NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Bayi Eko

Bau karbol yang tajam di lorong Rumah Sakit Medika Pratama tidak mampu menutupi aroma anyir dan busuk yang seolah merembes keluar dari celah pintu ruang operasi. Eko duduk di kursi besi yang dingin, kedua tangannya saling bertaut, menahan gemetar yang tak kunjung usai. Di saku kemejanya, amplop cokelat berisi uang dari Ratri terasa seberat bongkahan timah. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa darah hitam tadi hanyalah infeksi biasa, dan bahwa lima belas juta rupiah akan memberinya seorang putra yang gagah untuk meneruskan garis keturunannya.

Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan lorong yang mencekam itu.

Ouaakk... hrrgg... ouaakk...

Suara itu menyerupai tangisan bayi, namun ada nada serak dan geraman rendah yang terselip di antaranya—suara yang lebih mirip lengkingan binatang yang terjepit daripada tangisan manusia. Eko tersentak, bulu kuduknya meremang.

"Suara apa itu? Pasti suara bayi dari ruangan sebelah," gumam Eko pada dirinya sendiri, mencoba membuang pikiran buruk yang mulai mengerogoti kewarasannya.

Namun, di dalam ruang operasi, suasana jauh dari kata normal. Dokter spesialis bedah yang melakukan sayatan pertama tiba-tiba terhuyung ke belakang. Wajahnya yang tertutup masker tampak pucat pasi, matanya melotot menatap apa yang baru saja ia keluarkan dari rahim Ruminten. Botol infus di dekatnya tersenggol hingga pecah berantakan. Ia jatuh lemas di lantai, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu telah habis diisap oleh sesuatu yang gelap.

"Dokter! Anda tidak apa-apa?" teriak dokter pendamping dengan sigap.

Beruntung, dokter pendamping itu memiliki mental yang lebih kuat. Meski tangannya gemetar hebat melihat pemandangan di atas meja operasi, ia segera mengambil alih prosedur. Ia harus menyelesaikan penjahitan rahim Ruminten sebelum pasiennya kehabisan darah. Bayi—atau mahluk itu—segera dibungkus dengan kain kasa steril oleh suster yang juga tampak menahan mual dan ketakutan yang amat sangat.

Setelah prosedur selesai, dokter pendamping itu melepas sarung tangannya yang berlumuran cairan hitam. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum menghadapi kenyataan di luar. Ia tidak ingin langsung memberitahukan hal ini kepada keluarga pasien di depan umum.

"Suster, bawa mahluk itu ke ruang isolasi bayi. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izinku," perintah sang dokter dengan suara berat. "Dan panggilkan suami pasien ke ruanganku sekarang juga."

Eko berjalan masuk ke ruangan dokter dengan langkah yang dipaksakan tegak. Ia melihat sang dokter duduk di balik meja kayu besar, kepalanya tertunduk lesu. Begitu Eko duduk, dokter itu menatapnya dengan pandangan penuh keprihatinan sekaligus kengerian.

"Pak Eko... operasi istri Anda berjalan lancar, nyawanya berhasil diselamatkan," buka sang dokter dengan nada hati-hati.

"Lalu anak saya, Dok? Laki-laki kan? Sehat?" tanya Eko antusias, matanya berbinar penuh harap.

Dokter itu menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata medis yang paling halus untuk menjelaskan sebuah kemustahilan. "Anak Anda... lahir dalam kondisi hidup. Namun, ada kelainan genetik yang sangat ekstrem, Pak. Sebuah cacat lahir yang... jujur saja, belum pernah saya temui dalam literatur medis mana pun."

"Maksud Dokter apa? Cacat bagaimana?"

"Anak Anda memiliki bentuk fisik yang tidak normal. Wajahnya... terdapat anomali yang menyerupai moncong hewan, lebih tepatnya menyerupai anjing atau serigala. Telinganya meruncing ke atas, dan ada bulu hitam lebat yang menutupi sebagian besar wajah dan punggungnya. Meski tangan dan kakinya berbentuk manusia, namun kuku-kukunya tumbuh sangat panjang dan tajam."

Eko terdiam. Dunianya seolah runtuh seketika. "Dokter bercanda? Dokter mau memeras saya ya? Saya punya uang! Jangan bohongi saya dengan cerita dongeng!"

"Saya tidak bercanda, Pak Eko. Ini kenyataan pahit yang harus Anda terima. Silakan ikut saya jika Anda ingin melihatnya sendiri," ucap dokter itu sambil berdiri, merasa perlu mendampingi Eko agar pria itu tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Mereka berjalan menuju ruang isolasi bayi di ujung koridor. Di sana, di dalam sebuah inkubator yang terpisah dari bayi-bayi lainnya, tergeletak sesosok mahluk kecil yang dibalut kain putih.

Begitu kain itu dibuka sedikit oleh suster, Eko terhuyung ke belakang. Mahluk di dalam sana sedang menggeliat. Benar kata dokter, wajahnya tidak memiliki hidung manusia, melainkan moncong yang menghitam dengan taring-taring kecil yang sudah mulai menyembul dari gusi merahnya. Bulu-bulu hitam kasar tumbuh di sepanjang rahang dan dahinya. Mahluk itu membuka mata, matanya berwarna kuning menyala—persis seperti mata Suanggi yang sering menghantui mimpi-mimpinya belakangan ini.

Hrrrnggg... mahluk itu mengeluarkan geraman kecil saat melihat Eko.

"SETAN! ITU BUKAN ANAKKU!" teriak Eko histeris. Suaranya menggema di seluruh ruangan bayi.

Ia mendekat ke arah inkubator dengan wajah yang merah padam karena malu dan amarah. Rasa jijik mengalahkan segala insting kebapakannya. "Kenapa mahluk menjijikkan ini lahir dari rahim istriku?! Ini kutukan! Ini aib!"

Eko mulai memaki-maki mahluk mungil yang tak berdaya itu. "Mati saja kamu! Harusnya kamu mati di dalam perut! Jangan bawa sial ke hidupku!"

"Istigfar, Pak Eko! Istigfar! Biar bagaimanapun ini darah daging Anda," ucap suster sambil mencoba menahan Eko yang tampak ingin memukul kaca inkubator.

Dokter segera menarik Eko keluar dari ruangan itu. Namun, amarah Eko belum padam. Ia merasa harga dirinya hancur lebur. Ia merasa uang lima belas juta yang ia banggakan kini tidak ada artinya karena ia telah membuahi seorang "monster".

Dengan langkah seribu, Eko mencari ruangan di mana Ruminten dipindahkan setelah sadar dari pengaruh bius. Ia menendang pintu kamar perawatan hingga terbuka lebar. Di sana, Ruminten terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Matanya sayu, menoleh perlahan saat mendengar suara suaminya.

"Mas... anak kita... mana anak kita?" bisik Ruminten dengan suara yang nyaris hilang.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Ruminten yang masih pucat. Kepala Ruminten terlempar ke samping, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Perawat yang ada di ruangan itu menjerit kaget, namun tak berani mendekat melihat wajah Eko yang sudah seperti kerasukan iblis.

"ANAK?! KAMU MASIH TANYA SOAL ANAK?!" bentak Eko, ia menjambak rambut Ruminten dan memaksanya menatap matanya. "Katakan padaku, Ruminten! Selama aku merantau di kota, kamu berselingkuh dengan siapa?! Setan mana yang merasuki rahimmu?!"

"M-mas... apa maksudmu? Aku selalu setia..." tangis Ruminten pecah, rasa sakit di perutnya akibat jahitan operasi seolah tak ada apa-apanya dibanding perlakuan suaminya.

"BOHONG! Anak yang lahir dari perutmu itu bukan manusia! Wajahnya seperti anjing, tubuhnya penuh bulu setan! Kamu pasti sudah main serong dengan demit penghuni sungai atau jin hutan, kan?! Jawab!"

Eko mengguncang tubuh Ruminten dengan beringas. Eko lebih memilih menyalahkan istrinya yang tidak tahu apa-apa.

"Aku malu, Rumi! Seluruh desa akan menertawakanku! Kamu sudah memberikan aku anak haram yang rupa setan!" Eko melemparkan kepala istrinya kembali ke bantal dengan kasar.

Ruminten hanya bisa menangis sesenggukan, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia meraba perutnya yang kini kosong, merasakan kekosongan yang amat dalam, sementara bayangan darah hitam di tempat Mak Itam kembali menghantuinya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah benar suaminya membawa sesuatu yang jahat dari perantauannya?

Eko berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu. Tangannya merogoh amplop cokelat di saku kemejanya, meremasnya kuat-kuat. Ia harus segera kembali ke Sukomaju.

Tanpa mempedulikan kondisi Ruminten yang kritis dan penuh luka, Eko berbalik dan melangkah keluar rumah sakit. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, angin malam membawa aroma melati yang kental, dan Ratri sedang menunggu kedatangannya dengan sebuah "pesta" yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kelahiran mahluk cacat.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!