NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24: Garis Biru yang Mati

Deru mesin helikopter Little Bird kini terasa seperti detak jantung yang sedang sekarat. Di bawah kami, permukaan laut hitam memantulkan cahaya bulan yang pecah tertiup gelombang. Saint Mary kini hanya tinggal cahaya kemerahan di cakrawala belakang, sebuah monumen kegagalan manusia yang menganggap tembok beton bisa menahan evolusi kematian.

Aku melirik indikator bahan bakar. Jarumnya sudah bergetar di bawah garis merah. Logikaku berkata bahwa dalam kurang dari sepuluh menit, mesin ini akan mati dan kami akan menjadi peti mati logam yang tenggelam di Samudera Pasifik.

"Zidan, lenganku... rasanya panas," bisik Kurumi.

Aku menoleh sesaat. Kurumi duduk bersandar di kursi penumpang, wajahnya pucat di bawah lampu indikator kabin yang berkedip. Perban di lengannya mulai basah oleh cairan bening kebiruan—bukan darah merah biasa.

"Efek racun dari cakar Crawler elit itu mulai bekerja," kataku, mencoba menjaga suaraku tetap datar meski ada desakan aneh di dadaku. "Logikanya, virus di Saint Mary sudah bermutasi lebih jauh. Mereka tidak hanya menginfeksi, mereka merusak jaringan saraf secara instan."

"Apa aku akan... berubah?" Kurumi menatapku dengan mata yang mulai sayu.

"Tidak selama aku masih memegang kendali," jawabku tegas. "Tahan sedikit lagi. Aku melihat sesuatu di depan."

Di radar jangkauan pendek, sebuah titik besar muncul. Bukan pulau, tapi sesuatu yang terbuat dari besi. Aku menajamkan pandangan menembus kaca depan yang retak. Itu adalah sebuah kapal tanker raksasa yang tampak terombang-ambing tanpa lampu navigasi. Namanya, The Eternal Hope, tertulis samar di lambungnya yang berkarat.

"Ironis," gumamku. "Harapan Abadi di tengah lautan kematian."

Aku melakukan pendaratan darurat. Begitu mesin helikopter mati tepat saat roda menyentuh dek kapal yang licin, sunyi yang mencekam langsung menyergap. Hanya ada suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal dan derit logam yang bergesekan.

Aku segera melompat keluar dan membantu Kurumi turun. Dia hampir terjatuh jika aku tidak menangkap pinggangnya. Tubuhnya terasa panas, demamnya meningkat dengan sangat cepat.

"Zidan, tinggalkan saja aku di helikopter... kalau aku berubah, kamu tidak akan sempat..."

"Diam, Kurumi. Menyerah adalah tindakan paling tidak logis yang bisa dilakukan manusia," aku memotong kalimatnya. Aku menyampirkan lengannya di bahuku dan membawanya menuju pintu palka utama.

Kapal tanker ini terasa seperti kota hantu terapung. Koridor-koridornya sempit, gelap, dan berbau minyak mentah yang bercampur dengan aroma logam berkarat. Aku memegang HK416 dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menopang tubuh Kurumi.

Kami menemukan ruang medis di dek tengah. Ruangannya berantakan, lemari obat terbuka lebar, namun beruntung lampu daruratnya masih menyala redup. Aku membaringkan Kurumi di atas meja operasi yang dingin.

"Dengarkan aku," kataku sambil membongkar tas medis yang tadi dicuri Kurumi. "Aku akan melakukan debridemen pada lukamu. Aku harus membuang jaringan yang terinfeksi sebelum racunnya mencapai aliran darah utama. Ini akan sangat sakit, dan aku tidak punya anestesi yang cukup."

Kurumi menggenggam tanganku erat. Jarinya yang gemetar terasa sangat panas di kulitku. "Lakukan saja. Aku percaya padamu. Lebih baik sakit karena pisau kamu daripada kehilangan kesadaran karena virus itu."

Aku mengambil pisau bedah, mensterilkannya dengan alkohol murni. Logikaku bekerja seperti mesin; aku harus fokus pada anatomi, bukan pada wajah wanita yang ada di depanku. Aku mulai menyayat jaringan biru yang membusuk di lengannya.

Kurumi berteriak tertahan, menggigit bibirnya hingga berdarah. Air mata mengalir di pipinya, tapi dia tidak menarik tangannya. Aku terus bekerja, membuang setiap inci daging yang tampak terkontaminasi. Setiap detik terasa seperti jam.

Setelah selesai, aku menyuntikkan antibiotik dosis tinggi yang kami ambil dari gudang Saint Mary. Aku membalut lukanya dengan perban bersih, lalu menyeka keringat di dahinya dengan kain basah.

"Selesai. Kamu berhasil melewati fase kritisnya," kataku, suaraku sedikit lebih rendah dari biasanya.

