Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15 — Rekaman Kebenaran
Pagi belum sepenuhnya terbit ketika Dimas dan Digo tiba di kantor polisi. Langit berwarna abu-abu pucat, seperti kertas tua yang siap diisi ulang—atau dirobek. Dimas menggenggam ponselnya erat-erat di saku jaket, seakan benda kecil itu bisa lenyap jika ia lengah. Di dalamnya tersimpan suara yang selama dua puluh lima tahun dibungkam.
“Mas,” ujar Digo pelan dari kursi rodanya, “kita benar-benar melakukan ini?”
Dimas mengangguk. “Sekarang. Kalau terlambat, kita habis.”
Mereka masuk. Petugas jaga memandang ragu ketika Dimas menyebut kasus pembantaian lama. “Kasus itu sudah ditutup,” katanya datar. “Pelaku tidak ditemukan.”
“Ada bukti baru,” jawab Dimas tegas. “Rekaman pengakuan.”
Kata rekaman mengubah segalanya. Mereka diminta menunggu di ruang kecil berlampu neon. Waktu merambat lamban. Dimas menatap jam dinding, detiknya terdengar terlalu keras. Di luar, langkah kaki bolak-balik—hiruk pikuk yang kontras dengan beban yang mereka bawa.
Seorang perwira muda masuk, memperkenalkan diri singkat, lalu memutar rekaman. Ruangan itu membeku. Kalimat Marco—dingin, rapi—mengisi udara. “Kita sudah membantai keluarganya… Malam ini ketiganya harus mati.”
Ketika rekaman berhenti, perwira itu menarik napas panjang. “Ini serius,” katanya. “Tapi kita perlu verifikasi. Saksi. Jejak lain.”
Dimas mencondongkan tubuh. “Dia menyebut lokasi, rencana, pembagian tim. Itu cukup untuk penggerebekan.”
Perwira itu mengangguk, lalu berkata, “Ada seseorang yang perlu mendengar ini.”
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi. Seorang lelaki tua masuk dengan langkah pelan namun mantap. Rambutnya memutih, wajahnya berkerut, namun sorot matanya tajam—mata seseorang yang terlalu lama hidup dengan kasus yang belum selesai.
“Nama saya Arman,” katanya, suaranya serak namun tegas. “Purnawirawan. Dulu saya memegang kasus pembantaian keluarga Brawijaya.”
Dimas berdiri refleks. “Bapak—”
“Duduk,” potong Arman lembut. “Mari kita dengar bersama.”
Rekaman diputar ulang. Arman memejamkan mata sepanjang pemutaran, seperti mendengarkan gema masa lalu. Saat selesai, ia membuka mata—basah, namun berkilat oleh tekad.
“Suara itu,” katanya pelan. “Saya kenal gaya bicaranya. Dingin. Terstruktur. Saya pernah mencurigai Marco… tapi tak pernah punya cukup bukti. Keluarga menutup diri. Saksi menghilang. Tekanan datang dari mana-mana.”
Digo menunduk. “Kami anak-anak, Pak.”
“Aku tahu,” jawab Arman. “Dan aku gagal melindungi kalian.”
Hening menyelimuti ruangan. Dimas merasakan amarah dan kelegaan bercampur—akhirnya ada seseorang yang mengakui kegagalan itu.
Arman menatap Dimas lurus. “Rekaman ini kunci. Tapi kunci perlu pintu. Kita harus cepat. Marco sudah bergerak.”
“Apa yang Bapak sarankan?” tanya Dimas.
“Pengamanan keluarga,” jawab Arman tanpa ragu. “Dan operasi senyap. Jangan bocor.”
Perwira muda mengangguk. “Kami bisa siapkan tim. Tapi perlu koordinasi.”
“Biarkan saya,” kata Arman. “Saya masih punya utang pada kasus ini.”
Mereka menyusun rencana dengan cepat. Alamat, waktu, jalur masuk. Arman mencoret-coret peta, menandai titik rawan. “Listrik,” katanya. “Mereka akan mematikan. Siapkan genset. Dan satu tim khusus untuk Marco.”
Dimas menelan ludah. “Aluna?”
“Tempatkan aman,” jawab Arman. “Rumah sakit jiwa sementara. Dengan pengamanan. Dia saksi kunci—dan target.”
Digo menggeleng pelan. “Dia tidak mau.”
Dimas menatap kakaknya. “Ini satu-satunya cara.”
Siang itu, mereka kembali ke rumah. Dimas berlutut di depan Aluna, menjelaskan dengan suara paling lembut yang ia punya. “Alun, Mas perlu kamu aman. Cuma sebentar.”
Aluna memeluk bros kupu-kupunya. “Mas ikut?”
“Mas menyusul,” janji Dimas. “Digo juga.”
Ia mengangguk kecil, meski matanya berkabut. “Jangan lama,” bisiknya.
Sania—perawat yang dulu memberi petunjuk—menjemput dengan mobil. Ia tidak banyak bertanya. Tatapannya tegas, profesional. “Aku jaga dia,” katanya pada Dimas. “Sampai kalian bilang aman.”
Dimas mengangguk, rasa terima kasih mengendap di dadanya.
Malam turun lagi, tapi kali ini dengan rencana. Dimas kembali ke kantor polisi, berdiri di samping Arman saat tim bergerak. Radio berdesis, kode-kode singkat mengalir. Jantung Dimas berdebar—takut, marah, dan harap berkelindan.
“Ini untuk keluarga kalian,” kata Arman pelan. “Dan untuk kebenaran.”
Dimas menatap layar pemantau. Rekaman kebenaran telah membuka pintu yang lama terkunci. Di luar sana, roda keadilan mulai berputar—terlambat, mungkin. Tapi akhirnya bergerak.
Dan apa pun yang terjadi malam ini, satu hal pasti:
kebenaran tidak lagi sendirian.