Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Pemburu
“Mereka sudah masuk.”
Suara Gray terdengar rendah, nyaris seperti bisikan statis di earpiece yang menempel di telinga Leon.
Leon berdiri tegak di tepi atap bangunan tua yang terbengkalai, menghadap langsung ke gang sempit di samping Klinik Arden. Malam turun lebih cepat di Distrik 6, seolah kegelapan sengaja bergegas untuk menyembunyikan apa yang akan terjadi. Lampu jalan di bawah sana berkedip-kedip sekarat, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang merayap di aspal. Suara hiruk-pikuk kota Valmere terdengar jauh, teredam oleh dinding-dinding beton yang lembap.
“Berapa?” tanya Leon. Suaranya datar, tanpa emosi, sekaku udara malam yang menusuk jaketnya.
“Tiga yang terdeteksi sensor panas. Dua lagi kemungkinan cadangan, tetap di zona buta. Mereka bergerak dalam formasi Delta,” jawab Gray cepat.
Leon tidak bergerak seinci pun. Matanya mengunci mulut gang yang gelap itu dengan intensitas predator. “Arah.”
“Satu di ujung barat gang, mencoba masuk lewat pintu belakang. Dua lainnya menyebar di jalur paralel, memutar. Mereka mencoba mengepungmu, Leon. Atau lebih tepatnya, mereka ingin memastikan tidak ada jalan keluar bagi siapa pun yang ada di dalam klinik.”
Leon menarik napas pelan, merasakan oksigen dingin memenuhi paru-parunya. “Mereka belajar dari kejadian di dermaga kemarin.”
Gray mendengus di seberang lini komunikasi. “Mereka tidak hanya belajar. Mereka dibayar mahal untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Unit ini berbeda, Leon. Jangan anggap remeh.”
Leon berdiri dari posisi jongkoknya. Angin malam yang kencang menyapu jaket hitamnya, membuat ujungnya berkibar pelan. Di bawah sana, mangsanya sudah mulai masuk ke dalam jaring.
“Mulai dari yang paling dekat,” perintah Leon pada dirinya sendiri.
Tanpa ragu, ia melompat turun dari atap. Tubuhnya jatuh melintasi kegelapan, mendarat tanpa suara di balkon lantai dua bangunan sebelah. Gerakannya luwes, hampir tidak manusiawi, seperti bayangan yang berpindah dari satu titik ke titik lain sebelum mata sempat menangkap siluetnya. Ia menuruni tangga darurat dengan langkah ringan, kakinya nyaris tidak menyentuh besi yang berkarat.
Di ujung gang barat, seorang pria berdiri diam. Jaket kulit hitam, tubuh tegap, dan sebuah pistol taktis di pinggangnya. Pria itu sedang menyesap rokok, namun matanya yang waspada terus mengawasi pintu belakang Klinik Arden.
Leon muncul dari kegelapan di belakangnya seperti kabut yang memadat. Tidak ada peringatan. Tidak ada drama kata-kata.
Satu tangan Leon membekap mulut pria itu dengan kekuatan yang mematikan, sementara tangan lainnya menghunjamkan pisau taktis tepat ke bawah tulang rusuk, mencari jantung.
Jleb.
Pria itu hanya sempat mengeluarkan suara tercekik yang pendek sebelum seluruh kekuatannya sirna. Leon memegangi tubuh itu, menahannya agar tidak jatuh berdebam, lalu melepaskannya perlahan ke tanah yang kotor.
Leon menarik pisaunya kembali. Darah hitam mengalir tanpa suara, meresap ke dalam celah-celah aspal. Ia tidak berhenti untuk sekadar melihat korbannya. Sebelum tubuh itu benar-benar mendingin, Leon sudah bergerak kembali ke dalam bayangan.
“Target satu hilang dari sensor,” lapor Gray. Suaranya kini terdengar lebih tajam. “Dua lagi di jalur paralel. Mereka mulai curiga karena rekan mereka tidak menjawab radio.”
“Aku sedang menuju ke sana,” sahut Leon pendek.
Ia menyelinap melalui celah di antara dua gedung yang hanya cukup untuk satu orang dewasa. Di jalur paralel, dua pria berdiri terpisah sekitar sepuluh meter. Satu berdiri di dekat tumpukan tong sampah yang berbau busuk, satu lagi berdiri tegak di bawah lampu jalan yang berpendar kuning pucat.
Mereka melakukan kesalahan fatal: mereka tidak saling membelakangi.
Leon memilih target yang berada di bawah lampu. Ia mengambil sebuah batu kecil dari tanah, lalu melemparnya ke arah tong logam di sisi yang berlawanan.
Klang!
