Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 – Sebelum Fajar Menyingsing
Langit masih gelap, namun aroma kehancuran sudah memenuhi udara.
Wang Jianhong, Wang Yihan, dan Wang Zhenyu berdiri terpaku di depan bangunan yang setengah hancur. Mata mereka terbelalak, napas tertahan, seakan apa yang mereka lihat tidak masuk akal.
Bagian bawah bangunan itu… porak-poranda.
Dindingnya runtuh.
Pilar-pilar retak.
Pintu dan jendela hancur hangus seperti dihantam kekuatan raksasa.
Namun—
Lantai dua.
Masih utuh.
Tidak hanya utuh… tapi bahkan terlihat bersih, seolah tak tersentuh oleh kehancuran di bawahnya.
Kontras itu membuat bulu kuduk meremang.
Wang Jianhong menggaruk kepalanya dengan wajah canggung.
“Saya… tidak menyangka akan sekacau ini…”
Dia melirik ke arah Zhao dengan hati-hati.
Zhao hanya berdiri diam, menatap bangunan itu beberapa saat sebelum menghela napas pelan.
“Perbaiki,” ucapnya singkat. “Lebih baik dari sebelumnya.”
Nada suaranya ringan.
Namun entah kenapa… membuat jantung mereka bertiga berdegup lebih cepat.
Yihan masih menatap bangunan itu dengan bingung.
“Tunggu…” katanya pelan. “Apa benar ini disebabkan oleh naga petir kakek?”
Dia mengerutkan kening.
“Kalau benar… kenapa yang hancur hanya lantai satu?”
“Kenapa lantai dua masih kokoh?”
“Bukankah seharusnya semuanya hancur lebur?”
Zhao melirik sekilas.
Jawabannya… datar.
“Di lantai dua itu kamar ku.”
“Dan istriku sedang tidur nyenyak.”
Suasana langsung hening.
“Apa kau pikir,” lanjut Zhao santai, “aku akan membiarkannya begitu saja?”
Yihan membeku.
Wajahnya langsung memerah.
“Ah… aku…”
Dia bahkan tidak tahu harus berkata apa.
Sementara itu, Wang Jianhong berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana.
“Saya akan segera memanggil orang-orang dari Klan Wang,” katanya cepat. “Kami akan memperbaikinya dengan sebaik mungkin. Mungkin… paling cepat setengah hari—”
“Sebelum matahari terbit.”
Zhao memotong.
Dingin.
Tanpa memberi ruang untuk tawar-menawar.
Ketiganya membeku.
“S… sebelum matahari terbit?” ulang Zhenyu tak percaya.
Wang Jianhong menelan ludah.
“Itu… tidak mungkin,” katanya jujur. “Bahkan dengan sepuluh orang pun… sulit. Apalagi sekarang hanya kami bertiga…”
Dia melirik ke arah langit.
Masih gelap.
Namun cahaya fajar… tak lama lagi akan muncul.
“Paling banyak… tiga jam tersisa…”
Zhao mengedikkan bahu.
“Itu masalah kalian.”
Nada suaranya acuh tak acuh.
“Aku tidak ingin melihat wajah terkejut istriku saat bangun nanti… melihat restoran kami hancur lagi.”
“Lagi?”
Ketiganya langsung menangkap kata itu.
Namun sebelum mereka sempat bertanya—
Tap!
Zhao sudah melompat ringan ke lantai dua.
Seolah gravitasi tidak berlaku padanya.
Dia berdiri di tepi balkon, menatap mereka dari atas.
“Ingat.”
“Selesaikan semuanya sebelum matahari terbit.”
Hening.
Lalu—
Aura itu muncul.
Tekanan membunuh yang pekat, dingin, dan mengerikan.
Seperti ribuan pedang tak kasat mata menekan tubuh mereka.
Napas mereka tersendat.
Jantung mereka seperti diremas.
“Jika tidak…”
Suara Zhao tetap tenang.
Namun justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
“Aku akan membuat Klan Wang… tinggal sejarah saja.”
DUM!
Seolah dunia runtuh.
