Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh di Lapangan Latihan
Udara pagi di dataran tinggi itu terasa mencekik, seolah-olah awan mendung yang menggantung rendah sengaja menahan oksigen agar tidak sampai ke paru-paru Rebecca. Di tengah lapangan latihan yang dikelilingi pagar beton tinggi, suara dentuman senjata dan sabetan bilah baja menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian. Rebecca berdiri di sana, di antara aroma mesiu dan tanah basah, mencoba mematikan badai yang berkecamuk di dalam dadanya.
Namun, semakin keras ia mencoba fokus, semakin tajam suara Bianca d'Angelo bergema di kepalanya. “Kau hanyalah sampah yang dipungut dari jalanan.”
"Lagi, Nona! Jangan biarkan siku Anda turun!" teriak Erica, berdiri dengan sikap sempurna di belakang Rebecca yang sedang memegang busur recurve.
Rebecca menarik tali busur dengan napas yang memburu. Otot lengannya bergetar, bukan karena beban busur seberat empat puluh pon itu, melainkan karena rasa lelah emosional yang telah menguras energinya sepanjang malam. Ia melepaskan anak panah itu. Wush! Anak panah melesat, namun kali ini tidak mengenai pusat sasaran. Ia meleset jauh, menghantam pinggiran kayu dengan bunyi prak yang mengecewakan.
Vargo, yang sedang membersihkan senapan runduk di dekat meja perlengkapan, melirik sekilas tanpa berkata-kata. Sementara itu, Liam, yang baru saja selesai melakukan latihan fisik rutin, menghentikan kegiatannya. Sebagai kakak kelas sekaligus salah satu orang kepercayaan Max, Liam memiliki intuisi yang tajam terhadap perubahan atmosfer di sekitarnya. Dan pagi ini, aura Rebecca terasa sangat keruh.
Liam menyambar handuk putih, menyeka keringat di lehernya, lalu berjalan mendekati Rebecca yang sedang mengambil anak panah baru dengan gerakan yang kasar.
"Kau terlihat seperti ingin membunuh papan sasaran itu, bukan melatih akurasimu," ucap Liam lembut, mencoba mencairkan suasana.
Rebecca tidak menoleh. Ia memasang anak panah ke tali busur dengan sentakan yang kuat. "Aku hanya sedang ingin berlatih lebih keras, Liam. Bukankah itu yang kalian inginkan? Agar aku tidak jadi beban?"
Liam mengernyit. Nada bicara Rebecca dipenuhi dengan sarkasme yang pahit. "Ada apa, Rebecca? Wajahmu tidak bisa berbohong. Kau terlihat ... berantakan."
"Aku tidak apa-apa," sahut Rebecca singkat, suaranya dingin dan datar. Ia kembali menarik busur, namun tangannya bergetar lebih hebat dari sebelumnya.
"Kau bisa bicara padaku," Liam melangkah satu inci lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh Erica yang sedang mengawasi dari kejauhan. "Jika ini tentang apa yang terjadi di Grand Astoria semalam ... aku punya telinga yang cukup lebar untuk mendengarkan keluh kesahmu. Jangan dipendam sendiri."
Rebecca menurunkan busurnya, menatap Liam dengan mata yang memerah karena kurang tidur. Ada keinginan besar untuk menumpahkan segala kegalauan tentang statusnya, tentang Max yang belum melamarnya, dan tentang rasa rendah diri yang tiba-tiba muncul. Namun, lidahnya terasa kelu. Kebanggaan Moretti yang mulai tumbuh di dirinya melarangnya untuk terlihat lemah.
"Tidak ada masalah apa pun, Liam. Terima kasih tawaranmu, tapi aku baik-baik saja," pungkas Rebecca, memaksakan sebuah senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
Saat Liam hendak mendesak lebih jauh, sebuah hawa dingin yang familiar tiba-tiba menyergap lapangan latihan itu. Liam secara naluriah menegakkan punggungnya, bulu kuduknya berdiri. Ia mendongak ke arah balkon lantai dua mansion yang menghadap langsung ke lapangan.
Di sana, Maximilian berdiri tegak, bersandar pada pagar balkon dengan kedua tangan terkepal kuat. Jas hitamnya terbuka, tertiup angin pegunungan yang kencang. Tatapannya jatuh tepat ke arah Liam—sebuah tatapan obsidian yang tajam, penuh dengan dominasi dan posesivitas yang meledak-ledak. Max tidak bersuara, namun sorot matanya seolah berkata bahwa siapapun yang mencoba menyentuh atau mencuri perhatian "miliknya", akan menghadapi maut.
