NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

surat terakhir wulan dan awal kehancuran keluarga kusuma

Melda berjalan keluar dari gedung perusahaan Kusuma tanpa menoleh sedikit pun.

Pintu kaca di belakangnya menutup perlahan, memantulkan bayangan gedung tinggi yang menjulang di atas kepalanya.

Langkahnya terlihat tenang.

Namun di dalam dadanya, badai kemarahan masih berputar tanpa henti.

Ia terus berjalan hingga mencapai trotoar di seberang jalan. Mobil lalu lalang, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, seolah tidak ada yang berubah di kota itu.

Padahal bagi Melda, semuanya telah berubah.

Selamanya.

Ia berhenti di bawah pohon tua di pinggir jalan.

Tangannya masih gemetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena emosi yang terlalu besar untuk ditahan.

Air mata akhirnya jatuh lagi, tetapi kali ini berbeda. Bukan hanya kesedihan.

Ada sesuatu yang lebih dingin.

Lebih tajam.

Dendam.

“Kak… aku akan menepati janjiku,” bisiknya.

Malam itu Melda kembali ke rumah kecil mereka.

Rumah yang sekarang terasa jauh lebih kosong.

Lampu ruang tamu menyala redup. Foto Wulan yang baru saja dipasang di meja kecil masih dikelilingi bunga putih dari para tetangga.

Melda berdiri lama di depan foto itu.

Senyum kakaknya di foto terasa seperti menusuk hatinya.

“Kakak selalu bilang hidup kita akan membaik suatu hari nanti…” katanya pelan.

Tangannya menyentuh bingkai foto itu.

“Tapi mereka merampas semuanya.”

Ia menarik napas panjang.

Kemudian berjalan menuju kamar yang dulu mereka gunakan untuk menyimpan pembukuan kedai.

Di dalam ruangan itu terdapat meja kayu, laptop lama, dan beberapa buku catatan keuangan.

Kedai kecil itu adalah hasil kerja keras mereka berdua.

Tempat yang dulu dipenuhi tawa.

Sekarang terasa seperti kenangan yang terlalu menyakitkan untuk dilihat.

Melda membuka laptop dan mulai mengetik.

Ia menulis pesan panjang kepada seseorang.

Namanya Ardi.

Teman lama Wulan yang selama ini membantu mereka mengurus beberapa urusan bisnis kecil.

Pesan itu sederhana.

Ardi, aku akan pergi dari kota ini untuk sementara waktu.

Kedai itu sekarang aku serahkan kepadamu untuk dikelola. Aku tahu kamu orang yang bisa dipercaya.

Jika suatu hari aku kembali, aku akan menjelaskannya.

Terima kasih sudah membantu kami selama ini.

Setelah menekan tombol kirim, Melda menutup laptop perlahan.

Keputusan itu terasa berat.

Namun ia tahu satu hal.

Ia tidak bisa tetap menjalani hidup biasa setelah semua yang terjadi.

Ia tidak bisa hanya membuka kedai setiap pagi, melayani pelanggan, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Sementara orang-orang yang menghancurkan hidup kakaknya masih hidup dengan nyaman.

Tidak.

Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

Malam semakin larut ketika Melda membuka lemari pakaian.

Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas besar.

Tidak banyak.

Hanya yang benar-benar dibutuhkan.

Di sela-sela pakaian itu, ia juga memasukkan buku catatan milik Wulan.

Surat terakhir itu.

Satu-satunya pengingat tentang alasan mengapa ia harus melakukan semua ini.

Ketika tas itu akhirnya tertutup, Melda duduk di tepi ranjang.

Matanya menatap ruangan itu lama.

Ini rumahnya.

Tempat yang penuh kenangan bersama kakaknya.

Namun untuk sementara waktu, ia harus meninggalkannya.

Bukan untuk melarikan diri.

Melainkan untuk mempersiapkan sesuatu.

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar tinggi, Melda berdiri di depan rumah kecil itu.

Tas besar berada di pundaknya.

Ia menoleh sekali lagi ke arah pintu.

“Kak… tunggu aku,” bisiknya.

“Aku akan memastikan mereka membayar semuanya.”

Sebuah mobil travel berhenti di ujung jalan.

Melda berjalan menuju mobil itu tanpa ragu.

Di dalam mobil, beberapa penumpang sudah duduk.

Namun tidak ada yang mengenalnya.

Tidak ada yang tahu siapa dirinya.

Tidak ada yang tahu kemarahan apa yang ia bawa keluar dari kota ini.

Mobil mulai bergerak meninggalkan kota.

Di kursinya, Melda membuka kembali buku catatan Wulan.

Matanya berhenti pada satu nama yang tertulis di sana.

Keluarga Kusuma.

Ia menutup buku itu perlahan.

Tatapannya kini berbeda.

Bukan lagi gadis biasa yang dulu membantu kakaknya menjaga kedai kecil.

