serangan siber yang berhasil menembus firewall pertahanannya tanpa permisi.
"Dia cuma bos kamu. Dia mungkin cuma kesepian atau lagi pengen suasana baru. Inget perbedaan kelas, Sela! Jangan sampe besok pas kerja lo jadi lembek cuma gara-gara satu kecupan."
"Tapi dia yang mulai duluan. Dia yang nyamperin ke dunia lo Sel, dia yang mau makan bakso, dia yang nganterin sampe depan kosan yang sempit ini. Itu bukan sekadar iseng."
Gisel menghela napas panjang "Oke, Gisel. Tarik napas. Anggap aja tadi itu 'bonus prestasi' karena lo udah kerja lembur bagai pekerja romusha zaman penjajahan Jepang. Jangan baper, jangan baper, jangan baper..."
Gisel membenamkan wajahnya ke bantal, mencoba meredam pekikan frustrasi yang tertahan di tenggorokannya. Kamar kostnya yang sunyi mendadak terasa berputar.
Setiap kali ia memejamkan mata, memori "serangan bertubi-tubi" dari Adrian terputar otomatis seperti film dokumenter yang sangat intim.
Satu kecupan mungkin bisa dianggap "kecelakaan", tapi rentetan aksi Adrian hari ini benar-benar tidak masuk akal bagi logika Gisel yang biasanya sekaku data logistik.
Gisel teringat ia mencoba untuk meminta Adrian menjelaskan kepada Budi masalah tukar saliva di dalam ruangan admin yang terjadi adalah Adrian membenarkan pemikiran Budi yang berpikir ada adegan ciuman hangat di ruangan admin, Al hasil Gisel mendapat kecupan manis di mobil dan membuatnya pingsan.
Kedua Gisel kembali teringat bagaimana pintu kayu jati itu tertutup rapat, aroma kopi di udara, dan tiba-tiba punggungnya menempel di meja kerja. Ciuman panas itu... Gisel meremas gulingnya. Itu bukan sekadar kecupan, itu adalah pernyataan dominasi yang membuat napasnya putus-putus.
Gisel meringis malu. Adrian benar-benar tidak tahu tempat. Bagaimana bisa bos yang biasanya menjaga image itu tetap nekat mengecup singkat bibirnya tepat di depan mata Budi? Tatapan Budi yang melotot hampir keluar dari kelopak matanya tadi masih terbayang jelas.
Ingatan Gisel menyerbu kegiatan di dalam Lift. Kecupan ringan yang hangat itu. Saat lift bergerak turun dan Budi sedang sibuk membelakangi mereka atau pura-pura sibuk, Adrian justru memanfaatkan ruang sempit itu untuk mencuri momen lagi. Sangat singkat, sangat hangat, tapi cukup untuk membuat lutut Gisel lemas seketika.
Gisel bergumam ke bantal "Gila... Adrian Bramantyo beneran sakit jiwa. Dia sengaja mau bikin gue mati berdiri di depan Budi? Apa dia nggak tahu kalau jantung gue rasanya mau meledak?!"
Status otak error, jantung overload itu yang Gisel rasakan. Gisel berguling ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari posisi yang nyaman tapi gagal total. Pikirannya benar-benar jatuh cinta bukan pada harta Adrian, tapi pada keberanian pria itu yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya, tanpa syarat, bahkan di depan orang lain.
"Kenapa harus gue? Dari ribuan karyawan di gedung itu, kenapa dia milih buat bikin hidup gue sekacau ini? Gue ini cuma sekretaris badas, bukan pemeran utama drakor..."
Namun, rasa malu itu perlahan terkalahkan oleh sebuah pengakuan jujur di hatinya. Kecupan-kecupan Adrian, entah yang panas di ruangan pribadi atau yang ringan di depan Budi telah memberikan validasi yang tidak pernah Gisel dapatkan sebelumnya. Adrian adalah orang pertama yang membuat Gisel merasa "diinginkan" lebih dari sekadar mesin kerja.
Gisel menatap langit-langit, tersenyum kecil tanpa sadar "S!alan... Gisel, lo beneran udah hanyut. Besok kalau ketemu lagi, gimana cara gue masang muka mandor kalau bibir gue masih kerasa hangat gini?"
Gisel menggeram frustrasi, menendang selimutnya sampai terjatuh ke lantai. Kamar kost yang biasanya terasa damai sebagai tempat persembunyian dari penatnya dunia logistik, malam ini berubah menjadi ruang interogasi bagi batinnya sendiri.
Ia mencoba miring ke kiri, bayangan Adrian di lift muncul. Miring ke kanan, memori ciuman panas di ruang kerja Adrian menyerang. Telentang menatap langit-langit, ia justru terbayang kecupan singkat di depan Budi yang sangat tidak tahu tempat itu.
"Gisel, lo harus waras! Lo harus jaga jarak! Inget hukum rimba perkantoran jangan campur adukkan profesionalitas sama perasaan. Kalau lo deket sama dia, lo cuma bakal jadi bahan gosip satu gedung. Lo mau dibilang 'simpanan bos'? Enggak, kan?!"
Satu sisi otaknya mencoba memasang barikade setinggi langit. Ia berencana besok akan datang lebih pagi, duduk di meja kerjanya dengan kacamata paling tebal, dan hanya menjawab "Iya Pak," "Baik Pak," tanpa menatap mata Adrian.