Liam menelan ludah, merasa merinding di bawah tekanan tatapan itu. Ia segera menyadari bahwa berada terlalu dekat dengan Rebecca saat Maximilian sedang dalam mode "predator" adalah tindakan bunuh diri.
"Baiklah, jika itu maumu," gumam Liam cepat. "Aku ... aku harus kembali membantu Vargo di gudang persenjataan. Berlatihlah dengan baik."
Liam segera berbalik, melangkah pergi dengan langkah terburu-buru, menghindari kontak mata lebih lanjut dengan balkon atas. Rebecca hanya menatap punggung Liam yang menjauh, lalu menghela napas panjang. Ia tahu Max sedang mengawasinya. Ia bisa merasakan tatapan pria itu yang membakar punggungnya, namun anehnya, kehadiran Max justru menambah beban di hatinya.
"Nona, cukup dengan panahnya. Sekarang, pedang," perintah Erica, suaranya memutus lamunan Rebecca.
Erica melemparkan pedang latihan tumpul ke arah Rebecca. Rebecca menangkapnya dengan kikuk. Mereka mengambil posisi di tengah matras. Rebecca mencoba menyerang lebih dulu, mengayunkan bilahnya dengan tenaga yang didorong oleh kemarahan. Namun, gerakannya ceroboh. Ia terlalu emosional.
Dengan satu gerakan geser yang elegan, Erica menghindar dan memukul pergelangan tangan Rebecca, membuat pedang itu terlepas. Erica tidak berhenti; ia menyapu kaki Rebecca hingga gadis itu jatuh terduduk di atas matras yang dingin. Ujung pedang tumpul Erica kini menempel di leher Rebecca.
Kalah telak. Bahkan untuk standar pemula, performa Rebecca pagi ini adalah sebuah bencana.
"Ada apa denganmu?" tanya Erica, suaranya tidak lagi memerintah, melainkan penuh selidik. Ia menarik pedangnya dan mengulurkan tangan untuk membantu Rebecca berdiri.
Rebecca menyambut tangan Erica, bangkit dengan bahu yang merosot. "Tidak ada apa-apa, Erica. Aku ... aku hanya sedang galau saja."
Erica menatap Rebecca lurus-lurus. Sebagai satu-satunya wanita di tim ini, ia tahu ada sesuatu yang mengusik batin Rebecca yang tidak bisa diselesaikan dengan peluru atau pedang.
"Apakah kau dan Tuan Maximilian sedang bertengkar?" tanya Erica langsung, tanpa basa-basi.
Rebecca tersentak. Pertanyaan itu menghantam titik sarafnya yang paling sensitif. Ia teringat bagaimana semalam mereka tidur dalam diam, memunggungi satu sama lain, dengan jarak yang terasa seperti ribuan kilometer meskipun berada di satu ranjang. Ia teringat bagaimana bibirnya terkatung-katung ingin menanyakan status mereka, namun ketakutan akan penolakan membungkamnya.
Rebecca menggelengkan kepalanya perlahan. Ia tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Ia hanya diam, menatap ujung sepatunya yang kotor terkena tanah.
"Kau tahu, Nona," ucap Erica pelan, "di dunia ini, keraguan adalah musuh yang lebih mematikan daripada peluru musuh. Jika kau tidak bisa menjernihkan pikiranmu, kau akan mati di lapangan sebelum musuh sempat menarik pelatuknya."
Rebecca tetap bungkam. Pikirannya melayang kembali ke balkon atas, namun saat ia memberanikan diri untuk mendongak, Maximilian sudah tidak ada di sana. Balkon itu kosong, menyisakan kekosongan yang sama di dalam dada Rebecca.
Ia merasa lelah secara fisik, tapi jauh lebih lelah secara mental. Konflik batinnya tentang siapa dirinya bagi Max—seorang istri yang sah atau sekadar "proyek" yang harus dilindungi—terus menggerogoti setiap inci kepercayaan dirinya. Di lapangan latihan yang keras ini, Rebecca menyadari bahwa meskipun ia bisa memegang pedang, hatinya masih terlalu rapuh untuk menghadapi ketidakpastian cinta di dunia yang penuh darah ini.
Erica menghela napas, melihat Rebecca yang masih terdiam dalam lamunannya. "Istirahatlah sepuluh menit. Cuci wajahmu. Jika kau kembali ke matras ini masih dengan pikiran yang sama, aku akan memulangkanmu ke kamar."
Rebecca hanya mengangguk lemah, berjalan menjauh menuju pancuran air di pinggir lapangan. Setiap langkahnya terasa berat, seberat pertanyaan yang belum terjawab: Max, apa aku benar-benar sampah yang kau pungut, atau aku adalah mahkotamu?
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