Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Rutinitas yang monoton.
Pagi itu seperti biasanya Nala bersiap untuk pergi ke agency nya , hari ini ada rapat untuk membahas album baru SOLIX. Dia tidak lagi bingung memilih pakaian karena sekarang dia sudah mulai terbiasa hidup di Seoul.
Tiga bulan berlalu semenjak dia bekerja di LYNX entertainment dia mulai terbiasa dengan sifat orang tekanan dari agency, hingga budaya serta bahasa. Kini Nala sudah mulai bisa bicara dalam bahasa Korea meskipun masih sedikit bingung jika orang berbicara dengan cepat.
Nala memakai jam tangan nya, pakaian nya sederhana hanya kaos putih polos yang di padukan dengan kardigan berwarna merah burgundy, dan rok pendek sebatas lutut, penampilan nya tidak mencolok tapi cukup memukau. Apalagi dengan kalung tipis yang membuat nya terlihat anggun tanpa berlebihan.
Dengan tergesa dia mengambil beberapa barang nya, memasukkan nya kedalam tas rajut nya lalu mengambil kunci mobil dan bergegas turun dari apartemen nya. Udara pagi di Seoul berhembus lembut, menyapu helaian rambut panjang Nala yang sedikit bergoyang saat ia melangkah keluar dari lobi apartemennya.
Langit tampak bersih, biru pucat dengan guratan tipis awan yang perlahan bergerak. Suasana kota mulai ramai—orang-orang bergegas menuju kantor, aroma roti panggang dari kedai bawah gedung menyelinap di antara lalu-lalang mobil.
Nala menuruni anak tangga kecil menuju parkiran bawah gedung, menekan tombol remote hingga lampu kecil mobilnya berkedip dua kali. Ia duduk di kursi pengemudi, menatap pantulan dirinya di kaca spion. Bibirnya tersenyum tipis, sedikit gugup tapi juga penuh semangat.
Hari ini bukan hari yang biasa—ini rapat besar pertama yang akan dihadiri seluruh tim kreatif dan produser utama, termasuk Min Yoohan, Kim Namjunho, dan juga Jung Hoseung.
Nama itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Entah karena gugup bertemu idol besar sekelas mereka, atau karena pertemuan sebelumnya—yang singkat namun membekas di pikirannya. Ia menggeleng kecil, mencoba menepis bayangan samar itu.
“Fokus, Nala,” gumamnya dalam bahasa Korea yang pelafalannya masih sedikit terbata, tapi cukup jelas.
Perjalanan menuju kantor memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Di dalam mobil, ia memutar playlist instrumen lembut—lagu-lagu piano yang menenangkan pikirannya sebelum rapat.
Pandangannya sempat teralih ke pemandangan luar jendela: Seoul yang hidup, berwarna, dan berbeda dari apa pun yang pernah ia kenal di Sukabumi.
Tiga bulan lalu, semuanya terasa asing dan menakutkan; kini, kota itu mulai terasa seperti rumah kedua—meski dengan segala tekanan dan ritme cepat yang menuntutnya untuk terus berlari.
Begitu tiba di gedung LYNX Entertainment, Nala menepikan mobilnya di parkiran karyawan dan menatap gedung kaca tinggi itu. Lambangnya berkilau di bawah cahaya matahari, megah sekaligus menegangkan. Ia menarik napas panjang, merapikan rok dan tas rajutnya, lalu melangkah masuk.
“Annyeonghaseyo,” sapa petugas resepsionis yang sudah mengenalnya.
“Annyeonghaseyo,” jawab Nala sopan sambil menunduk sedikit.
Aksen Indonesianya masih terasa, tapi ia mulai terbiasa dengan formalitas Korea.
Lorong menuju lantai tim kreatif sudah cukup ramai. Beberapa staf membawa berkas tebal, sebagian lagi sibuk dengan laptop dan ponsel mereka. Nala menaiki lift menuju lantai tujuan, tempat ruang divisi Creative Writing & Concept berada.
Ruangan itu luas dengan dinding putih, rak buku berisi storyboard dan referensi, serta papan ide yang penuh dengan catatan warna-warni.
Yoohan sudah ada di sana, duduk di meja panjang bersama dua staf lain. Wajahnya serius seperti biasa, kacamata bulat bertengger di hidung, dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk pena seolah menghitung waktu.
"Selamat pagi, maaf sedikit terlambat," ujar Nala sopan lalu duduk di tempat.
“Oh, Nala-ssi, kau datang tepat waktu,” ujarnya dalam bahasa Korea, nadanya tenang tapi berwibawa.
