Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI YANG BERBEDA
Matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai, memantulkan cahaya keemasan yang mengenai wajah cantik Lyra.
Perlahan, kelopak mata itu bergerak, Lyra merasa kepalanya sangat berat, seperti habis dihantam benda tumpul.
"Eungh..."
Lenguhan kecil, terdengar samar, Lyra mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Hal pertama yang dia rasakan adalah sesuatu yang kokoh di bawah kepalanya, bukan bantal yang biasa dia pakai, melainkan sesuatu yang hangat dan berdegup teratur, dia juga merasa ada lengan besar yang melingkar posesif di pinggangnya.
Lyra mengernyit kan kening nya, dan dengan perlahan membuka matanya lebar-lebar.
Hal pertama yang dia lihat adalah kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian kerah, memperlihatkan kulit putih pucat namun berotot.
"Sudah bangun?"
Suara berat dan serak khas orang bangun tidur terdengar tepat di atas kepalanya.
Deg
Lyra tersentak, dia langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah Xavier Valerius hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Mata abu-abu pria itu menatapnya dalam, sangat intens sampai Lyra merasa sesak napas.
"X-Xavier?! Kenapa kau... kenapa aku...?" tanya Lyra panik, dia mencoba bangkit tapi pelukan Xavier justru semakin mengencang.
"Diam lah dulu, Sayang, kamu baru saja pulih," ucap Xavier tenang, tidak ada raut berdosa sedikit pun di wajahnya meski dia baru saja tidur satu ranjang.
"Lepaskan! Kenapa aku bisa ada di sini? Ini di mana?!" teriak Lyra, wajahnya memerah antara marah dan malu.
Xavier akhirnya melepaskan pelukannya, membiarkan Lyra duduk meski gadis itu tampak limbung, pria itu ikut duduk, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan santai.
"Ini mansion ku, kamu pingsan di hutan semalam setelah kehilangan kendali," jawab Xavier datar.
Lyra terdiam, ingatan semalam mulai berputar di kepalanya.
Bulan merah, rasa sakit yang luar biasa, kekuatannya yang meledak, sampai dia yang menggigit lengan seseorang.
Deg
Mengingat kejadian semalam, membuat jantung Lyra berdegup kencang, tidak sengaja dia melihat ke arah lengan Xavier, di sana, ada bekas luka gigitan yang sudah mengering namun masih terlihat jelas.
"A-aku....Apa aku yang melakukan itu?" tanya Lyra, menunjuk lengan Xavier.
Xavier melirik lengannya sekilas, lalu kembali menatap Lyra, dia tahu gadis kecil nya pasti masih shock dan belum bisa mencerna semua yang terjadi semalam, walaupun Lyra gadis pemberani dan terdidik tangguh, tetap saja gadis itu hanyalah remaja yang belum tahu apa-apa tentang takdir dan jiwa nya.
"Hanya luka kecil, tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan semalam," jawab Xavier, menatap Lyra lembut.
"Kenapa kau tidak membawaku pulang ke rumah Daddy? Kenapa malah membawaku ke sini?!" tanya Lyra lagi, suaranya mulai meninggi.
Xavier bangkit dari ranjang, berjalan ke arah meja kecil dan menuangkan segelas air putih. Dia memberikannya pada Lyra.
"Minum dulu, tenggorokanmu pasti kering," perintah Xavier, tidak menjawab pertanyaan Lyra.
"Aku tidak mau! Jawab pertanyaanku, Xavier Valerius!" tolak Lyra ketus.
Xavier menghela napas panjang, dia meletakkan gelas itu di nakas, lalu membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Lyra, mengunci gadis itu di antara lengannya.
"Karena orang tuamu tidak tahu cara menangani sisi lain dirimu, Lyra, jika semalam kamu di rumah, mungkin sekarang kediaman Wijaya sudah rata dengan tanah karena ledakan energimu," ucap Xavier dengan suara rendah nya.
Glek
Lyra menelan ludah, jarak mereka terlalu dekat, dan aroma tubuh Xavier menusuk indra penciumannya.
