NovelToon NovelToon
King Mafia Di Zaman Kuno

King Mafia Di Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: BUBBLEBUNY

Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.

Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Menuju Puncak, Ikatan yang Tak Terpisahkan

Mendengar pengakuan tulus yang meluncur begitu lembut namun memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan dari mulut putranya itu, seulas senyum hangat di wajah lelaki di singgasana itu semakin melebar, menerangi seluruh wajahnya yang agung. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini perlahan dipenuhi oleh cahaya kebahagiaan dan kedamaian yang begitu mendalam, seakan beban berat yang selama ini ia pikul di pundaknya tiba-tiba lenyap begitu saja. Selama bertahun-tahun, satu-satunya kekhawatiran terbesar dan hal yang paling membuatnya resah adalah melihat putranya tumbuh menjadi sosok yang sedingin es, tertutup dari dunia, dan seolah tidak membutuhkan siapa pun. Ia selalu khawatir anaknya akan menjalani hidupnya dalam kesepian, tanpa ada seseorang yang benar-benar mengerti dan menemani hati yang sebenarnya sunyi itu. Namun kini, melihat pemandangan indah di hadapannya, melihat bagaimana Ye Chen akhirnya membuka hatinya dan menemukan seseorang yang begitu setia, rasa cemas itu lenyap seketika. Hatinya yang tadinya terasa berat dan penuh tanda tanya, kini akhirnya terasa begitu ringan, hangat, dan penuh dengan kebahagiaan yang tak terhingga.

"Bagus... Sangat bagus, Chen'er." Ucapnya pelan, suaranya bergema penuh ketulusan dan kelegaan yang mendalam.

"Mendengar kata-katamu itu, Ayah akhirnya bisa tenang sepenuhnya. Kau telah menemukan separuh jiwamu, dan dia telah menemukan dunianya. Itu adalah takdir terindah yang bisa kalian miliki." Ujarnya dengan mata yang berbinar, seolah melihat sebuah takdir indah yang telah tertulis sempurna.

"Jaga dia baik-baik, Nak. Hargai setiap detik waktu yang kalian lewati bersama. Di dunia yang keras dan kejam ini, memiliki seseorang yang mau menerima kau apa adanya, yang mau berbagi suka dan duka, adalah anugerah terbesar yang bisa dimiliki oleh seorang pendekar." Ujarnya dengan nada bijak yang penuh pengalaman, suaranya terdengar sangat tulus dan menyentuh hati.

"Jadikan dia ratu di sisimu, dan biarkan dia menjadi kekuatan terbesarmu. Bersama-sama, tidak ada rintangan yang terlalu sulit, dan tidak ada puncak yang terlalu tinggi untuk kalian daki." Tambahnya lagi dengan penuh harapan dan restu yang murni dari lubuk hati terdalam.

"Dan ingatlah, cinta dan kesetiaan itu adalah fondasi yang paling kuat. Selama kalian saling percaya dan saling melindungi, bahkan langit sekalipun tidak akan mampu menahan langkah kalian." Ucapnya dengan tegas, seolah memberkati jalan yang akan mereka tempuh dengan kekuatan doa yang dahsyat.

"Pergilah, Nak. Bangunlah masa depan kalian, dan tunjukkan pada dunia betapa hebatnya kekuatan yang lahir dari sebuah cinta yang murni. Ayah akan selalu mendukung dan mendoakan kalian dari sini." Lanjutnya dengan suara yang tegas namun penuh kasih sayang, memberikan restu terakhir bagi perjalanan mereka.

Setelah puas menatap putranya dengan penuh kasih sayang, pria di singgasana itu perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya kini jatuh tepat ke arah sosok gadis muda yang masih berdiri dengan sopan, menundukkan kepalanya dalam-dalam di samping Ye Chen. Suaranya yang tadi terdengar tegas dan berwibawa kini berubah drastis, menjadi sangat lembut, hangat, dan penuh ketenangan, namun di balik kelembutan itu tetap terpancar aura agung yang tak terhingga dan tak tersentuh, layaknya seorang ayah yang sedang berbicara dengan putrinya sendiri.

"Xiao Ling, dengarkan Ayah baik-baik." Ucapnya dengan suara yang lembut namun berwibawa.

"Kau telah menerima hati dan kepercayaan putraku sepenuhnya. Jagalah dia, dukunglah dia, dan berjalanlah bersamanya menuju puncak tertinggi dunia. Ayah merestui hubungan kalian sepenuhnya. Mulai saat ini, kau bukan lagi sekadar murid... kau adalah calon penerus dan nyawa dari klan ini." Tegasnya, memberikan status yang setara dan mulia bagi Xiao Ling.

