NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Setelah mengambil minum, Naya segera kembali menuju kamarnya. Gelas di tangannya masih ia genggam erat. Namun, saat ia hendak menaiki tangga menuju lantai dua, langkahnya terhenti.

Ardan baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya.

Pria itu tampak sangat terkejut saat melihat Naya berdiri di sana. Tatapannya berubah seketika.

Ada apa dengannya?

Naya mengeratkan pegangannya pada gelas di tangannya, lalu tanpa ingin berlama-lama, ia segera melangkah naik.

“Naya,” panggil Ardan, cepat menyusulnya.

Langkahnya panjang, dan dalam hitungan detik ia sudah berada di hadapan Naya, sengaja menghalangi jalannya di pertengahan anak tangga.

“Minggir, Ardan,” ketus Naya, mencoba terdengar tegas.

Namun tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia gemetar hebat.

Ketakutannya terhadap Ardan masih begitu nyata.

Bayangan kejadian sebelumnya kembali berputar di kepalanya, cara Ardan menatapnya, cara pria itu memperlakukannya.

Pikiran-pikiran buruk mulai merayap masuk. Bagaimana kalau dia mencoba melakukan hal yang sama seperti sebelumnya?

Naya menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya, meskipun jantungnya kini berdegup semakin cepat.

“Kita harus bicara—”

“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi,” potong Naya cepat. Tanpa ingin berlama-lama, ia mencoba berjalan melewati Ardan.

Namun pria itu kembali menghalangi jalannya, berpindah ke arah yang sama, seolah tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja.

“Mari kita perbaiki hubungan kita,” ucap Ardan tanpa ragu.

Naya terdiam.

Ucapan itu membuatnya nyaris tidak percaya. Setelah semua yang Ardan lakukan padanya, setelah semuanya pria itu masih punya keberanian untuk mengatakan hal seperti itu.

Naya menggeleng pelan, matanya mulai memanas.

“Nggak ada yang perlu diperbaiki,” katanya tegas. “Karena sejak awal kita memang nggak pernah benar-benar ada. Kita hanya sebuah keterpaksaan.”

“Kita bukan keterpaksaan, Nay,” bantah Ardan cepat, nada suaranya mulai meninggi.

Naya mengepalkan tangannya erat, kukunya hampir menancap ke telapak. Ia berusaha menahan diri, menahan semua kata-kata yang sebenarnya ingin ia lontarkan.

Ia tahu.

Ia tahu tentang Ardan dan Rima.

Tapi entah kenapa, menyebutkannya sekarang terasa seperti membuka luka yang belum sempat benar-benar sembuh.

“Biarkan aku lewat, Ardan. Ini sudah malam, aku mau tidur,” ucap Naya. Ia mencoba menyelip ke sisi kanan, namun Ardan dengan cepat menggeser kakinya, kembali menghalangi jalan.

“Kita harus memperbaiki hubungan kita,” kekeuh Ardan, berdiri tegak tidak akan mundur sebelum mereka benar-benar bicara.

“Aku tidak mau,” balas Naya sengit. "Minggir atau aku telepon Lucio?”

Ancaman itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Dan hasilnya langsung terlihat.

Begitu nama Lucio disebut, ekspresi Ardan berubah. Ada kilasan ragu bahkan takut yang sempat muncul di wajahnya. Tanpa banyak bicara, ia segera menyingkir, memberi jalan.

Naya tidak membuang waktu. Ia segera melangkah melewatinya, menaiki tangga dengan cepat tanpa menoleh sedikitpun.

Bagus.

Sepertinya Lucio memang melakukan sesuatu pada Ardan hingga pria itu bereaksi seperti itu.

Namun Naya tidak peduli. Saat ini, satu-satunya hal yang ia inginkan hanyalah menjauh sejauh mungkin dari Ardan.

Sesampainya di kamar, Naya langsung masuk dan menutup pintu dengan cepat, lalu menguncinya rapat.

Ia bersandar di balik pintu, nafasnya masih belum beraturan. Barulah setelah beberapa detik, ia benar-benar merasa aman.

*

Hari itu, Naya sengaja bangun sangat pagi. Ia berencana untuk segera pulang setelah sarapan. Semalam, ia sudah mengabari Lucio tentang rencananya, tetapi hingga kini pesan itu belum juga dibaca, apalagi dibalas.

Mungkin Lucio sedang sibuk.

Naya memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Setelah mengeringkan rambutnya, ia turun ke lantai dasar dengan langkah santai, lalu menuju ruang makan.

Suasana masih sepi. Belum ada siapa-siapa di sana, bahkan sarapan pun belum tersaji. Beberapa pelayan terlihat sibuk di dapur, menyiapkan hidangan pagi.

Naya duduk di kursi yang biasa ia tempati. Namun belum sempat ia bersantai, matanya menangkap sesuatu yang janggal di atas meja makan yaitu sebuah plastik kecil yang seharusnya tidak berada di sana.

“Apa ini?” gumamnya pelan.

Rasa penasaran mendorongnya untuk mengambil benda itu. Sebelum memeriksanya, ia melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikan.

Dengan hati-hati, Naya membuka plastik kecil tersebut dan mengamatinya lebih dekat.

“Tidak ada bau,” gumamnya lagi, sempat mencium isinya sekilas.

Namun saat ia mendengar langkah kaki mendekat dari arah dapur, Naya buru-buru meletakkan kembali plastik itu ke tempat semula, seolah tidak pernah menyentuhnya.

Ia segera berdiri, lalu bergerak cepat ke belakang lemari penyimpanan yang tidak jauh dari meja makan. Ia bersembunyi di sana, dorongan curiga membuatnya memilih untuk mengamati dari jauh.

Dari celah sempit, Naya mengintip ke arah meja makan.