“Ne, Yoohan-ssi,” jawab Nala sambil sedikit membungkuk.
Ia duduk di kursi yang disiapkan untuknya, menyiapkan laptop dan buku catatan kecil yang selalu dibawanya ke mana pun.
Tak lama kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Suara tawa samar terdengar sebelum sosok Kim Namjunho masuk bersama Hoseung. Junho mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung, wajahnya tanpa ekspresi, tapi auranya tetap mencuri perhatian siapa pun di ruangan itu. Hoseung menyapanya riang seperti biasa.
“Selamat pagi semuanya...,” sedangkan Junho hanya memberi anggukan singkat sebelum duduk di sisi kanan meja—tepat berseberangan dengan Nala.
Sekilas pandang mereka bertemu. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Nala merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya—seperti getaran kecil yang muncul tanpa alasan. Junho segera mengalihkan pandangan, membuka berkas rapatnya, dan pura-pura sibuk menulis sesuatu.
Yoohan memulai rapat dengan nada tegas.
“Baik, proyek album baru ini akan mengambil konsep ‘Rebirth’. Kita ingin menampilkan sisi matang dari SOLIX, bukan hanya sebagai grup idol, tapi sebagai musisi sejati. Karena itu, kita perlu alur cerita yang kuat—emosional, tapi tetap realistis. Bukan begitu Junho?” tanya nya yang membuat Junho mengangguk pelan.
Semua mata tertuju ke layar besar yang menampilkan presentasi konsep awal. Nala memperhatikan dengan saksama, mencatat beberapa ide di buku kecilnya. Yoohan lalu menatap ke arahnya.
“Nala-ssi, kamu bertanggung jawab untuk membangun storyline core-nya. Aku ingin ada koneksi emosional yang kuat antar anggota, terutama bagaimana mereka menemukan kembali jati diri mereka setelah kehilangan arah. Bisa kau kembangkan itu?” tanya Yoohan yang membuat Nala menatap balik dengan mata sedikit melebar—campuran gugup dan bangga.
“N-Ne, tentu. Aku akan usahakan sebaik mungkin,” ujarnya dalam bahasa Korea yang lembut namun mantap.
Junho menatap singkat ke arah suara itu. Ia tidak tahu kenapa, tapi setiap kali gadis itu bicara, ada sesuatu yang terasa… tenang. Tidak memaksa, tidak berlebihan—hanya tulus. Ia kembali menunduk, tapi ujung bibirnya sempat bergerak pelan, nyaris seperti senyum kecil yang gagal disembunyikan.
Rapat berjalan dengan ritme yang cukup intens. Yoohan duduk tegak di kursinya, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi selain fokus dan ketelitian mutlak. Matanya menatap layar besar di depan ruangan, lalu bergeser cepat ke arah papan konsep. Tangannya terlipat di dada, sesekali mengetuk-ngetukkan ujung pena—seolah setiap ide yang keluar harus melewati seleksi ketat sebelum dianggap layak.
Di sisi lain meja, Hoseung duduk santai, menyeimbangkan tubuhnya di kursi putar sambil memainkan bolpoin di jari. Ia sesekali berkomentar ringan tapi cerdas, memecah ketegangan rapat dengan gaya khasnya yang seolah tak pernah benar-benar tertekan.
“Kalau bagian lirik di reff kita buat seolah perjalanan spiritual, bagaimana? Supaya nyambung dengan tema Rebirth-nya, bagaimana Hyung?” tanyanya dengan nada riang.
Meski isi kalimatnya tetap tajam dan penuh makna. Yoohan hanya mengangguk tipis, menuliskan sesuatu di catatan digitalnya.
“Bisa. Tapi pastikan tidak terlalu simbolik, kita ingin publik tetap bisa merasakannya tanpa harus menafsirkan terlalu dalam," Ujar nya yang membuat Hoseung mengangguk mantap.
Sementara itu, Junho duduk diam di kursinya. Tangannya berpura-pura sibuk membolak-balikkan berkas, tetapi matanya… tidak bisa berhenti melirik ke arah gadis di seberangnya.
Nala duduk tegak dengan posisi sedikit membungkuk ke depan, matanya fokus pada layar, bibirnya mengucapkan beberapa ide dalam bahasa Korea yang meski masih terbata, tetap terdengar lembut dan meyakinkan.
Setiap kali ia bicara, Junho selalu berhenti menulis. Entah kenapa, nada suaranya mampu menembus riuh rendah diskusi dan menarik perhatiannya tanpa usaha apa pun.