Keringat dingin mengalir di punggung mereka.
Tidak ada yang meragukan kata-kata itu.
Tidak ada yang berani.
Zhao lalu berbalik… dan menghilang ke dalam kamar.
Seolah semuanya sudah selesai.
Tersisa tiga orang… dengan tekanan yang belum sepenuhnya hilang.
Beberapa detik berlalu.
Tak ada yang bergerak.
Hingga—
“GERAK!!” teriak Wang Jianhong tiba-tiba.
Suara itu membuyarkan kebekuan.
Mereka langsung bergerak.
Tanpa ragu.
Tanpa mengeluh.
Karena mereka tahu—
Ini bukan sekadar perintah.
Ini… ancaman nyata.
—
Di lantai dua.
Zhao membuka pintu kamarnya perlahan.
Langkahnya ringan.
Hampir tanpa suara.
Di dalam, suasana hangat menyambutnya.
Cahaya lampu minyak redup menerangi ruangan.
Dan di atas ranjang—
Seorang wanita tertidur nyenyak.
Wajahnya tenang.
Napasnya teratur.
Seolah dunia di luar… tidak pernah ada.
Zhao berdiri di sana beberapa saat.
Menatapnya.
Tatapannya… melembut.
Berbeda jauh dari sebelumnya.
Dia menghela napas pelan.
“Sebenarnya…” gumamnya lirih. “Aku tidak ingin kena omel lagi…”
Dia tersenyum tipis.
“Aku tidak sanggup… mendengar ceramah panjang lebar darinya…”
Nada suaranya… hampir seperti keluhan seorang suami biasa.
Tidak ada aura menakutkan.
Tidak ada tekanan.
Hanya… kelelahan yang sederhana.
—
Sementara itu…
Di tempat lain.
Di dalam ruangan gelap tanpa jendela.
Mad Dog masih berlutut.
Tubuhnya gemetar.
Darah menetes dari luka-lukanya.
Namun dia tidak berani bergerak.
Di hadapannya—
Sosok itu.
Siluet yang tidak jelas.
Namun auranya…
Mencekik.
Seperti jurang tanpa dasar.
Sosok itu tampak berpikir sejenak.
Lalu berbicara.
“Jadi… Sang Thunder God datang ke kota Pingxi…”
Nada suaranya pelan.
Namun setiap kata terasa berat.
“Sungguh variabel yang tak terduga…”
Dia tersenyum samar.
“Kupikir fraksi ortodoks tidak akan peduli…”
Mad Dog menunduk lebih dalam.
Tubuhnya semakin gemetar.
Dia tahu.
Setiap kata… bisa menjadi penentu hidup dan matinya.
Sosok itu tertawa pelan.
“Yah… aku tidak menyalahkan mu jika itu ulah salah satu dari Sword Saint.”
Mad Dog terdiam.
Lalu—
Napasnya terlepas.
Lega.
Seolah beban besar terangkat dari pundaknya.
“Terima kasih, Tu—”
“Namun.”
Satu kata.
Menghentikannya.
Dingin.
“Fakta bahwa kau sudah tidak berguna lagi… tidak bisa dipungkiri.”
Seperti disambar petir.
Wajah Mad Dog pucat pasi.
“Ti—tidak…!”
Dia langsung membenturkan kepalanya ke lantai.
Duk! Duk! Duk!
“Mohon ampun! Beri aku kesempatan kedua!”
“Saya… saya tidak akan melakukan kesalahan lagi!”
“Saya akan memperbaiki semuanya!”
“Saya akan kembali mengabdi pada kultus!”
Suaranya serak.
Penuh keputusasaan.
Namun—
Sosok itu hanya terkekeh.
Tawa yang ringan.
Namun menusuk.
“Kau sudah cacat, Mad Dog.”
“Dan 'DIA'… tidak membutuhkan anjing yang telah kehilangan taringnya.”
Kata-kata itu… lebih menyakitkan dari luka apa pun.
Mata Mad Dog bergetar.
Giginya bergemeletuk.
Namun dia tidak berani berhenti memohon.
Sosok itu terdiam sejenak.