Tak lama kemudian, Lice keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup yang masih mengepulkan uap panas. Ia meletakkan mangkuk itu di atas meja dengan hati-hati.

“Maafkan saya, Nona,” gumam Lice pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.

Naya menajamkan penglihatannya, mengamati lebih jelas apa yang dilakukan oleh Lice.

Ia melihat dengan jelas saat Lice mengambil plastik kecil tadi, membukanya, lalu menuangkan isinya ke dalam sup tersebut.

Jantung Naya berdegup kencang.

Apa yang dia lakukan?

Kenapa dia memasukkan sesuatu ke dalam makanan itu?

Pikiran Naya mulai kacau, sulit mencerna apa yang baru saja ia lihat.

Beberapa detik kemudian, Lice kembali ke dapur seolah tidak terjadi apa-apa.

Tanpa berpikir panjang, Naya keluar dari tempat persembunyiannya. Ia langsung menuju tempat sampah dan mengobrak-abrik isinya, mencari plastik kecil tadi.

Beruntung, Lice hanya membuangnya begitu saja.

Naya mengambil bungkus plastik itu, lalu menyimpannya ke dalam saku celananya.

Tatapannya kembali tertuju pada mangkuk sup di atas meja.

“Eh—”

Lice tersentak kaget saat mendapati Naya sudah duduk di meja makan. Di tangannya ada nampan berisi buah-buahan segar. Keterkejutannya hanya berlangsung sesaat sebelum ia buru-buru menenangkan diri.

“Selamat pagi, Nona,” sapanya, berusaha terdengar biasa.

“Pagi, Lice,” balas Naya tenang. Namun matanya jeli mengamati setiap gerakan wanita itu, termasuk tangan Lice yang tampak sedikit gemetar saat meletakkan buah di hadapannya.

“Ini sup kesukaan Nona. Saya sengaja membuatkannya khusus untuk Nona,” ujar Lice, mendorong mangkuk sup itu lebih dekat ke arah Naya.

Jadi sup ini untuknya.

Tatapan Naya jatuh pada isi mangkuk itu. Sup wortel dengan paha ayam? benar, itu memang makanan favoritnya sejak kecil.

Namun kini, semua itu tidak lagi terasa biasa.

Bayangan beberapa menit lalu kembali terlintas di kepalanya.

Bubuk yang dituangkan ke dalam sup itu, kenapa Lice melakukan hal itu?

Ingatan Naya langsung melompat pada percakapan di ruang kerja tadi malam antara ayahnya, Lice, dan Ardan.

“Kamu harus memberikannya malam ini,”

Jantung Naya berdegup semakin cepat. Apa mungkin yang dimaksud ayahnya adalah bubuk ini?

Tapi kenapa harus diberikan padanya?

Dan apa sebenarnya bubuk itu?

“Selamat pagi, Kak Naya!”

Suara ceria Rima memecah lamunan Naya. Gadis itu sudah tampil rapi dan modis meskipun masih pagi, sudah siap untuk menjalani harinya dengan baik.

“Pagi, Rima,” jawab Naya, memaksakan senyum tipis.

Beberapa saat kemudian, hidangan sarapan mulai disajikan satu per satu di atas meja. Aneka menu memenuhi meja makan, menciptakan suasana yang tampak hangat dan sempurna.

Tak lama, Tuan Tuqman dan Irania juga bergabung.

Pagi itu, meja makan terasa lengkap, seperti keluarga pada umumnya.

Namun bagi Naya terasa berbeda.

“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Irania lembut pada Tuan Tuqman.

“Seperti biasa,” jawab pria itu singkat.

Tanpa banyak bicara, Irania segera mengambilkan sarapan untuk suaminya. Gerakannya cekatan dan penuh perhatian.

Di sisi lain, Rima yang duduk di samping Naya hanya memakan roti tawar. Ia mengunyah pelan, sesekali menyeruput air putih.

“Biar tetap fit,” katanya ringan saat menyadari Naya memperhatikannya. “Aku nggak mau kelebihan lemak.”

Memang, menjaga bentuk tubuh adalah hal yang paling Rima banggakan dari dirinya.

Sementara itu, Naya masih diam di tempatnya. Tatapannya tidak lepas dari mangkuk sup di depannya, sup yang seharusnya terasa menenangkan, tapi kini justru menimbulkan rasa takut yang sulit dijelaskan.

“Kenapa supnya cuma dilihat saja, Nay?” tanya Tuan Tuqman tiba-tiba.

“Iya, Pa,” Naya tersenyum kaku. Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu terdengar seperti sebuah dorongan yang menakutkan.

Ia buru-buru menggeleng dalam hati.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin ayahnya melakukan hal seperti itu.

“Benar, Kak Naya,” sambung Rima dari samping. “Sekarang kan Kakak sudah jarang di sini. Jadi kalau pulang, setidaknya harus menikmati makanan kesukaan sendiri.”

Naya menelan ludah.

Tatapan Tuan Tuqman masih tertuju padanya, menunggunya makan.

Dengan tangan sedikit gugup, Naya akhirnya meraih sendok. Ia menyendok sup itu perlahan, mengangkatnya ke bibir, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Saat sepotong kecil daging paha ayam menyentuh lidahnya, Naya sempat melihat sekilas senyum tipis yang terukir di wajah ayahnya.

Namun…

Belum sempat ia mengunyah dengan sempurna, penglihatannya tiba-tiba mengabur.

Kepalanya terasa berat.

Sangat berat.

Sendok di tangannya terlepas.

Dan dalam hitungan detik, tubuhnya kehilangan kendali.

Naya terkulai ke depan, kepalanya jatuh menghantam meja, hampir mengenai mangkuk sup di hadapannya.

Segalanya menjadi gelap.

...***...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!