"Kau tidak lagi perlu merasa rendah diri atau asing di sini. Seluruh harta, kekuatan, dan kehormatan klan ini... mulai hari ini juga menjadi milikmu sama rata." Ujarnya dengan tegas, mengangkat derajat gadis itu setinggi langit.

"Jagalah hatinya yang dingin agar tetap hangat, dan jadilah pelipur lara saat ia lelah menaklukkan dunia. Bersamamu, Chen'er akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dan bersamanya, kau akan menjadi sosok yang paling disegani di bawah langit." Lanjutnya dengan nada yang penuh harapan dan keyakinan akan masa depan mereka berdua.

"Terimalah restu ini sebagai bukti bahwa kau adalah bagian dari keluarga kami, selamanya." Pungkasnya dengan senyum hangat, memberikan pengakuan mutlak yang tak tergoyahkan.

Mendengar restu yang begitu agung dan berat itu, pertahanan diri Xiao Ling akhirnya runtuh sepenuhnya. Air mata haru yang sejak tadi ia tahan akhirnya tak sanggup lagi ditahan. Butiran bening itu menetes membasahi pipinya yang masih merona, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan, melainkan air mata kebahagiaan dan rasa syukur yang meluap-luap. Dia membungkukkan badannya semakin dalam, hampir menyentuh lantai, menunjukkan rasa hormat dan bakti yang tak terhingga.

"Terima kasih... Terima kasih, Yang Mulia..." Isaknya pelan namun penuh rasa syukur, suaranya bergetar hebat menahan haru.

"Hamba berjanji akan selalu setia, akan selalu mendampingi dan melindungi Yang Mulia Ye Chen dengan seluruh nyawa hamba... sampai akhir hayat hamba!" Serunya dengan tekad yang bulat dan suci.

"Kehidupan hamba adalah miliknya, dan kematian hamba pun adalah miliknya. Ke mana pun takdir membawanya, ke sana pula langkah hamba akan menuju. Tidak ada ragu, tidak ada takut, dan tidak ada penyesalan sedikit pun di hati hamba." Ujarnya dengan suara yang tegas namun penuh cinta, seolah mengucapkan sumpah setia yang abadi.

"Hamba akan berusaha menjadi wanita yang layak berdiri di sisinya, menjadi pendamping yang setara, dan menjadi alasan terbesar bagi kebahagiaannya. Hamba tidak akan pernah mengecewakan kepercayaan dan restu yang Yang Mulia berikan." Lanjutnya dengan air mata yang terus mengalir, namun wajahnya bersinar penuh tekad yang membara.

Suasana di dalam Aula Utama itu kini dipenuhi oleh kehangatan dan cinta yang begitu kental, meluluhlantakkan segala tembok dingin dan jarak yang biasanya ada di antara para penguasa besar. Ye Chen menoleh perlahan ke arah gadis di sampingnya. Tatapan mereka bertemu. Di mata Ye Chen, tidak ada lagi dinginnya sang Kaisar Kegelapan, hanya ada lautan cinta dan ketulusan yang dalam. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu dengan lembut menggenggam tangan kecil Xiao Ling yang dingin. Sentuhan itu menyatu sempurna, sepasang tangan yang kini telah bersumpah untuk tidak akan pernah melepaskan satu sama lain.

"Baiklah... Jika urusan hati sudah selesai dibahas, sekarang saatnya kita kembali ke urusan duniawi." Ucap ayah Ye Chen memecah keheningan yang hangat itu, kembali menyatukan kedua tangannya di depan dada, wajahnya kembali memancarkan wibawa agung dan serius.

"Ayah mengizinkan kalian berangkat ke Sekte Langit. Bahkan, Ayah mendukung sepenuhnya rencanamu itu." Ujarnya dengan tegas, memberikan izin sekaligus dukungan penuh bagi langkah putranya.

"Dunia persilatan kini sedang bergejolak, Chen'er. Banyak kekuatan baru yang bermunculan dengan ambisi yang tak terbatas, dan banyak juga sekte tua yang mulai menunjukkan taringnya mereka kembali untuk merebut pengaruh. Keseimbangan mulai goyah, dan kehadiranmu di sana sangat dibutuhkan untuk menjaga ketertiban dan menegakkan keadilan." Lanjutnya menjelaskan situasi terkini dengan nada bijaksana dan penuh wawasan.

