Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Kapten Chen," ujar Ren. Nadanya datar, mengiris angin kotor tanpa sedikit pun memuat intonasi persahabatan.
"Sudah selesai urusanmu?" sapa Chen. Suaranya serak. Terdengar parau, seolah pita suaranya sering digesek aspal panas.
Pria jangkung itu membuang napas, meniupkan gumpalan asap tebal yang seketika disapu angin. Matanya merah berair. Kantung hitam menggantung berat di bawah kelopaknya. Ia tampak seperti rongsokan yang dipaksa berdiri tegak oleh kafein dan nikotin.
"Langsung to the point saja," tukas Ren. Ia membenarkan posisi tablet di tangan kirinya. "Tenang saja. Posisiku cukup tinggi di sini untuk bisa bergerak leluasa."
Chen tidak membalas. Matanya yang kelelahan menatap lurus menembus kornea Ren. Menimbang sesuatu yang tak terucap.
Hening sejenak. Ada benturan tak kasatmata di antara mereka berdua di ambang batas pintu itu.
"Ayo," gumam Detektif itu akhirnya. Ia menjentikkan sisa rokoknya ke genangan air lumpur di dekat trotoar. Berdesis pelan lalu mati. "Kerjaan menunggu kita."
Ren mengamati postur Chen yang berbalik. Sedikit gontai. "Kau tidak istirahat dulu? Sedikit lagi kau terlihat akan jatuh dan mencium aspal."
Langkah Chen terhenti seketika. Rahangnya mengeras. "Iya. Jadi diamlah, atau aku sungguh akan memukul mulutmu itu."
"Jahat," gumam Ren tipis. Tak ada gentar di nadanya, hanya keluhan observasional yang apatis.
Mereka pun beranjak meninggalkan area lobi luar AFC Qilin.
Masuk ke dalam sedan patroli hitam yang catnya sudah kusam tergores debu korosif. Pintu dibanting tertutup. Sempit. Kedap. Udara di dalam kabin langsung terasa menyesakkan dada.
Mesin hibrida berderum rendah. Mobil melaju membelah jalanan beton yang retak-retak.
Sangat canggung.
Ren menyandarkan sisi kepalanya ke kaca jendela berlapis antigores. Matanya menatap ke depan, namun tak benar-benar melihat.
Tidak ada radio yang menyala. Tidak ada derau komunikasi dari dashboard. Sepi.
Keheningan ini bukan sekadar absennya suara. Ini hening yang pekat. Berbobot. Ada tekanan gravitasi aneh di dalam mobil ini, terlahir dari dua manusia yang terikat oleh tumpukan misteri berdarah, namun terlalu malas untuk berbasa-basi.
Di balik setir, Chen mengemudi seperti mayat hidup. Napasnya pendek-pendek. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram lingkar kemudi terlalu kuat hanya untuk menjaga kesadarannya agar tidak menguap.
Sebaiknya, aku bantu dia perlahan, batin Ren. Ia butuh rekan kerja yang kompeten, bukan orang mati yang mendadak gagal jantung di tengah investigasi.
Ren perlahan memejamkan mata. Jemarinya yang bertumpu di atas paha bergerak dalam ritme mikroskopis.
Ia memanggil kehendaknya. Konsep murni dari Tak Melakukan Apapun.
Bukan cahaya sihir murahan. Bukan gelombang energi norak yang menyembuhkan luka terbuka. Ini adalah negasi absolut. Sebuah anomali pembatalan.
Ia memanipulasi hukum alam di dalam ruang sempit itu. Memaksa rasa lelah di saraf Chen untuk berhenti mereplikasi diri. Sangat pelan. Sangat subtil.
Ren menyebarkan penolakan itu sejengkal demi sejengkal di udara kabin. Mengikis penat tanpa meninggalkan jejak residu kekuatan sedikit pun.
Pundak Chen yang sedari tadi tegang kaku, tiba-tiba merosot turun dua milimeter.
Detektif itu mengerjapkan mata berkali-kali. Napasnya mendadak terasa lebih panjang, tidak lagi tersendat di tenggorokan. Ia menggeser pinggulnya di jok kulit, mengernyit bingung pada setir mobil, seolah mempertanyakan mengapa beban di tengkuknya tiba-tiba menguap begitu saja.
Ren tetap mematung. Wajahnya menghadap ke luar jendela. Rahasianya tersimpan aman di balik raut datar tanpa emosi.
Pemandangan kota di luar sana bergulir bagai rol film kusam. Bangunan beton bertulang yang keropos dimakan lumut radioaktif. Pipa-pipa industri raksasa meliuk membelah langit.
Sektor 11 terlewati. Hanya berisi neon-neon kelap-kelip mati dan pasar gelap kumuh.
Lalu deretan pabrik penyulingan air yang berkarat di Sektor 9 menyusul. Semua sudut kota ini memancarkan warna keputusasaan yang seragam. Abu-abu dan cokelat pekat.
Akhirnya, Chen berdeham kasar. Suaranya memecah ruang kosong di antara mereka.
"Sebentar lagi kita akan sampai," parau pria itu. Tatapannya kembali tajam, menyapu jalan raya lurus di depannya.
Akhirnya ia bicara juga, batin Ren santai. Otaknya mulai mengatur ulang roda gigi logika untuk mode lapangan.
"Jadi," celetuk Ren tanpa mengubah posisi duduknya. "Apa sebenarnya yang akan kita lakukan di sana?"
Chen memutar setir tajam ke kiri. Ban berdecit menggerus aspal. Mobil masuk ke dalam gang industri lebar yang tak terjangkau sinar matahari pagi.
"Singkat saja," balas Chen. Nadanya kembali mematikan, sedingin logam pistol yang menempel di pinggangnya. "Kasus ini sama persis dengan kejadian serangan yang kau alami tempo hari."
Ren terdiam sesaat. Jemari kirinya mengetuk perlahan tepian tablet.
"Hanya saja," lanjut Chen. Kaki kanannya menekan pedal rem secara perlahan. "Kali ini, mereka tidak selamat."
"Oke. Cukup singkat," komentar Ren pelan. Rasanya ada kepingan es tipis yang baru saja ditelan ke lambungnya.
Sedan hitam itu berhenti total.
Melalui kaca depan yang kotor, Ren bisa melihat pendar biru menyilaukan. Garis polisi virtual membentang menutup seluruh akses jalan raya kecil itu.
Huruf holografik merah mengambang pongah di tengah gang raya: ZONA RESTRIKSI - OTORITAS LOKAL SAJA.
Di balik dinding cahaya itu, cipratan lampu rotator memantul ke dinding-dinding bata basah. Sekelompok petugas AFC berseragam zirah taktis berkerumun. Mereka menunjuk ke arah tumpukan puing, berdebat sengit di bawah rintik gerimis buatan dari pipa pendingin yang bocor di atas mereka.
Bau karat bercampur amis darah tua mulai menembus masuk melalui filter sirkulasi udara mobil.
"Kita sampai," ucap Chen. Tangannya menarik tuas pembuka pintu dengan bunyi klik keras.