"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab8
"Makan saja,Bang! Gak apa, kalau memang suka bubur buatan Khaty. Daripada mubazir kalau dibuang. Mana Khaty sudah susah payah membuatnya." ralat Ribka dengan ekspresi datar.
"Eh, gah papa kok. Aku pikir tadi Kak Ribka belum datang. Jadi sekalian aku bawakan saja."
"Oh, makasih ya Khat. Telah merepotkanmu. Tolong suapin Ibu mertuaku ya. Biar Bang Ray aku suapin dulu." Ribka menyerahkan rantang ke tangan Khaty. Lalu mengambil rantang tempat bubur yang dibawa Kathy.
Mendadak saja Khaty gugup. Tidak menyukai ide Ribka. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sini Bang. Aku suapin." Ribka tanpa basa-basi duduk di dekat Raymond. Itu bukan kebiasaan Ribka. Biasanya dia selalu menjaga jarak apalagi saat ada orang lain. Karena sikap dingin suaminya.
Tapi ini dia menabrak rambu-rambu itu. Duduk mepet dan Raymond tidak bisa menjauh karena tidak ada lagi kursi. Raymond tau, Khaty tidak suka hal itu.
"Biar aku makan sendiri, Rib!" tolak Raymond jengah. Tidak ingin Khaty salah paham. Namun, Ribka menolak mentah-mentah.
"Lho, Abang kan suka jijik lihat bubur. Kayak muntahan abang bilang. Kalau disuapin baru mau. Iya kan?" Raymond tidak berkutik dengan ucapan istrinya.
"Hem, sepertinya enak bubur buatan kamu, Khaty. Pinter juga kamu masak ya?" Ribka mencium bau wangi bubur itu.
"Bukan buatan aku kok, Kak. Itu aku pesan dari orang."
"Wah! Pastinya mahal dong. Ayo Bang dimakan. Aaa ...." Ribka menyuapkan bubur itu ke mulut suaminya. Raymond terpaksa menerima suapan demi suapan Ribka. Hingga tandas. Bu Nora mendelik ke arah Raymond. Karena dia sudah tau rasa bubur itu. Itulah sebabnya Khaty datang lagi. Ternyata malah Raymond yang makan.
"Wah, enak banget ya buburnya, Bang. Sampai kandas lo." Ribka tersenyum sinis kepada ibu mertuanya yang sejak tadi memperhatikan Raymond menghabiskan bubur itu. Sementara Khaty muak, melihat Raymond yang disuapin Ribka. Kesal campur cemburu. Tapi tidak mungkin dia memprotes.
Mana Ribka memanas manasinya lagi. Sengaja bersikap mesra kepada suaminya saat menyuapinya. Duduk juga begitu rapat. Dan tumben, penampilan Ribka berbeda dengan sebelumnya.
Meski tidak ketara, wajah Ribka ada riasannya. Sebenarnya Ribka jauh lebih cantik dari Khaty. Hanya saja penampilannya yang sederhana yang membedakan mereka.
Khaty lebih berani memakai pakaian yang seksi. Selalu saja kurang bahan. Kalau gak ketat dan kependekan. Pasti bagian atas yang terbuka sampai belahan dadanya terlihat. Belum lagi bersoleknya terkadang berlebihan. Khaty tidak pernah merasa risih. Pede nya memang tingkat Dewi. Tidak ingat umur yang sudah menapak senja.
Sesekali mata Khaty melirik tajam ke arah Ribka yang sedang menyuapi Raymond. Mana Raymond juga sering kali menatap Ribka. Jadilah Khaty diterjang gelombang cemburu.
Ribka bisa merasakan tatapan Khaty, meskipun dia membelakanginya. Aura itu menguar di dalam ruangan. Mengalahkan aroma desinfektan rumah sakit.
Ribka berbalik, melihat wajah Khaty yang ditekuk masam. Ribka tersenyum dalam hati. Meletakkan rantang tempat bubur di atas nakas. Mengambil tumbler dan memberikannya kepada Raymond. Raymond minum dan tanpa sengaja tumpah sehingga sekitar mulut Raymond basah.
Spontan Ribka menyeka mulut suaminya dengan tissu.
"Aku saja." tolak Raymond. Mengambil tissu dari tangan Ribka.
"Kenapa Bang? Takut Khaty cemburu ya?" sindir Ribka. " Khaty pasti paham kok. Yang namanya suami istri itu seperti apa."
"Kamu ngomong apa sih. Malulah dikit?" bisik Raymond jengah.
"Kok aku malu, Bang. Abang kan suami aku. Atau Abang takut Khaty cemburu?" kekeh Ribka tertawa sumbang.