"Lagi pula..." Ucapnya pelan, seulas senyum misterius kembali terukir di wajahnya, seolah ada rencana besar yang sudah ia bayangkan.

"Sudah waktunya dunia melihat siapa sebenarnya Xiao Ling. Sudah waktunya mereka gemetar menyadari bahwa di sisi Dewa Perang mereka, kini berdiri seorang Ratu Pedang yang tak kalah mengerikannya. Biarkan mereka tahu bahwa menantang kalian berdua sama saja dengan menggali kuburan sendiri." Tegasnya dengan nada yang bangga dan sedikit menakutkan.

"Persiapkan dirimu besok pagi. Ayah akan mengirimkan pengawal elit terbaik untuk mengawal perjalanan kalian, meski Ayah tahu... dengan kekuatan kalian berdua saat ini, bahkan ribuan pasukan sekalipun pun takkan berani mendekat atau menghalangi langkah kalian." Ujarnya santai, menunjukkan keyakinan mutlak terhadap kemampuan mereka berdua.

"Terima kasih, Ayah." Ucap Ye Chen dengan senyum tipis yang tulus dan hangat.

"Kami akan berangkat pagi buta sebelum matahari terbit. Dan kami berjanji... akan membawa nama besar klan ini semakin bersinar, menerangi seluruh penjuru langit dan bumi!" Serunya dengan penuh semangat dan keyakinan yang membara.

Langit baru saja mulai memutih, menyisakan sisa-sisa kegelapan malam yang perlahan undur diri digantikan oleh cahaya fajar yang lembut namun penuh harapan. Di depan gerbang utama kediaman klan yang megah, sebuah kereta kencana yang ditarik oleh dua ekor kuda putih legendaris telah siap menanti, namun kendaraan mewah itu seolah hanya menjadi hiasan belaka. Namun, Ye Chen dan Xiao Ling tidak memilih untuk naik ke dalamnya. Mereka berdiri tegak di atas hamparan rumput hijau yang luas, membelakangi seluruh tetua dan pengawal yang datang mengantar keberangkatan mereka dengan rasa hormat yang tinggi. Ye Chen mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat yang disulam dengan benang emas berkilauan di sekeliling tepinya, membuatnya tampak gagah, dingin, namun memancarkan pesona yang tak tertahankan layaknya seorang kaisar kegelapan. Di sampingnya, berdiri Xiao Ling dengan balutan jubah putih bersih yang dipadukan dengan aksen biru kristal yang dingin, mencerminkan kepribadiannya yang kini telah setajam es namun seindah bidadari yang turun dari kayangan.

"Kita berangkat, Xiao Ling." Ucap Ye Chen lembut, namun suaranya jelas terdengar sampai ke telinga gadis itu, tenang namun penuh kekuatan.

"Ya, Guru..." Jawabnya pelan dengan suara yang bergetar manis. Lalu, dengan keberanian yang baru ia dapatkan, dia menyandingkan tangannya dan melingkarannya di lengan kekar Ye Chen, menempelkan tubuhnya dengan dekat dan nyaman, seakan menyatakan kepemilikan dan kesetiaannya di depan semua orang.

"Hari ini... hamba tidak lagi ingin menjadi bayangan yang mengikuti dari belakang." Bisiknya pelan hanya untuk didengar Ye Chen.

"Hamba ingin berdiri setara, menjadi cahaya yang menyinari jalanmu bersama-sama." Bisiknya lirih, penuh keyakinan dan cinta yang tak tergoyahkan.

"Tepat sekali." Ujarnya pelan dengan suara yang dalam dan berwibawa.

"Kau bukan lagi bayanganku, Xiao Ling. Kau adalah matahariku. Dan mulai hari ini... kita akan berjalan bahu-membahu, menjadi satu kesatuan yang tak akan bisa dikalahkan oleh siapa pun." Lanjutnya penuh keyakinan, menguatkan tekad gadis itu sepenuhnya.

Tindakan itu membuat para tetua dan pengawal yang melihat tersenyum-senyum sendiri dan mengangguk setuju. Hubungan mereka kini tidak lagi perlu disembunyikan. Mereka adalah sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk bersama, sepasang pendekar yang akan mengguncang seluruh alam semesta. Tidak ada lagi jarak antara murid dan guru, hanya dua jiwa yang telah menyatu menjadi satu.

"Dahulu, aku membawamu kemari dengan tangan kosong, dalam keadaan terluka, rapuh, dan penuh air mata." Ucap Ye Chen tiba-tiba sambil menatap ke kejauhan, ke arah cakrawala yang mulai terang benderang.