Lalu—
“Aku akan mempertimbangkannya lagi… kali ini.”
Mad Dog membeku.
Lalu—
“Te-terima kasih!! Terima kasih!!” dia bersujud berkali-kali.
Namun—
Dia tahu.
Itu belum berarti dia selamat.
Itu hanya… penundaan.
Sosok itu kembali bersandar.
Nada suaranya berubah sedikit serius.
“Jadi…”
“Apa alasan Sword Saint datang ke kota Pingxi?”
Hening.
“Apakah…”
“Dia sudah mengetahui tentang makhluk itu?”
Ruangan seketika terasa lebih dingin.
Mad Dog terdiam.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Mad Dog masih berlutut, dahinya menempel pada lantai dingin yang telah ternodai darahnya sendiri. Napasnya berat, namun pikirannya berputar cepat, mencari cara untuk tetap hidup.
Dengan hati-hati, dia membuka suara.
“Tu… Tuan… menurut saya… itu tidak mungkin…”
Sosok di depannya tidak langsung menjawab.
Namun tekanan di ruangan itu… sedikit berubah.
Memberi tanda bahwa dia sedang mendengarkan.
Mad Dog menelan ludah.
“Tidak ada yang tahu tentang keberadaan makhluk itu… selain Kultus Iblis kita…”
Suaranya pelan.
Namun penuh keyakinan.
“Bahkan informasi terkecil pun… telah kami tutup rapat selama bertahun-tahun…”
Dia berhenti sejenak.
Mengatur napas.
“Menurut dugaan saya… kemunculan Wang Jianhong dan dua orang itu… hanyalah kebetulan…”
Sosok itu sedikit memiringkan kepala.
“Lanjutkan.”
Mad Dog mengangguk cepat.
“Mereka terlihat… sedang menyelidiki sesuatu di jalan utama kota…”
“Ada… sebuah kawah…”
Nada suaranya menurun.
Seolah hanya mengingatnya saja sudah cukup membuatnya tidak nyaman.
“Kawah berbentuk telapak tangan…”
“Dan… di sana… masih tersisa jejak Qi yang sangat kuat…”
Hening.
Udara seolah membeku.
Sosok itu… tertegun.
“Telapak tangan…?” gumamnya pelan.
Nada suaranya berubah.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang jarang muncul.
“Apakah… kau tahu… siapa yang membuatnya?”
Pertanyaan itu datang perlahan.
Namun beratnya… seperti gunung.
Mad Dog langsung menggeleng.
“Tidak, Tuan!”
“Saya… tidak mengingat apapun tentang itu…”
Nada suaranya tegas, tapi jujur.
“Bahkan setelah saya memeriksa seluruh kota… dan menyebarkan orang-orang untuk mencari informasi…”
“Hasilnya… nihil…”
“Seolah… kejadian itu… tidak pernah terjadi…”
Kata-kata terakhir itu… menggantung.
Membuat suasana semakin aneh.
Dan untuk pertama kalinya—
Sosok itu… gemetar.
Hanya sekilas.
Namun cukup untuk membuat jantung Mad Dog hampir berhenti berdetak.
“Teknik manipulasi ingatan…?” bisik sosok itu.
Mad Dog tersentak.
Matanya membelalak.
“Teknik… seperti itu… benar-benar ada…?”
Namun sebelum dia bisa berpikir lebih jauh—
Sosok itu menggeleng cepat.
“Tidak…”
“Tidak mungkin…”
Nada suaranya kembali stabil.
Namun masih menyisakan sedikit ketegangan.
“Teknik seperti itu… bukan teknik berskala luas…”
“Hanya bisa digunakan pada beberapa orang… dalam radius yang sangat terbatas…”
“Dan…”
Dia berhenti.
Seolah nama yang akan disebutkan… memiliki bobot tersendiri.
“Hanya segelintir orang di dunia ini yang mampu melakukannya…”
“Salah satunya…”
“Night Puppet.”
DUM!
Seolah petir menghantam langsung ke jiwa.
Tubuh Mad Dog langsung bergetar hebat.