Namun, sisi hatinya yang lain justru berkhianat.
Gisel menyentuh bibirnya dengan ujung jari, suaranya melemah "Tapi... kenapa rasanya masih ketinggalan di sini? Hangatnya, aromanya... Sial! Adrian Bramantyo, lo pake pelet apa sih? Kok bisa-bisanya ciuman lo bikin gue nggak bisa merem gini?"
Gisel menyadari bahwa rencananya untuk menjaga jarak itu hampir mustahil dilakukan karena beberapa alasan teknis dan emosional:
Efek Kecanduan kecupan Adrian bukan cuma sekali, tapi berkali-kali dengan intensitas yang berbeda. Otak Gisel sudah mencatat itu sebagai "candu" yang baru.
Keberanian Adrian bagaimana bisa ia menjaga jarak jika bosnya sendiri yang hobi "memperpendek jarak" tanpa izin di lift maupun di depan umum?
Faktor Budi. Budi sudah melihat semuanya. Menjaga jarak sekarang justru akan terlihat sangat mencurigakan dan semakin membuat Budi haus akan klarifikasi.
Gisel meringkuk memeluk guling “Harusnya tadi gue tampar aja pas dia nyosor di depan Budi. Kenapa gue malah diem? Kenapa gue malah merem? Duh, Gisel... lo emang 'badas' di depan komputer, tapi di depan bibir Adrian lo cuma serpihan kerupuk seblak yang melempem."
Gisel akhirnya menyerah untuk mencoba tidur. Ia bangkit, duduk di tepi kasur, dan menyalakan lampu belajar. Ia menatap cermin, melihat wajahnya yang masih terlihat "berantakan" karena baper yang belum tuntas.
"Oke Sela. Besok Lo bakal tetep formal. Lo bakal jaga jarak sejauh satu meter. Kalau dia mendekat, gue bakal mundur dua meter. Pokoknya... pokoknya dia nggak boleh liat kalau Lo sebenernya lagi sekarat gara-gara kepikiran dia!"
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski ia tahu, begitu pintu ruangan Adrian terbuka besok pagi dan aroma parfum maskulin itu menyerang indra penciumannya, semua rencana "jaga jarak" itu kemungkinan besar akan berakhir di tempat sampah.
**
Di dalam penthouse yang senyap dan hanya diterangi cahaya temaram dari lampu kota, Adrian mengalami kegelisahan yang sama hebatnya. Ia berbaring telentang di atas ranjang king size-nya, namun matanya masih menatap langit-langit dengan tajam.
Lengan kanannya ia tumpukan di dahi, sementara tangan kirinya berulang kali meraba bibirnya sendiri. Kejadian hari ini terlalu intens untuk diproses oleh logika seorang CEO yang biasanya hanya berpikir tentang angka.
Adrian menghela napas panjang, suaranya berat dan serak "Sela... kamu benar-benar racun."
Pikirannya memutar ulang adegan di ruang kerjanya tadi siang. Ia masih bisa merasakan bagaimana tubuh Gisel gemetar dalam dekapannya saat ia memulai ciuman panas itu. Itu bukan sekadar gairah; ada rasa ingin memiliki yang sangat dalam yang belum pernah ia rasakan pada wanita mana pun sebelumnya.
Adrian mengingat bagaimana jemarinya menyisip di antara rambut Gisel, menariknya mendekat untuk memperdalam ciuman yang seolah tak ingin ia akhiri. Ia ingat bagaimana Gisel akhirnya membalas, sebuah respons jujur yang membuat pertahanan Adrian runtuh total.
Adrian tersenyum miring dalam kegelapan. Ia tahu tindakannya sangat tidak profesional. Mengecup bibir Gisel di depan Budi adalah cara primitifnya untuk menandai wilayah. Ia ingin semua orang terutama Budi yang selalu menempel pada Gisel tahu bahwa gadis badas itu adalah miliknya.
"Kenapa saya tidak bisa berhenti? Setiap kali saya melihat bibirnya yang sedang mengomel, saya hanya ingin membungkamnya dengan cara itu. Dan anehnya, saya tidak peduli meski ada Budi di sana. Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya serius."
Adrian biasanya sangat terkontrol, sangat menjaga wibawa. Tapi bersama Gisel, dia merasa seperti remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta yang meledak-ledak. Dia sadar, dia sudah bertindak di luar nalar. Mengecup Gisel di lift adalah tindakan impulsif yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
"Kamu orang pertama yang membuat saya bertindak sebodoh ini, Sela. Tapi saya tidak menyesal. Sama sekali tidak." Ucap Adrian lirih.
Adrian berbalik posisi, mencoba memejamkan mata, namun sensasi kelembutan bibir Gisel seolah masih menempel di sana. Ia membayangkan wajah Gisel yang memerah dan tatapan matanya yang bingung perpaduan antara marah, malu, dan sayang.
"Besok pagi... saya akan melihat kamu lagi. Apa kamu akan menghindar? Atau kamu akan menantang saya lagi dengan mulut pedasmu itu Sela?"
Ia menyeringai kecil. Adrian sudah memutuskan. Tidak ada lagi jalan kembali ke hubungan bos dan sekretaris yang hambar. Ia telah membuka pintu yang tidak akan pernah ia tutup lagi.
Malam itu, dua orang di tempat berbeda sama-sama tidak bisa tidur karena satu alasan yang sama: sentuhan yang membakar kewarasan.
to be continue