Suara gema logam itu memecah kesunyian malam. Pria di bawah lampu menoleh dengan cepat, senjatanya terangkat ke arah sumber suara. Pada saat itulah Leon keluar dari bayangan di belakangnya.
Pffft.
Satu tembakan teredam dari pistol berperedam Leon tepat mengenai belakang kepala pria itu. Tubuhnya jatuh berlutut sebelum akhirnya tersungkur ke depan tanpa sempat mengeluarkan teriakan.
“Dua,” gumam Leon.
Pria terakhir, yang berada di dekat tong sampah, menyadari ada yang salah. Ia melihat rekannya jatuh dan langsung menarik senjatanya. “Tunjukkan dirimu, keparat!” teriaknya parau, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan.
Kalimatnya terputus secara permanen. Leon muncul dari bayangan samping, hanya berjarak dua meter. Sebelum pria itu sempat menarik pelatuk, Leon melepaskan dua tembakan beruntun.
Satu di dada. Satu di leher.
Tubuh pria itu terpental ke belakang, menghantam dinding bata sebelum merosot jatuh. Sunyi kembali menyelimuti Distrik 6. Hanya suara tetesan air dari pipa bocor yang terdengar ritmis, seperti detak jam yang menghitung mundur.
Leon berdiri diam selama beberapa detik, mengatur napasnya yang bahkan tidak memburu. Matanya menyapu sekitar, memastikan tidak ada gerakan lagi. “Semua bersih,” katanya pada Gray.
Gray tidak langsung menjawab. Ada jeda yang cukup lama hingga Leon bisa mendengar suara jemari yang mengetik cepat di keyboard.
“Tidak,” kata Gray akhirnya, suaranya terdengar lebih berat.
Leon sedikit mengernyit, tangannya masih memegang senjata dengan erat. “Apa maksudmu? Tiga target di area sudah dilumpuhkan.”
“Masih ada dua sinyal aktif di radar jarak jauh. Mereka belum masuk ke area utama klinik, tapi mereka bergerak dalam pola yang berbeda. Leon, ini bukan lagi sekadar pembersihan.”
Leon mengangkat kepalanya, matanya menyapu jalan utama Distrik 6 di kejauhan. Lampu-lampu kendaraan melintas sesekali, membelah kegelapan malam. Orang-orang di kejauhan berjalan seperti biasa, tidak menyadari bahwa maut baru saja menari di gang sebelah mereka. Namun, Leon merasakan sesuatu yang berbeda di udara—bau ozon dan bahaya yang lebih pekat.
“Di mana?” tanya Leon.
Gray memperbesar peta digital di layarnya. “Bergerak cepat dari arah utara. Dua kendaraan. Mereka tidak menggunakan taktik gerilya seperti yang tadi. Mereka terang-terangan. Leon, mereka bukan pemburu amatir.”
Leon tidak membuang waktu. Ia berlari menuju motor hitamnya yang tersembunyi di balik tumpukan palet kayu. Mesin menyala dengan raungan rendah yang mengancam. Ia memutar gas, melaju keluar dari gang dengan ban yang mencicit di atas aspal basah.
Dua blok dari klinik, sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di tengah jalan, memblokade jalur. Dua pria keluar dengan gerakan yang sangat rapi dan terlatih. Mereka mengenakan rompi taktis lengkap dengan senapan serbu di tangan.
Leon mempercepat laju motornya. Salah satu pria melihat lampu depan motor Leon yang mendekat dengan kecepatan tinggi.
“Dia di sana! Tembak!”
Tembakan meletus, memecah kesunyian malam dengan rentetan suara yang memekakkan telinga. Leon memiringkan motornya secara ekstrem, hampir menyentuh aspal. Peluru-peluru berdesing di udara, hanya beberapa inci dari bahunya.
Ia tidak berhenti. Dengan perhitungan yang presisi, Leon menabrakkan motornya ke salah satu pria yang berdiri di dekat kap mobil. Tubuh pria itu terpental ke udara, menghantam kaca depan mobil hingga hancur berantakan.
Leon menjatuhkan motornya dengan sengaja, berguling di aspal dengan lincah, lalu bangkit berdiri dalam posisi menembak.
Pffft.
Satu tembakan telak mengenai dahi pria kedua sebelum ia sempat mengarahkan moncong senapannya. Pria pertama yang terpental tadi mencoba bangkit dari kap mobil, tangannya meraba-raba mencari senjata yang terlepas.
Leon mendekat dengan langkah tenang. Ia menatap pria itu sebentar, matanya dingin, tanpa secercah pun emosi atau belas kasihan.
Pffft.
Satu tembakan terakhir mengakhiri segalanya. Sunyi kembali menguasai jalanan.
“Lima,” kata Leon datar, melaporkan jumlah mayat yang baru saja ia buat.