Ia mencoba menatap catatannya lagi, mencoba mencatat sesuatu, tapi pandangannya selalu kembali—ke arah rambut hitam panjang yang tergerai rapi di bahunya, ke cara Nala sesekali mengernyitkan alis saat berpikir keras, atau ke caranya membetulkan posisi pena yang hampir jatuh dari meja.
Sementara Nala, sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia begitu fokus. Ia tahu, di depan Yoohan, tak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun. Setiap ide harus logis, setiap argumen harus terukur. Yoohan bukan tipe yang akan memarahi secara terbuka, tapi satu tatapan dinginnya sudah cukup membuat siapa pun berpikir dua kali untuk bicara sembarangan.
“Bagian storyline chapter kedua ini, aku pikir bisa menggambarkan fase di mana setiap member merasa kehilangan arah—mungkin karena tekanan, kehilangan, atau kebosanan dengan sistem,” ucap Nala dengan nada hati-hati, tangannya menunjuk ke diagram di layar.
Junho mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ia benar-benar menaruh perhatian.
“Menarik,” kata Junho tiba-tiba, suaranya dalam tapi tenang. “Kalau begitu, liriknya bisa dibangun dari sudut pandang seseorang yang berusaha menghidupkan kembali versi lamanya. Bukan dengan nostalgia, tapi dengan keberanian untuk berubah,” lanjut nya yang membuat Yoohan menatap Junho tanpa ekspresi.
“Bagus. Tulis versi demo-nya nanti malam. Kau, aku, dan Hoseung akan bahas lagi sebelum mixing,” ujar nya yang membuat Junho mengangguk.
“Baik, Hyung.”
Setelah itu rapat berlanjut, tapi atmosfernya mulai berubah—lebih hidup, lebih terarah. Dan di sela-sela diskusi itu, Junho kembali mencuri pandang. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu pada cara Nala menatap layar, pada kesungguhannya, yang membuatnya merasa… entah bangga, entah kagum, atau mungkin campuran dari keduanya.
Namun setiap kali Nala menoleh untuk memastikan tidak ada yang ingin menambahkan pendapat, Junho buru-buru menunduk pura-pura mencatat.
Ia bahkan mengetik sesuatu di layar laptop hanya agar terlihat sibuk—padahal pikirannya sama sekali tidak tentang Rebirth, bukan tentang melodi atau lirik, melainkan tentang satu hal yang lebih sederhana: tentang gadis asing yang entah bagaimana membuat suasana rapat terasa berbeda.
Dan di sisi lain meja, Yoohan yang seolah tak pernah melewatkan detail sekecil apa pun, sempat melirik Junho singkat. Sekilas saja—namun cukup untuk menandai perubahan kecil dalam atmosfer di antara keduanya. Hoseung, yang duduk di antara mereka, hanya terkekeh pelan dan berbisik.
“Wah, kelihatannya seseorang mulai terinspirasi bahkan sebelum menulis lirik, ya.” goda nya, dia memang sudah menyadari bahwa Junho selalu mencuri pandang pada Nala sejak tadi.
Junho langsung menatapnya tajam, tapi Hoseung malah tersenyum santai, menepuk pundaknya dengan isyarat main-main.
“Tenang saja, Junho. Aku tidak akan bilang siapa-siapa. Tapi tolong jangan terlalu terang terangan, di ruangan ini banyak orang,” lanjut nya lagi yang membuat Junho hendak menjawab, tapi ucapan Yoohan lebih dulu menyela, dia menatap mereka datar.
“Kalian berdua, fokus. Ini bukan ruang gosip,” tegur nya yang membuat ruangan kembali sunyi, hanya terdengar bunyi lembut papan digital saat Nala kembali mencatat hasil rapat.
Namun dalam keheningan itu, Junho tahu satu hal pasti—dia tidak lagi bisa menganggap pertemuan mereka sebagai hal biasa. Sesuatu sudah berubah, dan perubahan itu dimulai dari tatapan-tatapan kecil yang bahkan tidak seharusnya terjadi.
Rapat akhirnya berakhir setelah hampir dua jam penuh pembahasan intens. Para staff satu per satu meninggalkan ruangan dengan wajah lega—beberapa masih berbicara pelan sambil menenteng berkas, sebagian lagi menghela napas panjang seolah baru saja melewati ujian akhir.
"Kerja bagus semua nya... Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya," ucap Yoohan mematikan layar proyektor.
Semua staf mengangguk dan membungkuk satu sama lain menghormati semua orang yang ada di sana, sebelum akhirnya keluar satu persatu.