Matanya membesar.
Pupilnya menyusut.
“Ni… Night Puppet…!?”
Nama itu—
Bukan sekadar nama.
Itu… legenda.
Bayangan.
Mimpi buruk.
Seseorang yang bahkan di kalangan Kultus Iblis… dianggap tabu untuk dibicarakan.
Makhluk yang bermain dengan ingatan manusia seperti anak kecil memainkan boneka.
Mad Dog menunduk dalam-dalam, napasnya menjadi kacau.
“Ti… tidak mungkin… dia terlibat…”
Dia bahkan tidak yakin apakah dia sedang meyakinkan sosok di depannya… atau dirinya sendiri.
Sosok itu hanya mengibaskan tangan.
Seolah menepis pikiran itu.
“Sudahlah.”
“Kita akan menyelidiki ini… lain waktu.”
Nada suaranya kembali dingin.
Pragmatis.
Tanpa emosi.
“Sekarang… kembali ke topik utama.”
Mad Dog langsung menegakkan tubuhnya sedikit.
Meski masih berlutut.
“Apakah kau sudah berhasil… mengekstrak jiwa dari makhluk itu… menjadi pil?”
Pertanyaan itu…
Lebih berat dari sebelumnya.
Mad Dog menahan napas.
“Tu… Tuan…”
“Semuanya… hampir selesai…”
“Prosesnya sudah mencapai tahap akhir…”
“Diperkirakan… hanya membutuhkan beberapa bulan lagi…”
Dia menunduk lebih dalam.
Berharap jawaban itu cukup.
Namun—
Suasana berubah.
Tekanan meningkat.
Tidak terlihat.
Namun terasa.
“Beberapa bulan…?” ulang sosok itu pelan.
Nada suaranya… jelas tidak puas.
Mad Dog langsung panik.
“Kami sudah menggunakan metode tercepat yang tersedia, Tuan!”
“Makhluk itu… terlalu kuat…”
“Jiwanya… sangat sulit untuk dimurnikan sepenuhnya…”
Namun—
“Percepat.”
Satu kata.
Namun memotong semua alasan.
“Selesaikan secepatnya.”
Nada itu tidak keras.
Tidak meninggi.
Namun… absolut.
“Karena…”
Dia berhenti sejenak.
Dan kalimat berikutnya…
Membuat darah Mad Dog membeku.
“Tak lama lagi… kota Pingxi akan hancur.”
Hening.
Benar-benar hening.
Mad Dog membeku.
Pikirannya kosong.
Hancur…?
Dia ingin bertanya.
Ingin mengetahui alasannya.
Namun—
Dia tidak berani.
Instingnya berteriak.
Jangan tanya.
Jangan cari tahu.
Karena beberapa jawaban… hanya membawa kematian.
Dengan cepat, dia menunduk lebih dalam.
“Saya mengerti, Tuan!”
“Saya akan mempercepat proses pemurnian!”
“Apa pun yang terjadi… pil itu akan selesai lebih cepat!”
Sosok itu mengangguk pelan.
“Bagus.”
Lalu dia menghela napas ringan.
“Sial…”
“Kehadiran Thunder God… membuatku khawatir tanpa alasan…”
Nada suaranya berubah sedikit kesal.
“Membuat jengkel saja…”
Mad Dog hanya diam.
Tidak berani menanggapi.
Tidak berani bahkan bernapas terlalu keras.
“Sudahlah.”
“Kita akhiri di sini.”
Cahaya dari bola kristal mulai meredup.
Namun sebelum benar-benar menghilang—
Suara itu kembali terdengar.
Dingin.
Tajam.
“Lakukan yang terbaik…”
“Jika tidak ingin dibuang… Mad Dog.”
Cahaya padam.
Siluet menghilang.
Ruangan kembali gelap.
Sunyi.
Perlahan…
Dia mengangkat kepalanya.
Matanya dipenuhi tekad yang bercampur dengan ketakutan.
Dengan suara serak namun lantang, dia berkata—
“Saya akan memberikan yang terbaik…”
“Untuk kejayaan-Nya!”