sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas Tahun Dan satu payung
Langit Jakarta sore itu seakan tumpah. Hujan deras mengguyur aspal panas, menciptakan uap yang menyesakkan dada. Di lobi gedung perkantoran Sudirman yang megah, Kiranara—atau yang akrab dipanggil Kira—berdiri mematung. Ia menatap nanar ke arah jalanan, merutuki nasibnya yang payah dalam memprediksi cuaca.
"Sial, padahal tadi pagi ramalannya cerah berawan," gumamnya sambil merapatkan blazer krem yang mulai terasa dingin. Ia sempat melirik aplikasi ojek online di ponselnya, namun angka yang tertera di layar membuatnya ingin menangis seketika. Harga melonjak tiga kali lipat, dan status pengemudi "sedang sibuk" seolah mengejeknya.
Kira menghela napas panjang, bersiap untuk nekat berlari menerjang hujan menuju stasiun MRT terdekat, sampai sebuah mobil SUV hitam yang sangat ia kenal berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela belakang turun perlahan, menampakkan sosok pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata yang selalu terlihat seperti sedang menghakimi dunia.
Arlan Dirgantara.
"Masuk, Ra," perintah Arlan singkat. Suaranya berat, jenis suara yang tidak memberikan ruang untuk perdebatan.
Kira tidak butuh dua kali perintah. Ia berlari kecil menembus tempias hujan, melindungi kepalanya dengan tas tangan, dan segera menyelinap ke kursi penumpang di samping Arlan. Aroma maskulin bercampur wangi kopi langsung menyambut indra penciumannya. Aroma yang selama sebelas tahun ini selalu ia definisikan sebagai bau "pulang".
"Kok tahu aku di sini? Bukannya kamu ada meeting di Bandung sampai besok?" tanya Kira sambil mengibas-ngibaskan sisa air di rambutnya yang kecokelatan.
Arlan tidak langsung menjawab. Ia menjalankan mobilnya perlahan, membelah kemacetan Jakarta yang semakin menggila saat hujan. Tanpa menoleh, tangan kirinya terulur ke kursi belakang, mengambil sebuah handuk kecil bersih yang sepertinya memang sudah disiapkan.
"Dibatalkan karena cuaca buruk. Dan aku tahu kamu nggak bawa payung karena payungmu tertinggal di bagasi mobilku sejak minggu lalu," jawab Arlan datar, namun matanya tetap fokus pada spion kiri.
Kira menyengir kuda, merasa sedikit bodoh. "Oh iya, lupa. Maklum, faktor usia."
"Bukan faktor usia, Ra. Kamu memang selalu lupa hal-hal penting sejak SMA," sindir Arlan. Meski suaranya terdengar ketus, tangan Arlan bergerak otomatis mengecilkan suhu AC mobil. Ia tahu betul Kira memiliki sinus yang sensitif; sedikit saja terkena air hujan dan udara dingin yang ekstrem, besok pagi gadis itu pasti akan bersin-bersin tanpa henti.
Tak berhenti di situ, Arlan menyodorkan sebotol air mineral dari cup holder. Kira menerimanya, lalu mengernyit saat menyadari botol itu tidak dingin sama sekali.
"Ini air suhu ruang?" tanya Kira memastikan.
"Aku nggak mau repot kalau kamu sakit dan aku harus antar kamu ke dokter lagi seperti bulan lalu. Jadwalku padat minggu ini," ketus Arlan lagi.
Kira terkekeh pelan. Ia sudah hafal di luar kepala. Arlan adalah tipikal pria yang akan membelikanmu obat paling mahal namun sambil memarahimu karena kamu teledor menjaga kesehatan. Acts of service, tapi dengan mulut yang sepedas cabai rawit.
"Iya, iya, Makasih, Pak Arsitek yang super sibuk," ucap Kira tulus. Ia menatap profil samping wajah Arlan. Garis wajah pria itu tampak semakin dewasa seiring berjalannya waktu. Ada gurat kelelahan di sana, namun juga ada ketenangan yang selalu membuat Kira merasa aman.
Mereka terjebak di kemacetan bundaran HI. Suasana di dalam mobil mendadak hening, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam atap mobil dan suara radio yang memutar lagu beraliran jazz pelan. Kira menyandarkan kepalanya ke jendela yang berembun, jarinya iseng menggambar pola abstrak di sana.
"Lan," panggil Kira tanpa menoleh.
"Hmm?"
"Makasih ya. Sebelas tahun ini... kamu selalu jadi orang pertama yang datang setiap aku butuh."
Arlan terdiam sejenak. Ia mencengkeram kemudi sedikit lebih erat, namun suaranya tetap terjaga datar. "Itu gunanya sahabat, kan? Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau mengurus gadis seceroboh kamu?"
Kira tersenyum kecil, tapi ada sedikit rasa sesak yang menyelip di antara tawa itu. Sahabat. Kata itu selalu menjadi pagar yang sangat tinggi. Sebelas tahun mereka berbagi segalanya—tangis, tawa, rahasia memalukan, hingga kegagalan cinta masing-masing. Namun, di balik kenyamanan yang mereka bangun, ada sebuah rahasia besar yang Kira simpan rapat-rapat: bahwa setiap kali Arlan memperlakukannya seistimewa ini, ia selalu berharap bahwa status 'sahabat' itu hanyalah sebuah kesalahan penamaan.
"Ya, benar. Sahabat," bisik Kira pelan, hampir tenggelam oleh suara guntur di kejauhan.
Hujan di luar semakin lebat, seolah sengaja menutup rapat pintu komunikasi jujur di antara mereka, membiarkan keduanya tetap terjebak dalam kenyamanan palsu yang mereka sebut persahabatan.