Begitu juga dengan Nala yang mulai mengemasi laptop dan catatannya perlahan, memastikan tidak ada dokumen tertinggal. Ia baru saja hendak berdiri ketika suara dalam dan tenang itu terdengar dari ujung meja.
“Nala-ssi.”
Langkahnya terhenti. Yoohan masih duduk di kursinya, menatap layar tablet di depannya sebelum perlahan menegakkan tubuh. Tatapan matanya tajam, tapi tidak menyeramkan—lebih seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu yang serius.
“Ya, Yoohan-ssi?” sahut Nala sopan, memeluk berkasnya di dada.
“Ada hal yang perlu kubahas. Lebih bersifat personal… namun masih berkaitan dengan proyek album ini.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak. Nala sempat menatap pintu, melihat para staf sudah meninggalkan ruangan tersebut sepenuhnya, sebelum akhirnya kembali duduk dengan hati-hati. Ia menaruh laptopnya di meja lagi, berusaha terlihat tenang meskipun sebenarnya bingung.
“Baik, Yoohan-ssi. Aku mendengarkan,” ujar nya yang membuat Yoohan menatapnya beberapa detik tanpa bicara.
Tatapannya dalam, seolah tengah membaca sesuatu di balik wajah Nala. Lalu ia bersandar sedikit ke kursinya, menautkan kedua tangannya.
"Untuk ide mu tadi, aku setuju... Aku ingin ada pembahasan lanjutan di luar jam kerja," ucap nya yang membuat Nala mendongak.
Pandangan nya beralih sekilas pada Junho yang pokus pada laptop nya seolah tak perduli, dan Hoseung yang mengangguk mengiyakan ucapan Yoohan.
"Eum... Apa tidak masalah seperti itu?" Tanya nya bingung.
Dia ingat saat menadatangani kontrak kerja: tidak diperkenankan ada pertemuan pribadi di luar jam kerja dengan alasan apapun, komunikasi pribadi melalui perangkat non-perusahaan, atau pertukaran dokumen tanpa persetujuan staf administrasi.
Semua staf juga di larang berbicara atau membicarakan hal selain yang berhubungan dengan pekerjaan. Begitulah yang di tekan oleh manajer Han dan juga Tim hukum LYNX Entertainment.
"Tidak masalah, itu bisa di atur. Lagipula kami ingin kamu hadir untuk ikut mendengarkan demo dan melihat lirik pertama yang di tulis oleh Junho, benar begitu junho-ssi?" Tanya Yoohan sembari melirik pada Junho yang terlihat tiba-tiba gelagapan saat Nala ikut menatap nya. Dia berdehem pelan lalu mengangguk.
"Sebaiknya memang begitu, kamu akan berperan besar dalam penulisan ini," ujar nya yang membuat Nala akhirnya mengangguk walaupun ragu, dia juga tidak mungkin menolak permintaan artis senior. Walaupun dia ragu dengan aturan itu.
"Bagus sekali, kau boleh kembali keruangan mu," ujar nya yang membuat Nala mengangguk lalu berdiri.
Dia membungkuk sekilas sebelum akhirnya pergi meninggalkan ketiga orang itu.
Setelah Nala benar-benar melangkah keluar dan pintu tertutup rapat, keheningan sempat menggantung selama beberapa detik. Suara napas ketiganya nyaris bertaut, hingga Hoseung memecahnya dengan tawa pelan yang cepat berubah menjadi geli tak tertahankan.
“Begitu cara menjebak seorang wanita, Junho,” ujarnya dengan nada penuh godaan.
Junho menatapnya kesal, bibirnya mengerucut, lalu mengembuskan napas panjang.
“Kalian keterlaluan. Kenapa memintanya bergabung begitu saja? Aku bahkan belum menulis satu baris pun yang layak disebut draft. Hanya potongan kasar yang tak akan dimengerti manusia,” ucap Junho frustrasi, menyandarkan tubuh ke kursi.
Yoohan hanya mengangkat alis dan tersenyum samar. Hoseung masih tertawa kecil, menepuk meja di depannya.
“Namanya juga alasan, Junho-ya. Alasan tidak perlu logika,” katanya santai, mengangkat tangan memberi isyarat tos pada Yoohan—yang dibalas ringan dengan tepukan cepat dan senyum penuh arti.
Junho menggeleng, tapi ekspresi cemberutnya perlahan berubah menjadi sendu.
"Aku mungkin akan berkerja sangat keras agar demo nya siap nanti malam," kata Junho yang membuat Hoseung tertawa.