Gray menghela napas panjang lewat earpiece. “Dan aku punya firasat buruk bahwa itu baru awal dari badai yang sebenarnya.”
Leon berdiri di tengah jalan yang sepi, dikelilingi oleh kematian. Napasnya stabil, detak jantungnya tetap rendah, seolah semua kekerasan ini hanyalah rutinitas pagi yang membosankan. Ia berjalan kembali ke motornya, mengangkat kendaraan berat itu dengan satu sentakan kuat. Mesin kembali hidup.
“Aku akan tetap di sekitar sini. Pastikan tidak ada yang mendekati pintu utama,” perintah Leon.
Gray menjawab dengan nada khawatir yang jarang ia tunjukkan. “Kau tidak bisa melakukan ini sepanjang malam, Leon. Tenagamu ada batasnya, dan mereka punya cadangan yang tak terbatas.”
Leon memutar motornya kembali ke arah klinik. “Aku tidak perlu melakukan ini sepanjang malam. Aku hanya perlu memastikan mereka semua mati sebelum matahari terbit.”
Di ujung gang, lampu Klinik Arden masih menyala dengan pendar lembut yang kontras dengan kegelapan di sekitarnya. Alice masih di dalam, mungkin sedang merapikan peralatan medis atau membaca catatan pasien. Ia sama sekali tidak tahu bahwa hanya beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri, lima nyawa baru saja melayang demi melindunginya.
Leon berhenti di titik gelap yang tidak terjangkau lampu jalan. Ia mematikan mesin, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian malam. Selama beberapa detik, hanya ada suara angin.
Lalu suara Gray kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius. “Leon.”
“Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui.”
Leon tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada pintu klinik yang tenang. “Katakan.”
Gray menarik napas pendek, seolah sedang menimbang-nimbang apakah informasi ini akan menghancurkan ketenangan Leon. “Data yang baru saja kuretas dari sisa komunikasi mereka... Helix sudah tahu. Mereka tahu targetnya masih hidup.”
Leon terdiam. Tangannya di setang motor sedikit mengencang hingga buku jarinya memutih. “Bagaimana mereka bisa tahu secepat itu? Kita sudah membersihkan semua jejak digital.”
Gray menjawab dengan suara dingin yang menusuk. “Karena seseorang mengirim konfirmasi langsung kepada mereka. Seseorang yang berada di lapangan, mengawasimu sejak awal.”
Leon bertanya dengan suara rendah yang berbahaya. “Siapa?”
Sunyi sejenak. Hanya ada deru statis di earpiece. Lalu Gray berkata pelan, menyebutkan sebuah nama yang membuat atmosfer di sekitar Leon terasa membeku.
“Rook.”
Tidak ada reaksi dramatis di wajah Leon, namun pancaran matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari malam itu sendiri. Gray melanjutkan, “Dia bukan hanya sekadar mengamati dari jauh, Leon. Dia yang mengatur semua ini.”
Leon menatap lampu klinik yang masih menyala. Alice masih di sana, tidak berdosa dan sangat rentan. “Dia mempercepat semuanya,” gumam Leon pelan.
“Ya,” jawab Gray. “Dia ingin memancingmu keluar sepenuhnya. Dia ingin melihat sejauh mana sang Phantom akan pergi demi satu nyawa.”
Di sisi lain distrik, di atas sebuah gedung tua berlantai sepuluh yang menghadap langsung ke jalan utama, seorang pria berdiri di tepi atap yang tidak berpagar. Rook mengenakan jaket panjang yang berkibar dimainkan angin malam. Di tangannya, ia memegang sebuah teropong taktis berteknologi tinggi.
Fokusnya hanya satu: Klinik Arden dan pria yang duduk di atas motor di depannya.
Rook melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Leon menghabisi lima orang tadi dengan efisiensi seorang malaikat maut. Ia melihat bagaimana Leon berdiri menjaga klinik itu seperti anjing penjaga yang paling setia.
Rook tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. “Jadi benar desas-desus itu.”
Ia menurunkan teropongnya, menyipitkan mata menembus kegelapan malam Valmere yang berkilau oleh lampu neon di kejauhan. “Phantom yang legendaris... ternyata memiliki kelemahan yang sangat manusiawi.”
Ia memasukkan teropong ke dalam saku jaketnya, lalu menatap kota di bawahnya dengan tatapan seorang pemenang yang sedang mengatur bidak catur. Ia kembali menoleh ke arah klinik, dan senyumnya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi predator yang haus akan tantangan sepadan.
“Mari kita lihat, Phantom…” Rook berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara malam yang dingin.
“…berapa lama lagi kau bisa menjaga jantungnya tetap berdetak sebelum aku menghentikannya?”