Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Kamar VIP Rumah Sakit Mount Sinai terasa begitu pengap, meski pendingin udara telah disetel ke suhu terendah. Danesha Smith terbaring dengan wajah yang hampir tidak bisa dikenali. Rahangnya dipasangi penyangga, hidungnya dibalut gips, dan satu matanya membengkak biru keunguan. Setiap kali ia mencoba menarik napas, rasa nyeri menusuk dari tulang rusuknya yang retak akibat hantaman brutal Fharell di parkiran kampus tadi siang.
Namun, di balik rasa sakit fisik yang luar biasa itu, ada sebuah kesimpulan gila yang mengakar kuat di dalam otaknya. Kesimpulan yang lahir dari narsisme dan obsesi yang sudah mencapai tahap psikosis.
Fharell Desmon... kau begitu emosional, batin Danesha dengan seringai pedih di sudut bibirnya yang pecah. Pukulanmu tadi bukan pukulan seorang suami yang marah. Itu adalah pukulan pria yang sedang ketakutan. Kau takut karena aku akhirnya mengetahui rahasia besar itu. Kau takut aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.
Baginya, kemarahan Fharell yang meledak-ledak adalah konfirmasi mutlak. Jika Andreas bukan anaknya, kenapa Fharell harus menghajarnya sampai kalap? Kenapa Fharell harus berteriak di depan media seolah-olah sedang menutupi sesuatu? Dalam delusi Danesha, Andreas Sunny adalah benih yang ia tanam di rahim Paroline sepuluh tahun lalu, dan Fharell hanyalah penjaga yang beruntung.
Pintu kamar terbanting terbuka. Tuan Smith masuk dengan langkah yang menggetarkan lantai. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar memegang tablet yang masih memutar video viral pemukulan anaknya.
"LIHAT DIRIMU!" suara Tuan Smith menggelegar, membuat perawat yang baru saja ingin masuk langsung berbalik arah karena takut. "Kau adalah pewaris Smith Company! Kau adalah pria yang kuharapkan bisa memimpin dinasti ini! Tapi apa ini?! Kau dihajar seperti samsat oleh seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun!"
Danesha mencoba duduk, namun rasa nyeri di rusuknya membuatnya kembali terkapar. "Ayah... ini tidak seperti yang terlihat..."
"TIDAK SEPERTI APA?!" Tuan Smith melempar tablet itu ke atas ranjang Danesha. "Seluruh dunia melihatmu tersungkur di aspal, memohon ampun di bawah kaki Fharell Desmon! Kau bahkan tidak membalas satu pukulan pun! Apa ini hasil dari kau keluar-masuk klub malam selama bertahun-tahun? Apa alkohol sudah merusak refleksmu sampai kau tidak bisa melawan bocah ingusan?"
Tuan Smith mondar-mandir di ruangan itu seperti harimau lapar. "Memalukan! Benar-benar memalukan! Dan yang lebih menjijikkan adalah alasan di balik semua ini. Kau menguntit istri orang? Kau mengejar Paroline Benedicta lagi? Wanita yang sudah berkali-kali meludahi wajahmu?"
Danesha menatap ayahnya dengan mata yang berkilat aneh. Ia mengabaikan rasa sakit di rahangnya dan mencoba bicara dengan suara yang sengau karena balutan gips di hidungnya.
"Ayah... kau tidak mengerti," bisik Danesha. "Paroline... dia menyembunyikan anakku."
Tuan Smith berhenti melangkah. Ia menatap putranya dengan tatapan seolah Danesha baru saja menumbuhkan dua kepala. "Apa kau bilang? Anakmu? Kau sudah benar-benar gila, Danesha! Paroline menikah dengan Fharell dan membawa anak itu sebagai bagian dari keluarganya! Apa kau pikir dunia ini adalah drama televisi?!"
"Dia hamil saat Kuliah tahun pertama, Ayah!" Danesha bersikeras, suaranya naik satu oktav meski ia harus meringis kesakitan. "Ingat saat dia menghilang beberapa tahun lalu? Dia tidak pergi untuk sekolah atau berlibur. Dia pergi untuk melahirkan Andreas! Dia menyembunyikannya karena dia membenciku, karena dia tahu aku tidak akan melepaskannya jika aku tahu ada darah dagingku di rahimnya!"
Tuan Smith terdiam, bukan karena percaya, tapi karena ia menyadari betapa parahnya kerusakan mental anaknya. "Danesha... kau butuh psikiater, bukan dokter bedah plastik. Kau sangat terobsesi pada Paroline sampai kau mengarang cerita bahwa anak orang lain adalah anakmu."
"Lihat hidungnya, Ayah! Lihat rahangnya!" Danesha berteriak parau, air mata frustrasi menetes dari matanya yang bengkak. "Andreas adalah seorang Smith! Paroline hanya menggunakan Fharell sebagai pelindung karena dia tahu keluarga Desmon punya kekuasaan untuk menjauhkan anak itu dariku. Tapi aku tidak akan membiarkannya! Aku akan merebut putraku... dan aku akan membawa Paroline kembali kepadaku. Dia harus membayar karena telah membohongiku selama ini!"
Tuan Smith memijat pelipisnya. Ia melihat anaknya bukan lagi sebagai penerus, melainkan sebagai beban yang sangat berbahaya. "Dengar, Danesha. Jika kau berani menyentuh keluarga Desmon lagi, aku sendiri yang akan mencoret namamu dari daftar ahli waris. Fharell sudah menghancurkan setengah dari lini bisnis kita di pesisir barat dalam dua bulan. Kau ingin kita bangkrut total hanya karena imajinasimu tentang seorang balita?"
"Itu bukan imajinasi!" Danesha memukul pinggiran ranjang rumah sakit. "Aku akan membuktikannya. Aku akan mendapatkan DNA anak itu. Dan saat hasil itu keluar, Fharell Desmon akan hancur. Dia akan tahu bahwa dia hanyalah ayah pengganti untuk anak yang diciptakan oleh pria yang paling dia benci."
Danesha memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota Los Angeles dengan kebencian yang mendalam. Di pikirannya, ia sudah membayangkan hari di mana ia memenangkan hak asuh, hari di mana ia mengusir Fharell dari kehidupan Paroline, dan hari di mana ia akhirnya bisa memiliki wanita yang selama ini hanya bisa ia sentuh dalam mimpi buruknya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang menggali kuburannya sendiri. Ia tidak tahu bahwa Paroline bahkan tidak pernah tidur dengannya, dan Andreas adalah anak Sania, wanita yang pernah ia khianati demi mengejar bayangan Paroline.
Danesha tetap pada kesimpulannya, Fharell emosi karena Fharell takut. Dan bagi Danesha, rasa takut Fharell adalah bukti kemenangan yang ia tunggu-tunggu.
"Tunggu aku, Andreas... Tunggu aku, Paroline," bisik Danesha pelan, suaranya hilang di balik suara mesin monitor jantung yang berbunyi teratur di samping tempat tidurnya.
Sementara itu, di kediaman Desmon, Fharell sedang membersihkan sisa darah di buku jarinya, sama sekali tidak menyadari bahwa bogem mentahnya tadi justru memberikan amunisi baru bagi kegilaan Danesha Smith.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