"Untuk sesuatu yang menyenangkan memang butuh pengorbanan Junho-ya," ledeknya yang membuat Junho menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan.
“Dia terlihat begitu tegang. Mungkin karena aturan perusahaan yang terlalu menekan,” ucap nya yang membuat Yoohan terkekeh pendek, nada suaranya berat dan sarkastik.
“Dan kau pikir kita tidak?” tanya nya yang membuat Hoseung berhenti tertawa, lalu menegakkan tubuhnya.
Wajahnya berubah serius, seolah sesuatu dalam dirinya disentuh oleh kalimat itu.
“Kita sudah lama hidup dengan gelapnya industri ini, bedanya, kita sudah kebal. Sementara dia… baru tahu kalau di balik melodi indah yang dikagumi dunia, ada sisi busuk yang hanya penciptanya tahu,” ucap nya perlahan, Yoohan mengangguk pelan, matanya menatap kosong pada layar monitor yang menampilkan file lirik setengah jadi.
“Kadang, aku heran bagaimana orang bisa menyebut pekerjaan ini ‘impian’. Padahal kita menulis di antara batas: antara kebenaran yang tak boleh diucapkan, dan kebohongan yang harus dijual,” timpal nya.
Junho terdiam, tangannya memainkan pena yang sejak tadi belum menyentuh kertas. Ada sesuatu di dalam dirinya yang mengeras—semacam ketidakberdayaan yang sudah terlalu akrab.
"Karena orang hanya melihat bagaimana bangunan itu berdiri indah, bukan melihat bagaimana cara kita membuat nya," ujar nya yang membuat Hoseung terdiam.
Keheningan menyapa mereka sejenak hingga akhirnya Yoohan kembali bicara.
“Oh, ya, Aku datang sedikit terlambat malam nanti. Ada jadwal rekaman variety show bersama Jihwan,” kata Yoohan tiba-tiba, seolah mengusir murung yang mulai merayap.
“Kenapa kau selalu dipasangkan dengannya?Jarang sekali kau satu program denganku, padahal aku ini vitaminmu, Hyung.” Celetuk Hoseung cepat, yang mana hal itu membuat Yoohan melempar secarik kertas kosong ke arahnya, ekspresi datar tapi bibirnya tersenyum tipis.
“Terlalu percaya diri. Lagipula, kalimat ‘aku vitaminmu’ itu bukan dariku—itu dari skrip tim kreatif. Aku hanya ikut saja,” ujar nya yang membuat Hoseung tertawa geli.
"Dan fans percaya manusia batu seperti mu bisa semanis itu," kata nya yang membuat Junho akhirnya tertawa kecil, memijat pelipisnya.
“Memang aneh, ya. Dari dulu pola itu tidak pernah berubah. Aku selalu dengan Jinwoo-hyung, Yoohan-hyung dengan Jihwan, Hoseung dengan siapa pun yang tersisa. Sedangkan Taeyang dan Kiyoon…” ia berhenti sejenak, menatap kosong. “Mereka masih harus menanggung pandangan miring itu.” suara dalam ruangan menurun lagi.
Bukan pertama kalinya mereka membahas hal ini—isu yang tak lekang meski waktu terus berjalan. Tentang fans yang menciptakan pasangan imajiner dari kedekatan panggung; tentang komentar-komentar yang terlalu liar hingga menembus batas privasi; tentang bagaimana agensi mereka justru memelihara rumor itu demi menjaga “minat publik.”
Yoohan menatap Junho dan Hoseung bergantian, sebelum akhirnya berkata dengan nada berat.
“Kita semua tahu... sebagian besar hubungan yang terlihat akrab itu hanyalah hasil konstruksi. Mereka tak peduli kita nyaman atau tidak, asal publik membeli kisahnya.”
Hoseung menatapnya dalam diam. Junho menunduk pelan, jemarinya mengetuk meja tanpa ritme, seolah mencari nada yang bisa menjelaskan rasa muaknya sendiri.
“Kadang aku pikir, dunia ini hanya mengagumi bayangan kita. Mereka tak pernah ingin tahu siapa kita sebenarnya. Akhh ... Aku berharap ada yang bisa melihat ku ... ”
"Seperti manusia..." Timpal Yoohan dan Hoseung melanjutkan tanpa sadar.
Ke-tiga nya saling pandang tapi tidak bicara apapun, ruangan kembali hening. Tapi kali ini, bukan hening yang canggung—melainkan hening yang mengandung luka.
Luka yang lahir dari keindahan yang mereka ciptakan sendiri.