Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Melodi di Antara Hujan
20 Oktober 2024. Pukul 19.55 WIB.
Ruang Konservasi, Museum Sejarah Jakarta.
Hujan kembali turun, seolah langit Jakarta dan Batavia sepakat untuk menangis bersama malam ini.
Alina sudah siap. Dia mengenakan gaun terusan sederhana berbahan katun—bukan piyama kumal seperti biasanya. Rambutnya disisir rapi, bibirnya dipulas lipstik tipis. Dia tahu Arya tidak bisa melihatnya, tapi rasanya tidak sopan menghadiri "kencan" pertama mereka dengan berantakan.
Di atas meja, di samping mesin tik Remington itu, Alina meletakkan ponselnya yang terhubung ke speaker bluetooth kecil. Layar ponsel menampilkan aplikasi Spotify dengan lagu yang sudah di-pause: "Keroncong Moritsko - S. Abdullah (1929)".
Alina menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Arya? Kau di sana?
Mesin tik itu membalas seketika, seolah Arya sudah menunggu dengan jari di atas tuts sejak tadi.
Saya di sini. Gramofon sudah diputar engkolnya. Jarum sudah di atas piringan hitam.
Saya memakai kemeja terbaik saya, Alina. Dan saya menyisir rambut pakai minyak orang-aring. Baunya agak tajam, semoga kau tidak terganggu.
Alina tersenyum.
Aku tidak bisa mencium baunya, tapi aku yakin kau terlihat gagah.
Siap?
Siap.
Satu... Dua... Tiga.
Alina menekan tombol Play.
Di tahun 1930, Arya menurunkan jarum gramofon.
Suara gemerisik statis khas rekaman tua terdengar, diikuti oleh denting ukulele dan biola yang mendayu-dayu. Melodi keroncong yang lambat, melankolis, namun indah mulai mengisi dua ruangan yang terpisah sembilan dekade itu.
Alina memejamkan mata. Dia membiarkan musik itu membawanya pergi. Dia membayangkan dirinya bukan di ruang bawah tanah museum yang dingin, melainkan di sebuah kamar loteng kayu di Kwitang yang hangat oleh cahaya lampu minyak.
Di sana, di tahun 1930, Arya berdiri di tengah kamarnya yang sempit. Dia memejamkan mata, satu tangannya terangkat ke udara seolah memegang tangan seseorang, tangan lainnya di punggung pasangannya yang tak terlihat.
Dia berdansa perlahan, berputar pelan mengikuti irama.
Mesin tik mengetik sendiri, merekam pikiran Arya saat dia berdansa.
Alina... apa kau mendengarnya?
Biola ini... rasanya seperti rindu yang ditarik panjang.
Alina mengetik balasan dengan satu tangan, tangan lainnya memegang gelas kopi seolah itu gelas anggur.
Aku mendengarnya. Indah sekali.
Bayangkan aku memakai gaun biru, Arya. Kita berdansa di bawah lampu jalan Pasar Baru.
Gaun biru... pasti cantik sekali.
Maafkan saya jika saya menginjak kakimu. Saya kaku, tidak pandai berdansa seperti sinyo-sinyo Belanda di Societeit.
Tidak apa-apa. Aku juga kaku.
Musik terus mengalun. Cak-cuk ukulele bersahutan.
Selama tiga menit itu, waktu seolah runtuh. Tidak ada 1930, tidak ada 2024. Hanya ada satu momen abadi di mana dua jiwa kesepian saling merengkuh dalam diam. Alina merasa pipinya basah. Dia tidak pernah merasa sedekat ini dengan siapa pun seumur hidupnya.
Lagu berakhir. Suara gemerisik piringan hitam yang terus berputar terdengar lagi.
Alina membuka mata. Dia merasa hampa saat musik berhenti.
Lagunya selesai, Arya.
Rasanya terlalu singkat. Saya ingin memutarnya lagi sampai piringannya rusak.
Alina tersenyum, hendak mengetik balasan setuju.
Tiba-tiba, tuas mesin tik bergerak panik.
Tunggu.
Ada yang mengetuk pintu.
Jantung Alina mencelos. Polisi? Van Heutz?
Siapa? Matikan gramofonnya!
Sebentar. Dia memanggil nama saya pelan. Suara perempuan.
Perempuan?
Alina terpaku.
Hening yang lama. Sekitar lima belas menit mesin tik itu bisu. Alina duduk gelisah di kursinya, menggigit kukunya. Pikirannya melayang liar. Apakah itu mata-mata Belanda? Atau tetangga yang terganggu suara musik?
Akhirnya, mesin tik itu berbunyi lagi. Tapi kali ini, ketikannya terasa... canggung. Berat.
> Maaf lama, Alina. Saya harus menyembunyikan mesin tik ini sebentar tadi.
Siapa itu, Arya? Kau aman?
Ada jeda sebelum Arya menjawab.
Aman. Itu... Sarsinah.
Alina mengernyit. Nama itu asing di telinganya. Tidak ada di buku sejarah.
