NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemuruh di Lapangan Latihan

Udara pagi di dataran tinggi itu terasa mencekik, seolah-olah awan mendung yang menggantung rendah sengaja menahan oksigen agar tidak sampai ke paru-paru Rebecca. Di tengah lapangan latihan yang dikelilingi pagar beton tinggi, suara dentuman senjata dan sabetan bilah baja menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian. Rebecca berdiri di sana, di antara aroma mesiu dan tanah basah, mencoba mematikan badai yang berkecamuk di dalam dadanya.

Namun, semakin keras ia mencoba fokus, semakin tajam suara Bianca d'Angelo bergema di kepalanya. “Kau hanyalah sampah yang dipungut dari jalanan.”

"Lagi, Nona! Jangan biarkan siku Anda turun!" teriak Erica, berdiri dengan sikap sempurna di belakang Rebecca yang sedang memegang busur recurve.

Rebecca menarik tali busur dengan napas yang memburu. Otot lengannya bergetar, bukan karena beban busur seberat empat puluh pon itu, melainkan karena rasa lelah emosional yang telah menguras energinya sepanjang malam. Ia melepaskan anak panah itu. Wush! Anak panah melesat, namun kali ini tidak mengenai pusat sasaran. Ia meleset jauh, menghantam pinggiran kayu dengan bunyi prak yang mengecewakan.

Vargo, yang sedang membersihkan senapan runduk di dekat meja perlengkapan, melirik sekilas tanpa berkata-kata. Sementara itu, Liam, yang baru saja selesai melakukan latihan fisik rutin, menghentikan kegiatannya. Sebagai kakak kelas sekaligus salah satu orang kepercayaan Max, Liam memiliki intuisi yang tajam terhadap perubahan atmosfer di sekitarnya. Dan pagi ini, aura Rebecca terasa sangat keruh.

Liam menyambar handuk putih, menyeka keringat di lehernya, lalu berjalan mendekati Rebecca yang sedang mengambil anak panah baru dengan gerakan yang kasar.

"Kau terlihat seperti ingin membunuh papan sasaran itu, bukan melatih akurasimu," ucap Liam lembut, mencoba mencairkan suasana.

Rebecca tidak menoleh. Ia memasang anak panah ke tali busur dengan sentakan yang kuat. "Aku hanya sedang ingin berlatih lebih keras, Liam. Bukankah itu yang kalian inginkan? Agar aku tidak jadi beban?"

Liam mengernyit. Nada bicara Rebecca dipenuhi dengan sarkasme yang pahit. "Ada apa, Rebecca? Wajahmu tidak bisa berbohong. Kau terlihat ... berantakan."

"Aku tidak apa-apa," sahut Rebecca singkat, suaranya dingin dan datar. Ia kembali menarik busur, namun tangannya bergetar lebih hebat dari sebelumnya.

"Kau bisa bicara padaku," Liam melangkah satu inci lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh Erica yang sedang mengawasi dari kejauhan. "Jika ini tentang apa yang terjadi di Grand Astoria semalam ... aku punya telinga yang cukup lebar untuk mendengarkan keluh kesahmu. Jangan dipendam sendiri."

Rebecca menurunkan busurnya, menatap Liam dengan mata yang memerah karena kurang tidur. Ada keinginan besar untuk menumpahkan segala kegalauan tentang statusnya, tentang Max yang belum melamarnya, dan tentang rasa rendah diri yang tiba-tiba muncul. Namun, lidahnya terasa kelu. Kebanggaan Moretti yang mulai tumbuh di dirinya melarangnya untuk terlihat lemah.

"Tidak ada masalah apa pun, Liam. Terima kasih tawaranmu, tapi aku baik-baik saja," pungkas Rebecca, memaksakan sebuah senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.

Saat Liam hendak mendesak lebih jauh, sebuah hawa dingin yang familiar tiba-tiba menyergap lapangan latihan itu. Liam secara naluriah menegakkan punggungnya, bulu kuduknya berdiri. Ia mendongak ke arah balkon lantai dua mansion yang menghadap langsung ke lapangan.

Di sana, Maximilian berdiri tegak, bersandar pada pagar balkon dengan kedua tangan terkepal kuat. Jas hitamnya terbuka, tertiup angin pegunungan yang kencang. Tatapannya jatuh tepat ke arah Liam—sebuah tatapan obsidian yang tajam, penuh dengan dominasi dan posesivitas yang meledak-ledak. Max tidak bersuara, namun sorot matanya seolah berkata bahwa siapapun yang mencoba menyentuh atau mencuri perhatian "miliknya", akan menghadapi maut.