Kurumi terengah-engah, matanya perlahan terbuka. "Terima kasih... Zidan. Kamu... kamu menyelamatkanku lagi."

"Aku hanya melindungi asetku," jawabku, mencoba kembali ke benteng logikaku yang mulai retak. "Istirahatlah. Aku harus memeriksa keamanan kapal ini. Sebuah tanker sebesar ini tidak mungkin kosong tanpa alasan."

Aku meninggalkan Kurumi di ruang medis yang terkunci dari dalam dan mulai menjelajahi bagian lain dari The Eternal Hope. Kapal ini sepi, terlalu sepi. Tidak ada mayat, tidak ada jejak perjuangan. Hanya ruangan-ruangan kosong yang tertata rapi.

Logikaku berbisik: Jika tidak ada orang dan tidak ada zombi, maka ada sesuatu yang lebih buruk.

Aku sampai di ruang kemudi atau bridge. Di sana, semua sistem tampak aktif secara autopilot. Namun, ada sebuah rekaman video yang berputar secara repetitif di monitor utama. Aku menekannya.

Seorang pria dengan seragam kapten muncul di layar. Wajahnya penuh luka cakaran, tapi bukan dari zombi. Cakarannya rapi, seperti bekas siksaan manusia.

"Siapa pun yang menemukan kapal ini... jangan pergi ke palka bawah. Kami pikir kami bisa membawa 'subjek' itu ke pulau terpencil untuk penelitian. Kami salah. Dia tidak butuh menggigit untuk menginfeksi. Dia hanya butuh... suaranya."

Suara? Logikaku langsung teringat pada nyanyian frekuensi rendah si Pemimpin di Puncak Frost.

Tiba-tiba, suara statis terdengar dari interkom kapal. Bukan suara mesin, tapi sebuah melodi yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, namun membuat bulu kudukku berdiri. Melodi itu seperti senandung seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya, tapi nadanya melenceng, sumbang, dan terasa mengiris saraf.

Aku segera berlari kembali ke ruang medis. Pikiranku hanya tertuju pada Kurumi. Jika makhluk itu ada di kapal ini dan menggunakan suara sebagai media infeksi, Kurumi yang sedang lemah adalah target utama.

Aku menendang pintu ruang medis hingga terbuka. Kurumi masih di sana, tapi dia tidak lagi terbaring. Dia berdiri di depan jendela bulat palka, menatap ke arah laut lepas dengan tatapan kosong. Dia tidak menoleh saat aku masuk.

"Kurumi? Apa yang kamu lakukan? Kembali ke tempat tidur!" perintahku.

Dia perlahan berbalik. Wajahnya tidak lagi pucat karena demam, tapi ekspresinya sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dioperasi tanpa bius.

"Zidan... dengarkan," bisiknya. "Suaranya sangat indah. Dia bilang... di bawah sana, tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi logika yang melelahkan. Hanya ada keheningan."

"Kurumi, sadarlah! Itu manipulasi auditori!" aku mendekat dan memegang bahunya, mengguncangnya dengan keras. "Lihat aku! Gunakan logikamu! Itu virus yang mencoba mengambil alih sistem limbikmu!"

Kurumi menatapku, dan sesaat, kilatan kesadaran kembali di matanya. "Zidan... tolong... hentikan suaranya... di kepalaku... itu sakit..."

Dia jatuh berlutut, memegangi telinganya.

Aku harus menemukan sumber suara itu. Dan logikaku berkata, sumbernya ada di palka bawah, di tempat yang dilarang oleh kapten tadi.

"Tetap di sini. Gunakan headset ini, putar musik apa saja dengan volume maksimal! Jangan dengarkan apa pun dari interkom!" aku memasangkan headset helikopter ke telinganya dan menyetel radio statis yang berisik.

Aku keluar dari ruang medis, HK416 siap di tangan. Aku menuruni tangga menuju bagian terdalam kapal tanker ini. Suhu di bawah sini jauh lebih dingin, dan bau minyak mentah semakin pekat. Di depan pintu palka utama yang terbuat dari baja tebal, aku melihat tanda peringatan: BIOHAZARD - LEVEL 5.

Aku membuka pintu itu secara manual. Di dalamnya, tidak ada monster raksasa. Yang ada hanyalah sebuah tangki kaca raksasa yang sudah pecah. Dan di tengah ruangan, duduk seorang gadis kecil dengan rambut putih panjang. Dia memunggungi pintu, mengenakan gaun putih yang sudah compang-camping.

Senandung itu berasal darinya.

"Berhenti," kataku, mengarahkan senapan ke punggungnya. "Atau aku akan menghentikannya secara permanen."

Gadis itu berhenti bersenandung. Dia perlahan menoleh. Wajahnya cantik, namun matanya tidak memiliki pupil—hanya warna putih susu yang bercahaya redup.