Siapa Sarsinah?
Jawaban Arya muncul huruf demi huruf, lambat dan menyakitkan.
Dia... tunangan saya.
Dia datang mengantar rantang. Katanya ibunya masak gudeg dan menyuruhnya mengantar untuk saya. Dia khawatir saya kurus karena jarang makan.
Alina merasa seperti disiram air es.
Tunangan.
Tentu saja. Raden Mas Arya adalah priyayi Jawa tahun 1930. Di usia 25 tahun, wajar—bahkan wajib—bagi laki-laki sepertinya untuk sudah dijodohkan atau menikah.
Alina menatap layar ponselnya yang kini gelap. Musik keroncong tadi mendadak terasa sumbang di ingatannya.
Dia baru saja berdansa imajiner dengan tunangan orang lain.
Rasa cemburu yang tidak masuk akal menyengat dadanya. Cemburu pada hantu? Cemburu pada wanita yang sudah jadi debu puluhan tahun lalu? Betapa konyolnya.
Tapi rasa sakit itu nyata.
Alina mengetik dengan jari kaku.
Oh. Begitu.
Dia... pasti wanita yang baik. Berani datang malam-malam ke tempat persembunyian buronan.
Arya membalas dengan nada yang terasa bersalah.
Sarsinah wanita yang baik. Sangat baik. Dia sabar menunggu saya yang sibuk dengan "urusan gila" melawan Belanda ini.
Tapi Alina... perjodohan ini diatur orang tua kami sejak kecil. Kami... saya menghormatinya, tapi saya tidak bisa bicara dengannya seperti saya bicara denganmu.
Dia tidak mengerti soal politik, soal mimpi Indonesia, soal masa depan. Kalau saya bicara soal kemerdekaan, dia hanya menangis takut saya ditangkap.
Alina membaca itu dan merasa sedikit lega, tapi juga merasa jahat. Dia merasa menjadi "wanita lain" yang masuk ke celah hubungan orang.
Arya, kau tidak boleh bicara begitu. Dia nyata. Dia ada di sana bersamamu. Dia membawakanmu makan.
Aku? Aku cuma suara di dalam kertas. Aku tidak bisa memberimu makan saat kau lapar, Arya. Aku tidak bisa menggenggam tanganmu saat kau takut.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari kepedihan hati Alina. Realitas menamparnya telak. Jarak 94 tahun itu bukan hanya angka. Itu adalah jurang takdir.
Arya tidak langsung membalas.
Mungkin di tahun 1930, dia sedang menatap rantang gudeg yang masih hangat di mejanya, lalu menatap mesin tik dingin itu. Dia dihadapkan pada dua pilihan: Kehangatan nyata yang tidak dia cintai sepenuhnya, atau cinta imajiner yang tidak bisa dia sentuh.
Akhirnya, Arya mengetik.
Rantang ini memang menghangatkan perut saya, Alina.
Tapi kata-katamu menghangatkan jiwa saya.
Manusia bisa hidup tanpa makan berhari-hari. Tapi manusia mati seketika tanpa harapan.
Dan kau adalah harapan saya.
Air mata Alina jatuh lagi. Pria ini pandai sekali merangkai kata. Dasar jurnalis.
Makanlah gudeg itu, Arya. Jangan biarkan dingin. Hargai Sarsinah.
Aku... aku harus pergi. Museum mau tutup.
Itu bohong. Alina memegang kunci cadangan. Tapi dia butuh lari. Dia butuh jarak.
Alina, tunggu...
Selamat malam, Raden Mas Arya. Sampaikan salamku untuk Sarsinah.
Alina menarik kertas itu dari mesin tik dengan kasar, mematikan lampu, dan berlari keluar dari Ruang Konservasi.
Dia berlari menembus hujan di Kota Tua, membiarkan air langit menyamarkan air matanya.
Malam itu Alina sadar, dia bukan sedang menulis ulang sejarah. Dia sedang menghancurkan hatinya sendiri.
Dan yang lebih parah, dia tahu dia tidak akan bisa berhenti. Besok, dia pasti akan kembali ke mesin tik itu. Karena rasa rindu pada Arya lebih kuat daripada logika warasnya.
Sementara itu, di tahun 1930...
Arya menatap kertas kosong di mesin tiknya. Suara langkah kaki Sarsinah yang pulang sudah menghilang di ujung gang. Gudeg di rantang itu masih mengepul.
Arya tidak menyentuhnya.
Dia menyalakan rokok klobot, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke udara kosong.
"Sarsinah wanita yang baik," gumam Arya pada dirinya sendiri.
Dia mengambil pena, mencoret tanggal di kalender dinding. 20 Oktober.
Delapan hari lagi menuju Kongres Pemuda.
Arya menatap foto Sarsinah di dompetnya, lalu menatap mesin tik itu.
"Tapi kenapa rasanya saya lebih takut kehilangan mesin tik ini daripada kehilangan nyawa saya sendiri?"
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan