NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

BAB 27: Perjamuan Megah di Atas Altar Kebohongan

Musim semi di Berlin telah mencapai puncaknya. Bunga-bunga cherry blossom Eropa bermekaran di sepanjang jalan Unter den Linden, namun aromanya kalah telak oleh parfum-parfum mahal yang memenuhi udara di sekitar Katedral Berlin (Berliner Dom). Hari ini, sejarah sedang ditulis dengan tinta emas dan darah yang membeku. Pernikahan Aurelius Renzo von Hohenzollern dan Sophia von Sophia digelar, sebuah perhelatan yang oleh media internasional dijuluki sebagai "Pernikahan Terbesar Abad Ini".

Di belahan bumi lain, beberapa hari sebelum keberangkatan ke Berlin, sebuah pergeseran tektonik terjadi di kediaman Tanaka di Tokyo.

Kabar tentang keretakan rumah tangga Hana Asuka dan Kaito Tanaka telah menjadi konsumsi publik yang panas. Para pemegang saham mulai mempertanyakan stabilitas kepemimpinan Hana jika kehidupan pribadinya hancur. Tekanan itu mencapai titik didih ketika Daichi Asuka, ayah Hana, meneleponnya dengan nada mengancam: "Jika kau kehilangan Kaito, kau kehilangan dukungan finansial Tanaka Tech. Jangan hancurkan apa yang sudah kita bangun hanya karena perasaan konyolmu."

Malam itu, Hana berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap cincin berlian di jari manisnya. Ia tahu, jika ia terus menolak Kaito, rahasia hatinya akan terbongkar. Ia harus membuktikan pada dunia—dan pada agen-agen intelijen Hohenzollern yang ia tahu selalu mengawasinya—bahwa ia telah sepenuhnya berpaling dari Aurelius.

Saat Kaito masuk ke kamar dengan wajah lesu yang sudah menjadi kebiasaannya, Hana tidak lagi memunggunginya. Ia berbalik, mengenakan jubah sutra tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.

"Kaito," panggil Hana, suaranya lembut namun bergetar oleh kepedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Kaito berhenti, matanya membelalak tak percaya. "Hana? Kau... kau belum tidur?"

Hana mendekat, meletakkan tangannya di dada Kaito. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang kencang—detak jantung pria yang tulus mencintainya. Hana memejamkan mata, membayangkan wajah Aurelius di balik kelopak matanya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah pengorbanan terakhir demi martabat mereka berdua.

"Maafkan aku karena selama ini begitu dingin," bisik Hana. "Malam ini... aku milikmu sepenuhnya."

Malam itu, Hana menyerahkan tubuhnya. Ia melakukannya dengan mata tertutup, membiarkan Kaito menyentuh kulitnya yang selama ini ia jaga sebagai kuil suci bagi Ren. Setiap sentuhan Kaito terasa seperti duri yang merobek jiwanya, namun ia tetap mendesah, memberikan sandiwara kenikmatan yang sempurna agar suaminya percaya. Ia mengorbankan sisa harga diri fisiknya untuk menutupi kebenaran hatinya.

Berlin, Hari Pernikahan.

Katedral Berlin tampak seperti benteng cahaya. Ribuan bunga lili putih dan mawar merah menghiasi setiap sudut altar. Tamu-tamu yang hadir bukan lagi sekadar pengusaha; mereka adalah raja, ratu, presiden, dan pemilik bank sentral dunia.

Aurelius berdiri di depan altar. Ia mengenakan seragam militer kebesaran Hohenzollern berwarna biru tua dengan medali emas yang berkilauan di dadanya. Wajahnya tampak seperti patung marmer—sempurna, tampan, namun dingin dan tak bernyawa. Ia tidak menoleh saat pintu katedral terbuka.

Sophia masuk dengan gaun pengantin yang ekornya sepanjang sepuluh meter, disangga oleh enam pengiring pengantin. Perutnya yang sedikit membuncit disamarkan dengan sangat cerdik oleh potongan gaun empire waist. Ia tersenyum dengan kemenangan yang meluap-luap. Ia telah memenangkan pria ini, ia telah memenangkan takhta ini.

Namun, perhatian massa mendadak terpecah saat pintu samping VIP terbuka untuk tamu-tamu kehormatan terakhir.

Hana Asuka melangkah masuk, menggandeng lengan Kaito Tanaka dengan sangat erat. Hana mengenakan gaun haute couture berwarna merah darah yang sangat mencolok di antara dominasi warna putih di ruangan itu. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, menunjukkan aura seorang wanita yang baru saja merebut kembali gairah hidupnya.

Hana tersenyum cerah pada Kaito. Ia sesekali membisikkan sesuatu di telinga suaminya, membuat Kaito tertawa kecil dan mengecup kening Hana di hadapan kamera wartawan global. Mereka memperlihatkan kemesraan yang begitu intens, seolah-olah rumor keretakan rumah tangga mereka hanyalah sampah belaka.

Aurelius, yang sedang menunggu Sophia di depan altar, secara tidak sengaja melirik ke arah kursi tamu kehormatan.

Matanya bertemu dengan mata Hana.

Aurelius melihat Hana tertawa bersama Kaito. Ia melihat cara Kaito mengusap pinggang Hana dengan posesif, dan cara Hana menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

Hati Aurelius hancur untuk kedua kalinya, namun kali ini rasa sakitnya bercampur dengan amarah yang mendidih. Ia merasa seperti dikhianati secara fisik. Ia tahu, dari cara Hana bergerak dan aura yang dipancarkannya, bahwa Hana telah menyerahkan dirinya pada pria itu. Kesucian "kuil" yang mereka jaga di Paris telah diruntuhkan oleh Hana sendiri.

"Kau benar-benar melakukannya, Hana," batin Aurelius, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. "Kau memberikan tubuhmu padanya hanya untuk menyakitiku di hari pernikahanku."

Ibadah pernikahan dimulai. Pendeta mulai membacakan sumpah. Aurelius mengucapkan janjinya dengan suara yang keras dan mantap, namun matanya terus menatap lurus ke depan, menolak untuk melihat ke arah bangku penonton. Setiap kata "I do" yang ia ucapkan adalah paku yang ia tancapkan di peti mati cintanya.

Saat sesi tukar cincin, Aurelius menggenggam tangan Sophia. Tangan Sophia terasa hangat dan berkeringat karena bahagia, namun bagi Aurelius, itu terasa seperti menyentuh mayat. Ia menyematkan cincin itu, lalu ia dipersilakan mencium mempelai wanita.

Aurelius mencium Sophia di depan ribuan orang, termasuk Hana. Ciuman itu dalam, lama, dan penuh dengan kepalsuan yang megah. Kamera-kamera menangkap momen itu sebagai simbol persatuan dua dinasti terbesar dunia.

Hana, yang duduk di barisan depan, terus tersenyum. Tangannya yang menggenggam tangan Kaito semakin erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan suaminya. Ia melihat pria yang ia cintai mencium wanita lain di atas altar. Ia melihat pria itu mengucapkan janji setia pada wanita yang mengandung anaknya.

Di atas altar kebohongan ini, keduanya sedang saling menghancurkan. Aurelius dengan pernikahannya, dan Hana dengan kemesraan palsunya bersama Kaito.

Acara resepsi digelar di Istana Charlottenburg. Meja-meja panjang dipenuhi dengan makanan paling langka dan sampanye vintage. Musik orkestra memenuhi aula dansa yang megah.

Hana dan Kaito berjalan mendekati pasangan pengantin untuk memberikan selamat. Ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para tamu yang menyukai drama.

"Selamat atas pernikahan Anda, Tuan Muda Aurelius. Dan selamat atas calon anggota keluarga baru Anda," ucap Hana dengan suara yang stabil dan senyum yang manis. Ia menatap Sophia, lalu beralih ke Aurelius dengan tatapan yang sangat asing.

Aurelius menatap Kaito, lalu menatap Hana. Ia melihat bekas merah kecil yang samar di leher Hana—tanda yang sengaja tidak ditutupi Hana dengan concealer sepenuhnya. Amarah Aurelius mencapai puncaknya.

"Terima kasih, Nona Asuka," jawab Aurelius, suaranya mengandung nada ancaman yang terselubung. "Aku melihat kau dan suamimu tampak sangat... akrab belakangan ini. Tampaknya perjalanan ke Berlin ini memberimu semangat baru."

Kaito tersenyum bangga, merangkul bahu Hana. "Terima kasih, Tuan Hohenzollern. Kami memang sedang berada di masa-masa paling bahagia dalam pernikahan kami."

Hana mengangguk setuju. "Benar sekali. Kadang kita harus melalui badai untuk menyadari siapa yang benar-benar ada untuk kita."

Sophia tertawa, merasa menang sepenuhnya. "Tentu saja. Dan kami sangat senang kalian bisa hadir. Aurelius, bukankah mereka pasangan yang sangat serasi?"

Aurelius hanya memberikan anggukan kaku. "Sangat serasi. Hingga rasanya... tidak nyata."

Setelah bersalaman, Hana dan Kaito berlalu menuju lantai dansa. Mereka berdansa dengan mesra, Hana membiarkan Kaito memeluknya erat di bawah lampu gantung kristal. Di sisi lain, Aurelius harus berdansa dengan Sophia, namun matanya tidak pernah lepas dari Hana.

Malam itu, dunia melihat dua pasangan paling sempurna. Mereka melihat cinta, kekayaan, dan masa depan yang cerah. Namun, di balik seragam militer Aurelius dan gaun merah Hana, ada dua jiwa yang sedang menjerit dalam kegelapan. Mereka telah berhasil menipu dunia, namun mereka tidak bisa menipu rasa sakit yang merobek dada mereka setiap kali mereka melihat satu sama lain berada di pelukan orang lain.

Pernikahan terbesar abad ini telah usai, namun perang di dalam hati mereka baru saja memasuki babak yang paling mematikan. Aurelius kini telah resmi menjadi suami orang lain, dan Hana telah menyerahkan benteng terakhirnya pada Kaito. Benang merah itu tidak hanya terputus; ia kini telah terkubur di bawah tumpukan kebohongan yang sangat megah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!