"Sisi lain apa? Aku manusia biasa, Xavier! Kau pasti salah orang!" sanggah Lyra, mencoba mendorong dada Xavier, tapi pria itu tetap kokoh seperti batu karang.
Xavier tidak langsung menjawab, dia menatap dalam mata indah gadis di depan nya itu, ada banyak hal yang ingin dia katakan pada permata nya itu, tapi Xavier tidak ingin gegabah dan berakhir membuat gadis nya bersedih.
"Manusia biasa tidak bisa melompat dari lantai tiga tanpa lecet sedikit pun, dan manusia biasa tidak punya mata emas saat sedang marah," jawab Xavier sambil menyentuh dagu Lyra, lembut.
Lyra tertegun, kata-kata Xavier benar-benar membuatnya tidak bisa mengelak, dia bukan gadis bodoh, walupun Lyra masih bingung apa yang terjadi dengan diri nya, tapi satu yang pasti, dirinya bukan manusia biasa.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Lyra, pelan.
Xavier menjauhkan wajahnya sedikit, namun matanya tetap mengunci pandangan Lyra.
"Siapa aku tidaklah penting untuk sekarang. Yang penting adalah siapa kamu bagiku," jawab Xavier misterius.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar diketuk pelan, Elena masuk membawa nampan berisi sarapan dan pakaian ganti yang masih baru.
"Selamat pagi, Tuan, selamat pagi, Nona Lyra," sapa Elena dengan senyum sopan.
"Letakkan di sana, Elena, setelah itu siapkan mobil, aku akan mengantarnya pulang," perintah Xavier, datar.
"Baik, Tuan," jawab Elena meletakkan nampan itu dan segera keluar.
Lyra hanya diam melihat interaksi itu, dia merasa seperti masuk ke dalam dunia yang benar-benar asing baginya.
"Makanlah, setelah itu mandi dan ganti pakaianmu, aku akan menunggumu di bawah," ucap Xavier sambil berjalan menuju pintu.
"Tunggu!" cegah Lyra.
Xavier menghentikan langkahnya, dan menoleh sedikit.
"Kenapa kamu begitu baik padaku? Kita bahkan belum ada seminggu saling kenal," tanya Lyra, menatap punggung Xavier.
Xavier terdiam cukup lama, lalu memutar tubuhnya, menatap Lyra dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan campuran antara kerinduan dan kepemilikan.
"Mungkin bagimu kita baru bertemu beberapa hari, tapi bagiku, aku sudah mencari mu selama ratusan tahun, Lyra..." ucap Xavier lirih.
Setelah mengatakan itu, Xavier keluar dan menutup pintu, meninggalkan Lyra yang membeku di atas ranjang.
"Ratusan tahun? Dia benar-benar gila!" gumam Lyra, menyentuh dadanya yang berdegup kencang.
Lyra masih terpaku di atas ranjang yang luas itu, matanya menatap pintu kayu yang baru saja tertutup dengan pandangan kosong.
"Ratusan tahun? Memangnya dia itu apa? Sejarah berjalan?" gumam Lyra kesal, mencoba menyingkirkan rasa hangat yang entah kenapa menjalar di pipinya.
Lyra melirik nampan sarapan yang diletakkan Elena, ada roti panggang dengan selai buah beri yang merah pekat, telur benedict yang sempurna, dan segelas susu hangat.
Melihat itu, membuat perut Lyra mendadak keroncongan, mengingatkan bahwa ledakan energi semalam benar-benar menguras tenaganya.
"Sial! Kenapa makanannya terlihat enak sekali," keluh Lyra sambil mulai menyuap potongan roti.
Setelah selesai makan dengan terburu-buru, Lyra segera menuju kamar mandi.
Di sana, dia tertegun melihat sebuah setelan pakaian sudah disiapkan. Gaun casual berwarna biru pucat yang tampak sangat mahal, lengkap dengan pakaian dalam yang masih dalam kemasan segel, dan ukurannya sangat pas.
"Pria mesum itu... bagaimana dia bisa tahu ukuranku?" gerutu Lyra dengan wajah memanas.
apa muncul di cerita yg lain kak ,,
dtggu yx kak😁😁😁😁