Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah dari pemakaman, Naya dan Rebecca langsung menuju apartemen milik Rebecca. Tanpa mengobrol banyak, keduanya membersihkan diri, berganti pakaian, lalu kembali keluar seolah tidak ingin berlama-lama berada di satu tempat.
Perjalanan berikutnya berlangsung dalam diam, hingga akhirnya mobil yang dikendarai Rebecca berhenti di parkiran sebuah restoran.
“Nay, kita beli makan malam dulu,” ujar Rebecca santai.
Naya yang sempat ingin protes langsung mengerutkan kening. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Rebecca menambahkan,
“Makannya di mobil. Kamu nggak perlu khawatir ada yang bakal ngenalin kamu.”
Naya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Baiklah,” gumamnya. Hanya sekedar membeli makan dan kembali ke mobil, sepertinya itu masih baik-baik saja.
Setelah memastikan topi dan masker menutupi wajahnya dengan baik, Naya keluar dari mobil. Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam restoran dengan tujuan hanya untuk membeli makanan dan segera pergi.
Namun, tepat di ambang pintu—
Bruk.
Naya tanpa sengaja menabrak seseorang.
Tubuhnya sedikit oleng, dan sebelum ia sempat mengucapkan maaf, sesuatu lebih dulu menghentikannya.
Aroma.
Hidungnya menangkap wangi yang begitu familiar, aroma maskulin dengan sentuhan citrus yang khas. Wangi yang belakangan ini terlalu sering ia ingat, bahkan tanpa sadar.
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Itu…
Wangi milik Lucio.
Sial.
Dari sekian banyak restoran di kota ini, kenapa harus di tempat yang sama?
Dan dari sekian banyak cara, kenapa mereka harus bertemu melalui insiden seklise ini?
Naya menegang di tempat, nafasnya tertahan sejenak. Dan otak Naya selalu buntu di saat-saat seperti ini, ia hanya bisa berdiri membatu.
“Naya?”
Suara berat itu terdengar rendah, memanggil dengan ritme tenang yang begitu khas, cara yang selalu digunakan Lucio saat menyebut namanya.
Tubuh Naya menjadi lebih kaku.
“Uhm… sorry?” jawabnya cepat, berusaha mengubah suaranya agar terdengar berbeda. Sedikit lebih tinggi, sedikit lebih asing.
Di sampingnya, Rebecca tak kalah tegang. Jantungnya ikut berpacu. Keberadaan pria ini, terlalu berbahaya, bahkan baginya.
Dia harus segera membawa Naya pergi dari sini.
“Naya? kamu Naya?” suara Lucio kembali terdengar, kali ini lebih yakin. Tangannya hampir terulur, seolah ingin memastikan langsung.
Namun sebelum itu terjadi, Rebecca dengan sigap menarik tangan Naya menjauh.
“Maaf, Sir. Ini adik saya, Bianca,” ucap Rebecca cepat, berusaha terdengar santai meskipun suaranya sempat tersendat.
Lucio menatap mereka lekat, tidak sepenuhnya percaya.
“Tuan, kita harus kembali ke mansion. Ada banyak hal yang harus diselesaikan,” ujar Mario yang baru saja keluar dari dalam restoran, pria yang selalu berwajah datar itu agak kaget melihat Lucio berbicara dengan dua orang wanita di pintu restoran.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Rebecca.
“Ayo, Nenek sudah menunggu kita di rumah,” katanya sambil menarik Naya masuk lebih dalam ke restoran, melewati Lucio begitu saja.
Naya tidak berani menoleh.
Ia hanya bisa merasakan tatapan itu tajam, dalam, seolah berusaha menembus penyamarannya.
“Tuan…”
Mario menatap heran Lucio yang masih berdiri diam, matanya mengikuti punggung wanita bertopi itu hingga menghilang dari pandangan.
“Dia mirip Naya,” gumam Lucio pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Mario terdiam. Ia menatap Lucio dengan rasa prihatin yang sulit disembunyikan.
Ia tahu kehilangan ini bukan hal yang mudah.
Namun tetap saja, ada kekhawatiran yang perlahan muncul di benaknya.
Mungkinkah Tuan Lucio mulai kehilangan kendali? Mungkinkah kesedihan ini membuatnya melihat bayangan Nyonya Naya di setiap wanita yang ditemuinya? Batin Mario menghela nafas pelan.
Lucio melemparkan pandangan terakhir ke dalam restoran, sorot matanya tajam seolah masih berusaha menangkap sesuatu yang terlewat. Namun setelah beberapa kali dipanggil oleh Mario, ia akhirnya berbalik dan melangkah menuju mobil.
Pintu mobil tertutup pelan, dan kendaraan itu segera meninggalkan area parkiran.
“Huft…”
Di dalam restoran, Naya akhirnya bisa mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun saat ia memberanikan diri menoleh ke belakang.
Lucio benar-benar sudah pergi.
“Itu… momen paling berbahaya dalam hidupku, Nay,” ujar Rebecca dengan nada sedikit dramatis, tangannya masih menekan dadanya yang berdebar kencang.
Naya mendengus pelan, meski ia sendiri masih belum sepenuhnya tenang.
“Dramatis banget,” gumamnya. “Ayo, kita harus cepat.”
Mereka berdua segera berjalan menuju kasir. Meski berusaha terlihat biasa saja, langkah mereka tetap sedikit tergesa.
Beberapa kali Naya tanpa sadar melirik ke arah pintu masuk, seakan khawatir Lucio akan tiba-tiba kembali.
Rebecca pun sama, sesekali menoleh ke belakang dengan waspada.
Akhirnya mereka memesan beberapa makanan, dan bergegas pergi.
Saat mobil Rebecca meninggalkan restoran, Lucio yang mengamati dari seberang jalan memberi perintah pada Mario.
“Saya ingin kamu menyelidiki kedua wanita itu, saya masih merasa aneh dengan mereka.”
“Baik Tuan.”
Meski tidak mengerti dengan perintah Lucio yang terkesan aneh, Mario tetap mengiyakan perintah tersebut.
...***...