"Namun hari ini, aku akan membawamu pergi dengan kekuatan penuh, membawa serta seluruh dunia di telapak tangan kita. Tidak ada yang berani meremehkanmu lagi, dan tidak ada yang berani menyakitimu sedikit pun." Ujarnya dengan nada yang bangga dan penuh protektif.

"Ke mana pun kita melangkah, itu akan menjadi jalan kita. Apa pun yang menghalangi... akan kita tebas habis tanpa ampun." Lanjutnya dengan tatapan dingin yang memancarkan aura mematikan.

"Aku siap, Yang Mulia. Ke ujung dunia pun aku akan ikut tanpa ragu sedikit pun. Asal ada kau di sisiku, tidak ada yang perlu aku takutkan. Bahkan jika neraka sekalipun yang menanti, aku akan melangkah bersamamu." Jawab Xiao Ling mantap, matanya bersinar penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"HAH!" Seru Ye Chen singkat, suaranya meledak bagaikan guntur, membangkitkan energi yang dahsyat.

Dengan gerakan yang begitu anggun namun penuh kekuatan, Ye Chen melompat tinggi ke udara. Xiao Ling ikut terbang bersamanya, tubuh mereka melayang ringan bagaikan burung bangau yang bebas mengangkasa. Angin pagi menerpa wajah mereka, seakan memberi semangat bagi petualangan baru yang menanti.

"PERGI!!" Teriak mereka berdua serentak, suaranya bergema membelah langit dan mengguncang bumi.

"Biarkan angin membawa kita menaklukkan cakrawala!" Seru Ye Chen dengan penuh semangat yang membara.

"Dan biarkan dunia gemetar menyambut kedatangan kita!" Lanjut Xiao Ling dengan suara yang kini tak lagi lembut, melainkan tajam dan dingin bagaikan pedang.

Beberapa hari perjalanan yang ditempuh dengan kecepatan kilat akhirnya membawa mereka semakin dekat dengan tujuan. Di kejauhan, mulai terlihat pemandangan yang luar biasa megah. Deretan pegunungan yang menjulang tinggi hingga menembus awan putih, dengan bangunan-bangunan kuno yang megah tersusun rapi di setiap lereng dan puncaknya. Kabut tipis menyelimuti lembah, menciptakan pemandangan yang bagaikan negeri di atas awan. Itulah Sekte Langit, salah satu kekuatan terbesar dan paling bergengsi di dunia persilatan!

"Kita sudah sampai, Xiao Ling." Ucap Ye Chen sambil memperlambat kecepatannya, kini mereka melayang perlahan di udara, tepat di depan gerbang utama sekte yang dijaga ketat.

"Akhirnya... kita tiba di tempat di mana segalanya akan dimulai." Gumam Xiao Ling pelan, napasnya terasa tertahan melihat kemegahan yang terbentang di hadapannya.

"Tempat yang dulu hanya bisa dilihat dari cerita orang lain... kini akan menjadi panggung bagi hamba." Bisiknya lirih, matanya mulai memancarkan cahaya tajam dan dingin.

"Hari ini, hamba tidak lagi datang sebagai gadis kecil yang rapuh. Hamba datang sebagai Ratu yang siap menaklukkan segalanya bersamamu, Yang Mulia." Lanjutnya dengan penuh keyakinan, seluruh aura kepolosan dirinya kini berganti menjadi keagungan yang mematikan.

Melihat dua sosok asing melayang di udara dengan aura yang begitu menekan, para penjaga gerbang yang biasanya galak dan sombong itu seketika menegakkan tubuh mereka. Mereka bisa merasakan bahaya yang luar biasa, namun juga keagungan yang tak terlukiskan.

"Berhenti! Siapa kalian?! Ini adalah wilayah suci Sekte Langit! Tidak sembarang orang boleh masuk!" Teriak salah satu penjaga dengan suara keras, meski tangannya terlihat gemetar mencengkeram gagang pedangnya.

"Ini adalah wilayah terlarang! Turun dan tunjukkan identitas kalian atau kami akan bertindak tegas!" Teriak penjaga lainnya, berusaha terlihat garang meski kakinya terasa lemas.

"Jangan bergerak sembarangan! Aura kalian sangat mencurigakan! Jika kalian adalah musuh, ketahuilah bahwa Sekte Langit tidak akan takut!" Teriak yang satu lagi dengan suara bergetar, mencoba mengerahkan keberanian yang tersisa.