Kini hanya ada satu tujuan dalam hidupnya.

Menghancurkan keluarga itu.

Namun jauh di dalam kota yang perlahan menjauh di belakangnya, Agung masih berdiri di ruang kerjanya.

Surat Wulan masih berada di tangannya.

Sejak membaca surat itu, pikirannya tidak tenang.

Ia baru saja mengetahui satu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Wulan hamil.

Dan anak itu adalah anaknya.

Tangannya mengepal.

Jika semua ini benar karena tekanan dari keluarganya sendiri…

Maka tragedi itu bukan hanya kesalahan orang lain.

Tetapi juga kesalahannya.

Agung menatap keluar jendela gedung tinggi itu.

Sementara jauh di jalan raya menuju kota lain, mobil yang membawa Melda terus melaju.

Keduanya belum tahu.

Bahwa takdir mereka akan kembali bertabrakan.

Dan ketika hari itu tiba…

Bukan hanya satu keluarga yang akan hancur.

Melainkan seluruh kehidupan yang selama ini mereka kenal.

Perjalanan menuju kota berikutnya terasa panjang bagi Melda.

Mobil travel yang ditumpanginya melaju menembus jalan antar kota yang sepi. Para penumpang lain sebagian tertidur, sebagian sibuk dengan ponsel mereka. Tidak ada yang memperhatikan perempuan yang duduk di dekat jendela dengan tatapan kosong.

Melda memandang keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.

Di pangkuannya, buku catatan milik Wulan masih berada di sana.

Tangannya perlahan membuka halaman terakhir lagi.

Tulisan tangan kakaknya yang sedikit bergetar kembali terlihat jelas.

Keluarga Kusuma.

Nama itu seperti luka yang tidak berhenti berdarah.

Melda menarik napas panjang dan menutup buku itu.

Ia tidak boleh hanya dipenuhi emosi.

Dendam saja tidak cukup untuk menghancurkan keluarga sebesar Kusuma.

Ia harus menjadi sesuatu yang lebih kuat.

Lebih cerdas.

Lebih berbahaya.

Mobil travel berhenti di sebuah rest area kecil.

Beberapa penumpang turun untuk membeli makanan atau sekadar meregangkan tubuh.

Melda ikut turun.

Udara pagi terasa dingin di kulitnya.

Ia berdiri di dekat pagar pembatas sambil menatap jalan raya yang panjang.

Di tempat baru nanti, ia harus memulai sesuatu.

Belajar.

Mengumpulkan informasi.

Mengetahui bagaimana keluarga Kusuma bekerja.

Siapa saja yang berada di dalam lingkaran mereka.

Dan yang paling penting… kelemahan mereka.

“Balas dendam tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru,” gumamnya pelan.

Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Mobil itu terlihat mahal dan mencolok di rest area kecil tersebut.

Seorang pria keluar dari mobil itu.

Tinggi, berpakaian rapi, dengan ekspresi dingin yang sulit ditebak.

Pria itu sempat berhenti ketika melihat Melda.

Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik.

Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa aneh dalam pandangan pria itu.

Seolah ia mengenali Melda.

Melda segera memalingkan wajahnya.

Ia tidak ingin menarik perhatian siapa pun.

Namun saat ia hendak kembali ke mobil travel, suara pria itu terdengar dari belakang.

“Melda?”

Langkah Melda langsung berhenti.

Tubuhnya menegang.

Ia perlahan berbalik.

Dan jantungnya seperti berhenti berdetak.

Pria itu berdiri hanya beberapa langkah darinya.

Tatapan tajamnya sekarang jelas tertuju pada Melda.

Melda mengenali wajah itu.

Meskipun hanya pernah melihatnya di beberapa foto berita bisnis.

Putra kedua keluarga Kusuma.

Raka Kusuma.

Pria itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Jadi benar kamu,” katanya pelan.

Melda merasakan darahnya berdesir panas.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

Orang yang ia benci.

Orang yang keluarganya menghancurkan hidup kakaknya.

Sekarang berdiri tepat di depannya.

Namun kalimat berikutnya dari Raka membuat Melda membeku.

“Aku sudah mencarimu sejak kemarin.”

Melda menatapnya tajam.

“Mencariku?”

Raka mengangguk pelan.

Tatapannya menjadi lebih serius.

“Karena kematian Wulan… bukan hanya rahasia keluargaku.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Dan jika kamu benar-benar ingin menghancurkan keluarga Kusuma…”

Matanya menatap lurus ke arah Melda.

“Aku mungkin satu-satunya orang yang bisa membantumu.”

Angin pagi terasa semakin dingin.

Melda tidak berkata apa-apa.

Namun satu hal tiba-tiba ia sadari.

Balas dendam yang ia rencanakan mungkin akan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

Dan permainan ini… baru saja dimulai.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!