"Eh, Kak Ribka kok ngomong begitu sih. Kenapa aku jadi cemburu?" sahut Khaty canggung. Sehingga sendok di tangannya jatuh tepat di pangkuannya.
"Aduh, buburnya tumpah!" Khaty panik karena bubur mengotori roknya. Raymond berdiri spontan, menyeka bubur itu.
"Hati-hati sayang!" ucapnya tanpa sadar. Bu Nora melototkan kedua matanya. Khaty juga bertambah panik. Tangan Raymond tiba-tiba menegang di atas paha Khaty.
"Apaan sih, Bang Ray!" tepis Khaty. Raymond menjadi salah tingkah.
"Sayang? Wow! Mesra banget, Bang. Aku yang jadi istri kamu saja belum pernah kamu panggil sayang. Apa benar ada sesuatu antara kalian?" cecar Ribka penuh selidik. Suasana mendadak hening. Pandangan Raymond, Khaty dan Bu Nora saling bertaut.
Semua mendadak tegang. Tiba-tiba Ribka tertawa kencang. Raymond menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Bu Nora menghela napas panjang.
"Aduh! Ekspresi Abang itu lucu kali lo. Kayak orang ketangkap basah!" kekeh Ribka. Khaty dan Raymond mendadak nervous. Lalu saling menjauh. "Sori Khaty, cuma bercanda tidak perlu juga menepis kasar tangan suamiku.Aku percaya kok, kalian itu sahabatan. Suami aku tidak mungkin menghianati aku. Iya kan, Bang?" tangan Ribka bergelayut manja di lengan Raymond.
"Kamu ngomong apaan sih, Ribka. Bikin suasana jadi aneh saja."
"Eh, maaf. Aku ke toilet dulu." buru-buru Khaty berdiri, beranjak menuju toilet.
"Sialan, kau Ribka!" maki Khaty sambil membersihkan noda bubur di roknya. "Hem, apa Ribka sudah mengendus hubungan kami ya? Tingkahnya sangat berbeda dengan kemarin?" Khaty menatap bayangan dirinya di cermin.
"Dia sepertinya sengaja bertingkah aneh. Memanas-manasiku! Huh!" Khaty terbayang ulah Ribka yang menyuapi Raymond. "Awas kamu, akan kubalas kau!"
"Kamu kenapa sih, bertingkah konyol?" Raymond menarik lengan Ribka begitu tubuh Khaty menghilang di balik pintu toilet.
"Konyol gimana sih. Apa gak kebalik?" sahut Ribka datar. Menatap Raymond tepat di kedua iris matanya.
"Maksudmu?" Raymond menyipitkan matanya.
"Aku tidak bodoh. Anak yang baru lahir saja pasti tau. Ada sesuatu antara kamu dan Khaty. Jangan pikir aku akan mempermudah jalanmu. Karirmu bisa aku buat hancur!" ancam Ribka.
"Astaga! Ternyata istriku pintar juga ya?" Raymond mencekal lengan Ribka. "Baguslah kalau kamu sudah tau. Jadi aku tidak perlu lagi berpura-pura menutupinya. Mau menghancurkan karirku?" Raymond mencondongkan tubuhnya ke Ribka. Ribka menarik tubuhnya ke belakang. "Emang kamu punya kekuatan apa, hah! Berani mengancamku!"
"Kamu meremehkan aku, Bang?" Ribka memutar bola matanya. Tidak ada ketakutan disana seperti yang terlihat selama ini. Raymond, sekian detik terkejut. Tapi mengabaikan sinyal itu.
"Mau lihat seperti apa aku akan membalas perbuatanmu? Oke, aku akan perlihatkan! Kamu akan menyesal telah menghianatiku!" kecam Ribka tanpa ragu. Membuat Raymond terbahak.
"Lakukanlah kelinci manis." Raymond semakin mencondongkan tubuhnya. Membuat Ribka terdesak ke ranjang Bu Nora. Jarak wajah mereka hanya satu inci. Dengus napas Raymond menyapu seluruh wajah Ribka. Aura mengintimidasi begitu kuat terpancar di wajah Raymond. Karena selama ini dia selalu mengendalikan istrinya.
Namun, Raymond keliru. Mengira istrinya masih orang yang sama. Yang bisa dia tekan sesukanya. Ribka tersenyum smirk. Saat melihat Khaty keluar dari toilet.
"Kamu sudah gak sabaran ya, Bang. Sampai mendesakku seperti ini? Oke, akan aku lakukan. Semoga kamu tidak menyesal!" Raymond mengedipkan matanya, mencerna makna ucapan Ribka. Detik berikutnya!
Hup! Ribka lantas mencium Raymond. Melumatnya, sehingga membuat Raymond kaget. Begitu juga Bu Nora terlebih Khaty. Refleks, Raymond membalas ciuman itu karena kaget!***