"Turun sekarang juga dan berlutut memohon izin jika kalian ingin hidup! Jangan mencoba menantang kekuasaan kami di sini!" Timpal mereka serentak, meski tubuh mereka sudah dingin bagaikan es karena tekanan yang luar biasa.

Namun, Ye Chen tidak menoleh sedikit pun. Dia hanya melambaikan tangannya dengan santai ke udara. Sebuah medali emas bercahaya terlempar keluar, berputar di udara dan memancarkan aura yang begitu familiar dan menakutkan bagi seluruh anggota Sekte Langit. Itu adalah lambang Pemimpin Sekte!

"Ya-Yang Mulia Pemimpin...?! Apakah itu anda?!" Teriak mereka histeris, air mata hampir keluar karena tidak percaya bahwa sosok legendaris mereka yang telah pergi bertahun-tahun kini telah kembali!

"Buka gerbang!" Suara Ye Chen terdengar dingin dan berwibawa, memancarkan otoritas mutlak.

"Pemimpin Sekte telah kembali!" Seru para penjaga itu dengan suara gemetar namun penuh hormat kepada seluruh penjuru sekte.

"SIAP!!" Seru mereka serentak dengan suara gemetar namun penuh ketaatan mutlak, seakan perintah itu adalah hukum alam yang tak bisa dilanggar.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia! Seluruh Sekte Langit telah menanti kehadiran Anda!" Teriak para tetua yang sudah menunggu di dalam, wajah mereka bersinar penuh harap.

"Kami telah merindukan kehadiran Yang Mulia! Keadilan akan kembali tegak di dunia ini!" Teriak para murid dengan antusiasme yang membara.

Ye Chen berdiri tegak di halaman utama, matanya menyapu sekeliling dengan tatapan yang tajam dan mendalam. Dia kembali ke tempat di mana namanya diukir dengan darah dan kemenangan. Dan kali ini, dia tidak datang sendirian. Perlahan, dia menoleh ke samping, menatap gadis yang setia menggenggam lengannya itu. Tatapan dinginnya meleleh menjadi lautan cinta yang dalam. Dia melihat masa depannya, kekuatannya, dan kebahagiaannya terpantul jelas di mata Xiao Ling.

"Selamat datang di rumah barumu, Xiao Ling. Mulai hari ini... dunia akan gemetar di bawah kaki kita!" Ucapnya lantang, memberikan janji agung yang akan mengubah sejarah dunia persilatan selamanya.

"Dan biarkan mereka tahu... bahwa Ratu Pedang telah resmi naik ke singgasana bersamaku!" Ujarnya lantang dan penuh keyakinan, suaranya bergema megah dan penuh otoritas, menandai dimulainya era baru bagi dunia persilatan.

"Aku siap, Yang Mulia!" Jawabnya tegas, suaranya jernih dan memancarkan aura tajam yang tak kalah mengerikannya.

"Bersamamu, aku akan menjadi pedang yang paling tajam dan perisai yang paling kuat. Siapa pun yang berani menantang kita... akan hancur lebur oleh kekuatan kita berdua!" Ujarnya dengan suara dingin dan mematikan, seakan sedang merapalkan sebuah hukuman mati bagi musuh-musuh mereka.

"Dan mulai hari ini... tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani meremehkan nama Xiao Ling!" Serunya lirih namun penuh tekad yang membara, menyambut awal mula kejayaan mereka yang sesungguhnya.

"Aku akan membuktikan pada dunia... bahwa aku pantas berdiri di sini, pantas memanggilmu milikku, dan pantas disebut sebagai Ratu yang sejati!" Ujarnya dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan, mengukir takdirnya sendiri.

"Kita berdua... akan menjadi legenda terbesar yang pernah ada di sepanjang sejarah!" Lanjutnya dengan mata yang bersinar liar, penuh semangat dan cinta yang tak terbatas.

1
Fajar Fathur rizky
thor mau tanya ranah Kultivasi ada berapa ranah
BUBBLEBUNY: oh itu ada 6
total 3 replies
BUBBLEBUNY
Bener 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
sekte Hua Shan sedang mengali kubur sendiri🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
baru singgah.. keren thor ceritanya.
BUBBLEBUNY: bagus kalo suka dengan ceritanya
total 1 replies
BUBBLEBUNY
betul 👍
🌹Widian,🧕🧕🌹
ohhh ternyata Ye tianhong adalah ayahnya Ye. Chen ?
BUBBLEBUNY
sabar masih permulaan
🌹Widian,🧕🧕🌹
sekte iblis, tapi pemimpinnya masih punya rasa kemanusiaan..... gimana inih ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!