Liam menelan ludah, merasa merinding di bawah tekanan tatapan itu. Ia segera menyadari bahwa berada terlalu dekat dengan Rebecca saat Maximilian sedang dalam mode "predator" adalah tindakan bunuh diri.

"Baiklah, jika itu maumu," gumam Liam cepat. "Aku ... aku harus kembali membantu Vargo di gudang persenjataan. Berlatihlah dengan baik."

Liam segera berbalik, melangkah pergi dengan langkah terburu-buru, menghindari kontak mata lebih lanjut dengan balkon atas. Rebecca hanya menatap punggung Liam yang menjauh, lalu menghela napas panjang. Ia tahu Max sedang mengawasinya. Ia bisa merasakan tatapan pria itu yang membakar punggungnya, namun anehnya, kehadiran Max justru menambah beban di hatinya.

"Nona, cukup dengan panahnya. Sekarang, pedang," perintah Erica, suaranya memutus lamunan Rebecca.

Erica melemparkan pedang latihan tumpul ke arah Rebecca. Rebecca menangkapnya dengan kikuk. Mereka mengambil posisi di tengah matras. Rebecca mencoba menyerang lebih dulu, mengayunkan bilahnya dengan tenaga yang didorong oleh kemarahan. Namun, gerakannya ceroboh. Ia terlalu emosional.

Dengan satu gerakan geser yang elegan, Erica menghindar dan memukul pergelangan tangan Rebecca, membuat pedang itu terlepas. Erica tidak berhenti; ia menyapu kaki Rebecca hingga gadis itu jatuh terduduk di atas matras yang dingin. Ujung pedang tumpul Erica kini menempel di leher Rebecca.

Kalah telak. Bahkan untuk standar pemula, performa Rebecca pagi ini adalah sebuah bencana.

"Ada apa denganmu?" tanya Erica, suaranya tidak lagi memerintah, melainkan penuh selidik. Ia menarik pedangnya dan mengulurkan tangan untuk membantu Rebecca berdiri.

Rebecca menyambut tangan Erica, bangkit dengan bahu yang merosot. "Tidak ada apa-apa, Erica. Aku ... aku hanya sedang galau saja."

Erica menatap Rebecca lurus-lurus. Sebagai satu-satunya wanita di tim ini, ia tahu ada sesuatu yang mengusik batin Rebecca yang tidak bisa diselesaikan dengan peluru atau pedang.

"Apakah kau dan Tuan Maximilian sedang bertengkar?" tanya Erica langsung, tanpa basa-basi.

Rebecca tersentak. Pertanyaan itu menghantam titik sarafnya yang paling sensitif. Ia teringat bagaimana semalam mereka tidur dalam diam, memunggungi satu sama lain, dengan jarak yang terasa seperti ribuan kilometer meskipun berada di satu ranjang. Ia teringat bagaimana bibirnya terkatung-katung ingin menanyakan status mereka, namun ketakutan akan penolakan membungkamnya.

Rebecca menggelengkan kepalanya perlahan. Ia tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Ia hanya diam, menatap ujung sepatunya yang kotor terkena tanah.

"Kau tahu, Nona," ucap Erica pelan, "di dunia ini, keraguan adalah musuh yang lebih mematikan daripada peluru musuh. Jika kau tidak bisa menjernihkan pikiranmu, kau akan mati di lapangan sebelum musuh sempat menarik pelatuknya."

Rebecca tetap bungkam. Pikirannya melayang kembali ke balkon atas, namun saat ia memberanikan diri untuk mendongak, Maximilian sudah tidak ada di sana. Balkon itu kosong, menyisakan kekosongan yang sama di dalam dada Rebecca.

Ia merasa lelah secara fisik, tapi jauh lebih lelah secara mental. Konflik batinnya tentang siapa dirinya bagi Max—seorang istri yang sah atau sekadar "proyek" yang harus dilindungi—terus menggerogoti setiap inci kepercayaan dirinya. Di lapangan latihan yang keras ini, Rebecca menyadari bahwa meskipun ia bisa memegang pedang, hatinya masih terlalu rapuh untuk menghadapi ketidakpastian cinta di dunia yang penuh darah ini.

Erica menghela napas, melihat Rebecca yang masih terdiam dalam lamunannya. "Istirahatlah sepuluh menit. Cuci wajahmu. Jika kau kembali ke matras ini masih dengan pikiran yang sama, aku akan memulangkanmu ke kamar."

Rebecca hanya mengangguk lemah, berjalan menjauh menuju pancuran air di pinggir lapangan. Setiap langkahnya terasa berat, seberat pertanyaan yang belum terjawab: Max, apa aku benar-benar sampah yang kau pungut, atau aku adalah mahkotamu?

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 👍👍👍 𝐢𝐧𝐢 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!