"Manusia... yang tidak bisa mendengar nyanyianku," suaranya terdengar langsung di dalam kepalaku, bukan lewat telinga. "Logikamu... sangat berisik. Seperti mesin yang berkarat."

"Siapa kamu? Atau lebih tepatnya, eksperimen apa kamu?" tanyaku dingin.

"Aku adalah jawaban dari kegagalan kalian. Kalian menciptakan virus untuk memperpanjang hidup, tapi kalian takut pada hasilnya. Aku adalah evolusi yang sempurna. Aku tidak butuh darah, aku butuh kesadaran."

Gadis itu berdiri. Saat dia bergerak, lantai baja di bawahnya mulai bergetar. "Temanmu... yang ada di atas... dia sudah menjadi milikku. Sel punca dalam darahnya sudah merespons frekuensiku. Kamu hanya masalah waktu."

Logikaku bekerja cepat. Jika dia adalah sumber frekuensi, maka dia adalah pusat saraf dari seluruh zombi yang ada di radius ini—termasuk yang di Saint Mary. Jika aku membunuhnya sekarang, mungkin semua kekacauan ini akan berhenti. Tapi jika aku salah, aku hanya akan melepaskan virus murni ke udara.

"Kamu pikir aku akan membiarkanmu mengambilnya?" aku menarik pelatuk.

RATATATAT!

Peluru meluncur, tapi sebelum mencapai tubuh gadis itu, peluru-peluru itu berhenti di udara seolah menabrak dinding yang tidak terlihat, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi denting yang sia-sia.

"Logika fisik tidak berlaku di sini, Zidan," gadis itu tersenyum kecil. "Tapi aku suka kamu. Kamu punya tekad yang kuat. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"

"Aku tidak bernegosiasi dengan kegagalan laboratorium."

"Bahkan jika itu untuk menyelamatkan Kurumi? Dia sedang sekarat di atas sana. Jika aku berhenti sekarang, sel virus di tubuhnya akan mati, dan dia akan sembuh total. Jika tidak... dalam sepuluh menit, dia akan menjadi bonekaku yang paling indah."

Rahangku mengeras. Logika anti-naif-ku sedang diuji pada titik terberatnya. Jika aku membunuhnya (jika bisa), Kurumi mati. Jika aku membiarkannya, Kurumi selamat tapi aku menjadi budak atau pengikut makhluk ini.

"Apa maumu?" tanyaku, suaraku terdengar seperti parutan logam.

"Bawa aku ke daratan seberang. Saint Mary sudah jatuh, tapi ada tempat di utara, sebuah laboratorium tua yang memiliki pemancar frekuensi global. Bawa aku ke sana, dan temanmu akan tetap menjadi manusia."

Aku terdiam. Menyelamatkan satu orang dengan risiko mengorbankan seluruh dunia yang tersisa. Secara logika, itu adalah pilihan yang sangat buruk. Tapi, melihat ke belakang pada semua yang telah kulalui bersama Kurumi... logikaku memberikan jawaban yang mengejutkan.

"Aku akan membawamu," kataku. "Tapi jika kamu menyentuh pikirannya lagi, aku akan meledakkan kapal ini bersama kita berdua di dalamnya. Aku punya cukup bahan bakar dan granat untuk memastikan tidak ada satu pun selmu yang tersisa."

Gadis itu tertawa, suara tawa yang jernih namun hampa. "Sepakat, Zidan. Mari kita berlayar menuju akhir dunia yang lama."

Aku kembali ke dek atas dengan perasaan berat. Aku menemukan Kurumi sudah sadar sepenuhnya, headset masih di telinganya. Dia tampak jauh lebih baik, demamnya hilang.

"Zidan! Kamu kembali! Apa yang terjadi di bawah?" dia berlari dan memelukku erat.

Aku membalas pelukannya, namun mataku menatap ke arah pintu palka tempat gadis kecil itu akan segera muncul.

"Kita punya penumpang baru, Kurumi," kataku pelan. "Dan perjalanan kita... baru saja menjadi jauh lebih rumit."

Logikaku berkata aku baru saja membuat kesepakatan dengan iblis. Tapi hatiku, yang selama ini kusembunyikan di balik dinding es, berbisik bahwa selama Kurumi masih bisa tersenyum, aku akan menghadapi neraka sekalipun.

The Eternal Hope mulai bergerak perlahan, membelah samudera menuju utara. Di atas dek, fajar mulai menyingsing, namun bagiku, ini adalah awal dari kegelapan yang lebih pekat.

Catatan Penulis:

Chapter 24 memperkenalkan musuh yang jauh lebih berbahaya: "Subjek E", gadis kecil dengan kekuatan psikis yang mampu mengendalikan virus lewat suara. Zidan terjebak dalam dilema moral antara menyelamatkan Kurumi atau dunia. Bagaimana Kurumi akan bereaksi saat tahu siapa penumpang baru mereka? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!